
Setelah beberapa saat, Mantingan sudah mendapatkan beberapa Bunga Aroma Kematian yang layak dijual. Bunga-bunga yang tersisa akan mati dengan sendirinya, menjadi pupuk untuk tunas-tunas baru nantinya.
Memang begitulah hukum alam yang berlaku pada Bunga Aroma Kematian.
Mantingan menghampiri Dara, menunjukkan Bunga Aroma Kematian yang berhasil ia dapatkan. Tetapi Dara segera menjauh dan menutup hidung, raut wajahnya yang buruk menunjukkan bahwa ia sangat mual. Mantingan tersenyum tipis. Dirinya memang sudah terbiasa dengan aroma dari bunga itu, tetapi Dara tidak begitu.
“Saat berjalan nanti, jauh-jauhlah dariku!” Dara berjalan dengan cepat meninggalkan Mantingan, seolah tidak khawatir tersesat.
Mantingan tidak ada pilihan lain selain mengikuti Dara dari belakang. Selama di perjalanan, Mantingan berkali-kali meneriaki Dara ketika gadis itu mengambil jalan yang salah, berkali-kali pula Dara mengalihkan arah jalan. Perjalanan yang seharusnya singkat itu menjadi jauh lebih lama karena bukan Mantingan yang memimpin. Mantingan sangat bersyukur saat akhirnya melihat perkemahan di depannya.
“Berjalan bersamamu benar-benar menyesatkan dan melelahkan!” Dara berseru kesal. “Jangan pergi ke sungai, aku ingin mandi!”
Mantingan tidak tahu harus menjawab apa saat melihat Dara berjalan menjauh. Menurut perhitungannya, Dara-lah yang membuat perjalanan memakan waktu yang lebih lama. Tetapi Mantingan tidak mempermasalahkan jika Dara menyalahkannya. Itu bukan masalah besar. Untuk apa dipikirkan?
Mantingan bergerak ke ruang penyimpanan. Di sana terdapat beberapa kain berbahan kuat yang diberikan Dara, Mantingan menggunakan itu untuk membungkus Bunga Aroma Kematian. Jika saja bunga itu tidak segera mendapat tempat yang kedap, aroma busuknya akan mengundang lalat untuk datang. Tanpa akar dan kehidupan, bunga itu justru hancur ketika lalat dan serangga datang.
Mantingan menghitung perolehan Bunga Aroma Kematian yang ia dapatkan hari ini. Semuanya berjumlah tujuh bunga. Dengan perkiraan berat bunga yang Mantingan perkirakan, maka kemungkinan keping emas yang akan ia dapatkan berjumlah 200 keping emas.
Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah uang terbesar yang pernah ia dapatkan, yaitu 100 keping emas, yang diberikan Birawa. Mantingan tersenyum cukup puas. Dengan uang sebanyak itu, Mantingan bisa pergi ke Suvarnadvipa sekalipun. Tetapi untuk saat ini, Mantingan memilih untuk memperbanyak bekal sebelum benar-benar pergi ke pulau seberang.
Mantingan juga ingin membeli beberapa pusaka atau obat-obatan yang berguna untuk meningkatkan tenaga dalam. Di perguruan misalnya, mereka memakai obat-obatan untuk meningkatkan kualitas tenaga dalam murid-muridnya. Obat-obatan ini biasa dijual di toko herbal perkotaan, banyak juga perguruan yang menjual obat buatannya sendiri.
Sedangkan pusaka, bisa Mantingan gunakan sebagai penyanding senjata utamanya—Pedang Kiai Kedai. Seperti jarum-jarum beracun, pisau terbang, dan lain-lain. Untuk membeli satu pusaka saja membutuhkan banyak uang. Misalnya jarum beracun, satu bungkusan yang berisi 100 jarum berharga 100 keping emas, sedangkan satu bandela berisi 500 jarum berharga 400 keping emas.
__ADS_1
Bagi Mantingan, saat ini jumlah seperti itu masih sulit dijangkau. Saat ini ia hanya memiliki satu bungkusan jarum beracun yang diberikan oleh gurunya. Sedangkan dalam pertarungan yang mendesak, seorang pendekar aliran hitam membutuhkan lebih dari satu bungkusan jarum beracun.
Tak lama berselang, Dara kembali dalam kondisi yang lebih segar. Dia menghampiri Mantingan dan bertanya, “Berapakah bunga yang kaudapatkan, Mantingan?”
“Tujuh bunga muda dengan berat sedang.”
Dara mengangguk. “Kalau begitu, aku akan menjual semuanya dengan harga 500 keping emas.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Dara, perkiraanku dari keuntungan ini hanya 200 keping emas saja.”
