
“Ke mana saja dirimu?”
Ketika melihat Mantingan, Chitra Anggini lekas melangkah terburu-buru ke arahnya. Di lorong lantai dua Penginapan Permata Malam, manakala hari telah begitu larut pula. Tangan perempuan itu telah mengembang, tetapi kemudian menutup kembali ditarik kembali. Seolah hendak memeluk Mantingan erat-erat, tetapi kemudian urung sebab mengetahui bahwa pemuda itu tidak akan menyukai hal tersebut.
“Aku berburu siluman.” Mantingan melangkah maju ke hadapan Chitra Anggini, lantas tanpa beri peringatan langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. Betapa ia merasa telah berpisah dengan Chitra Anggini dua bulan lamanya. “Kau merindukanku, wahai kawan seperjalanan?”
Chitra Anggini agak terkejut, tetapi kemudian membalas pelukan Mantingan dengan hangat pula. “Kau pergi terlalu lama.”
“Bila hanya dua hari, masihkah itu kauanggap terlalu lama?” Mantingan melepas pelukannya. Betapa pun, ia masih menganggap Chitra Anggini sebatas kawan seperjalanan saja, bukan kekasihnya!
“Dua hari penuh kaupergi, Mantingan. Itu terasa sangat lama bagi diriku yang tinggal di pemukiman gila ini. Lebih-lebih setelah kuketahui kalau kaupergi untuk berburu siluman. Sungguh, dirimu tidak pernah mengatakan itu sebelumnya, Mantingan.” Selepas berkata begitu, Chitra Anggini menatapnya tajam-tajam.
Mantingan balas dengan tertawa. “Tentulah aku tidak sampai memberitahukannya padamu. Kukira kau akan mati-matian menahanku saat itu.”
“Tidak, kau salah mengira. Aku tidak akan menahanmu, tetapi aku akan memintamu untuk membawa diriku. Tidakkah kauingat bahwa kita adalah kawan seperjalanan, yang semestinyalah ke manapun selalu bersama-sama?”
“Terlalu berbahaya. Aku tidak dapat melindungimu di sana.”
Ucapan Mantingan itu memang bukan sekadar omong kosong belaka yang tiada berbobot. Bila diingat kembali pertarungannya dengan Sang Siluman di tengah kecamuk badai yang teramat sangat dahsyat itu, dapatkah kiranya keputusan Mantingan dengan tidak mengajak Chitra Anggini dipertanyakan lagi?
Chitra Anggini hanya mengembuskan napas panjang sebelum menggelengkan kepalanya pelan. Memilih untuk tidak memusingkan hal yang telah lalu. “Kemarin hari, aku menemui Dara di salah satu penginapan mewah kotaraja. Kami merumuskan beberapa rencana ....”
Chitra Anggini kemudian menceriterakan pertemuannya dengan Dara sekaligus rencana-rencana yang telah dirumuskan tetapi belum sampai disepakati dalam pertemuan itu.
__ADS_1
Menurut penjelasannya, Dara meminta Mantingan agar tidak berubah pikiran untuk mengikuti Perhelatan Cinta Kotaraja yang akan mulai berlangsung esok hari. Meski secara terang-terangan gadis itu menunjukkan gelagat tidak suka, tetapi kemudian dirinya berkata bahwa itu adalah satu-satunya rencana terbaik yang ada untuk saat ini. Dara telah mendapat persetujuan untuk mengadakan lelang besar di hari yang sama dengan Perhelatan Cinta Kotaraja, bahkan permintaannya itu disambut sangat baik oleh pemerintahan.
Betapakah tidak? Bila dua perhelatan besar berlangsung sekaligus di hari yang sama, itu akan menambah minat para pelancong untuk berkunjung ke kotaraja. Lebih-lebih lagi, Dara sudah memiliki nama besar di mata perdagangan sekaligus pula di mata masyarakat seantero Dwipantara.
Namun, terdapat sebuah permasalahan yang cukup genting pula yang belum dapat terselesaikan kiranya ....
“Dara hanya diperbolehkan membuka lelang sebelum atau sesudah berlangsungnya Perhelatan Cinta. Itu berarti, Dara hanya diperkenankan mengadakan lelang di pagi atau malam hari, sebab Perhelatan Cinta itu sendiri berlangsung antara siang hingga petang selama beberapa hari,” terang Chitra Anggini.
Dara kemudian mengambil keputusan untuk menciptakan suatu kecelakaan yang akan menyebabkan lelangnya tertunda. Meskipun hal itu mungkin akan mendatangkan masalah baru bagi gadis itu, tetapi dirinya benar-benar rela.
“Dia mau mengorbankan segalanya untuk dirimu,” kata Chitra Anggini memberi pendapat, “sangat berlebihan.”
