
MANTINGAN dan Bidadari Sungai Utara meneruskan perjalanan menuju Tanjung Kalapa, meskipun sebenarnya mereka tidak begitu yakin keadaan di sana benar-benar aman. Dharma menuturkan bahwa para pendekar mulai berjaga di tempat-tempat penting seperti pasar, pelabuhan, dan sebagainya.
‘Mungkinkah Tanjung Kalapa pun dijaga banyak pendekar?’ tanya Bidadari Sungai Utara melalui tatapan mata, sebab memang amat tidak mungkin dapat berbicara dengan jelas di tengah deru angin gila seperti ini. Munding telah membawa mereka jauh dari tanah.
‘Kita akan melihatnya nanti,’ kata Mantingan kemudian, pula dengan pandangan matanya. Pemuda itu jelas tidak dapat memastikan seberapa banyak pendekar yang berjaga di Pelabuhan Tanjung Kalapa, pun tidak ingin mengambil kesimpulan dari hasil perkiraannya semata. Namun meski demikian, perkiraannya berkata bahwa saat ini lebih banyak pendekar yang berjaga-jaga di Ujung Kulon atau Salaka Nagara, sebab di sanalah kapal-kapal dari Suvarnabhumi akan terdampar setelah mengikuti arah angin.
Bidadari Sungai Utara tidak lagi bertanya, gadis itu dapat memahami bahwa Javadvipa sekali lagi sedang mengalami gejolak meskipun bagai hampir tidak terlihat sama sekali, yang dalam gejolak itulah kabar menjadi tak dapat menentu.
“Kita akan sampai sebentar lagi, Sasmita.” Mantingan tiba-tiba berkata dengan Ilmu Membisik Angin. “Peradaban sudah teramat dekat, dan siang terik telah hampir berlalu, kita harus melanjutkan perjalanan melalui darat.”
Menanggapi pertanyaan itu, Bidadari Sungai Utara hanya mengangguk. Mantingan bersyukur betapa gadis itu telah dewasa untuk tidak selalu membantah segala perintahnya, amatlah berbeda dengan Chitra Anggini yang bagai memiliki kewajiban untuk selalu membantahnya meski dapatlah pula Mantingan pahami bahwa gadis itu berasal dari golongan bawah tanah yang teramat keras kehidupannya.
Apakah kiranya yang didapatkan Bidadari Sungai Utara di negeri suaminya, Fun-an, sehingga sekarang ini dia dapat bersikap sedemikian?
Munding Caraka menurunkan ketinggiannya perlahan-lahan hingga mendarat di tepi jalan di tengah belantara lebat. Sejauh mata memandang, tiada tanda-tanda kehidupan manusia selain jalanan kecil itu saja, tetapi Mantingan tahu bahwa jalanan yang dipijakinya saat ini pun jarang dilalui pedati-pedati pedagang yang berkehendak menuju Tanjung Kalapa.
Jalanan menanjak sedemikian rupa, melintasi lembah-lembah perbukitan, berkelok-kelok menuruti pola alam. Mareka akan menaiki dan menuruni bukit beberapa kali.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara sebenarnya dapat mempersingkat waktu perjalanan dengan berkelebat selayaknya pendekar-pendekar dunia persilatan, tetapi tanpa bersepakat pun keduanya paham bahwa Munding Caraka tidak bisa berkelebat.
__ADS_1
“Ongng ....” Kerbau itu melenguh saat dua muda-mudi itu mulai berjalan, dirinya tidak juga bergerak.
Mantingan menengok ke belakang sambil berusaha memahami maksud Munding, lantas tersenyum hangat sambil berkata, “Kemarilah, berjalan bersamaku, jangan berkata seperti itu lagi. Tidaklah mungkin diriku meninggalkan kawan seperjalanan begitu saja.”
Munding Caraka menggerakkan kaki-kakinya jua, bukan karena perkataan Mantingan sebab dirinya tak dapat mengerti bahasa manusia, tetapi karena senyuman tulus dari pemuda itulah yang membuatnya mampu menangkap gagasan tanpa perlu bahasa semacam apa pun.
“Dikau mengerti ucapan kerbau, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara tersenyum menggoda, tentulah pertanyaannya itu tidak sungguh-sungguh, tetapi Mantingan tidak menganggapnya begitu.
“Pada awalnya tidaklah sedemikian, Sasmita, tetapi kami telah begitu lama melewati perjalanan bersama,” katanya, “sebagaimana kita berdua, Sasmita, kita dapat berbicara dengan pandangan mata.”
Senyum Bidadari Sungai Utara seketika itu juga mengembang. Digenggamnya tangan Mantingan erat-erat, membuat pemuda itu merasakan segala sesuatu yang sebelumnya ingin ia rasakan. Bukankah begini adanya kawan seperjalanan?
