Sang Musafir

Sang Musafir
Pendekar Lontar Bercahaya; Chitra Anggini


__ADS_3

Setelah merasa bahwa dirinya telah berada cukup jauh dari pasukan kawan, Mantingan segera melepaskan nafsu pembunuhnya. Seketika udara menjadi dingin dan memberatkan napas siapa pun yang merasakannya.


Pendekar-pendekar di sekitaran Mantingan serentak membungkuk meskipun itu di luar kehendak mereka sama sekali. Sebuah batu besar seolah menimpa punggung mereka.


Dan yang berada paling dekat dengan Mantingan mendapatkan perasaan yang jauh lebih buruk lagi. Tubuh mereka bergetar hebat. Pandangan mata hanya berani diarahkan ke tanah. Mereka mengumpat keras, sebab merasakan sesosok makhluk besar yang buas sedang menatap mereka tanpa busana.


***


PENDEKAR Lontar Bercahaya melempar senyum kepada Dara sebelum bergerak cepat ke arah pengungsi-pengungsi terluka yang sekiranya masih dapat diselamatkan.


Dara pun segera tersadar dari keterkejutannya, ia lalu memerintahkan para pengawalnya untuk bergerak membantu sebisa yang mereka dapat berikan.


“Bagikan pula obat penyembuhan yang kita punya,” tambahnya.


“Nyai, saat ini obat penyembuh


yang kita miliki hanyalah Tengkel Purnama. Khasiatnya sangat tinggi, dan harganya pun sangat mahal.” Penasihatnya buru-buru memberi mencegah tindakan perempuan muda itu. “Jika kita memberikan ini secara cuma-cuma, maka kerugian yang kita tanggung tidaklah sedikit, Nyai ....”


“Tadi dikau berkata bahwa Tengkel Purnama sangat berkhasiat bukan?” Dara melirik penasihatnya itu.


“Benar, Nyai ... dan harganya sangat mahal.”


“Kalau begitu, berikan semua yang kita punya. Di keadaan seperti ini, jangan pusingkan soal harga!”


Orang itu seketika terdiam. Dia hanya bisa menurut saja. Memang tugasnya cukup menasihati saja, segala keputusan tetap berada di tangan Dara selaku ketua perserikatan dagang.


Maka segera dibagikanlah Tengkel Purnama kepada pengungsi yang telah benar-benar amat gawat keadaannya, sebab tidak banyak tengkel obat yang dimiliki Dara saat ini.


Tengkel Purnama merupakan sebuah obat penyembuh berbentuk suatu bulatan kecil yang digadang-gadang akan menggetarkan dunia persilatan sekaligus dunia awam dengan keajaibannya.

__ADS_1


Jika digerus lalu ditaburkan, obat tersebut mampu menghentikan pendarahan dan membuat luka mengering dengan cepat; dan jika diminum, obat tersebut mampu menawar segala racun tingkat rendah serta pula mampu menghentikan penyebaran racun tingkat sedang. Namun, tidak terlalu berguna untuk racun tingkat tinggi.


Tengkel Purnama memang menyimpan keajaiban yang luar biasa, hanya saja setiap tengkel obat itu dijual dengan harga yang begitu tinggi. Disebabkan oleh perkiraan bahwa permintaan untuk obat itu di masa mendatang akan sangat tinggi, sedang bahan baku pembuatannya amat terbatas, maka satu Tengkel Purnama dihargai 500 keping emas. Tentu saja bukan sesuatu yang dapat dibeli oleh masyarakat awam kebanyakan.


Namun kini, Dara membagikan sekitar 100 Tengkel Purnama secara cuma-cuma kepada para pengungsi yang mungkin saja tidak akan banyak menguntungkannya di masa depan. Semua ini dipelajarinya dari sikap Mantingan, yang begitu tulus menolongnya meski ia mengalami kerugian yang tidak sedikit ketika itu.


Tetapi tetap saja tidak semua pengungsi dapat terselamatkan sekalipun telah menggunakan Tengkel Purnama, disebabkan oleh luka yang sudah sedemikian parahnya.


Jerit dan tangis kehilangan kembali menyibak udara. Begitu mencekam dengan pemandangan penuh darah dan mayat-mayat mengenaskan yang turut tersaji. Namun, keadaan seperti ini sudah dapat dikatakan lebih terkendali daripada sebelumnya.


Baru ketika itulah Pendekar Lontar Bercahaya menghampiri Dara sambil menjura. “Jika saja penglihatan sahaya tidak salah, maka Puan pastilah Nyai Dara yang namanya telah begitu tersohor seantero Dwipantara.”


Dara belas pula dengan menjura. “Pendekar Lontar Bercahaya terlalu memuji, tetapi Tuan Satya benar jika mengira bahwa sahaya bernama Dara.”


“Maka beruntunglah sahaya dapat bertemu dengan Puan Dara di sini.” Satya melontarkan senyum. “Keadaan di tempat ini sungguh buruk, Puan. Apakah kalian datang dari Pelabuhan Angin Putih?”


