Sang Musafir

Sang Musafir
Kotaraja!


__ADS_3

KOTARAJA!


Apa yang tergambarkan dalam benak Mantingan tentang Kotaraja Koying sungguh tidak tepat dengan kenyataannya. Kota ini jauh lebih menakjubkan ketimbang apa yang ada di dalam bayangannya!


Meskipun hanya memandanginya dari kejauhan, ibukota Kerajaan Koying itu tampak bagai kota surgawi. Kota kahyangan.


Keindahannya sungguh tidak dapat terlukiskan, terkatakan, atau bahkan terbayangkan!


Kota itu tampak sangat anggun. Dikelilingi benteng tinggi berwarna putih, cermelang dipantul sinar mentari. Bagaikan sebutir mutiara di tengah padang rumput yang hijau permai.


Pintu gerbang kota itu teramat indah, berbentuk seperti tetesan air. Bagai akan menghantam tanah sebentar lagi.


Sedangkan di balik benteng putih tinggi yang mengukungnya, tampak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Juga berwarna putih. Bagaikan sedang menantang langit untuk meruntuhkannya.


Di sebelah utara kotaraja, terhampar birunya air laut. Itu adalah sebuah teluk, yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau kecil. Di pesisir utara itulah tampak pelabuhan besar. Ratusan kapal layar bersandar di dermaga, sedangkan puluhan lainnya buang sauh di teluk. Pelabuhan itu tampak ramai.


Ada empat jalan besar menuju kotaraja. Masing-masing jalan itu datang dari satu penjuru mata angin. Mantingan, Chitra Anggini, dan Munding Caraka berjalan di jalanan yang mengarah ke penjuru timur—meskipun yang sebenar-benarnya berjalan hanya Munding saja.


Menghampar di sisi kiri dan kanan mereka adalah padang rumput luas dengan sedikitnya pepohonan. Sedangkan jauh di sebelah barat sana, terdapat sebuah gunung besar, menjadi latar kelabu yang membelakangi Kotaraja Koying.


Agak jauh di depan dan di belakang pedati mereka, terdapat beberapa rombongan pedagang yang membawa pedati-pedati besar—yang saking besarnya itu hingga harus ditarik oleh dua kerbau untuk satu pedati.


Mantingan masih takjub dengan segala pemandangan yang terbentang di depan matanya, tetapi tidak lantas ia menjadi lalai. Ia lekas teringat bahwa dirinya masih menyimpan sesuatu hal yang belum diungkapkan pada Chitra Anggini, dan rasa-rasanya mesti segera diungkapkan sebelum mereka melewati pintu masuk kotaraja.


“Chitra, apakah akan ada pemeriksaan saat kita masuk nanti?”


“Tentu saja ada, sebab kamu adalah orang yang baru pertama kali masuk ke dalam kotaraja.” Chitra Anggini mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pundi-pundinya. Sebuah lencana kayu. “Sedangkan untuk orang yang telah cukup lama tinggal di sana, akan mendapatkan lencana ini. Meskipun akan tetap diperiksa sebelum memasuki kotaraja, tetapi pemeriksaannya tidak akan terlalu menyeluruh.”


Seketika itu pula wajah Mantingan menjadi pucat pasi. Tangannya bergetar cukup kuat. Chitra Anggini segera menyadari gelagat aneh itu.


“Kau terlihat teramat gusar, apakah ada masalah? Apa kau membawa barang-barang terlarang?”


“Barang terlarang? Tingkatannya jauh lebih terlarang di atas itu!” Mantingan mengusap wajahnya. Chitra Anggini dibuatnya semakin penasaran.


“Lantas kau membawa apa?”


“Aku membawa peta bangunan bawah tanah istana yang telah lama ditinggalkan!” Mantingan membisik keras. “Bangunan itu terpendam jauh di bawah permukaan tanah, ditinggalkan sebab terdapat kesalahan mantra sihir yang membuatnya menjadi tempat paling berbahaya, mematikan, dan menyeramkan di istana. Namun itulah pula titik terlemah istana yang bisa disusupi!”


“Dari mana kaudapatkan peta itu?” Chitra Anggini bertanya masih dengan suara pelan, tetapi tampak raut wajahnya telah memburuk.


“Dari barang curian saudagar Negeri Atap Langit yang menyerang kita kemarin. Ada peta itu di dalam bundelannya.”

__ADS_1


“Mantingan! Kaumencuri!”


