Sang Musafir

Sang Musafir
Tempat Perhentian Kereta Kuda


__ADS_3

Mantingan menggeleng. “Tidak, Paman.”


“Jangan meragukan kemampuan silatku, Mantingan.” Paman Kedai tidak terlihat tersinggung, malah tersenyum lebar.


“Daku tidak meragukan kemampuan Paman Kedai, tetapi daku telah mendapat pengarahan dari seseorang untuk belajar silat di Perguruan Angin Putih.”


“Ya sudahlah! Tetapi janganlah engkau menyesal nanti.” Paman Kedai mengalihkan pandangannya ke arah hutan, lalu terdiam sangat lama.


Mantingan merasa bahwa Paman Kedai ini benar-benar orang gila yang beruntung bisa jadi pendekar, maka dari itu ia merasa tidak terlalu aman berada lama-lama di sini. Lekaslah ia berdiri dan memasang buntelan dan pundi-pundi ke badannya.


“Paman Kedai, aku rasa tidak ada lagi yang ingin engkau ceritakan. Izinkan daku melanjutkan perjalanan. Aku rasa sekeping emas cukup untuk membayar sewa kamar ini." Mantingan meletakkan sekeping emas di sebelah Paman Kedai.


Paman Kedai berkata tanpa mengalihkan pandangannya, “Silakan. Jangan terlalu lama di Perguruan Angin Putih agar engkau bisa secepatnya kembali ke sini.”


Mantingan menggeleng pelan, menyangka Paman Kedai benar-benar gila. Berbasa-basilah dia. “Tentu, Paman. Jika suatu saat nanti diriku sempat, akan kuusahakan mengunjungi Paman Kedai.”


“Ya, cepatlah pergi. Sebelum hari gelap.”


Mantingan lekas keluar dari kamar itu, biarlah Paman Kedai merenungi apa pun yang ia pikirkan, juga biarlah dia gila sampai kapan pun ia mau.


***


Setelah melewati perjalanan berat selama lima hari lamanya, Mantingan sampai juga di wilayah Gunung Kubang. Pusat kota Gunung Kubang ini terletak di sebuah dataran rendah luas yang dikelilingi gunung-gunung. Bahkan untuk memasuki kota ini saja, Mantingan perlu mendaki dan menuruni salah satu gunung yang lumayan terjal, beruntungnya ini bukan musim hujan sehingga tanah tidak berlumpur ataupun licin.

__ADS_1


Kota ini menempati hampir seluruh luas dataran itu, hingga dari atas salah satu gunung akan terlihat seluruh pemandangan kota yang demikian luas ini.


Mantingan kini berada di pintu masuk kota, dapat masuk dengan mudah setelah menujukan tanda pengenalnya pada prajurit penjaga.


Kota ini bagaikan tempat berbahaya bagi Mantingan, bahkan ia menganggapnya jauh lebih berbahaya daripada hutan yang dihuni perampok atau hewan buas. Terpaksa ia memasuki kota ini karena ia harus mencari tahu segalanya tentang keberadaan Perguruan Angin Putih.


Bahkan bisa saja Perguruan Angin Putih itu terletak di dalam kota. Banyak perguruan-perguruan silat yang terletak di dalam perkotaan. Tetapi untuk hal ini, Mantingan tidak terlalu yakin. Kota ini terlalu ramai untuk perguruan silat, tidaklah terlalu baik untuk belajar silat.


Pada salah satu prajurit, Mantingan menanyakan letak perpustakaan kota. Prajurit itu menjelaskan arah yang Mantingan harus tempuh, tetapi prajurit itu tidak menyebutkan letak pasti perpustakaan.


“Kisanak bisa pergi ke kusir kuda dan minta antarkan sampai perpustakaan kota. Jika sahaya menuturkan arah menuju perpustakaan kota, maka itu akan memakan waktu sangat lama dan belum tentu Kisanak bisa memahaminya. Jadi biar kuberitahu saja letak kusir kuda ....”


Prajurit itu menjelaskan letak kusir kuda yang biasanya berdiam diri menunggu penumpang untuk ia antar. Letak kusir kuda itu saja sudah cukup untuk membuat Mantingan mendengarkan setiap kata yang dikeluarkan prajurit itu dengan cermat. Janganlah sampai ada yang terlupa, sebab letak kusir kuda itu saja sudah sangat merumitkan. Mantingan tidak bisa membayangkan betapa lebih rumit lagi jika ia memaksa prajurit itu menyebutkan arah menuju perpustakaan di kota yang terlampau besar ini.


