
“Kurasa suara kentungan itu berarti bahwa perhelatan akan dimulai segera,” KATA Chitra Anggini untuk memulihkan suasana menjadi lebih serius.
“Tetapi kurasa juga tidak begitu. Siapa pun yang terbangun karena mendengar kentungan tersebut, lantas menduga bahwa perhelatan akan segera dimulai, pastilah akan membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi.”
“Kau tunggu di sini, biar aku yang lebih dulu mandi!” Chitra Anggini tiba-tiba saja berkelebat dari tempatnya untuk kemudian memapas bundelannya dan kembali berkelebat keluar menuju kamar mandi. Melihat itu, Mantingan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Tak seberapa lama kemudian, dirinya teringat kembali pada sekeropak lontar berisi rencana yang diberikan oleh Puan Kekelaman di Kedai Seribu Cangkir.
Seingatnya, lembar-lembar lontar itu berisi aksara dan bahasa sandi yang dapat diartikan oleh Chitra Anggini, tetapi masih belum sempat terbaca malam tadi.
Mantingan mengeluarkan keropak lontar itu dari bundelannya. Menimang-nimang. Meski mengetahui tidak akan sanggup membacanys, ia tetap memilih untuk membukanya dan sekadar melihat-lihat.
Di dalam keropak lontar tersebut, terdapat dua puluh lembar lontar yang saling terikat satu sama lain. Itu berarti, Chitra Anggini harus menerjemahkan empat puluh halaman penuh berisi aksara dan bahasa sandi sebelum dapat mengetahui isinya!
Sebagai perbandingan, untuk menerjemahkan selembar lontar yang hanya sebaris kalimat saja, Chitra Anggini membutuhkan waktu sekitar sepeminuman teh. Bagaimanakah dengan lontar-lontar ini yang jelas bukan hanya sebaris atau dua baris kalimat saja?
Mantingan menggelengkan kepalanya sebelum menyimpan kembali lontar itu di dalam keropak. Namun meski demikian, pikirannya masih terus berpacu.
Perhelatan Cinta hanya akan berlangsung selama lima hari. Dapatkah Chitra Anggini tuntas menerjemahkan surat rahasia itu dalam waktu sedemikian sedang Perhelatan Cinta sendiri akan banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan yang menyita waktu?
Tak seberapa lama kemudian, Chitra Anggini berjalan keluar dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar ketimbang sebelumnya. Saat itu, Mantingan sedang duduk bersila di atas dipan yang ada di ruangan depan sambil memejamkan mata untuk menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Tentulah dengan kemampuan menerjemahkan bunyi menjadi bentuk, Mantingan dapat menyadari kehadiran Chitra Anggini, maka setelah perempuan itu berjalan menuju kamar ia lekas membuka mata dan memanggilnya.
“Ada apa?” Chitra Anggini bertanya sambil berjalan menghampiri Mantingan.
__ADS_1
Mantingan tidak langsung membalasnya, melainkan menatapnya lekat-lekat, maka meluncurlah kalimat demi kalimat di dalam tatapan matanya itu.
‘Surat itu masih belum kaubaca.’
Chitra Anggini butuh beberapa saat untuk mengartikan tatapan tersebut sebelum akhirnya mengangguk paham. Mantingan segera mengeluarkan keropak lontar berisi surat rahasia dari Puan Kekelaman itu dan memberikannya kepada Chitra Anggini.
Dalam tatapannya, ia kembali berkata, ‘Ada dua puluh lembar di dalamnya. Butuh waktu berapa lama?’
Untuk sesaat, Chitra Anggini membeliakkan matanya karena tidak menduga-duga hal seperti itu sebelumnya. ‘Dua puluh lembar? Aku membutuhkan waktu dua hari penuh untuk menerjemahkan aksara dan bahasa sandi sebanyak itu, bahkan bisa saja lebih lama!’
‘Bisakah dipercepat? Setengah hari misalnya ....’
‘Kau sudah gila? Membaca surat sandi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, kau tidak akan bisa melakukan itu hanya dalam waktu setengah hari saja. Itu sangat mustahil.’ Chitra Anggini menatap Mantingan dengan aneh, seolah-olah saja pemuda itu telah kehilangan nalarnya untuk berpikir jernih.
Chitra Anggini menghela napas panjang sebelum menyimpan surat tersebut di dalam pundi-pundinya. Hanya di sanalah tempat teraman untuk menyimpan benda sepenting surat berisi rencana penyusupan. Jika menyimpannya di dalam kamar, maka itu sama saja dengan menaruh daging segar di kandang harimau!
