
MANTINGAN MENGIRIM bisikan angin menuju telinga Pendekar Sanca Merah. “Daku tahu mengapa engkau memancingku untuk datang ke tempat ini, Sanca Merah. Ini disebabkan karena engkau tidak bisa bertarung di luar ruangan bukan?”
Pendekar Sanca Merah masih tidak menjawab. Semakin dekat Mantingan melangkah, semakin cepat pula ia menghisap-mengembuskan asap cangklongnya.
“Daku juga tahu mengapa engkau disebut Pendekar Sanca Merah. Kemampuanmu bergerak sesenyap ular sebenarnya bukan didapatkan dari ilmu meringankan tubuh yang tinggi, melainkan dari asap cangklongmu yang melenakan kemampuan pendengaran seseorang.” Mantingan melewati golek-golek tanpa halangan sama sekali. “Pendekar Sanca Merah, sungguh pekat sekali racun yang terkandung dalam asap cangklongmu. Tetapi daku bisa berlega hati sebab racun ini tidak akan mempan lagi padaku. Engkau tak dapat menyembunyikan rahasiamu di depanku.”
Perempuan itu merapatkan dirinya ketika Mantingan telah sampai tepat di depannya. Mantingan menyunggingkan senyum lebar.
“Dan diriku juga tahu bahwa asap dari cangklongmu yang mengendalikan Golek Jiwa. Itulah mengapa angin ini membuat mainan-mainanmu tak berdaya. Kini kau tidak dapat mengelak lagi, Sanca Merah.”
Perempuan itu tersenyum getir. “Memanglah sahaya tidak dapat mengelak dari pendekar yang mampu membaca pertanda seperti Tuan, tetapi Tuan juga tidak dapat mengelak dari yang satu ini.”
Mulanya Mantingan hanya mengernyitkan dahi. Tetapi ketika didengarkan kelebatan angin di belakangnya, Mantingan membeliakkan mata. Ia berusaha memutar diri, mengentak kaki, mengayunkan pedang, atau apa pun itu yang dapat menyelamatkannya dari serangan mendadak. Akan tetapi, Mantingan sungguh-sungguh terlambat.
Mantingan berteriak keras sebelum sesuatu melilitnya dengan teramat kuat. Seluruh tubuhnya tiada bisa digerakkan. Bahkan mulutnya pun tiada dapat mengucap sesuatu. Napasnya benar-benar berhenti, tetapi barang tentu dirinya masih belum mati.
Mantingan melihat ke sekujur tubuhnya. Ia menemukan sebuah benda berukuran panjang yang telah melingkar-lingkari tubuhnya. Begitulah Mantingan mengetahui bahwa dirinya telah dililit Golek Jiwa berbentuk ular panjang lagi besar.
Badai angin seketika berhenti. Gemuruhnya hilang. Malam kembali sepi tanpa terdengar satupun suara jangkrik.
__ADS_1
Pendekar Sanca Merah tertawa terbahak-bahak melihat Mantingan tidak berdaya. Keadaan berbalik dalam seketika. Sesuatu yang bahkan seorang Mantingan tidak menduganya.
“Tetapi Tuan tidak mengetahui mengapa sahaya disebut sebagai ular sanca. Padahal masih banyak jenis ular lain yang dapat bergerak lebih senyap ketimbang ular sanca.” Pendekar Sanca Merah masih belum benar-benar dapat meredakan gelak tawanya. “Golek Jiwa yang telah melilit Tuan adalah penyebab mengapa sahaya disebut sebagai ular sanca ....”
Lilitan Golek Jiwa berbentuk sanca itu semakin bertambah. Kepala dari ular tersebut berada tepat di atasnya, dengan rahang terbuka, menunjukkan betapa banyak dan tajam taring-taringnya. Dalam lilitan yang sungguh tiada terkira besarnya, Mantingan tidak dapat bergerak berang sedikitpun. Kulitnya pucat pasi. Pandangannya buram perlahan-lahan.
“Dan Tuan juga tidak mengetahui mengapa sahaya disebut sanca merah, bukan? Tuan akan melihatnya sebentar lagi, setelah tubuh Tuan hancur, menyemburkan lautan darah ke badan golekku.” Kembali perempuan itu tertawa terbahak-bahak. “Tuan, engkau telah membuat suatu keputusan yang bodoh. Sahaya akan tetap membunuh Bidadari Sungai Utara sekalipun Tuan telah terbunuh. Oh, dan sahaya akan bermain-main sebentar dengan dua bocah di sana.”