Hiruk pikuk kota juga membuat Mantingan kesulitan mengingat. Kota yang sangat ramai, kegiatan perdagangan ada di mana-mana. Perdagangan yang dimaksud ini bukanlah perdagangan kecil seperti halnya pasar, melainkan perdagangan besar yang melibatkan barang-barang dalam jumlah banyak juga, barang-barang di sinilah yang kemudian akan dibawa ke pasar-pasar kota lain. Bisa dibilang, di kota inilah pusat perdagangan, mungkin saja pusat perdagangan Tarumanagara.


Mantingan bisa melihat saudagar ada di mana-mana. Mereka mengenakan baju kain sutra dan juga perhiasan emas. Perut saudagar-saudagar itu rerata buncit, tanda kesejahteraan dan kekayaan. Sepanjang perjalanannya, Mantingan tak hanya melihat pedagang-pedagang yang berasal dari Javadvipa saja, Mantingan melihat pedagang-pedagang lain yang berasal dari Negeri Atap Langit atau dari tempat lainnya. Luar biasa sekali pengalaman melihat manusia dari belahan bumi lain berada di tempat ini bagi Mantingan.


Tak berselang lama, Mantingan sudah menemukan tempat perhentian kusir-kusir kuda. Tetapi yang ia lihat tidak hanya belasan kusir dengan kereta kudanya saja, melainkan lebih dari seratus kusir kuda berada di sana.


Kegiatan di tempat itu juga sangat padat. Jalan keluar dan jalan masuk kereta kuda telah diatur dalam jalur yang berbeda agar tidak terjadi kemacetan, tetapi tetap saja terjadi kemacetan akibat padatnya yang ingin keluar dan masuk tempat itu.


Jalur untuk calon penumpang juga telah dibedakan, padat dan ramai orang-orang berjalan di sana. Banyak saudagar-saudagar yang membawa pelayan, dan pelayan-pelayan itulah yang memikul barang dagangan di pundak atau di kepalanya.

__ADS_1


Mantingan merasa jadi orang asing di tempat ini. Dapatkah ia meyakinkan dirinya bahwa tidak mengapa untuk tidak jadi saudagar? Mantingan melihat perut-perut buncit saudagar-saudagar itu, ia tak mau seperti itu, memang baiknya menjadi pengembara saja. Mantingan juga merasa tidak ada salahnya untuk percaya diri, kekayaan yang dibawanya tersembunyi di dalam buntelan, sedangkan saudagar-saudagar itu memamerkan harta-harta kekayaan mereka juga perut buncitnya.


Bisa saja Mantingan pergi ke sana dan membuka bajunya, membuat saudagar-saudagar itu iri dengan bentuk perut Mantingan yang diidam-idamkan banyak wanita. Tetapi Mantingan tidak akan melakukan hal gila itu.


Berjalanlah Mantingan masuk pada jalur yang dikhususkan penyewa kusir kuda. Jalan itu membawa dirinya masuk lebih dalam ke tempat perhentian ratusan kereta kuda itu. Di akhir jalur, ada petugas yang menanyakan tempat yang ingin mereka tuju. Terciptalah barisan panjang oleh orang-orang yang menunggu giliran ditanya itu.


Mantingan sabar menunggu, tetapi telah terlampau lama dirinya berdiri di sini dan barisan masih panjang di depannya. Tidak ada jalan keluar. Di sisi belakang Mantingan padat oleh orang-orang, Mantingan tidak bisa menerobos dan keluar dari sini.


***


Pada akhirnya Mantingan mendapat gilirannya setelah menunggu sangat lama di bawah terik mentari siang. Beruntung dirinya memiliki caping untuk melindungi diri dari teriknya matahari.


“Selamat siang, Kisanak, ke tempat manakah yang engkau ingin tuju?”


“Perpustakaan," jawab Mantingan singkat.


“Perpustakaan yang manakah itu, Kisanak? Ada banyak perpustakaan di kota ini, apakah Kisanak hendak menuju ke perpustakaan pusat?”


“Ya, perpustakaan pusat.”


“Kalau begitu, silakan Kisanak menaiki kereta kuda yang memiliki tanda angka empat-tiga, katakan pada kusir untuk memberhentikan Kisanak di perpustakaan pusat. Kisanak bisa mendapatkan kereta kuda jurusan itu di bagian utara tempat perhentian ini.”


Mantingan mengangguk dan berlalu meninggalkan petugas yang masih berdiri di sana.

__ADS_1


__ADS_2