
MANTINGAN MENGANGGUK kemudian pura-pura batuk beberapa kali.
“Kalau saja diriku boleh tahu, racun apakah itu?”
“Tentu daku tidak tahu-menahu tentang perkara racun ini.”
“Kalau begitu, sebutkan saja gejala-gejalanya agar diriku dapat dengan mudah mengenalinya.”
Mantingan kemudian menjelaskan gejala-gejala yang ia alami. Siasatnya datang ke toko ini selain untuk mengawasi Bidadari Sungai Utara juga untuk berobat. Tentu Mantingan tidak bisa mengabaikan racun yang masih bersarang di dalam tubuhnya, dan sewaktu-waktu racun itu dapat kembali kambuh dengan rasa sakit yang lebih parah lagi.
Wiranti menganggukkan kepalanya beberapa kali, pandangannya pada Mantingan berubah menjadi pandangan yang iba. “Saudara, dikau memiliki nasib yang sangat malang. Sesungguhnya racun ini tidak memiliki nama, sebab tidak banyak yang tahu dari apa racun ini terbuat. Orang-orang menyebut racun ini sebagai Racun Tidak Bernama.”
Wiranti lalu menjelaskan lebih jauh tentang Racun Tidak Bernama pada Mantingan. Mendengar itu, Mantingan hanya bisa tersenyum kecut.
Racun Tidak Bernama ini adalah racun yang sangat mematikan sekaligus racun yang sangat menyakitkan. Racun ini tidak tersedia banyak karena pendekar yang membuatnya telah mati dan tidak seorangpun mewarisi ilmu racunnya. Bahkan dari aliran hitam sekalipun tidak memiliki banyak Racun Tidak Bernama.
Racun Tidak Bernama memang tak membunuh mangsanya secara langsung. Ia membunuh secara perlahan dan menyakitkan. Orang yang terkena racun ini akan merasakan sakit luar biasa di bulan pertama, lalu merasa menderita di bulan kedua, dan merasa sangat menderita di bulan ketiga, sebelum mati mengenaskan di bulan keempat.
Mantingan baru mengalami saat-saat menyakitkan di bulan pertama dan belum merasakan saat-saat menderita di bulan kedua dan ketiga.
“Daku tidak memiliki obat penawarnya, dan mungkin saja di dunia ini tidak ada yang memiliki obat penawar untuk Racun Tidak Bernama.” Wiranti menghela napas panjang. “Tetapi daku memiliki obat yang bisa menahan rasa sakitmu. Maafkanlah diriku jika harus mengatakan hal ini, tapi dengan obat tersebut engkau bisa mati tanpa perlu banyak menderita.”
Mantingan tidak tahu harus berkata apa. Ada Bidadari Sungai Utara yang harus senantiasa ia lindungi, tetapi di sisi lain ada pula nyawanya yang harus tetap bertahan sampai Kembangmas ditemukan. Jikalau yang dikatakan Wiranti adalah benar, maka Mantingan hanya memiliki waktu kurang dari empat bulan.
Dengan waktu yang sesingkat itu, bisakah Mantingan mengantar pulang Bidadari Sungai Utara ke Champa sekaligus menemukan Kembangmas dan membawakannya pada Kenanga?
__ADS_1
“Sepertinya itu bisa.” Bidadari Sungai Utara menimpali. “Sepertinya itu bisa disembuhkan. Racun Tidak Bernama ini telah membunuh banyak pendekar di dataran Champa, sehingga tabib-tabib di tanah Champa bekerja keras untuk menemukan penawar racunnya. Meskipun penawar itu mungkin masih belum ditemukan sampai sekarang, tetapi diriku turut andil bagian bersama mereka selama aku masih di Kekaisaran Jin. Sedikit-sedikit daku mengetahui cara menawar Racun Tidak Bernama, mungkin saja Saudara ini bisa disembuhkan.”
Mantingan tidak menoleh pada Bidadari Sungai Utara, tetapi justru pada Wiranti dia berkata, “Apakah itu benar? Daku tidak mau menerima harapan palsu yang menyakitkan benak.”
“Bagaimana, Sasmita?” Wiranti menoleh pada Bidadari Sungai Utara.
“Daku tidak bisa berjanji, tetapi diriku akan berusaha sebisa mungkin.” Bidadari Sungai Utara memberikan keyakinan penuh melalui tatapannya. “Tapi sebelumnya, diriku harus memeriksa keadaanmu, Saudara.”
Mantingan lekas menggeleng. Jika Bidadari Sungai Utara melakukan itu, ada kemungkinan jati dirinya terbongkar. “Daku merasa itu tidak perlu. Sesungguhnyalah diriku tidak memiliki banyak uang, tidak sanggup bayar biaya pengobatan.”
