Sang Musafir

Sang Musafir
Kewaspadaan Pendekar di Segala Keadaan


__ADS_3

MANTINGAN MENGANGKAT alisnya heran. “Apakah engkau sungguh-sungguh mau melakukan itu?”


Bidadari Sungai Utara di depannya itu kemudian mengangguk pasti. “Akan kulakukan itu demi kebaikan bersama.”


“Apakah engkau mau berlatih di bawahku?”


“Sedari dulu daku menginginkannya.” Bidadari Sungai Utara tersenyum di balik cadar tipisnya. “Sudilah menjadi guruku.”


“Aku tidak sudi,” kata Mantingan tegas. “Engkau bukanlah siapa-siapa bagiku. Kita hanya terlibat suatu perjanjian, bukan? Perjanjian itu harus segera kugenapi, karena aku masih memiliki janji dengan orang lain. Ketahuilah bahwa dalam beberapa bulan lagi, Saudari akan berpisah denganku. Dan setelah itu, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi.”


Bidadari Sungai Utara pun sebenarnya juga sadar hal itu benar adanya. Jarak yang terbentang antara Champa dan Javadvipa bukanlah jarak yang jauh, melainkan jarak yang sangat jauh. Dan mana mungkin dirinya kembali lagi ke Javadvipa setelah apa yang terjadi. Pada mulanya, Bidadari Sungai Utara tidak mau barang sedikitpun memikirkan tentang hal itu. Namun betapapun sekarang ia tahu, cepat atau lambat hal tersebut akan datang.


Dan biar bagaimanapun juga, Bidadari Sungai Utara merasa sedikit tersinggung setelah Mantingan tidak sudi menerimanya menjadi murid. Dalam benak, Bidadari Sungai Utara bertanya-tanya. Apa yang salah dengan dirinya sampai Mantingan tega mengatakan hal itu?


Gadis itu merasa Mantingan mengalami banyak perubahan sikap semenjak ia membaca Kitab Teratai. Sikapnya kini lebih tegas. Tidak lagi naif. Jiwa kepemimpinannya terukir jelas di wajahnya. Mantingan mengurangi sikap ragu-ragunya setelah dapat lebih jelas membedakan antara yang benar dan yang salah.


“Sungguh perkataanmu itu membuat perasaanku sakit, Saudara. Alasan apakah hingga engkau tega berkata seperti itu?”


“Alasannya sudah daku kemukakan sebelumnya. Engkau bukan siapa-siapa bagiku, hubungan kita sebatas perjanjian saja. Tidak lebih dari itu. Setelah perjanjian daku lunasi, maka boleh dikatakan tidak ada lagi hubungan di antara kita. Kuharap engkau bisa mengerti dan tidak tersinggung, Saudari.”


“Aku tetap tersinggung, Mantingan. Kukira engkau menganggapku sebagai sahabatmu.”

__ADS_1


Mantingan tersenyum samar. “Engkau tidak memperlakukanku sebagaimana engkau memperlakukan sahabatmu.”


Bidadari Sungai Utara bertambah sesak. “Lalu kauanggap apa perbuatanku padamu selama ini, Mantingan? Aku memperlakukanmu lebih istimewa sedaripada kekasihku sendiri.”


“Engkau merasa semua pengobatan itu adalah perilaku yang istimewa? Biarlah itu anggapanmu, tetapi tidak dengan anggapanku.”


“Apa yang salah dengan dirimu, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara meninggikan suaranya. “Mengapa engkau sungguh berbeda dari Mantingan yang aku kenal? Kauanggap apa diriku?”


“Pelayananmu pada diriku masih kurang. Bahkan menganggap dirimu hanya sebagai temanku sudah sangat tidak pantas. Kemampuanku jauh di atas dirimu, dan engkau ingin menjadi sahabatku? Harus kukatakan bahwa hal itu mustahil, jadi janganlah bermimpi.”


Sebuah petir bagaikan meledak tepat di atas kepala Bidadari Sungai Utara. Tubuhnya bergemetar hebat. Amarahnya tersulut bagai minyak dibakar api. Bagaikan kepiting rebus wajah gadis itu.


“Diriku sungguh tidak percaya kau mengatakan ini tepat di hadapanku. Tak dapat kubayangkan kekecewaan apa yang kudapat dari semua kata-kata pedasmu itu.”


Bidadari Sungai Utara masih dapat melihat serangan tapak Mantingan yang entah mengapa datang ke arahnya itu. Gadis itu mundur menyurutkan diri. Dua tangannya terangkat, membentuk perisai untuk menangkis serangan.