Dara menggeleng, ia kemudian menjelaskan, “Dalam situasi rawan terjadi perang seperti saat ini, menjual Bunga Aroma Kematian atau persenjataan pada salah satu pihak dengan harga yang murah akan memancing keributan dari pihak lainnya.”
“Mengapa bisa seperti itu?” Mantingan bertanya, heran.
“Sulit untuk menjelaskannya. Tetapi, suatu yang pasti adalah tidak menjual bunga itu terlalu murah. Politik selalu memiliki cara untuk meraih keuntungan, maka dari itu lebih baik kita saja yang mengambil keuntungan.”
Ia sama sekali tidak senang walau mengetahui akan mendapat uang yang lebih banyak. Toh dus peperangan akan tetap terjadi. Tidak peduli apakah Bunga Aroma Kematian berharga murah atau berharga mahal.
“Sepertinya niatku untuk pulang hari ini harus dibatalkan.” Dara berkata canggung.
Mantingan memahami situasinya, mengangguk pelan. “Siang sudah mendekati senjakala, akan berbahaya jika engkau pulang sekarang.”
Dara mengangguk, dengan sedikit kekhawatiran di wajahnya ia berkata, “Akan tetapi, aku khawatir orang-orangku mencari diriku. Dalam situasi yang rawan perang seperti ini, akan sangat berbahaya jika terjadi singgungan-singgungan dan tuduhan atas mengapa hilangnya diriku.” Dara mengembuskan napas resah. “Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”
__ADS_1
Mantingan berpikir beberapa saat, sebelum menjawab, “Dirimu adalah milikmu, maka jawaban itu seharusnya datang dari dirimu sendiri.”
“Bagaimana jika aku jadi milikmu?”
Mantingan membeliakkan mata. Tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tetapi hatinya kembali lega saat Dara tertawa renyah.
“Jangan menganggapnya serius, itu hanya candaan.”
Dan andaikan saja Mantingan tahu. Bahwa itu sebenarnya tidak sengaja Dara ucapkan, tetapi yang diucapkannya itu sungguhan. Sungguhan di sini maksudnya adalah kenyataan. Kenyataan bahwa dirinya menginginkan Mantingan, tidak bisa terpendam lagi. Walau telah ia yakini sedari siang tadi, bahwasanya dia tidak pantas diperuntukan Mantingan.
Dirinya tidak pernah merasakan apa yang ia rasakan pada Mantingan dengan pria lain. Tidak ada yang benar-benar mampu memikat hatinya. Tidak ada yang benar-benar mampu membuat hatinya berdebur kagum. Dan tidak ada yang benar-benar membuatnya nyaman sekaligus aman. Tidak ada, selain pemuda bernama Mantingan.
Di matanya, pemuda itu satu-satunya pengharapan. Jika ia berubah ke arah yang lebih baik suatu hari nanti, itu dikarenakan pemuda tersebut. Bukan untuk orang lain Dara melakukan itu.
Sayang sekali pemuda yang disebut itu tidak cukup menyadari perasaan Dara. Atau ia memang tidak ingin menyadarinya.
Mantingan tidak ingin jatuh cinta lagi, selain pada Rara seorang. Abu Rara masih ia miliki senantiasa, tanda cintanya masih hidup untuk Rara. Orang yang bahkan seperti Dara tidak bisa menggantikan posisi Rara. Jika Mantingan terlanjur mengetahui perasaan Dara, maka itu akan jadi sangat merepotkan. Sedari dahulu, Mantingan sangat menghindari apa pun yang dapat membuat perasaan orang tersakiti. Mantingan harus menghargai perasaan Dara jika ia sudah terlanjur mengetahui hal tersebut, tetapi bentuk penghargaan akan perasaan cinta tidaklah sesederhana memberikan sekuntum bunga.
Untuk mengalihkan suasana, Mantingan mengeluarkan sesuatu dari ruang penyimpanannya. “Dara, engkau bahkan memberikanku sayuran segar begitu banyak. Ini akan busuk jika tidak segera dimasak.”
“Ya, lalu?”
“Masaklah.” Mantingan memberikan sekarung berisi sayuran pada Dara. “Aku ingin mandi.”
__ADS_1
Dara membesarkan matanya. “Kau curang!”
“Tidak curang. Bukankah engkau sendiri yang mengatakan kalau kau pandai memasak?” Pertanyaan Mantingan itu berhasil membuat Dara tercekat. “Demi kebaikan bersama ... kau tentu tidak mau mencoba masakanku, bukan?”