
“Harimau!”
TAPA Balian mendesis ketika dirinya melihat hewan berkulit belang yang tengah mengendap-endap di antara semak belukar. Betapa kemudian wajah pria tua itu menjadi berkeringat dingin.
“Cepat menunduk!”
Mantingan pun segera menundukkan badan. Dirinya tenang, tetapi tetap menunjukkan kewaspadaan tinggi. Perlahan-lahan, dirinya merangkak mendekati Tapa Balian.
“Apakah kiranya yang harus kita lakukan, Bapak?”
“Adalah tetap tenang, Anak!” jawabnya kemudian, meski terlihat jelas kebuncahan pada wajahnya. “Daku tidak terlalu pandai bertarung, tetapi daku membawa kumis harimau. Jadi Anak tenang saja, kupastikan dikau tidak akan mati sebelum selesai dijamu!”
“Kumis harimau?” Mantingan mengerutkan dahi sebab tidak mengerti apa arti dari kumis harimau yang dibawa Tapa Balian.
“Ya!” Tapa Balian mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam cawatnya, yang entah mengapa bisa ada di sana. “Harimau itu akan mengira bahwa kita adalah juga harimau dengan kumis ini.”
Mantingan mengangguk saja. Bahkan sebagai pendekar, dirinya tidak mengerti siasat mengusir harimau seperti yang dilakukan Tapa Balian. Sungguh Kiai Guru Kedai tidak pernah mengajarinya cara untuk mengusir harimau, sebab memanglah seorang pendekar kiranya hanya perlu berkelebat menghindar jika diserang oleh hewan itu, tanpa perlu mengadakan perlawanan yang tidak perlu.
Baru kali inilah Mantingan memahami ucapan gurunya:
“Yang kuajarkan kepadamu ini hanya sepotong dari yang semua hal seharusnya engkau pelajari dalam hidup. Waktu kita tidaklah banyak, daku tidak bisa terus-terusan mengajarimu seperti orang tua mengajari anak kecil, tetapi engkau dapat belajar lebih banyak daripada ini setelah keluar dari gua menyambut peradaban dunia.”
Mantingan tersenyum tipis mengingat hal itu. Kiai Guru Kedai tidak menurunkan seluruh ilmu yang dia miliki kepadanya, sebab memanglah hal itu tidak akan ada habisnya. Namun, Kiai Guru Kedai telah membekalinya dengan kemampuan menyerap ilmu, sehingga Mantingan tetap dapat belajar sekalipun tanpa bersamanya.
“Jika engkau memiliki rasa takut akan kekurangan ilmu, maka pertahankanlah rasa takut itu dalam kadar yang cukup. Jangan terlalu sedikit; jangan pula terlalu banyak. Jika terlalu sedikit engkau bisa menjadi orang bodoh; jika terlalu banyak engkau bisa menjadi orang serakah.”
Harimau itu keluar dari semak belukar. Melangkah perlahan dengan keempat kakinya di atas jalan setapak. Tatapan matanya begitu tajam, seolah ketajamannya melebihi tajam kuku dan tarinynya. Kucing besar itu sedikit menggeram.
__ADS_1
“Jikalau tidak berhasil, Bapak, apakah yang harus kita lakukan?” Mantingan berbisik pelan, begitu pelannya seolah teramat takut jikalau harimau itu sampai mengetahui isi pembicaraan mereka.
“Dikau diam meringkuk terlebih dahulu. Daku akan lari hingga dia mengejarku, saat itulah engkau harus menyerangnya!”
“Biar daku saja yang berlari, Bapak.” Mantingan kembali berbisik dengan resah.
Dirinya adalah pendekar, sedang Tapa Balian bukan sama sekali. Dari cara bertarungnya saja, Mantingan dapat melihat bahwa Tapa Balian bukanlah orang yang ahli dalam menangani perkelahian. Tentunya untuk menghadapi serangan harimau, Mantingan dapat melakukannya semudah membalikkan telapak tangan, bahkan tanpa perlu mengorbankan penyamarannya saat ini.
“Biar daku saja!” Tapa Balian membantah keras, bahkan kini dirinya telah bangkit berdiri! “Dikau adalah pendatang, tiada akan daku berikan tubuh dikau kepada harimau ini!”
Harimau di depan mereka itu akhirnya menerjang, hanya sesaat setelah Tapa Balian selesai berbicara!
Mantingan dapat melihat gerakan harimau itu selambat helaian kapas yang jatuh ke bumi ketika angin datang menerjang. Semuanya tampak menjadi amat sangat lambat di matanya.
