
Ditambatkan kudanya di tempat penambatan. Ada empat kuda lain yang ditambatkan di tempat itu juga, yang berarti setidaknya ada empat orang lain di dalam kedai kecil itu.
Mantingan melangkah masuk, tidak ada daun pintu ataupun tirai yang menghalangi jalan masuk kedai itu. Ia lempar pandang ke sekeliling, benar bahwa ada empat orang di meja yang sama. Tengah berbincang sambil makan. Mantingan memilih sebuah meja yang berada di pojok ruangan dan dekat dengan jendela, lalu memesan beberapa makanan serta rumput dan air untuk kudanya.
Sambil menunggu makanan, ia mengamati empat orang yang berjarak agak jauh darinya itu. Mereka tengah membincangkan suatu persoalan hangat tanpa berbisik-bisik, sehingga Mantingan cukup bisa mendengar seluruh percakapan mereka.
“Kelompok-kelompok aliran hitam itu memang bukan tanpa alasan menyerang bersamaan. Mereka itu adalah orang-orang bekas Salakanagara yang tak puas dengan kepemimpinan Punawarman, sehingga mereka memilih bergabung dengan aliran hitam dan sepakat membuat gerakan bersama-sama dan mendadak.”
“Kawanku, aku sudah lama tak bertemu dengan dirimu dan ternyata dikau bertambah pintar saja. Benar apa katamu itu. Walau sudah lama sekali Salakanagara jatuh ke tangan Tarumanagara secara damai, dan telah ada pemberontakan yang berhasil disurutkan, tetapi sekarang dendam itu kembali membara.”
“Tetapi, bukankah tidak ada permusuhan saat Salakanagara menjadi kerajaan kecil di bawah kekuasaan Tarumanagara?”
“Tidak, menurut beberapa orang dan menurut diriku sendiri, Salakanagara ditundukkan dengan serangan dari dalam. Yang berarti, petinggi-petinggi dari Salakanagara itu sendiri yang membuat kerajaannya tunduk di bawah kekuasaan Tarumanagara!”
“Maksudmu petinggi-petinggi Salakanagara saat itu adalah pengkhianat? Dan merupakan orang-orang kiriman atau sogokan dari Tarumanagara?”
“Menurutku demikian, walau belum pernah ada yang berhasil membuktikannya. Tetapi kita lihat nyatanya, ada orang-orang bekas Salakanagara yang memberontak sampai sekarang ini.”
“Kalau demikian, apakah Tarumanagara masih bisa disebut sebagai kerajaan yang membawa kemakmuran?”
“Tentu saja Tarumanagara membawa kemakmuran, nyatanya keadaan rakyat di masa Tarumanaga, terutama pada masa Punawarman, sangatlah makmur. Punawarman bahkan tengah menggali sungai-sungai untuk pesawahan.”
“Tetapi mengapa orang-orang bekas Salakanagara itu memberontak?”
“Aduhai, Kawanku, dikau perlu mengetahui bahwa kekuasaan adalah hal yang paling diperebutkan sedaripada perdamaian dan kemakmuran itu sendiri.”
__ADS_1
“Mengapa begitu?”
“Aku sendiri tidak memahami mengapa mereka begitu haus kekuasaan. Mungkin saja uang? Atau perempuan? Aku tak tahu.”
“Kalau seperti itu, mengapakah tidak salah satu dari kita coba jadi penguasa?”
“Sudahlah. Untuk jadi pedagang saja sudah sangat sulit dan berat, bagaimana bisa daku menginginkan kekuasaan?”
“Benar, lagi pula jadi pedagang pun juga nikmat-nikmat saja. Nyatanya kita masih bisa menyewa wanita-wanita di tempat pelacuran.”
Mantingan menggelengkan kepala. Tepat sekali saat itu hidangan datang ke mejanya.
“Kami sudah beri makan dan minum pada kuda Tuan yang di ujung itu,” kata orang yang mengantar hidangan.
“Terima kasih.”
“Tempat pelacuran itu penuh dengan siasat sembunyi-sembunyi. Sudah menyamadkan diri dari tempat pelacuran menjadi tempat penginapan, mereka masih juga menyembunyikan gadis-gadis cantik yang baru bisa disewa dengan seratus keping emas!”
