
Di hadapan keduanya adalah sebuah kota kecil. Sedikit lebih kecil lagi, maka di depan itu dapat disebut sebagai desa besar. Mantingan dan Dara memasuki kota itu setelah menunjukkan kartu pengenal pada petugas yang menjaga gerbang kota.
Kota itu terlihat sangat sibuk. Banyak orang yang berlalu-lalang dengan kepentingannya masing-masing. Beberapa pekerja bangunan terlihat membawa perkakasnya, pedagang-pedagang berada di atas gerobak yang ditarik kerbau, bersama beberapa pengawal di sebelahnya. Penjual camilan terlihat berjejer di pinggir jalan, dikerubungi oleh banyak pembeli.
Jika dilihat dari semua kegiatan yang berlangsung saat ini, maka kota kecil ini tengah berusaha menanjak menjadi sebuah kota ukuran sedang atau bahkan kota besar. Mereka terlihat membangun diri. Baik itu dari segi permasyarakatan, maupun pembangunannya.
Tiba-tiba saja Dara menarik pelan jubah Mantingan dan menunjuk ke arah pedagang-pedagang camilan. “Kau harus mencobanya satu!”
“Dara, kita harus sampai di kotamu sebelum hari menjadi malam.” Mantingan menolaknya.
“Makan camilan tidak akan menyita banyak waktu.” Dara tidak menunggu Mantingan menjawab, langsung menariknya menuju tempat para pedagang itu.
Keduanya menyelinap di antara kerumunan pembeli untuk melihat makanan-makanan seperti apa saja yang dijual.
“Wah, lihat ada banyak makanan manis di sini!” Dara bersorak gembira. “Aku akan membelikanmu wajik manis ini.”
Dara membeli banyak wajik dengan uangnya, tidak cukup satu. Tidak berhenti sampai di sana, jajanan-jajanan lain di sekitarnya pun diborong pula olehnya. Mantingan berkali-kali mengingatkan Dara, tetapi gadis itu tidak mau berhenti sebelum membeli semuanya. Hingga barang bawaan Dara menjadi banyak oleh camilan dari pedagang-pedagang di pinggir jalan itu. Ia membeli semuanya, tanpa ada yang terlewat satu pun. Bermacam-macam yang ia beli, dari yang manis hingga pahit sekalipun.
Dara tersenyum canggung. “Mantingan, kenapa kau tidak mengingatkanku?”
Ingin Mantingan menjitak dahi Dara. Berkali-kali ia sudah mengingatkan gadis itu, tapi tak satupun kata Mantingan didengar olehnya. Itu membuat Mantingan tidak bisa menjawab atau berkata-kata lagi. Dan Dara yang menyadari hal itu, hanya bisa menertawai kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Gadis itu berkata pelan, “Mantingan, memang seperti inilah sikapku jika berbelanja. Semuanya aku beli, selama itu berada dalam pandanganku. Memang kebiasaan ini tidaklah bagus, tetapi aku lihat ini cukup menguntungkan pedagang-pedagang itu.”
Mantingan melihat ke sekitar. Memang benar jika perbuatan Dara yang boros tersebut menguntungkan pedagang di sini secara merata. Terlebih yang Dara beli bukanlah makanan termurah. Hampir semua makanan yang ia beli adalah makanan termahal. Melihat itu, Mantingan hanya bisa mengembuskan napas perlahan dan mengangguk.
“Kita harus segera menemukan penjual atau penyewa kuda di sini,” kata Mantingan kemudian.
Dara teringat, lalu menunjukkan semua barang belanjaannya pada Mantingan. “Kau tentu tidak akan membiarkan wanita lemah sepertiku membawa ini semua, bukan?”
Mantingan tersenyum masam. Tidak ada pilihan lagi baginya selain membantu Dara. Mungkin ia bisa membawa sebagian barang belanjaannya. Namun tidak begitu, Dara tidak mau Mantingan melakukan hal itu. Dara tak ingin Mantingan membawa setengah barang belanjaannya. Ia ingin semuanya dibawa oleh Mantingan. Sekali lagi, Mantingan tidak memiliki banyak pilihan saat melihat wajah Dara yang siap merajuk.
“Orang sepertimu bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga dalam untuk membawa ini semua.” Dara menggerutu lalu berjalan. “Ayo, jangan lambat!”