Tanpa hambatan, mereka terus saja melangkahkan kaki. Kendatipun jalanan telah sedikit banyak mengalami kerusakan, tetapi hal semacam itu tidaklah terlalu berarti bagi pejalan kaki seperti keduanya. Ringan-ringan saja mereka melintasi kubangan demi kubangan di tengah jalan dengan ilmu meringankan tubuh.
Dikatakan oleh Kiai Guru Kedai bahwa Tanjung Kalapa sebenarnya diniatkan menjadi kota perdagangan, dan Sundapura murni menjadi kota pemerintahan saja, tetapi keinginan tersebut tak dapat tercapai.
“Kapal-kapal pedagang datang bersama rombongan utusan kerajaan luar yang bertujuan ke Sundapura demi alasan keamanan, lantas barang-barang dagangan itu justru amat digemari oleh petinggi-petinggi kerajaan. Semacam kain sutra, perhiasan emas dan perak, permata, bahkan sampai budak-budaknya yang berparas cantik,” kata gurunya saat itu. “Sedangkan Tanjung Kalapa jarang kedatangan pedagang luar, sehingga mendapatkan barang-barang murah yang tidak begitu bagus, sebab betapa juga tidak banyak petinggi kerajaan yang siap membeli barang-barang mahal di wilayah itu, hanyalah rakyat jelata yang membeli barang untuk kebutuhan hidupnya.”
Jadilah dapat Mantingan pahami bahwa pedagang-pedagang yang datang ke Sundapura membawa barang-barang terbaik berharga mahal dari negerinya, sebab petinggi-petinggi kerajaan membeli sesuatu untuk kesenangannya. Sedangkan pedagang-pedagang yang datang ke Tanjung Kalapa justru membawa barang-barang yang dianggap sebagai sisa di negerinya, sebab rakyat jelata memang membeli sesuatu hanya jika itu menyangkut kebutuhan hidupnya.
__ADS_1
Sedangkan itu, selain para petinggi kerajaan, para saudagar pun berbuat sedemikian pula. Selesai kebutuhan hidup mereka tercukupi, yang barang tentu meliputi makanan, tempat tinggal, dan pakaian, maka begitulah kesenangan hidup berubah menjadi kebutuhan hidup.
Makanan yang mereka pilih bukanlah sekadar yang dapat menyehatkan badan saja, tetapi pula yang menyenangkan lidah. Pakaian mereka bukan saja yang dapat menahan udara dingin, melainkan pula yang berbahan mahal dengan kelangkaan yang teramat. Rumah yang mereka bangun bukan saja yang dapat menahan terik matahari serta terjangan badai, melainkan pula yang besar lagi luas meski sepi dan sunyi tak dapat ditawar.
***
Ketika matahari telah tinggal setengah badan di batas cakrawala sebelah barat sana, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara akhirnya menjumpai sebuah desa kecil.
“Baiknya kita singgah atau melanjutkan perjalanan?” tanya Bidadari Sungai Utara.
Tentulah dengan terbenamnya matahari, serta langit menjadi gelap pekat, mereka dapat kembali meneruskan perjalanan melalui udara. Mantingan mampu menentukan arah jalan dengan membaca rasi bintang, kemampuan tersebut telah ia miliki bahkan sebelum bertemu dengan Kenanga.
Namun, Mantingan dapat merasakan kelelahan Bidadari Sungai Utara yang sebenarnya tak tertahankan lagi. Hanya saja, gadis itu enggan mengungkapkannya, sebab agaknya dia tahu bahwa hal tersebut hanya akan membuat perjalanan menjadi terhambat.
Bidadari Sungai Utara adalah putri dari kerajaan besar. Segala kebiasaannya sangat berbeda dengan rakyat jelata. Bahkan terlarang bagi kakinya untuk menyentuh tanah.
Kali ini, Mantingan tidak akan mengulangi penyesalannya di masa lalu dengan terlalu memaksakan keadaan gadis itu.
“Dikau terlihat amat lelah, Sasmita, baiknya kita singgah sejenak dan mencari penginapan yang tidak terlalu ramai untuk singgah satu malam. Tetapi maafkanlah daku, barangkali saat ini kita tidak akan mendapatkan tempat yang dapat dikatakan layak, atau makanan yang terbilang lezat,” katanya.
__ADS_1
“Bukan masalah,” jawab Bidadari Sungai Utara sebelum tertawa pelan. “Bagaimanakah dikau tahu bahwa daku sangat lelah, Mantingan? Sedang wajahku pun tertutupi bayang-bayang yang bahkan sebagai perkataan dikau tidak dapat ditembus oleh ilmu penglihatan tajam sekalipun.”
Membalas itu, Mantingan pun tertawa. “Tiadalah mungkin daku tak dapat memahami perasaanmu.”