
PERHELATAN Cinta dalam dunia persilatan adalah suatu ketidakwajaran yang memang telah sepatutnya diisi oleh kejadian-kejadian di luar perkiraan. Segalanya gila dalam suasana yang mengharu-biru. Sebentar lagi, hanya dalam sekejap lagi, pasangan-pasangan pendekar itu akan menyesali keputusan mereka mengikuti perhelatan ini!
Ketika acara penobatan masih berlangsung di atas panggung utama, tetiba saja seorang petugas meniup terompet dengan nada khusus sambil memberi tanda dengan tangannya. Sebentar kemudian, semua petugas perhelatan yang ada di tempat itu bergerak cepat memberitahu seluruh peserta lelang bahwa raja akan datang.
Pasangan-pasangan pendekar hingga bahkan para bangsawan yang hadir di tempat itu, tanpa terkecuali, diminta untuk turun dari kursi mereka dan bersimpuh dengan sebelah lutut untuk menyambut kedatangan raja.
Betapa pun bebasnya kehidupan para pendekar di telaga maupun rimba dunia persilatan, mereka tidak akan menolak jika diminta untuk menghormati raja.
Meskipun kehidupan awam dengan kehidupan pendekar bagaikan dua dunia yang berbeda, tetapi keduanya masihlah saling berhubungan dan bergantungan. Dunia persilatan tidak akan bisa berdiri tanpa dunia awam; dan seringkali dunia awam memanfaatkan dunia persilatan untuk mempertahankan hakikat kekuasaan mereka.
Terlebih lagi dalam Kedatuan Koying, negeri di mana persilatan telah dianggap sebagai sesuatu yang sangat awam, pula di mana kehakikatan para pendekar diakui bahkan diberi kehormatan oleh masyarakat, tidak akan ada salahnya atau bahkan telah menjadi suatu kewajiban untuk saling menghormati.
“Datuk datang! Tundukkan wajah!”
Mantingan menundukkan wajah sambil berpikir. Penguasa Koying ini ... sebenarnya disebut raja atau datuk?
__ADS_1
Tidak seperti di Javadvipa, penyebutan nama-nama kedudukan seorang penguasa telah ditetapkan dengan sejelas-jelasnya, dibuat sedemikian untuk mempersempit kemungkinan pemberontakan di daerah-daerah terpencil yang barangkali tidak mengetahui nama dari penguasa sebenarnya di tanah itu.
Namun di Suvarnadvipa, agaknya hal itu tidak terlalu berlaku. Pulau emas ini ditinggali oleh 3 kerajaan yang cukup besar, ialah Koying, Tulang Bawang, dan Pasemah. Berbeda dengan Javadvipa yang hanya diisi satu kemaharajaan besar meski sebelumnya terdapat begitu banyak kerajaan-kerajaan kecil di dalamnya. Penyebutan sang penguasa tidak jadi sebuah persoalan besar.
Lagi pula, orang-orang Suvarnadvipa memiliki kebiasaan mengembara hingga jauh-jauh tempat dengan berbagai kapal layar yang tangguh. Mereka yang memilih menjadi pelaut lazimnya sukar sekali terikat pada suatu negara.
Sementara itu, Mantingan segera menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, sehingga dapatlah ia melihat segala gerak-gerik Raja Koying tanpa perlu mengangkat wajahnya sama sekali.
Raja itu dikawal oleh sejumlah pendekar pedang yang semuanya merupakan perempuan dengan busana serba ringkas meski tidak mengurangi keserba-indahannya. Lagi-lagi Mantingan berpikir, mengapa mesti perempuan?
“Angkatlah wajah kalian, wahai pendekar-pendekar yang gagah-perkasa! Daku hendak berbicara tentang suatu sayembara!”
Seluruh pendekar yang berada di tempat itu mengangkat kepalanya. Mereka bertanya-tanya dalam benak tentang sayembara semacam apakah yang hendak dibicarakan oleh raja, termasuk pula Mantingan yang jauh lebih curiga ketimbang yang lainnya.
Raja ini datang dan langsung menawarkan sayembara. Tiada kata-kata penyambutan meski itu sekadar basa-basi belaka. Tiada pujian tinggi yang ditunjukkan pada seluruh pasangan pendekar yang merelakan waktunya untuk memeriahkan Perhelatan Cinta di Koying. Hal seperti itu sama sekali tidak wajar, sang raja jelas sedang terburu-buru!
__ADS_1
Raja Koying mengibaskan lengannya sebagai tanda perintah. Beberapa pengawal pendekarnya segera bergerak dan kembali dengan membawa seorang perempuan bertudung yang sungguh tak dapat dilihat wajah maupun sekadar matanya.
Perempuan itu bersimpuh dengan kedua lututnya tepat di hadapan singgasana raja, bahkan hampir-hampir mengesot, lantas dengan pasrah tanpa perlawanan membiarkan saja sang raja membuka tudungnya.
Mantingan melihat semua kejadian itu dari belakang, sehingga dirinya hanya dapat melihat rambut hitam tergelung dari perempuan itu tanpa mengetahui rupa wajahnya sama sekali, tetapi ia dapat dengan segera mengetahui siapa gerangan pemilik rambut itu!
Tubuhnya bergemetar hebat. Sehebat-hebatnya sebuah gemetar. Bagai tiada lagi tubuh manapun yang dapat lebih bergetar dari tubuhnya itu!
Mantingan ingin segera melompat, melesat, dan menebas leher kepala penguasa Koying itu dengan tangannya sendiri. Apa pun akibatnya, ia tidak menaruh peduli. Pikirannya telah kabur, seolah tak lagi dapat memikirkan apa pun selain dari membunuh Raja Koying itu!
Tetapi Chitra Anggini buru-buru menangkap lengan pemuda itu sebelum terjadi sesuatu yang teramat tidak diinginkan. Cengkeramannya begitu kuat, membuat Mantingan sadar seketika. Urung dirinya melesat.
Setelah puas menatapi wajah cantik dari perempuan yang bersimpuh tak berdaya di hadapannya, raja itu menatap ke seantero pasangan-pasangan pendekar yang pula bersimpuh menghadapnya.
“Barang sesiapa yang mampu membunuh pasangan wanitanya langsung di hadapan mataku, maka dari kalian yang tercepat akan daku hadiahi sang pemandu acara paling termasyhur di seluruh Dwipantara, Nyai Dara yang cantik tiada terkira; sekaligus pula senjata pusaka sakti mandraguna yang pernah menciptakan riak gelombang tinggi di telaga persilatan, Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kegelapan Malam!”
__ADS_1