“Semuanya sudah aku bayar di awal. Aku sudah memasakkan makan malam enak untukmu. Bumbu dan cara yang aku pakai setara dengan yang dipakai pada kedai mahal. Aku membayarnya lebih dari cukup.” Dara berkata ringan sembari terus berjalan.
Mantingan menahan napasnya, sebelum mengembuskannya. Tidak ada guna berdebat dengan Dara. Ia akan selalu mencari cara untuk memenangkan debat. Tentu saja cara yang digunakan itu tidak akan terduga. Dan jika cara itu gagal, Dara akan merajuk sejadi-jadinya. Mantingan mulai melihat sikap asli Dara yang sepertinya jarang ditunjukkan pada banyak orang. Sikap yang boros, selalu ingin dilayani, dan mudah merajuk. Mantingan tidak tahu apakah itu merupakan sikap seorang wanita dewasa yang wajar atau bukan wajar.
Sepanjang perjalanan di dalam kota, mata Mantingan terus menerawang ke arah sekitar, berusaha menemukan penjual kuda di antara bangunan toko lainnya. Kota ini sangat sibuk bahkan saat mereka di lingkungan terdalamnya sekalipun, toko-toko selalu ramai oleh pelanggan. Kebanyakan toko di kota ini ialah toko perkakas, toko pakaian, toko kain, toko emas, atau toko yang menjual barang untuk pemujaan. Beberapa kali mereka juga melewati kuil di sela pertokoan, yang tak kalah ramai oleh keberadaan orang serta asap dupa. Mereka juga beberapa kali melihat penginapan, baik itu penginapan kecil maupun penginapan besar, tanda bahwa kota ini telah terbiasa menerima tamu dari luar.
Mantingan kini tengah berpikir. Apakah yang berlangsung di sini jika situasi tidak sedang bergejolak? Ramai atau malah sepi? Apakah pengunjung-pengunjung di sini berdatangan karena memang di kota inilah yang paling aman di antara kota dagang lainnya?
Tentu jika melihat dari kegiatan-kegiatan yang berlangsung, kota ini dapat disebut sebagai kota perdagangan. Pusatnya kegiatan jual-beli. Terbukti juga dari banyaknya barang-barang yang tidak banyak dijual di kota-kota lain pada umumnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Mantingan merasakan adanya keberadaan pendekar-pendekar di sekitarnya, tidak biasanya hal itu terjadi pada kota-kota perdagangan. Pendekar manakah yang minat berdagang sedang silat adalah jalan hidupnya?
“Hei! Itu Nyai Dara!”
Mantingan dikejutkan oleh suara yang menyebut nama Dara itu. Sesaat kemudian segerombolan pria pekerja datang dengan cepat ke arah Dara. Tak hanya mereka saja, orang-orang lain yang juga mendengar teriakan itu lekas menoleh untuk menemukan keberadaan Dara.
Sedangkan Dara yang menyadari dirinya dalam situasi yang tidak baik, lekas berbalik dan lari bersembunyi di belakang punggung Mantingan. Sayang sekali Dara melupakan bahwa bundelan di punggung Mantingan itu berisi Bunga Aroma Kematian, yang meski sudah dibungkus tetap saja aromanya cukup menyengat. Dara merasa serba salah, memandang orang-orang yang mulai berkerubung mendekatinya.
“Mantingan, Mantingan, bantu aku!” katanya dengan wajah cemas.
Mantingan mengangguk. “Aku tahu. Jangan jauh-jauh dariku.”
Yang Mantingan cemaskan sebenarnya bukan dari kerumunan penggemar Dara yang kian mendekat itu, melainkan keberadaan pendekar-pendekar yang bisa saja menjadi ancaman bagi Dara. Mantingan tidak mengetahui, apakah keterkenalan Dara sampai membuatnya dikagumi oleh pendekar-pendekar atau tidak.
Jika saja beberapa saja pendekar datang dan sama gilanya dengan orang-orang itu, akan jadi sangat merepotkan bagi Mantingan, bisa membahayakan Dara.
Mantingan tangan kirinya tinggi-tinggi, lalu berteriak lantang pada mereka, “Jangan mendekat!”
Sia-sia, mereka tidak menghiraukan peringatan itu. Bagi mereka, Mantingan bukanlah apa-apa untuk dapat menghentikan niat mereka.
Menyadari hal itu, Mantingan menghela napas panjang. “Mohon maafkan aku ....”
__ADS_1