
AGAKNYA setelah Bidadari Sungai Utara, Jakawarman juga mengetahui tentang hal ini. Dia tampak melepas kuncian pedangnya tanda bersiaga. Pemuda itu pula mendekatkan diri pada Mantingan dengan maksud melindunginya.
“Pahlawan Man, bukan tidak mungkin tempat ini telah menjadi persemayaman para penyamun,” kata Jakawarman pelan.
“Daku tidak merasakan keberadaan banyak manusia di wilayah ini.” Mantingan menjawab tenang. “Tetapi tidak ada salahnya jika kita meningkatkan kewaspadaan. Tempatkanlah kuda untuk berjalan di dekat Bidadari Sungai Utara dan anak-anak, hewan itu dapat menjadi perlindungan pertama ketika muncul serangan mendadak."
“Akan kujalankan, Pahlawan Man.” Jakawarman berjalan menghampiri kudanya.
Benar saja bahwa ada pedesaan di dekat pesawahan. Ditandai setelah mereka melihat beberapa bangunan rumah tak jauh di depannya. Tetapi, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Jalanan ditutupi dedaunan kering, sedangkan sapu tergeletak begitu saja di pinggiran. Tiada sedikitpun asap yang mengepul. Tiada pula petani-petani yang menggotong pacul atau bajingan yang tengah mempersiapkan kerbau dan gerobaknya.
“Pahlawan Man, apakah engkau mencium aroma ini?” Jakawarman di sebelahnya kembali bertanya.
“Ya, daku baru saja menciumnya.” Mantingan segera tahu apa yang semestinya ia lakukan. Segera ia mengirim bisikan angin pada Bidadari Sungai Utara, “Saudari, alihkan perhatian Kana, ada suatu hal yang tidak seharusnya dia lihat.”
Tentu yang menjadi perhatiannya adalah Kana, sebab Kina masih saja tertidur di punggung Bidadari Sungai Utara.
Setelah mendengar bisikan itu, Bidadari Sungai Utara lekas mengerti arti dari aroma anyir yang ditangkap indera penciumannya. Raut wajahnya berubah menjadi buruk. “Kana, mendekatlah kepadaku.”
“Adakah Kaka juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan desa ini?” Pertanyaan itu tidak dijawab sama sekali oleh Bidadari Sungai Utara.
Semangat Kana mulai mengendur karena tidak satupun penduduk desa yang dilihatnya. Kana melambatkan langkahnya sampai mendekati Bidadari Sungai Utara. Tak hanya itu, dia bahkan menarik pedang kayu di punggungnya. Bertindak seolah melindungi Bidadari Sungai Utara. Meski ia tahu, kekuatannya dan kekuatan Bidadari Sungai Utara bagai bumi dan langit.
“Tenang saja, Kaka. Diriku sudah pernah melihat banyak hal yang mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan di tengah jalan tanpa satupun mau mengurus, bagian tubuh yang tercerai berai dimakan anjing dan babi hutan, tangis putus asa dari mereka yang berhasil selamat, sudah kurasakan semuanya. Kaka Sasmita tidak perlu khawatir, daku akan melindungimu dengan segenap jiwa. Jaga saja Kina agar tetap terlelap, dia tidak akan pernah menerima hal-hal buruk seperti ini.”
Bidadari Sungai Utara tidak dapat berkata-kata melihat kedewasaan jiwa Kana jauh lebih tinggi ketimbang kedewasaan badannya. Bahkan Mantingan pun tidak dapat menanggapi apa pun. Namun dalam benaknya, ia berdecak takjub.
__ADS_1
“Pahlawan Man, bolehkah aku bertanya?” Jakawarman tiba-tiba berkata ketika suasana kembali hening.
“Tanyakan saja, Jaka.”
“Apakah anak itu adalah keturunanmu dan Bidadari Sungai Utara?”
Mantingan hampir tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar pertanyaan Jakawarman. Sebelumnya tidak pernah menyangka akan datang pertanyaan seperti ini. Ditatapnya Jakawarman dengan tatapan yang sulit diartikan. Benarkah murid yang satu ini dapat bercanda di tengah ketegangan?
“Apakah engkau berpikir diriku dan Bidadari Sungai Utara telah menikah?”
“Tidak. Diriku tidak berpikir seperti itu, Pahlawan Man. Tetapi pendekar sehebat dirimu tidak perlu menikah untuk melakukan—”
“Tahan langkahmu, Jakawarman!” Mantingan merentangkan lengannya ke arah Jakawarman sampai dia berhenti. Dilihatnya Bidadari Sungai Utara yang terlebih dahulu menghentikan langkah. Tubuh gadis itu tampak bergetar, begitu pula dengan Kana.