Sudah dikata barusan, adalah semudah membalikkan telapak tangan baginya untuk menghindari harimau itu tanpa membongkar penyamaran. Namun andaikan harimau itu menyerang, dan yang diserang bukanlah dirinya, maka perkara ini tidak lagi menjadi semudah membalikkan telapak tangan jikalau tidak mengorbankan penyamarannya!
Selanjutnya, Mantingan mengetahui bahkan kedudukan Tapa Balian sedang tidak menguntungkan. Jika pak tua itu tidak gesit menghindar, maka tubuhnya akan diterkam habis oleh harimau yang sedang melesat di udara itu.
Pemuda itu mengentak kaki. Melesat ke depan, menerjang balik harimau itu. Ia tidak menggunakan pedang, sebab memang dirinya tidak berniat membunuh harimau yang betapa pun tidak bersalah padanya itu. Maka sebagai gantinya, Mantingan membiarkan tubuhnya membentur badan harimau, mengempas makhluk berkulit belang itu jauh ke belakang.
Begitulah setelah berkelebat di udara, Mantingan kembali menapakkan kaki di atas tanah, sedang harimau itu justru jatuh berdebam.
Makhluk loreng itu kembali bangkit, tetapi kali ini dengan sorot mata penuh ketakutan. Tepat setelahnya, harimau itu berlari menjauh. Begitulah sifat alami yang dipunyai hewan buas, selalu mundur ketika lawan yang dihadapinya jauh lebih kuat.
Mantingan menarik napas panjang sebelum berbalik menghadap Tapa Balian. Dirinya mengira pria tua itu akan menunjukkan keterkejutan di wajahnya, akan tetapi dia justru tersenyum lebar.
“Daku tidak menyukai orang yang berbohong, Anak.”
__ADS_1
“Tetapi daku tidak berbohong kepada engkau, Bapak.” Mantingan tersenyum serba salah.
“Ya, memangnya siapa yang menuduh dikau berbohong?” Tapa Balian tertawa keras. “Untunglah harimau yang daku undang itu tidak engkau bunuh. Bagus, daku tidak salah mengira bahwa engkau adalah pendekar berhati putih meski diselimuti hawa hitam.”
Mantingan mengangkat alisnya. Benarkah harimau itu datang karena diundang oleh Tapa Balian, dan bukannya secara tidak sengaja bertemu di tengah jalan? Namun, bagaimanakah caranya?
“Marilah kita berkelebat saja ke Lembah Balian, sedaripada membuang waktu dengan berjalan lambat seperti ini. Daku akan bercerita banyak kepada engkau nantinya, Mantingan, sekaligus pula mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak kupaksakan tetapi kuharapkan jawabannya.” Tapa Balian mempersiapkan kuda-kuda. “Marilah ikut denganku!”
Ketika Tapa Balian berkelebat, keterkejutan Mantingan sampai pada puncaknya, akan tetapi pemuda itu harus berkelebat secepat mungkin untuk menyusul Tapa Balian yang ternyata merupakan seorang pendekar itu.
***
LEBIH dari sekadar dijamu dengan makanan lezat berupa daging rusa rebus yang ditaburi garam, Mantingan diberikan pakaian baru serta sebuah kamar yang dapat ditinggalinya barang satu-dua malam sebelum melanjutkan perjalanan.
Kini Mantingan sedang berbincang dengan Tapa Balian di serambi rumahnya. Cucunya Tapa Balian, yang kemudian Mantingan ketahui bernama Delima, baru saja mengantar tuak kelapa beserta udang bakar.
“Sungguhan engkau tidak mau minum tuak ini?” Tapa Balian menawarkan untuk yang kesekian kalinya, sebab memanglah sudah beberapa kali dia menawarkan tuak itu pada Mantingan. “Padahal rasanya sangat enak, dan tidak akan memabukkan jikalau hanya diminum satu-dua cangkir saja.”
Mantingan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Betapa pun, Kiai Guru Kedai telah melarangnya minum tuak dan lebih menganjurkannya untuk minum teh. Lebih-lebih, Mantingan melihat wajah Tapa Balian memerah setelah minum secangkir tuak. Bagaimanakah dengan dirinya yang sama sekali tidak terbiasa minum tuak? Mungkin saja, hanya dibutuhkan seperempat cangkir untuk menumbangkannya.
“Maafkan daku, Bapak, tetapi ini memanglah suatu ketetapan dari guruku.”
“Ah, sikapmu ini mengingatkan daku pada Kiai Kedai!” Tapa Balian tertawa lepas setelah tanpa sengaja telah berhasil mengejutkan Mantingan.
___
catatan:
__ADS_1
Like dan komentarnya jangan kasih kendor yak!!!!