“Benar, Tuan Pendekar. Kami mengungsi ketika pelabuhan diserang dari lautan, tetapi kami sungguh tidak menduga akan mendapat serangan pula di sini.”


Suara itu masih mampu ditangkap telinga Dara, maka berkatalah perempuan itu cepat-cepat, “Tunggu sebentar, Tuan Pendekar! Tadi Tuan mengatakan bahwa mereka menyerang dari daratan dan juga lautan. Siapakah yang Tuan maksud sebagai ‘mereka’ itu?”


“Mereka adalah Kelompok Pedang Intan, Nyai.” Satya menjawab cepat dan ringkas, tanpa menceritakan bagaimana dirinya dapat mengetahuinya, sebab betapa pun waktu tidak akan berhenti saat mereka mengobrol.


“Kelompok Pedang Intan?!” Dara menutupi mulutnya yang ternganga. “Mantingan!”


Perempuan muda itu lekas berbalik dan meminta seluruh pengawalnya untuk berbalik kembali ke pelabuhan, yang lantas saja mengubah raut wajah mereka menjadi sangat masam.


Namun Satya tidak kalah terkejutnya dengan Dara, begitu didengarnya nama Mantingan disebut!


“Nyai, jika tidak salah dengar, tadi Nyai menyebut nama Mantingan?”

__ADS_1


“Dia ada di sana, Tuan Pendekar.” Dara berkata sambil diam-diam menaruh banyak harapan pada Satya untuk membantu Mantingan di Pelabuhan Angin Putih.


Raut wajah Satya seketika memburuk. “Daku harus ke sana sekarang, tetapi siapakah kiranya yang akan menjaga tempat ini?”


Satya memandang jauh ke dalam hutan. Dalam pandangannya itu, masih banyak pendekar-pendekar musuh yang menunggu datangnya kesempatan untuk membantai seluruh pengungsi yang tersisa di tempat itu. Satya tidak bisa membasmi mereka semua yang bersembunyi terlalu dalam di hutan belantara.


Dara pun dapat menebak bahwa ahli sihir berjubah kuning panjang itu sebenarnyalah sangat berkeinginan untuk membantu Mantingan di pelabuhan, tetapi juga memahami bahwa para pengungsi haruslah diberi perlindungan utama. Betapa pun, sangatlah memalukan jikalau urusan di dunia persilatan sampai merugikan dunia orang awam.


“Biarkanlah sahaya yang menangani mereka.” Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari arah hutan di sebelah kanan mereka.


Dara dan Satya menoleh berbarengan. Terlihatlah seorang perempuan berpakaian serba hitam keluar dari dalam kegelapan hutan. Wajahnya yang boleh dikata cukup cantik itu terbias cahaya jingga mentari senja.


“Wahai orang asing, bisakah dikau memperkenalkan diri dan menyebutkan alasan dari maksudmu itu?” Dara langsung melempar pertanyaannya pada perempuan muda itu, menurutnya cara orang itu menunjukkan tidaklah terlalu ramah.


“Sahaya adalah Chitra Anggini.” Perempuan itu tersenyum samar. “Sekadar datang untuk membalas budi.”


Dara sebenarnya ingin bertanya kepada siapakah orang itu hendak membalas budinya, tetapi ia sadar bahwa pertanyaan itu terlalu bertele-tele di keadaan seperti ini.


“Kalau begitu, sahaya mohon diri kepada Puan-Puan. Namun sebelum itu, diriku menyarankan kepada Nyai Dara untuk tidak kembali ke pelabuhan. Jika ternyata Enam Pilar Intan ikut terlibat dalam peperangan ini, kedudukan Nyai bisa sangat berbahaya di sana.”


Dara memahami bahwa Satya secara halus memberitahu bahwa keberadaannya di sana hanya akan menambah beban yang sangat tidak perlu.


“Sahaya mengerti. Semoga Tuan Pendekar mendapat keselamatan di sana, dan sahaya dengan tulus menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam sebab telah menaruh kepedulian pada Mantingan.”


“Terima kasih atas doamu, Nyai. Dia adalah sahabat lamaku, menolongnya adalah sebuah kewajiban.” Selepas mengatakan itu, Pendekar Lontar Bercahaya berkelebat menghilang dari tempat berdiri.


“Sebuah kehormatan besar bisa bercakap-cakap denganmu, Nyai Dara.” Perempuan yang mengakui diri sebagai Chitra Anggini itu tersenyum. “Tetapi bisakah engkau meminta kepada para pengawalmu untuk membagikan sehelai kain lebar pada para pengungsi untuk menutupi hidung dan mulut?”


Dara hampir tidak percaya bahwa orang asing yang baru saja dikenalnya itu langsung menyuruhnya tanpa berbasa-basi. Tetapi bagaimanapun juga, Dara masih bisa menerimanya.

__ADS_1


“Baiklah ... ini saatnya menyebar keharuman.” Chitra Anggini mengeluarkan sebuah bumbung kecil dari dalam pundi-pundinya. Terlihat senyuman di bibirnya semakin melebar.


__ADS_2