
Mantingan menepuk dahinya saat mendengar itu dari penjaga penginapan. Ini sama seperti cerita-cerita kependekaran yang dikisahkan para juru hikayat, di mana pendekar pria dengan pendekar wanita harus tidur di satu ranjang sebab kamar penginapan tempat mereka menumpang telah habis. Mestikah dirinya mengalami itu pula bersama Chitra Anggini?
Mantingan rasa, itu sama sekali tidak harus. Dirinya bisa mencari penginapan lain di desa itu.
Seolah dapat membaca jalan pikir Mantingan, penjaga penginapan yang duduk di belakang meja itu segera berkata, “Tidak ada penginapan lagi. Di Desa Sawahan ini, hanya kami saja yang buka penginapan. Kecuali jika awak berdua mau tidur di kedai-kedai makan, bersama kecoak dan tikus.”
Mantingan menjadi bimbang seketika itu pula. Diliriknya Chitra Anggini. Minta pendapat. Perempuan muda itu melempar tatapan meyakinkan sebelum menganggukkan kepala.
***
MANTINGAN mengembuskan napas panjang. Dirinya memang tidak memiliki banyak pilihan saat ini. Akan sangat merepotkan baginya dan bagi Chitra Anggini jika pergi ke desa lain hanya untuk mencari penginapan yang masih menyediakan kamar kosong.
Lagi pula dalam menyusun rencana, mereka akan menghabiskan hampir seluruh waktu bersama-sama di dalam satu ruangan, di belakang satu meja, duduk berhadap-hadapan sambil berunding. Menyewa dua kamar boleh jadi akan memancing kecurigaan jika pada akhirnya mereka akan tetap lebih banyak menghabiskan waktu di salah satu kamar saja.
“Memangnya awak berdua bukan pasangan?” Penjaga penginapan itu bertanya sambil mengangkat alisnya. Tampak penasaran.
Kurang dari sekejap mata setelah Mantingan membuka mulutnya untuk memberi bantahan, Chitra Anggini telah lebih dulu menyambar.
“Dia tidak pernah menganggapku sebagai pasangannya, Paman!”
Mantingan melipat dahi sambil menoleh cepat ke arah perempuan itu. Namun sayangnya, Chitra Anggini tidak menggubris dirinya.
“Padahal daku memberikan apa pun yang dia kehendaki, daku juga selalu bermain dengannya setiap pagi-siang-malam!”
Kini Mantingan memelototi perempuan itu. Jelas saja arti tatapan itu, memintanya untuk berhenti!
Chitra Anggini sambil melipat tangannya pula memanyunkan bibir. “Kubilang padanya untuk segera menikahiku, tetapi dia memberi persyaratan yang begitu kejamnya kepadaku Paman!”
“Persyaratan apa itu?” Penjaga penginapan bertanya amat penasaran.
“Persyaratannya adalah menikah dua kali, Paman! Dia ingin menikahi gadis lain setelah menikahiku!”
__ADS_1
“Astaga!” Orang itu menepuk dahinya. “Awak ini bagaimana? Bukankah hal itu sudah biasa? Selama seorang pria memiliki kemampuan menghidupi dua istri, mengapakah pula tidak menikah dua kali?”
Kini, bergantilah Chitra Anggini yang justru tercengang. Sama sekali tidak menduga jawaban itu. Bahkan Mantingan, sebagai pria, juga tidak pernah menduga bahwa jawabannya akan seperti itu!
“Janganlah salah. Yang membuat penginapan ini penuh terisi adalah karena seorang saudagar dari Negeri Atap Langit. Dia membawa banyak sekali istri dan gundik. Jumlahnya ada lima puluhan! Habis sudah penginapanku yang hanya menyediakan belasan kamar, beruntunglah saudagar itu berbaik hati dengan menyisakan satu kamar untuk disewa pengembara yang lewat. Ya, meski dengan harga yang sedikit lebih mahal, sebab dia telah menyewa kamar itu dariku untuk kemudian disewakannya kembali. Sungguh cerdas saudagar itu, mencari uang di mana saja dan kapan saja dengan cara apa saja.”
Mantingan hanya bisa tersenyum pahit. Bukan karena harga kamarnya yang menjadi lebih mahal akibat kecerdikan saudagar Negeri Atap Langit itu. Bukan pula karena saudagar itu memiliki istri dan gundik yang sedemikian banyaknya. Melainkan karena perkataan Chitra Anggini! Sungguh tidak dapat diterimanya.
“Nah, awak contohlah saudagar itu. Dia memang mencintai banyak wanita, tetapi semuanya dipertanggungjawabkan olehnya. Semu wanita itu diberi kasih sayang yang setimpal. Kemarin lusa saat rombongan saudagar itu datang, kulihat para istri dan gundiknya tertawa terus. Mereka bahagia. Tidak tampak sedikitpun permusuhan di antara mereka. Luar biasa.”
Mantingan hanya menggelengkan kepalanya menanggapi itu. Perkara saudagar itu bukanlah urusannya, dan memang sebaiknyalah tidak menjadi urusannya. Diingatnya kembali bahwa bukan tidak mungkin Tapa Balian tengah menderita saat ini, sedangkan dirinya bersantai ria bagai tidak terjadi apa-apa yang teramat genting.