***
Kuda kembali melesat. Menderap. Mantingan tadi tidak menunggu lebih lama lagi setelah membayar beberapa keping perak untuk semua pesanannya. Empat orang di kedai itu masih tetap di sana dan berbincang-bincang sambil mulai minum tuak.
Diakibatkan musim kemarau, debu-debu terbang saat kuda menderap. Lantas terpapas angin. Di musim kemarau seperti ini, telah pasti ada beberapa dukuh yang mengalami kekurangan air.
Seperti desa kelahiran Mantingan. Kemarau membuat desa itu berada dalam kekurangan pangan dan air. Sawah-sawah mengering, sebab sungai juga mengering. Tidak cuma itu, sumur-sumur pun turut mengering. Hanya ada beberapa sumur saja yang masih menyisakan air, dan akhirnya diambil alih kepala desa untuk dibagikan secara adil. Tetap saja, itu tidak banyak.
__ADS_1
Tetapi karena keserakahan, tempat sumur itu berada diserbu banyak warga. Perebutan air pun tak terelakkan, korban jiwa pula tak tertawarkan. Paman dari Mantingan mati saat dirinya terlibat adu dorong. Jatuh ke dalam sumur. Membentur tanah dan batuan.
Sebenarnya paman Mantingan juara soal berenang, tetapi kepalanya terbentur dinding sumur sehingga dirinya meninggal seketika tanpa sempat menunjukkan keahlian renangnya di dalam sumur.
Korban-korban tewas selanjutnya bukanlah perkara tercebur ke dalam sumur, tetapi karena kehausan yang teramat sangat. Beruntung Mantingan mengetahui beberapa tumbuhan yang dapat menghasilkan atau menyimpan air. Seperti pohon beringin, walau pohon itu disembah-sembah oleh warga desa, tetapi Mantingan nekat menggali di bawah akarnya dan menemukan air. Untuk keluarganya.
Mengingat itu membuat Mantingan kembali tersenyum, setidaknya ia memiliki bakat jika menyangkut tentang kelangsungan hidup di hutan. Dan bukan tidak mungkin dirinya dapat mengembangkan bakat-bakat lain seperti orang pada lazimnya, sehingga ia bisa hidup di perkotaan maupun perhutanan.
Kuda terus melaju tanpa henti sampai malam hari, di waktu itulah Mantingan pada akhirnya memutuskan untuk berhenti dan membangun tenda. Lagi-lagi ia membangun tenda agak menjauh dari jalanan, untuk menghindari perampok, dan tanpa api.
***
Mantingan membuka mata saat pagi masih gelap gulita, ia telah terbiasa bangun di waktu ini. Tetapi bukan itulah yang menyebabkan dirinya bangun saat ini.
Melainkan adanya suara gemersak dari luar yang membuat Mantingan bangun dari tidurnya yang lelap. Mantingan agak meragukan jika itu adalah kuda, karena ia tak mendengar ringik kuda sama sekali.
Lalu, apakah suara itu?
Buru-buru Mantingan meraih tongkatnya yang ada di sebelahnya itu, dan langsung bangkit menyibak tirai tenda. Dalam keadaan yang setengah sadar seperti ini, dalam keremangan malam, Mantingan masih bisa melihat dua orang yang tengah menarik tali kekang kudanya tak jauh dari letak tendanya itu.
Jika saja Mantingan berada dalam kesadaran penuh, maka ia akan teringat akan janjinya dengan Kenanga. Tetapi dalam kondisi setengah sadar seperti ini, Mantingan seperti harimau yang menyergap mangsanya.
Dua orang yang hendak mencuri kudanya itu sama sekali tidak menyangka bahwa Mantingan akan melompat cepat ke arah mereka dengan tongkat terayunkan!
Satu orang terkena pukulan telak. Lengan kanannya patah. Satu orang yang tersisa mengeluarkan golok dan langsung menyerang Mantingan, tetapi gerakan Mantingan jauh lebih cepat dan tangkas.
__ADS_1
Tubuhnya melayang mundur dan berhasil menghindari serangan golok yang hendak menyabet perutnya itu, lalu dikirimnya serangan balasan yang mengenai rusuk orang itu. Mantingan mengirimkan sabetan sekali lagi ke arah pundaknya, dan sekali lagi ke arah punggung lawannya.
Karena merasa bahwa Mantingan adalah pendekar yang tak patut dilawan, maka dua orang itu lari pontang-panting ke dalam gelapnya hutan.