“Aku sudah bertimbang matang-matang sebelum mengambilnya.”


Memanglah benar. Mantingan telah berpikir masak-masak sebelum mengambil peta itu, dan hasil pertimbangannya adalah untuk tetap mengambilnya. Jikalau tidak, maka bisa saja peta itu merusak segala rencana penyelamatan Tapa Balian di istana!


“Pemikiran semacam apa yang membuatmu tetap mengambil peta tak berguna itu? Sudah terlambat bagi kita untuk membuangnya sekarang.”


“Aku tidak bisa menjelaskan hal itu kepadamu sekarang.” Mantingan menggerakkan kepalanya sedikit cepat. “Gerbang kotaraja sudah dekat. Kita harus memikirkan cara untuk menyelundupkan peta itu. Aku tidak punya gagasan sama sekali.”


“Perhatianmu buncah, Mantingan, jadilah kamu tidak dapat berpikir dengan sejernih-jernihnya. Kauberpikirlah sebisamu, biar aku yang memikirkan cara utamanya,” katanya kemudian, “Munding, melambatlah sedikit. Kita memiliki sedikit masalah di sini.”


“Sedikit masalah? Ini jelas masalah besar!”


“Diamlah, Mantingan. Gunakan waktu untuk berpikir.”


Chitra Anggini mengambil bentuk duduk bersila. Memejamkan matanya. Terbenam dalam perenungan berat dalam samadhi.


Sedangkan Mantingan, jangankan untuk berpikir, untuk duduk tenang pun dirinya tidak bisa. Gusar sekali. Mengusap wajahnya berkali-kali. Mendesah berkali-kali. Menggerutu berkali-kali pula.


“Gerbang kotaraja semakin dekat ... gerbang kotaraja semakin dekat ... gerbang kotaraja semakin dekat ... gerbang kotaraja semakin dekat ....”


Gerbang kotaraja memang semakin dekat. Sekiranya jarak yang tersisa tinggallah dua puluh tombak lagi. Kemegahan tembok kotaraja semakin nyata terlihat, tetapi itu sama sekali tidak bisa dinikmati oleh Mantingan. Sedangkan di sekitar pintu masuk kotaraja, terlihat puluhan prajurit bersenjata lengkap yang sedang memeriksa beberapa rombongan pedagang berpedati yang hendak melewati pintu masuk. Mantingan semakin gelisah lagi.


“Mantingan, berikanlah peta itu kepadaku sekarang! Cepatlah, sebelum kita masuk ke dalam jangkauan penglihatan mereka.”


Mantingan tidak tahu apa yang dipikirkan Chitra Anggini, tetapi dirinya menurut saja. Beruntungnya, pedati yang ditumpanginya ini memiliki atap besar berbentuk kubah, sehingga pandangan prajurit yang mengawasi dari atas benteng dapat terhalangi. Setelah mengambilnya dari dalam bundelan, Mantingan segera memberikan peta berbentuk gulungan kertas itu kepada Chitra Anggini.


“Apakah yang akan kaulakukan?!” Mantingan terkejut ketika melihat perempuan itu memasukkan peta tersebut ke dalam bajunya!


“Ikuti saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya kepadamu.” Chitra Anggini merebah di atas lantai pedati sebelum menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. “Saat diperiksa nanti, jangan kaukeluarkan nafsu pembunuh sekecil apa pun. Semua prajurit yang menjaga kotaraja adalah pendekar, mereka cukup peka untuk dapat menyadari hawa pembunuh meskipun itu bagai hanya semilir angin saja. Jika kau sampai kedapatan mengeluarkan hawa pembunuh, maka kita berdua akan langsung ditangkap. Kamu tetaplah berwaspada, tetapi jangan berlebihan.”


Mantingan kembali mengusap wajahnya sekali. Gusar sekali. Tidak merasa percaya diri sama sekali. Saat itulah, Chitra Anggini menggenggam tangannya yang baru saja hendak mengusap wajah. Mantingan menatapnya bingung.


“Mantingan,” kata Chitra Anggini lamat-lamat. “Aku yakin kita dapat melewati mereka dengan semudah-mudahnya. Jangan khawatir.”


“Ini benar-benar asing bagiku, Chitra. Kotaraja terlalu besar, terlalu maju, terlalu canggih. Aku tidak yakin dapat menghadapi prajurit-prajurit itu.” Mantingan berkata pelan, keresahannya sama sekali tidak berkurang. Bersamaan dengan itu, Munding Caraka berhenti melangkah, sebab tepat di depannya terdapat pedati lain yang sedang menunggu diperiksa sebelum memasuki kotaraja.