“Berapakah harga yang mesti kubayar untuk menginap satu malam di kamar itu, Paman?” Mantingan mengalihkan pandang dari Chitra Anggini. Kembali pada penjaga penginapan itu.
“Lima puluh perak saja,” jawabnya enteng, seolah telah begitu saja melupakan segala perkataan Chitra Anggini tadi. “Harga dariku hanyalah empat puluh perak, tetapi beginilah saudagar itu telah mengambil untung sepuluh perak tanpa perlu repot-repot sama sekali.”
Mantingan hanya tersenyum canggung tanpa menanggapi keluhan orang itu. Ia meletakkan satu keping emas di atas meja.
Penjaga penginapan lekas menyimpan uang itu di dalam pundi-pundinya sebelum mengantar Mantingan dan Chitra Anggini menuju kamar yang dipesan. Kamar itu terletak di lantai dua.
“Selamat menikmati pesona Desa Sawahan dari penginapan ini. Jika membutuhkan sesuatu, janganlah ragu untuk memanggiku ataupun pekerja lain.” Selepas mengatakan itu, si penjaga penginapan lekas balik badan. Mantingan segera menahannya sebelum orang itu benar-benar pergi.
“Berapakah biaya perawatan untuk kerbauku, Paman?” tanya Mantingan.
“Penginapan ini tidak mengenakan biaya untuk perawatan hewan milik pelanggannya. Namun, itu tidaklah boleh lebih dari tiga ekor. Semuanya kami sediakan. Makanan, minuman, kandang, dan bahkan pemandian jikalau pelanggan telah menginap hingga lima hari lamanya.”
Mantingan mengibaskan lengannya sambil tersenyum gugup. “Paman, daku akan membayar lebih, asalkan perawatan kerbau itu juga dilebihkan. Dia punya kehendak makan yang besar, jadi sudah pasti rumput yang harus Paman sediakan juga banyak. Badannya bau dan dekil, tetapi daku belum sempat memandikannya, jadi mandikanlah kerbau itu meski aku tidak menginap lima hari di sini. Dan jangan terlalu mengurung kerbau itu, ia selalu ingin berpetualang sehingga sudah pasti akan tersiksa jika Paman mengurungnya. Berikanlah ia sedikit kebebasan, jangan mengikatnya, kupastikan dia tidak akan menimbulkan kerusakan dan kegaduhan sekecil apa pun jika tidak dipancing kemamarahanya.”
Tanpa berbasa-basi lagi, Mantingan mengeluarkan sekeping emas dari dalam pundi-pundinya. Meski agak heran, si penjaga penginapan tetap menerima keping emas itu.
“Daku ini heran dengan awak.” Orang itu menggaruk kepalanya. “Awak lebih menyayangi kerbau yang jelek, dekil, dan bau; ketimbang wanita di sebelah awak yang cantik bukan bohongan.”
__ADS_1
Mantingan tersedak ludahnya sendiri. Terbatuk-batuk keras hingga dada terasa sakit. Sedangkan Chitra Anggini di sebelahnya hanya mengangkat bahu.
***
MATAHARI telah menanjak hingga sampai di ufuk tengah. Namun meskipun begitu, udara tetap terasa sejuk. Beberapa petani masih terlihat berkutat di petak-petak sawah bagian mereka.
Mantingan dan Chitra Anggini kembali berkumpul di kamar mereka setelah membersihkan diri di sungai kecil yang ada di desa itu, dan makan di lantai bawah penginapan.
Sudah waktunya mereka berunding.
Mantingan menarik sebuah meja serta dua bangku ke tengah ruangan.
Mereka kemudian duduk berhadap-hadapan. Berdeham beberapa kali sebab merasakan kecanggungan. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin keduanya bahaskan, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengawalinya. Terlebih lagi dengan suasana yang telah menjadi begitu kaku seperti sekarang ini!
“Mungkin, kita dapat memulai dengan pembahasan-pembahasan kecil terlebih dahulu, sebelum masuk pada pembahasan-pembahasan yang lebih besar. Dan anggaplah aku sebagai sebenar-benarnya teman. Jangan biarkan suasana canggung seperti ini bertahan lebih lama lagi.” Mantingan mengungkapkan segalanya secara terang-terangan. Berharap dapat memancing rasa kepercayaan diri Chitra Anggini untuk berbicara santai dengannya.
“Aku sudah pernah ke kotaraja lima kali banyaknya,” kata Chitra Anggini kemudian. “Setiap kali pergi ke sana, aku selalu membawa kepentingan. Sehingga boleh dikata, aku cukup banyak mengerti seluk-beluk kotaraja. Jadi tanyakanlah apa saja yang ingin kau tanyakan.”
__
catatan:
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
favorit 1370\= 2 episode [terpenuhi]
favorit 1400\= 5 episode [+3 eps]
vote 950\= 2 episode [terpenuhi]
vote 1000\= 5 episode
__ADS_1
Bonus episode untuk 950 vote: 1/2