
MANTINGAN menerima dan membaca isi surat itu dengan perasaan rawan, bersedia diri bila memang harus menerima kabar buruk.
Beginilah isi surat tersebut:
Masih ingatkah kamu pada pulau yang terletak di tengah-tengah teluk lepas pelabuhan kotaraja?
Aku menunggumu di sana, tetapi alangkah sayangnya sebab bukan dengan maksud baik.
Aku menantangmu bertarung memperebutkan Sepasang Pedang Rembulan.
Sungguh, Mantingan, sungguh aku tidak menginginkan pedang itu sama sekali.
Tetapi, inilah tugas yang diberikan kelompokku sejak awal. Aku tidak dapat membantah.
Jika kau tidak dapat memenuhi permintaanku ini, maka kau harus menghadapi sesuatu yang jauh lebih buruk lagi, yakni diburu oleh seluruh anggota penari daun, begitu pula yang akan terjadi padaku.
Aku tidak ingin diriku mati di tangan mereka, dan sungguhlah aku tidak ingin kau mati di tangan mereka pula.
Bila memang kematian telah dipastikan untuk salah satu dari kita, maka biarlah kamu yang membunuhku, atau biarlah aku yang membunuhmu.
Demi persahabatan kita, demi ikatan kawan seperjalanan, dan pula demi cintaku yang tak terbalaskan, datanglah kemari.
Mantingan meletakkan surat itu di atas meja dengan tangan bergemetaran. Seluruh isi kepalanya kembali terguncang-guncang. Tak lama lalu ia mengira seluruh perjuangannya telah usai, sehingga dapatlah ia meninggalkan dunia persilatan dengan segala macam pertarungan sia-sia di dalamnya, tetapi ternyata dugaannya itu salah besar.
“Kapankah dirinya memberikanmu surat ini, Rashid?” Mantingan bertanya. Sama seperti tangannya, suaranya juga bergetar.
__ADS_1
“Tepat di pagi hari setelah penyerangan istana malam itu. Dia juga menyampaikan padaku untuk menyerahkan surat ini hanya setelah engkau benar-benar siap menerimanya,” jawab Rashid.
Mantingan mengusap wajahnya yang berkeringat. Tertunduk lemas. Kehilangan sinar hidup.
“Dapatkah sekarang daku bercerita kepadamu, Rashid? Dikau tentunya belum mengetahui kejadian tepatnya pada malam penyerangan itu, sedangkan dikau bertanggungjawab untuk menulis kisah perjalananku. Bukankah begitu?” Mantingan kembali menegakkan kepalanya saat ia bertanya.
“Tentu saja, saudaraku. Dikau dapat bercerita kapan saja selama itu yang dikau kehendaki.” Rashid membetulkan bentuk duduknya. Bersiap mendengarkan meski masih tidak mengerti mengapa Mantingan justru ingin bercerita ketika seharusnya surat dari Chitra Anggini itu mengharu-biru perasaannya.
Mantingan mulai bercerita. Namun, kali ini tanpa raut semacam apa pun pada wajahnya. Ia berceritera dengan wajah dan nada datar, bagaikan memang tidak memiliki jiwa. Amat berbeda ketika dirinya bercerita pada Kana dan Kina sebelum mereka terlelap, yang barang tentu segala keadaan di masa itu tidak ada apa-apanya dengan keadaan saat ini.
Mantingan hanya ingin menyelesaikan tugas-tugas terakhir yang memang sepatutnya ia selesaikan hingga tuntas, termasuk pula tugas menghadapi tantangan bertarung Chitra Anggini. Ia tidak tahu betul siapakah yang akan mati di antara mereka berdua, yang barang tentu dirinya bukan menjadi pengecualian sama sekali.
Pemuda itu bercerita hingga matahari terbenam di ufuk barat, di antara segala bentuk bangunan-bangunan istana yang indah tiada tara. Tepat ketika seorang pengabdi istana datang untuk menebar makanan pada ikan-ikan yang ada di kolam itu.
“Daku berharap kita dapat bertemu lagi di masa mendatang.” Rashid menjabat tangan Mantingan sambil tersenyum hangat. “Kuharapkan yang terbaik untuk dirimu, saudaraku.”
“Ya. Setelah menyelesaikan penyusunan kisahmu, daku akan langsung kembali kepadanya.”
Mantingan menepuk pundak pria itu sebelum berjalan pergi. Dia perlu menemui Puan Kekelaman.
***
“Dikau bisa mengikutiku.”
PUAN Kekelaman dengan hangat bersedia mengantar Mantingan menuju tempat disimpannya abu Kiai Kedai serta Tapa Balian.