Mantingan mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. Ia setuju dengan pendapat Chitra Anggini. Memanglah sekiranya Dara terlalu berlebihan dengan membahayakan keselamatannya sendiri hanya untuk seorang pemuda yang bahkan hampir tidak pernah membantunya sama sekali.
Mantingan merasa telah berada di ambang batasnya. Bahkan dalam keadaan seperti ini, sebongkah batu cadas dapat dianggapnya sebagai kasur yang teramat sangat empuk untuk membawanya ke dalam mimpi tak berkesudahan.
Maka pada akhirnya, Mantingan hanya bisa menerima keadaannya saat ini. Bila Dara memang ingin berkorban dengan tulus, maka dengan penuh rasa hormat ia akan menerimanya. Namun betapa pun, ia tetap berharap yang terbaik untuk Dara.
***
PERHELATAN Cinta Kotaraja kali ini tergolong sangat jarang, sebab perhelatan ini hanya diperuntukkan bagi pendekar-pendekar yang menghendaki kehidupan berkeluarga sebagaimana mestinya. Tidak seperti biasanya yang hanya diperuntukkan bagi bangsawan-bangsawan yang bukan pendekar. Boleh dikata, ini menjadi yang pertama dalam sejarah panjang Dwipantara.
Sebab perhelatan ini amat langka, dan ada kemungkinan tidak akan terulang kembali di masa mendatang, banyaklah pendekar-pendekar berkepasangan yang datang dari seluruh wilayah Dwipantara menuju Kotaraja Koying hanya untuk menghadiri Perhelatan Cinta itu.
__ADS_1
Ditambah lagi dengan orang-orang awam yang penasaran ingin melihat pendekar-pendekar secara langsung, maka Kotaraja Koying pada hari ini benar-benar ramai dan sibuk!
Mantingan dan Chitra Anggini berjalan di tengah kerumunan dengan mengenakan sepasang topeng kembar yang dibeli dari pedagang jalanan. Menariknya, topeng itu hanya menutupi dahi sampai hidung saja, sehingga mulut dibiarkan terbuka untuk dapat berbicara sekaligus makan-minum. Sesuatu yang belum pernah Mantingan temui sebelumnya.
Sedangkan untuk Munding Caraka, terpaksalah Mantingan menitipkannya pada sebuah tempat penitipan binatang. Ia membayar sangat tinggi agar kerbau itu mendapatkan pelayanan terbaik dari yang terbaik.
“Ini terlalu berbahaya.” Chitra Anggini berbisik pelan tepat di sebelah daun telinga Mantingan. “Ada begitu banyak pendekar asing di sekitar kita. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini seumur kakiku menapaki jalan persilatan. Bukan tidak mungkin ada yang mengenalmu di sini.”
“Bukan hanya kau saja yang merasa terlalu gugup di sini. Lihatlah pendekar-pendekar di sekitarmu itu, mereka pula sangat tegang.” Mantingan tersenyum kecil.
“Memangnya aku terlihat gugup?” Chitra Anggini mendelik. Tatapan matanya tampak tidak terima saat menyorot Mantingan.
“Harus kuakui: ya. Kau terlihat terlihat sangat gugup. Kurasa, justru engkaulah yang akan memancing kecurigaan orang-orang.”
“Lantas apa yang harus kulakukan? Tak bisa kulepas kewaspadaan ini begitu saja.”
Mantingan melirik Chitra Anggini sebentar sebelum mengulurkan sebelah tangannya ke samping. “Bergandengan tangan,” jawabnya.
“Itu malah akan membuatku semakin gugup. Tanganku ini hampir tidak pernah disentuh oleh lelaki, kecuali di masa-masa ketika aku—”
Ucapan Chitra Anggini itu terputus ketika Mantingan memapas lengannya tanpa izin. Sungguhlah gadis itu sebenarnya ingin segera menarik kembali lengannya, tetapi kemudian ketika dirasakannya suatu energi hanya merembak masuk ke dalam tubuhnya melalui genggaman tangan Mantingan, maka berhentilah dirinya memberontak.
Mantingan hanya tersenyum lebar tanpa merasa perlu menjelaskan apa-apa kepada Chitra Anggini. Dirinya sengaja memapas lengan perempuan jelita itu ketika dia sudah mulai membahas masa silamnya yang sama sekali tidak menyenangkan untuk didengar maupun dikenang. Dan benarlah bahwa perasaan hangat yang dirasakan Chitra Anggini itu berasal dari tenaga prana miliknya yang dialirkan melalui genggaman tangan.
__ADS_1
Selain mampu menyembuhkan luka dalam maupun luka luar, tenaga prana juga mampu membawa seseorang ke dalam ketenangan tiada!