“Apakah seperti itu semangat hidup Saudara?” Bidadari Sungai Utara kembali menimpali. “Saudara, dikau bisa mencari pekerjaan di pasar ini jika engkau memang belum bekerja. Namun jika engkau sudah memiliki pekerjaan, carilah jalan keluar untuk mencari uang lebih banyak. Karena untuk sekarang ini, uang dapat menyelamatkan hidup Saudara.”
Mantingan mengernyitkan dahi dan memilih untuk diam.
“Jika kehidupan adalah suatu hal yang penting, maka pertahankanlah.” Bidadari Sungai Utara berkata tegas. “Daku juga akan membantu soal biaya."
“Tidak bisa, Saudari.” Mantingan menggeleng pelan. “Daku bukanlah siapa-siapa bagi Saudari. Jika Saudari berniat berbuat baik padaku, justru diriku yang akan berprasangka buruk pada Saudari. Adakah sesuatu di dalam diriku yang membuat Saudari tertarik membantuku?”
Bidadari Sungai Utara tersenyum tulus. “Saudara mengingatkanku pada seseorang yang pernah kukenal. Saat dikau memanggilku dengan sebutan itu, daku merasa orang yang pernah kukenal itu memanggilku kembali. Namun sayang seribu sayang, dia hanyalah seseorang yang pernah aku kenal, tidak lebih dan tidak kurang. Ada satu sikapnya yang paling daku tidak sukai. Saudara, daku berharap kau tidak mempunyai sikap buruk yang sama dengan orang itu, atau diriku akan sangat-sangat kecewa.”
Mantingan bertingkah seperti orang kebingungan, namun di dalam hatinya ia menghela napas panjang. Sikap apakah yang telah membuat Bidadari Sungai Utara sangat-sangat kecewa terhadap dirinya?
“Sejujurnya daku tidak terlalu mengerti pada apa yang telah Saudari ucapkan. Akan tetapi, daku akan berusaha tidak mengecewakan Saudari semampu yang kubisa lakukan."
“Lupakanlah soal itu.” Bidadari Sungai Utara mengibaskan lengannya sekali. “Ibu, bolehkah aku meminjam ruangan untuk memeriksa Saudara ini?”
__ADS_1
***
“Aku akan tetap seperti ini.”
SAAT DIMINTA untuk melepas caping dan selendang di lehernya, Mantingan menolak. Bidadari Sungai Utara hanya bisa menganggukkan kepala. Gadis itu kemudian bergeser duduk ke belakang punggung Mantingan.
“Ini akan terasa sedikit sakit, daku akan mencoba berhubungan dengan racun di dalam tubuh Saudara.”
Mantingan merasakan sentuhan tangan Bidadari Sungai Utara di punggungnya yang masih terbalut baju. Rasa hangat menjalar dari permukaan punggung sampai ke dadanya. Saat itulah Mantingan merasakan nyeri teramat sangat pada bagian dada dan leher. Sedikit ia meringis kesakitan.
“Mohon tahan sebentar, Saudara. Ini ... tidak akan lama,” kata Bidadari Sungai Utara dengan terengah-engah.
Mantingan menahan sakitnya. Menggigit bibir bagian bawah, menahan jeritan yang hendak keluar mengisi udara. Tanpa sadar, gigitan pada bibirnya terlalu kuat, menyebabkan pendarahan.
Saat itulah Bidadari Sungai Utara menarik tangannya dengan napas terengah-engah. Begitu pula Mantingan. Keduanya sama-sama mengucurkan tenaga dalam yang jumlah bukan tidak sedikit. Dalam keadaan lelah seperti ini, tidak ada yang dapat Mantingan serta Bidadari Sungai Utara selain duduk bersimpuh dan mengucap beberapa kalimat.
“Racun yang ada di tubuh Saudara tidak banyak, tetapi tetap saja sangat berbahaya. Saudara terlambat mendapat penanganan. Mungkin saja racun ini dapat bekerja lebih cepat dari yang seharusnya."
Mantingan membuka mulut untuk membalas. Namun, balasan yang ia keluarkan itu sama sekali tidak berhubungan dengan perkataan Bidadari Sungai Utara tadi.
___
catatan:
Mengapa jarang update? Saya sedang di Jawa Tengah, gudangnya petualangan. Bersitatap, begitu dekat dengan Sindoro dan Sumbing. Ingin menjamah sampai puncaknya, tapi tidak bisa.
__ADS_1
Jadi di sini saya mencoba untuk jadi Mantingan sebentar. Jalan-jalan di hutan. Menemukan bahwa di dalam hutan banyak ular dan semak belukar. Saya sedikit riset di sini, untuk menemukan kesan terbaik saat berjalan kaki menembus hutan.