Sang Musafir

Sang Musafir
Ruangan Dara


__ADS_3

BALAI LELANG masih sunyi hingga beberapa saat. Untuk barang ke-20, tidak ada yang mengajukan penawaran selain Mantingan seorang. Atau lebih tepatnya, tak seorangpun yang berani melakukan hal itu.


Dara pun tampak raut wajahnya menjadi serba salah. Gadis itu pun sebenarnya ingin memberikan tanaman tersebut secara cuma-cuma kepada Mantingan, serta tidak ingin tamu lelang lainnya ikut menawar. Namun di acara lelang seperti ini, ia harus menjaga sikapnya sebagai seorang pembawa acara yang ahli, tetapi juga tidak melukai perasaan Mantingan.


“Apakah masih ada yang hendak menawar?”


Seluruh hadirin lelang terdiam. Bahkan untuk bernapas, mereka tidak berani kencang-kencang.


“Baiklah. Karena tidak ada lagi yang menawar, Dara akan melepas Kacang Pembuyar Nyeri dengan harga 80 keping emas.”


Seorang petugas lelang mengantarkan seratus butir Kacang Pembuyar Nyeri kepada Mantingan sebelum menerima pembayaran. Mantingan menyimpan seluruh kacang itu baik-baik di dalam salah satu kantung pundi-pundinya.


“Mungkin Kakanda begitu menakutkan hingga mereka semua bungkam mulut.” Kana berbisik pelan pada Mantingan, yang hanya dibalas dengan senyuman canggung.


Lelang terus berlanjut. Sedangkan Mantingan kembali menarik senarai belanjaan yang tercatat di atas lembar lontar. Dari senarai tersebut, setidaknya masih terdapat dua nama tanaman obat lagi yang harus ia dapatkan wujudnya, tetapi masih lebih banyak barang lain yang ia harus dapatkan di pasar kota.


Mantingan merasa cukup dengan berhasil mendapatkan satu jenis tanaman saja, yaitu Kacang Pereda Nyeri. Telah diketahui sebelumnya, Mantingan tidak sedang membawa banyak uang.


Selama lelang masih berlangsung, muncullah dua jenis tanaman yang ada di dalam senarai Mantingan. Tetapi Mantingan hanya bisa memandangi dalam diam ketika dua tanaman itu diantar kepada sang penawar tertinggi.


Memasuki tanaman terakhir, balai lelang kembali menegang. Bahkan, kini hanya para tamu istimewa saja yang mengajukan penawaran. Harga tanaman melejit terlalu tinggi!


Hingga pada akhirnya, harga tanaman tersebut jatuh di 700 keping emas. Menyadari hal itu, Mantingan menelan ludahnya.


“Setelah barang terakhir terjual, maka tugas Dara di sini telah usai.” Dara berkata lantang dengan senyum lebarnya. “Dara mohon diri, sampai bertemu di lain kesempatan!”

__ADS_1


Gadis itu tenggelam di balik pintu belakang panggung diiringi gemuruh tepuk tangan. Sebagian besar tamu lelang berdiri dari tempatnya dan segera meninggalkan balai lelang, namun masih pula terdapat beberapa tamu yang duduk sambil berbincang-bincang dengan teman atau istri-istrinya.


Mantingan sendiri telah memutuskan sesegera mungkin meninggalkan balai lelang. Dirinya pun mesti sembunyi-sembunyi sebelum melesatkan diri bersama Kana sesampainya di luar bangunan.


Mantingan meliriknya. Dengan sekali anggukan, Kana mengerti apa yang harus ia lakukan. Maka beranjaklah dirinya dan Mantingan dari tempat itu bersamaan. Secepat mungkin mereka harus pergi, tetapi janganlah sampai terlihat seperti sedang terburu-buru, sebab itu akan mengundang kecurigaan yang berujung pada penguntitan.


Mantingan dan Kana berada di antara kerumunan orang-orang yang baru saja keluar dari balai lelang, sampai sebuah tangan menarik lengan Mantingan. Dengan cepat, Mantingan menarik pula lengan Kana.


Yang menarik lengannya itu ternyata merupakan seorang perempuan muda berpakaian seperti petugas lelang di balai lelang tadi. Setelah membawa Mantingan keluar dari kerumunan orang-orang, barulah perempuan itu melepas genggamannya dari lengan Mantingan sebelum mengatakan maksudnya.


“Nyai Dara memanggil dikau,” ucapnya seramah mungkin, “daku ditugaskan untuk menjemputmu, maafkan jika caraku kurang ramah. Sekarang, ikutilah diriku.”


Mantingan hanya bisa mengangguk dan mengikuti ke mana perempuan itu berjalan. Kana berjalan tepat di sampingnya.