“Wahai! Bukankah ada diriku yang sudah kenal betul seluk-beluk Kotaraja Koying tepat di sebelahmu ini? Tidak perlu takut, biarkanlah kali ini aku yang membimbingmu.”


Mantingan terpekur di tempatnya; sedangkan Chitra Anggini kembali menarik kedua lengannya dan meringkuk di dalam kemul.

__ADS_1


“Mantingan, jika prajurit itu bertanya mengenai keadaanku, katakan saja bahwa diriku sedang menjadi wanita.”


“Baiklah.” Mantingan membalas cepat, asal-asalan, sebelum menyadari terdapat sesuatu yang salah dari permintaan Chitra Anggini. “Tunggu. Bukankah kau memang telah menjadi wanita sedari kau lahir? Chitra, apakah ternyata kau adalah wanita jadi-jad—”


“Selamat pagi, Saudara.”


Belum sempat Mantingan menuntaskan kalimatnya, seorang prajurit penjaga gerbang telah menghampiri dan menyapanya. Mantingan lekas mengalihkan seluruh perhatiannya dari Chitra Anggini.


Prajurit itu bersenjata lengkap. Kelewang di pinggangnya, tombak di tangan kanannya, dan panahan di punggungnya. Pakaiannya serba hitam, dengan baju berlengan pendek dan celana panjang; sebuah kain songket terpasang di pinggangnya.


“Selamat pagi pula, Saudara Prajurit.” Mantingan tersenyum lebar dan balas menyapa, meski senyum itu sungguh jelas tampak canggung.


“Apakah Saudara bisa menunjukkan lencana pengenal?”


“Diri sahaya belum memilikinya, baru pertama kali datang ke kotaraja.” Mantingan menjawab jujur.


“Sedangkan Saudari yang sedang tertidur itu?”


“Dia memilikinya.” Mantingan kemudian menyenggol Chitra Anggini yang merebah sambil berkemul di sebelahnya. Meski memejamkan mata, gadis itu tidak mungkin tidur.


“Ada apa? Kau sangat menggangguku!” Chitra Anggini berkata malas-malasan yang bahkan tanpa membuka matanya.


Mantingan menatapnya heran. Mengapa perempuan itu marah tetiba? Apa yang salah?


“Tanda pengenal.”


Dengan malas-malasan pula, Chitra Anggini menarik pundi-pundi yang tergeletak di sebelahnya. Mengeluarkan sebuah lencana kayu, lalu melemparkannya kepada Mantingan.


“Jangan sampai hilang.” Itulah kalimat terakhir dari Chitra Anggini sebelum kembali merebahkan kepalanya. Terpejam.


Meskipun teramat bingung dengan sikap Chitra Anggini, Mantingan tetap memberikan lencana tersebut kepada prajurit yang berdiri tepat di samping pedatinya itu.


Setelah mencermati lencana milik Chitra Anggini, prajurit itu menganggukkan kepalanya. Dikembalikanlah lencana tersebut pada Mantingan. “Saudara-Saudari berdua harus turun pedati demi pemeriksaan. Kami juga harus memeriksa pedati kalian. Apakah ada yang keberatan?”


Mantingan tahu bahwa dirinya jelas tidak memiliki pilihan lain. Menyatakan keberatan sama saja dengan menyatakan diri sebagai ancaman yang telah sepantasnya ditangkap. Tepat setelah dirinya mengatakan sudah bersedia, Chitra Anggini tiba-tiba mengeluarkan perkataan menolak.


“Katakan kepada prajurit itu, daku tidak bisa turun.” Chitra Anggini berkata antara lemah dan malas. Jelas saja kalimat itu ditunjukkan kepada Mantingan, namun betapa pun tetap terdengar sampai ke telinga prajurit itu.


“Maaf, tetapi mengapa Saudari tidak bersedia?” tanyanya kemudian yang dengan sengaja mengelus gagang kelewang.


Chitra Anggini tidak membalas. Hanya mengeluh pelan sambil meringkuk. Wajahnya penuh dengan kerutan, seperti sedang menahan sakit. Mantingan lekas mengetahui bahwa dirinyalah yang harus menjawab pertanyaan prajurit itu.

__ADS_1


“Dia sedang menjadi wanita, Saudara Prajurit.”



__ADS_2