“Mundurlah kalian berdua.” Mantingan berkata sambil melangkah maju. “Jakawarman, ikut denganku.”
Dua pemuda itu maju, sedang Bidadari Sungai Utara dan Kana melangkah surut dengan kelopak mata terbuka lebar. Begitu Mantingan dan Jakawarman sampai di tempat Bidadari Sungai Utara semulanya, raut wajah mereka berubah buruk. Dilihatnya apa yang telah dilihat Bidadari Sungai Utara dan Kana.
Mantingan teringat perkataan Kana yang sungguh sama persis seperti apa yang tengah dilihatnya sekarang. Mayat-mayat bergelimpangan. Bagian tubuh tercerai berai. Burung gagak, anjing liar, dan babi hutan masih enggan melepas panganan mereka sekalipun telah mengetahui keberadaan Mantingan. Raung tangis terdengar samar-samar, tak jelas asalnya.
Jakawarman tiba-tiba saja menggeram keras, “Biadab! Siapa yang telah melakukan ini?!”
Sedangkan Mantingan tak tahan untuk tidak menghela napas panjang. Meskipun ia tahu bahwa hal itu sama sekali tidak merubah keadaan. Tak peduli ribuan kali Mantingan menghela napas, mayat-mayat itu tidak akan bisa hidup kembali. “Kita rehat sejenak di desa ini, Jakawarman. Mayat-mayat ini harus mendapatkan kremasi yang layak.”
Jakawarman menyimpan kegeraman sebelum mengangguk paham.
__ADS_1
***
MALAM ITU. Berhadap-hadapan dengan api unggun. Dengan langit bertabur bintang. Kana bertanya pada Mantingan, “Mengapakah Kaka tidak membantu Kaka Sasmita?”
Mantingan yang masih memandangi gadis itu dari kejauhan hanya menggelengkan kepala tanpa menoleh. Dilihatnya Bidadari Sungai Utara, seakan tidak kenal letih membujuk seorang wanita yang merupakan korban perang untuk meninggalkan desa ini. Mantingan dapat mendengar isak tangis wanita itu sejak siang tadi.
Alasan mengapa Mantingan tidak mau membantu adalah bukan karena merasa keberatan jika harus membawa wanita itu di perjalanannya. Sungguh, sejak siang tadi, Mantingan ikut membujuknya. Tetapi dia selalu menolak dengan suara yang lantang, berkata bahwa dirinya ingin mati saja di desa ini. Bukan pula Mantingan telah lelah dan malas membujuknya, tetapi ia membiarkan wanita itu untuk mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.
Jakawarman terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tidak dapat berbuat apa-apa selain menatap api unggun. Merasakan kemarahannya sendiri.
“Percayalah padaku, Ibu. Masa depan Ibu masihlah luas jika saja Ibu tidak berputus asa seperti ini. Suami dan anak-anak Ibu tidak akan suka melihat Ibu menyia-nyiakan pengorbanan mereka.”
“Tinggalkanlah daku, Anak! Biarkan ragaku mati di sini sebab jiwaku telah mati pula di tanah ini! Pergilah engkau sebelum bangsat-bangsat itu datang lagi ke desa ini!”
Percakapan itu teruslah berulang-ulang, kurang lebih seperti itu. Bidadari Sungai Utara keras kepala, wanita itu keras kepala pula. Lebih-lebih, mereka adalah wanita. Sungguh akan panjang urusan semacam ini.
“Kak Maman mengapa masih diam saja? Berkatalah pada Kak Sasmita untuk berhenti membujuk ibu itu dan kembali ke sini.”
Mantingan menggeleng, kali ini ia menjawab, “Biarkan saja Kak Sasmita bertindak seperti itu sampai dia memutuskan untuk berhenti dengan sendirinya. Niscaya, dirinya akan menuai pelajaran berharga.”
Kina tidak mengerti, hanya bisa diam termenung.
“Apakah Kaka akan membiarkan ini sampai besok malam atau bahkan satu pekan sekalipun?” Kana bertanya, “bukankah kita harus melanjutkan perjalanan?”
“Tujuan dari sebuah perjalanan memang harus diraih, tetapi pelajaran-pelajaran dalam sebuah perjalanan juga patut dihargai.”
__ADS_1