“Kau bersihkanlah badan, aku tidak mau terlambat meski sebentar saja,” ujar Chitra Anggini.
Mantingan mengangkat alisnya sambil berkata heran, “Alangkah bersemangatnya dirimu.” Kemudian ia tersenyum tipis sebelum beranjak berdiri dari atas dipan dan berjalan ke arah kamar mandi.
Bagi dirinya, sikap Chitra Anggini itu sahih saja dikatakan aneh. Mereka mengikuti Perhelatan Cinta semata-mata untuk dapat menyusup ke dalam istana, tetapi mengapakah perempuan itu begitu bersemangat hingga tidak ingin terlambat meski hanya sebentar saja?
Setelah selesai membersihkan diri, Mantingan kembali ke ruangan depan dan menjumpai Chitra Anggini yang telah siap pergi. Mantingan segera berkelebat ke kamarnya, memapas pundi-pundi serta sepasang topeng sebelum berkelebat lagi ke tempat perempuan itu.
“Gunakan ini dan jangan lepaskan sedikitpun selagi masih berada di luar,” kata Mantingan sambil mengulurkan salah satu topeng itu kepada Chitra Anggini.
__ADS_1
“Kurasa hanya dirimu yang membutuhkannya sedangkan aku tidak.” Chitra Anggini berkata begitu sebelum melempar senyuman tipis. Dia seperti memancing suatu jawaban dari Mantingan ....
“Kita harus tampil sebagaimana sepasang kekasih, bukan?” Mantingan menelan ludahnya, hampir-hampir tidak percaya bahwa mulutnya baru saja mengucapkan perkataan itu.
“Ada benarnya juga dirimu.” Setelah tertawa singkat, Chitra Anggini tanpa ragu lagi mengambil topeng itu dari tangan Mantingan. “Marilah kita keluar sekarang, kurasa pendekar-pendekar lain sudah berkumpul.”
Mantingan mengangguk dan berjalan memimpin di depan. Dirinya tidak dapat membiarkan Chitra Anggini yang memimpin, sebab betapa ia telah mengenal betul tabiat perempuan itu yang kurang kesabaran. Jika terjadi sesuatu yang memancing amarah, Chitra Anggini akan sulit berpikir jernih untuk memilih putusan yang terbaik.
Mereka berjalan keluar dan mendapati bahwa langit tidak lagi gelap, melainkan berwarna ungu keremangan. Itu berarti, pagi tidak lagi buta, dan waktu memasuki terang tanah.
Beberapa pendekar terlihat keluar dari rumahnya, tetapi sama halnya dengan Mantingan dan Chitra Anggini, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Saat itulah datang seorang petugas perhelatan yang mengumandangkan pengumuman sambil menunggangi kudanya dengan kecepatan rendah.
“Tuan-Tuan dan Puan-Puan segeralah berkumpul di Halaman Besar Seribu Rumah Istana untuk menghadiri kegiatan pertama sekaligus makan pagi!”
Petugas itu berlalu sambil terus menyerukan pengumuman yang sama. Suaranya dibuat sekeras mungkin, memastikan tidak ada satupun tamu perhelatan yang melewatkan pengumuman tersebut.
Mantingan dan Chitra Anggini saling bertatapan sebelum bertanya bersamaan, “Di mana tempatnya?”
Dengan bertanya berbarengan, itu mengartikan bahwa tak satupun dari mereka yang mengetahui arah menuju Halaman Besar Seribu Rumah Istana yang dimaksudkan oleh petugas perhelatan itu.
“Wahai, Saudara-Saudari sekalian. Daku pernah bekerja untuk istana, jadi mengetahui arah menuju tempat itu. Bila kalian bersedia, maka sungguh kalian dapat mengikuti daku.” Seorang pendekar berkata lantang dengan nada sopan sambil menjura ke sekitar. Pasangannya pun turut menjura ke arah lain yang tidak dapat dijangkau oleh kekasihnya itu.
Tentulah tawaran tersebut disambut dengan sangat baik oleh pendekar-pendekar lainnya.
“Saudara, sungguh tidak terkira bantuan yang dikau berikan, maka izinkanlah daku mengikuti dikau!” Seseorang menjura sambil mengungkapkan kata-kata itu dengan tulus, beberapa pendekar lainnya pun mengatakan hal serupa dan sebagian besarnya hanya menjura sambil tersenyum kecil.
__ADS_1