Mereka memasuki sebuah ruangan yang ternyata memiliki tangga di dalamnya. Mengikuti petugas itu, Mantingan dan Kana menuruni tangga. Agaknya, kini mereka sedang berada di lantai pertama. Atau justru di lantai bawah tanah?


Hingga tibalah keduanya di dasar tangga. Berhadap-hadapan dengan sebuah pintu kayu besar. Perempuan itu mengatakan pada Mantingan untuk masuk ke dalam ruangan di balik pintu tersebut, sedangkan dirinya hanya bisa mengantar sampai di sana saja.


Mantingan berdeham beberapa kali. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin apakah ini bukan merupakan suatu tipu muslihat untuk menjebaknya. Tetapi berdasarkan pertanda yang ia rasakan, tak ada bahaya di sekitar maupun ruangan di balik pintu besar tersebut.


Maka dengan keyakinan kuat, ia membuka pintu dan masuk bersamaan dengan Kana.


***


MATA MANTINGAN cukup terpukau dengan apa yang dilihatnya. Dan Kana bereaksi lebih-lebih terpukau daripada Mantingan. Ruangan yang dilihat mereka sungguhlah berbeda dengan lorong tangga sunyi nan lembab yang tadi mereka lalui. Seolah saja, ruangan itu adalah sepetak taman di tengah-tengah gurun pasir yang tak berujung.

__ADS_1


Ruangan yang kiranya berukuran tak lebih dari sepuluh kali sepuluh depa itu tidak memiliki banyak barang mewah, namun memiliki nilai seni tinggi dengan lukisan-lukisan yang terpajang hampir di segala tempat. Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah meja berbentuk bundar yang dikelilingi empat bangku. Di samping meja itulah, Dara berdiri dengan senyum berseri-seri.


“Mantingan ...,” katanya sambil berjalan menghampiri Mantingan. Tanpa sungkan lagi, gadis itu memeluknya dengan begitu erat.


Jelas Mantingan terkejut dengan perlakuan Dara, dan lebih terkejut pula anak lelaki di sampingnya itu. Mulut Kana seakan tidak bisa menutup, memikirkan laporan seperti apa yang harus ia berikan pada Bidadari Sungai Utara.


“Sudah lama kita tidak bertemu.” Dara melepas pelukannya setelah beberapa saat. “Marilah duduk di kursi itu dan berbincang-bincang sedikit. Dan siapakah nama muridmu ini?”


Mantingan kemudian mengenalkan sekaligus mengatakan bahwa Kana bukanlah muridnya, tetapi ia masih belum mengatakan alasan di balik kebohongannya itu.


Dara mengangguk tanda mengerti. Ketiganya kemudian berjalan ke arah bangku dan mendudukinya. Di sanalah Dara kembali membuka percakapan.


“Kemana sajakah dirimu selama ini, Mantingan? Ketika aku kembali menginjakkan kaki di Javadvipa, yang pertama kulakukan adalah mencari segala keterangan tentang keberadaanmu. Dari sanalah aku mengetahui bahwa dirimu dikenal orang banyak dengan julukan ‘Pahlawan Man’ karena jasa-jasamu yang telah begitu besar. Tetapi, tidak ada yang mengetahui mengenai keberadaanmu saat itu, hanya saja kudapatkan keterangan bahwa kausengaja merahasiakan perjalanan sebab Bidadari Sungai Utara ada bersamamu. Kabar itu hanyalah simpang siur belaka, tidak banyak yang mengetahui kebenarannya.” Dara berdeham satu kali sebelum melanjutkan, “jadi ... apakah itu benar?”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Kabar itu benar, Nyai. Selain itu, diriku juga berjalan bersama rombongan permaisuri. Itulah alasan aku meminta engkau tidak lagi menyinggung soal jati diriku, sebab itu akan berbahaya bagi Bidadari Sungai Utara dan permaisuri.”


“Ah, maafkan aku. Sungguh, tadi diriku tidak berpikir panjang. Kesalahan seperti ini ... seharusnya tidak bisa dimaafkan.” Tampang Dara menjadi resah. “Apakah yang harus kuperbuat agar bisa membantu dirimu, Mantingan?”


“Tidak perlu.” Mantingan mengibaskan tangannya sambil tersenyum lembut. “Tamu-tamu lelang agaknya percaya bahwa aku hanya berjalan berdua saja dengan muridku.”


“Tidak. Tidak semudah itu mereka percaya.” Jari-jemari Dara mengetuk-ketuk meja. Berusaha menemukan cara seperti apakah yang mampu melepaskan Mantingan dari jeratan bahaya itu. “Mereka pasti akan memata-matai kau.”


Mantingan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Untuk itu, aku sudah menyiapkan rencana.”


Dara berhenti menggerakkan jarinya. Alisnya terangkat. Secepat itukah Mantingan menemukan pemecahan masalah?

__ADS_1



__ADS_2