Sang Musafir

Sang Musafir
Kematian yang Mengerikan


__ADS_3

SANG raja mengumpat keras dalam benaknya ketika dia menyadari hawa pembunuh Mantingan terlalu banyak menekannya hingga membuatnya kesulitan bergerak.


Meskipun dirinya telah lama melatih lengannya untuk bergerak cepat, sehingga bahkan dapat menangkap 50 anak panah yang dilesatkan sekaligus kepadanya, tetapi tidak pernah disangka olehnya bahwa hawa pembunuh Mantingan dapat meningkat tajam hingga berkali-kali lipat.


Jangankan sang raja yang memang tidak mengabdikan diri pada jalur persilatan, pendekar-pendekar berpakaian serba hitam yang merupakan pasukan istimewa kerajaan pun tidak berdaya di bawah tekanan hawa pembunuh tersebut.


Pada akhirnya, Mantingan berhasil memapas sepasang pedang mestika itu hanya sekejap mata sebelum tangan sang raja berhasil menggapainya. Itu sekaligus menjadi kali pertama ia menyentuh pusaka terkuat di seluruh Dwipantara!


Namun yang tidak Mantingan sangka-sangka sebelumnya, dua pedang tersebut terasa amat berat ketika digenggam. Bukan karena bobotnya, justru bobotnya itulah yang terasa sangat ringan meskipun tergolong pada senjata mestika; melainkan karena hawa dan niat buruk yang terkandung di dalamnya.


Mantingan memang pernah mendengar bahwa senjata yang telah digunakan untuk membunuh banyak nyawa manusia akan mendapatkan suatu hawa khusus yang tidak mengenakan. Namun, ia baru merasakannya saat ini, sesuatu yang tidak ia rasakan pada Pedang Kiai Kedai yang semula dianggapnya sebagai senjata yang paling banyak membunuh nyawa manusia sepanjang sejarah dunia persilatan Dwipantara.


Tidak lagi Mantingan berani menduga berapa banyak nyawa yang melayang di ujung sepasang pedang itu.


Untuk mengimbangi hawa buruk pedang itu, Mantingan mengeluarkan tenaga prana besar-besaran. Perkiraannya tepat, hawa buruk tersebut dapat dikurangi sedikit banyak. Meskipun begitu, Sepasang Pedang Rembulan tetap terasa jauh lebih berat dari pedang-pedang biasa.


Mantingan lekas berkelebat membabati musuh-musuh yang mengepungnya. Kendati keadaan pikirannya masih jauh dari baik, tetapi Sepasang Pedang Rembulan membuatnya tidak terkalahkan walau seringkali melakukan beberapa kesalahan besar pada jurus-jurus yang dikeluarkannya.


Sepasang pedang tersebut seolah memiliki jiwanya sendiri. Dia membuat gerakan Mantingan jauh lebih cepat dari biasanya. Kini, tidak lagi secepat pikiran, melainkan lebih cepat dari pikiran!


Mantingan tidak sempat berpikir ketika seluruh pendekar berpakaian serba hitam yang tadi mengepungnya kini bergeletakan di lantai tanpa nyawa dalam raga. Darah menggenang. Anyir. Begitu pula dengan Sepasang Pedang Rembulan, berlumuran darah segar.

__ADS_1


Kini, hanya tersisa sang raja sebagai lawannya. Entah mengapa orang itu bisa luput dari kematian, tetapi Mantingan menduga bahwa alam bawah sadarnya memang telah menetapkan untuk tidak membiarkan sang raja mati dengan cepat dan mudah.


Pria parobaya itu tetap memasang kekerasan wajahnya meskipun tahu benar bahwa nyawanya berada di ujung tanduk. Dia masih duduk tenang di kursinya.


“Paduka, apakah kau mengira aku akan membebaskanmu hidup-hidup?” Mantingan bertanya begitu setelah tidak melihat rasa takut sedikitpun pada wajah sang raja.


“Tentu saja tidak.” Raja itu menggeleng pelan. “Tetapi setidaknya, biarkanlah tubuhku dalam keadaan layak untuk dimakamkan.”


Mantingan menatapnya dengan raut wajah datar. “Selama menapaki jalan persilatan, aku tidak pernah menghendaki lawan-lawanku mendapati kematian yang sulit. Tetapi untuk orang seperti dirimu, aku tidak berpikir sedemikian.”