Meskipun tidak berdaya, Mantingan masih dapat mendengar perkataan itu. Betapa dalam benaknya ia menggeram marah. Marah pada Pendekar Sanca Merah, juga pada dirinya sendiri. Andaikan kata ia tidak lengah dan tidak bersombong ria tatkala merasa berada di atas angin, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Sungguh Mantingan menyesalinya. Jika ia mati sebentar lagi, maka sangat mungkin ia akan mati dirundung penyesalan besar.
Pandangannya menggelap hingga ia tak dapat melihat apa pun selain kegelapan itu sendiri. Tubuhnya perlahan mati rasa. Ia seperti berada di ruang hampa. Tak ada yang dirasakannya sama sekali. Mungkin dalam beberapa kejap mata lagi, pemuda itu akan mati.
Arkawidya tidak akan datang kembali dan memberikannya cincin penyelamat jiwa. Bidadari Sungai Utara mungkin sudah tidur terlelap di dalam tenda bersama Kana dan Kina, tidak akan menyelamatkan. Dan di manakah Rara saat Mantingan membutuhkannya sekarang ini?
Bolehkah ia berharap ada seseorang yang datang menyelamatkannya? Kiai Guru Kedai misalnya, walau sebenarnya orang itu telah meninggalkan Javadvipa. Bisakah Satrya saja yang datang dengan lontarnya yang bercahaya terang? Atau Ketua Rama bersama selusin Pasukan Topeng Putih?
Semua harapan itu hanya memiliki kemungkinan yang kecil untuk tergenapi. Sedangkan kemungkinannya untuk kematiannya sangatlah tinggi.
Apakah usai sudah kisahnya sampai di sini? Sedangkan naskah kitabnya masih belum juga diselesaikan? Bagaimanakah dengan impiannya menjadi pengembara ternama seantero Dwipantara?
__ADS_1
Mantingan teringat akan masa kecilnya. Ketika dirinya berdiri di tengah ladang rumput bersama seorang temannya. Ketika itu angin berembus cukup kuat untuk menyibak hamparan mega-mega dari langit biru. Saat itulah lengan Mantingan terangkat tinggi. Pandangannya tidak sungkan-sungkan menatap teriknya mentari di ufuk tengah.
“Suatu hari nanti ketika kaki-kakiku sanggup melangkah jauh, aku akan pergi ke ujung dunia. Aku akan melihat ujung dari langit dan tempat di mana awan-awan diciptakan. Apakah kau mau ikut bersamaku?”
“Tidak, itu tidak mungkin. Jangan bermimpi di siang bolong seperti ini. Lihat bapakku, dulu dia juga menginginkan diri menjadi pengembara. Tetapi pada kenyataannya, ia hanya pernah pergi sejauh desa sebelah saja.”
Lalu jawabnya, “Aku bukan bapakmu.”
Temannya itu menghela napas panjang. “Lalu, jika nanti kau sudah melihat semua itu semua, apakah yang akan kau lakukan?”
“Aku akan menyelamatkan desa ini dari kemiskinan ilmu!” Mantingan berkata riang.
“Ya, terserah dirimu. Aku hanya minta engkau menulis kisah perjalananmu nanti, karena impianku jika sudah besar adalah bisa membaca aksara.”
Bisa dikatakan, Mantingan telah mengikuti saran tidak langsung dari temannya itu untuk menulis kisah perjalanannya. Tetapi, apalah gunanya jika ia mati sebelum kisah itu ditamatkan?
Mantingan tidak akan berhenti. Tidak akan menyerah. Meskipun tiada lagi yang mendukungnya, atau hanya ada yang mendukung lewat pujian semata, sehingga ia jatuh miskin nantinya, Mantingan akan tetap melanjutkan perjalanan sampai ia menemukan akhir yang indah untuk menutup kisah.
Tenaga badannya memang sudah tidak dapat diandalkan. Tetapi ia masih memiliki tenaga dalam yang cukup banyak. Tetapi akan tetap percuma jika tenaga dalam itu diedarkan ke seluruh tubuh, tidak akan membuahkan hasil apa pun, sebab tubuhnya tiada dapat digerakkan.
__ADS_1
Segenap tenaga dalamnya diedarkan ke tujuh titik cakra di dalam tubuhnya. Mantingan akan membuka seluruh cakra sekarang juga, tidak peduli seberapa keadaan menekannya!