
MUNDING Caraka menghentikan lajunya, tetapi tidak lantas mendarat ke tanah. Kerbau siluman itu mengambang di udara, tanpa bergerak maju maupun mundur barang sedikitpun.
Mantingan melihat ke bawah. Hanya menjumpai kegelapan. Tetapi ketika diedarkannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun, dapatlah ia menemukan sesosok tubuh manusia yang tergeletak tanpa daya di atas tanah. Mantingan masih dapat mendengar deru napas dari sosok berwujud manusia itu, yang sama saja berarti dia masih hidup!
“Dikau carilah tempat mendarat yang paling memungkinkan, Munding.” Setelah berkata seperti itu, Mantingan lekas melompat turun dari punggung Munding Caraka. Melayang bebas tetapi ringan, bagaikan sehelai kapas dilambaian angin.
Untuk mencapai tempat di mana tubuh itu terbaring, Mantingan benar-benar harus melewati reranting dan dedaunan dari pohon-pohon rimbun yang saling berdekatan. Hal inilah pula yang membuat Munding Caraka tidak dapat mendarat turun.
Mantingan menarik Pedang Kiai Kedai dari sangkarnya untuk kemudian digunakan untuk menebas dahan-dahan dan dedaunan yang menghalangi jalannya, sehingga dapatlah kini dirinya mendarat dengan sangat ringan dan halus tepat di sebelah tubuh berwujud manusia itu.
“Masihkah kau tidak ingin bercerita sedikit kepadaku tentang hubunganmu dengan Kembangmas?”
Mantingan bertanya begitu sebab rupa-rupanya sesosok tubuh manusia itu adalah Sang Siluman, yang hanya saja sedang dalam wujud seorang perempuan cantik yang hanya mengenakan sedikit pakaian. Kedua mata siluman itu berdarah-darah.
“Kau kejam.” Hanya begitulah balasannya.
“Aku melakukan ini untuk kebaikan kaumku.” Mantingan kembali berkata, “apa yang kaulakukan selama ini seperti menjelaskan sesuatu.”
“Kami memang merencanakan sesuatu untuk kalian semua, ras manusia. Sampai tibalah Kembangmas menghancurkan segalanya. Kau telah memengaruhinya. Kau kejam.”
Mantingan bersimpuh lutut di sebelah wanita siluman itu, lantas berkata dengan sedikit lebih lembut, “Apa yang kalian rencanakan pada kami?”
“Kami akan menguasai bumi ini. Kalian benar-benar makhluk rendahan yang tidak dapat menjaganya sama sekali, maka biarlah kami saja menjaganya.”
Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha untuk tetap tenang meski pernyataan yang baru saja diterimanya itu benar-benar mengejutkan. Kembali dirinya bertanya, “Biar kuambil benang merahnya. Kau dan Kembangmas adalah siluman yang ingin menguasai bumi ini, bukan?”
“Kami akan menguasainya, bukan sekadar ingin.”
__ADS_1
“Suka-suka engkau menganggapnya bagaimana. Aku hanya perlu jawabanmu.”
“Sekalipun kau mengetahuinya, kau tidak akan bisa mencegah kami.”
“Di mana Kembangmas?” Mantingan langsung bertanya pada intinya, ia dapat melihat bahwa siluman berwujud perempuan itu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.
“Dia ada di sini. Kembangmas ada di sini. Dia sedang melihatimu, dia juga sedang melihatimu. Aku sekarat begini, mana dia peduli.”
“Jikapun dia memutuskan untuk menolongmu, takkan kubiarkan.” Mantingan menarik Pedang Savrinadeya.
“Membunuhku adalah tindakan yang percuma. Akan ada lebih banyak dari kami yang masuk bumimu. Kami sudah muak tinggal di ranah kahyangan.”
Mantingan mengerutkan keningnya. Ranah kahyangan?
“Apa yang kaukatakan?” tanyanya kemudian.
“Apa kau masih berpikir ranah bumi adalah satu-satunya ranah yang ada di alam semesta? Kau masih berpikir tidak ada langit di atas langit?”
“Siapakah Kenanga sebenarnya? Mengapa dia menginginkan Kembangmas?”
Napas wanita siluman itu mulai putus-putus. Tidak dapat lagi mengeluarkan barang sepatah kata pun. Mantingan lekas menggenggam lengannya, lantas mengalirkan tenaga prana dalam jumlah yang teramat besar.