__ADS_1
Sebelum melanjutkan perjalanannya meninggalkan kotaraja, Mantingan merasa berkewajiban memberi pembaktian terakhir pada dua orang yang sangat berjasa dalam kehidupannya itu, yang sayangnya pembaktian terakhir tersebut hanya dapat berupa penghormatan saja.
Mereka melewati lorong-lorong istana yang mewah dan megah, tetapi kesunyian tidak dapat ditawar lagi. Ketika istana diserang, ada begitu banyak abdi dalam yang terbunuh meski mereka tak dapat dikatakan melawan dalam bentuk apa pun terhadap para penyerang. Meskipun terdengar kejam, tetapi hal seperti itu memang sangat wajar dalam peristiwa penyerangan.
Para penyerang yang datang dari Pemukiman Miskin Kotaraja telah menaruh kebencian yang teramat dalam pada kerajaan beserta para penghuninya, siapa pun itu. Pada peristiwa penyerangan malam tersebut, segala sesuatu yang ada di hadapan mata mereka tampak layak untuk ditebas dengan pedang.
Tak hanya para pelayan yang berguguran sebagai pihak yang tidak berdosa, tetapi pula sebagian besar dari pasangan-pasangan pendekar yang mengikuti Perhelatan Cinta. Meskipun pendekar-pendekar itu dapat menahan laju serangan dari para penyerang, tetap saja usaha mereka tidak dapat berlangsung terlalu lama. Bagaimanapun juga, para penyerang memiliki kemampuan memuntahkan ribuan pisau terbang hanya dalam waktu sekejap mata saja. Hal itu tentu bukanlah sesuatu yang dapat dilawan.
Pasangan-pasangan pendekar yang masih hidup, dengan pasangan yang masih lengkap maupun yang sudah tidak, sebenarnya telah menuntut pihak Kedatuan Koying untuk bertanggungjawab. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa setelah melihat sendiri jasad Raja Koying yang pada saat itu memang sengaja dipertontonkan sebagai bukti betapa benar kisah yang dijelaskan oleh Puan Kekelaman. Siapa pun bersepakat bahwa sang raja telah membuat jebakan dengan dalih Perhelatan Cinta, jadi hanya orang itulah yang dapat disalahkan.
Sebagaimana yang diceritakan oleh Rashid ketika dirinya masih bercakap-cakap ringan sebelum berpisah dengan Mantingan, hubungan antara dunia persilatan dengan dunia awam kembali memburuk, bahkan jauh lebih buruk ketimbang sebelumnya.
Sebagian besar pendekar aliran merdeka menyatakan diri bahwa mereka tidak akan mencampuri urusan-urusan dunia awam lagi, padahal sebelumnya mereka cukup giat menyumbang kekuatan pada orang-orang yang bukan berasal dari golongan pendekar ketika sedang ditimpa kesulitan hingga marabahaya dari aliran hitam.
Sedangkan beberapa perguruan besar aliran putih, bahkan termasuk pula Perguruan Angin Putih, mengecam keras tindakan Koying yang mencampuri hingga membahayakan orang-orang dunia persilatan. Namun, tiada pernyataan apa pun yang menyebutkan bahwa mereka akan berhenti memberikan bakti pada masyarakat awam.
Yang terpasti, nama Pahlawan Man tidak akan sama lagi dengan ketika dirinya berhasil menyelamatkan Tarumanagara dari kehancuran mutlak di tangan para pemberontak. Setelah kabar bahwa Pahlawan Man membantu rencana makar, orang-orang mulai menduga bahwa kedudukannya sebagai Pemangku Langit telah membuat pendekar muda itu merasa dapat bertindak semena-mena.
Tentang bagaimana Tarumanagara akan menganggapnya, hanya perlu menunggu waktu saja. Mantingan tidak dapat berharap banyak.
Kini, dipandanginya Puan Kekelaman oleh pemuda itu. Mencari jawab di balik wajahnya yang memiliki kecantikan seorang dewi kahyangan, bagai tiada lagi yang dapat menyainginya selain Bidadari Sungai Utara seorang.
Siapakah perempuan itu sebenarnya? Barang tentu Raja Koying tidak mengenalnya sebagai Puan Kekelaman, sebab betapa juga wanita itu adalah selirnya. Pula orang-orang istana tidak akan memanggilnya dengan sebutan sedemikian. Lantas siapa namanya?
Menyadari dirinya sedang dipandang, Puan Kekelaman menoleh ke arah Mantingan sambil kemudian memandanginya balik. Dikiranya pemuda itu akan segera memalingkan muka, tetapi kenyataannya tidaklah serupa, Mantingan justru menatapnya makin tajam.
__ADS_1
“Siapakah dikau sebenarnya?”