Meskipun serangan Mantingan teramat-amat cepat, Bidadari Sungai Utara dapat menangkisnya dengan cepat dan tepat pula. Sehingga adalah lengan Mantingan terdorong ke samping kiri.


Dengan napas yang tak beraturan, Bidadari Sungai Utara melirik Mantingan. Dilihatnya bibir pemuda itu memancarkan senyum. Mantingan menarik dua lengannya ke belakang pinggang sebelum berjalan melewati diri Bidadari Sungai Utara yang masih tercenung.


“Seorang pendekar harus memasang kewaspadaan di segala keadaan. Baik itu keadaan lingkungan maupun keadaan pikiran.” Mantingan berkata tanpa mengurangi lajunya. “Dalam keadaan amarah dan keterguncangan, dirimu harus senantiasa dalam keadaan siap bertarung. Ini latihan pertama untukmu. Jangan menyesal telah berlatih di bawah bimbinganku.”

__ADS_1


***


HARI-HARI berikutnya dijalani Mantingan dengan melatih Bidadari Sungai Utara. Di sisi lain, ia mulai mempelajari bagian kedua dari Kitab Teratai. Itu adalah persiapan yang dilakukan sebelum melancarkan rencana penyelamatan Desa Lonceng Angin.


Tentu dengan tiga kesibukan itu, Mantingan tidak lupa pula untuk mengurusi Kana dan Kina. Mantingan tentu membagi waktu untuk mereka berdua. Pemuda itu harus berpusat diri kepada pelatihan Kana, serta pelajaran membaca Kina yang hampir memasuki tahapan akhir.


Namun, bertambahnya kesibukan Mantingan barang tentu membuat Kana dan Kina merasa betul perubahan dalam diri pemuda itu. Mereka merasa kasih sayang Mantingan kepada mereka telah teralihkan kepada hal-hal yang lain. Jika biasanya Mantingan menyempatkan waktu hanya untuk mengobrol hal yang tak penting, maka kini hanya percakapan penting saja yang akan menarik perhatian Mantingan.


Bertolak belakang dengan Bidadari Sungai Utara yang rela mengurangi kesibukannya demi Kana dan Kina. Gadis itu yang lebih sering mengajak mereka bermain, melupakan kesedihan mereka.


Sebenarnyalah Mantingan juga bersedih menyadari kerenggangan hubungannya dengan mereka. Namun, ia melihat Bidadari Sungai Utara telah menjadi pengganti dalam memberi kasih sayang terhadap mereka. Maka pikirannya menjadi lega pula. Biar bagaimanapun, memang seperti itulah tugas seorang perempuan selayaknya Bidadari Sungai Utara. Dalam hal memberi perhatian dan kasih sayang, perempuanlah yang paling ahli.


Sore itu. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara baru saja selesai melangsungkan latihan tanding. Tadinya, mereka harus bertanding di atas kebun tanpa merusak satupun tanaman. Itu melatih Bidadari Sungai Utara bertarung atau melarikan diri tanpa meninggalkan jejak barang sedikitpun. Dan kini, gadis itu berhasil mengalahkan Mantingan tanpa merusak satupun tanamannya.


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum. Bidadari Sungai Utara turut tersenyum puas.


“Gerakanmu sungguh mematikan, tetapi sangat indah. Sangat luar biasa, Saudari.”


Bidadari Sungai Utara tanpa sadar tersipu malu. “Saudara-lah yang lebih hebat. Apalah kehebatanku dibandingkan Saudara yang dapat melenting-lenting tanpa mengeluarkan tenaga dalam.”


“Daku tidak membahas pencapaianku, tetapi aku membahas pencapaianmu," kata Mantingan tersenyum. “Engkau telah memenuhi persyaratan untuk ikut bersamaku. Saudari telah dapat melindungi diri sendiri, bahkan bukan tidak mungkin untuk melindungiku juga. Esok hari, kita bisa mulai menyusun rencana penyelamatan.”

__ADS_1


Dalam seketika, jantung Bidadari Sungai Utara berdebur kuat. “Jikalau begitu, daku akan meminta izin kepada Ibu Wira dan berpamitan dengan anak-anak terlebih dahulu.”


Namun Mantingan menggeleng pelan. “Esok hari kita menyusun rencana. Dan esok harinya pula kita menyusun rencana. Lalu esok harinya kita kembali menyusun rencana. Dan jika dirasa kurang matang, maka kita menyusun rencana lagi. Barulah saat itu kita bekerja.”


__ADS_2