“Kenanga ... hahaha ... pantas saja dia menginginkan Kembangmas ... pantas saja ....”
Hinggalah tiba napas siluman itu berhenti sempurna. Tidak lagi tenaga prana dapat membantu. Dia sudah mati dengan sebenar-benarnya mati, tiada dapat diselamatkan.
Mantingan melepas lengan siluman itu sambil menghela napas panjang. Meski tabir tebal yang menutupi jati diri Kenanga masih belum dapat ia ketahui, tetapi setidaknya ia dapat mengetahui benang merah dari seluruh kejadian ini. Pastinya, Kenanga, Kembangmas, dan Sang Siluman ini saling memiliki hubungan atau setidaknya telah saling mengenal.
__ADS_1
Mantingan bangkit berdiri lalu melempar pandang ke sekitar. Ia tahu betul bahwa Kembangmas masih mengawasinya sampai sekarang.
“Keluarlah sekarang!” Mantingan berseru lantang, tanpa ragu memberi tenaga dalam pada suaranya. “Bila engkau memang tidak ingin menyerahkan diri, maka biarlah setidaknya daku bercakap-cakap sebentar dengan engkau!”
Tidak terdengar apa pun selain kesunyian. Bahkan jangkrik dan serangga-serangga malam lainnya pun seolah enggan mengeluarkan suara. Angin pun sungkan bersuara!
“Aku tahu engkau ada di sini, Kembangmas! Biarkanlah daku bertemu denganmu meski itu berarti sekejap mata saja!”
“Buat apa kau hendak bertemu denganku?” Terdengar suara lembut seorang wanita, yang bagai saja sedang berbisik tepat di sebelah telinga Mantingan, tetapi sebenarnyalah tidak terlihat sesiapa pun sejauh mata memandang. Inikah yang disebut-sebut sebagai ilmu bisikan sukma?
Menghadapi pertanyaan itu, Mantingan sepenuhnya terdiam.
Betapakah ia tidak ingin bertemu dengannya bila Kembangmas adalah tujuan dari pengembaraannya selama bertahun-tahun terakhir?
Hampir-hampir Mantingan tidak dapat menahan amarahnya. Telah begitu lama dirinya berjalan, dari Javadvipa hingga ke Suvarnadvipa, menemui tempat-tempat dan orang-orang baru, penuh duka dan terkadang bahagia; hanya untuk menemukan sebuah bunga yang kini telah pasti ada di dekatnya, tetapi sungguh tidak dapat digapai sama sekali!
“Kau yang membuatku mengalami semua kisah mengharu-biru ini. Kau yang membuatku harus menapaki jalan persilatan yang penuh darah dan ketidaktenangan. Kau pula yang membuatku harus kehilangan orang-orang yang penting bagiku. Maka setidaknya datanglah ke hadapanku, agar aku dapat meremukkanmu tanpa sisa!”
“Belum waktunya kita bertemu.” Suara lembut itu kembali muncul. “Pergilah. Jalani saja takdirmu. Kelak nanti setelah tiba waktunya, akulah yang akan menghampiri kamu.”
Tepat setelah itu, kilatan petir menyambar bumi. Membuat langit terang benderang bagaikan siang hari untuk sekejap mata. Lantas kembali gelap gulita. Kelam tanpa sesuatupun yang menerangi. Tiada guntur. Seolah saja sebagai pertanda bahwa Kembangmas telah pergi, sehingga percuma saja Mantingan mencoba berbicara kepadanya.
Pemuda itu menghela napas panjang. Air langit mulai turun dengan perlahan, tanpa riuh sama sekali. Tepat saat itu, Munding Caraka datang menghampirinya. Tenang-tenang saja kerbau itu, sebab agaknya mengetahui betul bahwa suasana hati Mantingan sedang tidak baik-baik saja.
“Oongh.” Munding Caraka melenguh pelan.
“Kau benar, Munding.” Mantingan menarik napas panjang, teramat panjang malahan. “Kita harus segera pergi dari sini. Tetapi sebelum itu, ada baiknya bila mayat ular besar di dekat gua tadi kita bawa pulang ke Pemukiman Kumuh Kotaraja. Daging sebanyak itu akan sangat dibutuhkan di sana.”
__ADS_1
“Ongng?”
“Tenang saja, aku memiliki caranya.” Mantingan tersenyum tipis.