Pemuda itu berjalan semakin mendekati sang raja sambil tetap menghunus Sepasang Pedang Rembulan di kedua tangannya. Tidak lagi dirinya ingat akan keberadaan Delima dan Bidadari Sungai Utara yang pasti akan menonton kekejamannya. Sekalipun ingat, ia tidak akan peduli. Kebencian dan dendamnya telah sampai pada batas tertingginya, ia tidak akan bisa dan mau untuk menahannya lebih lama lagi.


Jerit kesakitan sang raja mengisi ruangan itu ketika Mantingan mulai mengulitinya hidup-hidup. Tiada seorangpun mengetahui dari mana ia mempelajari ‘kemampuan’ tersebut, tetapi tidak pula ada yang berani membayangkannya.


Kematian Raja Koying akhirnya tiba setelah sekian lama Mantingan menyiksanya dengan cara penyiksaan paling menyakitkan. Dia mati lemas setelah kehabisan darah. Keadaannya teramat sangat mengenaskan, lebih dari setengah tubuhnya tidak lagi berbentuk. Berkat tenaga prana yang diberikan terus-menerus oleh Mantingan, sang raja bisa bertahan selama itu sebelum menemui kematian.


Mantingan beranjak dari jasad sang raja menuju Bidadari Sungai Utara, tetapi tubuhnya tetiba saja ambruk setelah baru berjalan beberapa langkah.


Bukan sebab luka dalam tubuhnya. Bukan pula sebab hawa buruk dari Sepasang Pedang Rembulan itu. Ia jatuh sebab pikirannya tidak lagi dapat menahan kesedihan yang semulanya masih dapat ditahannya. Ketika seluruh musuh telah tumbang sehingga segala ancaman sedikit banyak menghilang, Mantingan tidak lagi mempunyai alasan untuk menahan segala gejolak perasaannya.


Matanya masih terbuka demi menatap Bidadari Sungai Utara. Dapat dilihatnya gadis itu lekas berlari menghampirinya, tetapi entah bagaimana caranya Delima berhasil menghancurkan rantai yang mengikat tangannya untuk kemudian menjegal Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


Sesuatu yang sudah sangat aneh melihat gadis kecil itu berhasil menghancurkan ikatan rantai yang bahkan orang dewasa sekalipun tidak akan mampu melakukannya, ditambah lagi dengan pemandangan betapa Bidadari Sungai Utara tidak berdaya ketika anak itu menjegalnya.


Setelah membuka bebatan yang ada di mulut, Delima berkata pada Mantingan yang beruntungnya masih dapat mendengar meski sayup-sayup semata, “Sudah. Semua perjuanganmu telah lebih dari cukup bagiku.”


Dengan kesadaran yang semakin terbatas, Mantingan masih dapat menyadari bahwa Delima yang ada di hadapannya saat ini bukanlah cucu Tapa Balian. Tiada lain dan tiada bukan, dialah Kembangmas!


“Kembalilah ke Javadvipa jika kau ingin mendapatkan putri ini sekaligus diriku, Pahlawan Man.” Tepat setelah itu, tubuh kecil Delima menghilang begitu bersama Bidadari Sungai Utara. Meninggalkan pemuda itu seorang diri di ruangan tersebut.


Kesadaran Mantingan sampai pada ambang batas. Pemuda itu tidak sadarkan diri, menyerahkan segala-galanya pada Chitra Anggini  yang semoga saja masih bernapas hingga saat ini.


***


MEMBUKA matanya, Mantingan mendapati dirinya terbaring di atas ranjang yang teramat hangat dan lembut. Siapa pun yang terbangun di tempat itu, sudah pasti akan memilih untuk memejamkan matanya kembali. Terbuai dalam kenyamanan. Namun, tidak dengan Mantingan yang tiba-tiba saja teringat pada Sepasang Pedang Rembulan!


Pemuda itu lekas bangkit dari ranjangnya, meski kemudian kembali terjatuh di atas lantai yang sama sekali tidak hangat dan lembut. Kepalanya masih terasa teramat pening. Berdegung segalanya terdengar. Buram dan acak semuanya terlihat.


Ketika itu, ia merasakan sepasang lengan lembut meraih dan membantunya kembali naik ke atas ranjang. Kemudian, muncullah suara yang dapat Mantingan kenali betul-betul. Suara yang semula amat ia benci.


“Tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, daku sama sekali tidak berminat dengan pedang-pedang pusaka apa pun yang hanya akan membawa petaka.”


___

__ADS_1


catatan:


Terima kasih atas komentar-komentar positif yang diberikan. Sungguh, itu menjadi salah satu sumber energi terbesar saya dalam melanjutkan cerita ini.


__ADS_2