Sang Musafir

Sang Musafir
Pembacaan Kitab Tak Bernama di Tengah Keterdesakan


__ADS_3

Celah ini begitu dan teramat sempit. Aku harus menyampingkan tubuhku untuk dapat berjalan dengan satu-dua langkah kecil. Meskipun sangat sempit, celah ini kurasakan memiliki ukuran yang cukup panjang. Kurasakan desir angin yang menerpa wajahku dengan begitu lemahnya, padahal angin begitu menggila sebelum diriku masuk ke dalam celah ini.


Aku bukanlah termasuk orang yang takut pada tempat yang sempit. Telah kusebutkan sebelumnya bahwa selain tidak takut, diriku telah berlatih untuk keadaan seperti ini dengan menerjunkan diri ke dalam celah gelap dan sempit yang ada di Gaung Seribu Tetes Air untuk waktu yang sangat amat tidak sebentar. Sehingga untuk berada di dalam celah sempit ini yang mana masih ada jalan untuk keluar, dan siang masih terang benderang seperti ini, diriku sama sekali tidak takut.


Telah pula kusebutkan bahwa diriku sebenarnya terpaksa masuk ke dalam celah ini, sebab sarang musuh-musuhku tepat berada di atas celah ini.


***


MANTINGAN terus mengingat isi kitab riwayat hidup milik Perempuan Tak Bernama, sedang sebagian perhatiannya terbagi untuk menangkis dan membalas serangan musuh. Dengan perhatiannya yang terbelah menjadi dua, Mantingan tidak dapat mengeluarkan seluruh kemampuan bertarungnya melainkan hanya setengahnya saja, sehinggalah kedudukannya kian terdesak. Namun betapa pun, Mantingan mengetahui bahwa apa yang sedang dilakukannya adalah benar. Dengan mengingat kembali isi kitab perjalanan Perempuan Tak Bernama yang pernah mengalami pertarungan seperti ini, bukan tidak mungkin jika dirinya mampu mengalahkan seluruh lawannya selayaknya yang dilakukan oleh Perempuan Tak Bernama.


Ia semakin tenggelam di dalam isi kitab itu, menyesapi kalimat demi kalimat di tengah pertarungan yang semakin membara.


***


Musuh-musuhku adalah pasukan jaringan khusus kerajaan, yang resmi dibentuk untuk mengatasi segala masalah dalam dunia persilatan bawah tanah yang dapat membahayakan kerajaan. Aku, sebagai anggota baru yang masuk dalam jaringan bawah tanah, mesti menumpas mereka hingga tuntas tak bersisa.


Aku sebenarnya sudah menyiapkan rencana matang-matang, dengan menyamar sebagai pengantar surat yang dikirimkan oleh kerajaan untuk mereka. Meskipun diriku adalah wanita, tetapi kulitku yang matang dan kasar ini mestinya akan dapat dengan mudah menyamar menjadi lelaki. Belum lagi diriku telah berlatih keras sepanjang menapak di jalan persilatan, menjadikan tubuhku penuh terisi oleh otot-otot. Jika rambut aku gelung ke atas, dan dada aku lilitkan dengan kain selendang ketat-ketat hingga tidak lagi membusung, kiranya siapakah lagi yang akan meragukanku sebagai seorang lelaki?

__ADS_1


Namun untuk menyampaikan surat kepada pasukan khusus kerajaan tentu tidak dapat asal-asalan. Aku harus masuk melalui sebuah terowongan rahasia yang dapat dicapai dengan melewati celah kecil ini. Meskipun lebih mudah dicapai dengan berjalan di atas sana, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh itu. Aku sudah pasti akan menjadi perhatian para pendekar pemerintah yang bersembunyi di balik pepohonan dengan menggunakan ilmu halimunan yang belum kukuasai. Mereka akan menyadari bahwa diriku tidak datang dari arah yang seharusnya.


Beginilah jaringan rahasia bawah tanah adanya. Jika terdapat sebuah ketidakwajaran saja, meskipun itu teramat sangat kecil dan tidak masuk akal, maka sudah pasti akan ditanggapi dengan pertumpahan darah. Aku tidak yakin dapat mengalahkan mereka semua jika tidak menggunakan rencana awal.


Ini juga sesuai dengan perintah jaringan rahasia yang menjadi tempat diriku bernaung, yaitu Penginapan Tanah, bahwa aku harus melewati celah ini untuk mencapai pintu rahasia itu. Segalanya telah direncanakan jauh-jauh hari, dan aku adalah satu-satunya kunci keberhasilan tugas.


Penginapan Tanah telah mengumpulkan hampir segala keterangan tentang sarang pasukan jaringan bawah tanah milik kerajaan di sini. Seluk beluknya, orang-orangnya, persenjataannya, bahkan pula hewan-hewannya. Jika tidak terjadi perubahan, maka seharusnya rencana ini akan berhasil dengan sangat mudah. Aku hanya perlu menyelinap ke dalam dapur di perkemahan mereka, lalu menuangkan racun mematikan secepat dan sesenyap mungkin. Sehingga tatkala waktu makan telah tiba, maka sebagian pasukan telah tewas terkapar.


Aku memang tidak dapat menjamin bahwa semua orang yang ada di markas itu memakan makanan yang telah kuracuni, sebab betapa pun mereka juga telah berwaspada akan kemungkinan seperti ini, jadi pendekar-pendekar penting di markas itu tidak akan makan sebelum prajuritnya makan terlebih dahulu. Hal ini memang tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan oleh siapa pun, tetapi telah menjadi rahasia umum yang diketahui seluruh pendekar jaringan rahasia kerajaan, dan mereka tidak mempermasalahkan hal itu karena pengabdiannya kepada raja telah begitu besar.


***


Maka dari itu, Mantingan kembali membaca kitab tersebut di dalam pikirannya.


***


Pendekar yang tersisa nantinya akan segera diringkus oleh rekan-rekanku yang berkemampuan tinggi daripadaku. Lantas, mengapakah tidak mereka saja yang dikirim untuk menyelinap ke dalam markas pasukan jaringan rahasia kerajaan ini, yang mestinyalah akan jadi sangat mudah dikarenakan mereka adalah lelaki yang menyamar menjadi lelaki tidak seperti diriku yang perempuan yang menyamar menjadi lelaki? Maka perlu kujawab, bahwa diriku adalah satu-satunya orang di dalam Penginapan Tanah yang amat sangat pandai dalam siasat menyelinap. Aku dapat merayu dan memengaruhi pikiran seseorang; aku juga mampu berbohong dengan tidak menampilkan sinar kebohongan di mataku sama sekali, yang barang tentu disebabkan oleh segala penderitaanku selama hidup yang bahkan masih berlangsung sampai sekarang; dan aku dapat membunuh tanpa meninggalkan jejak barang setetes darah pun. Itulah yang membuat Penginapan Tanah selalu memilihku untuk menjalankan tugas-tugas penyelinapan, meski kemampuanku terbilang cukup rendah dibandingkan anggota lainnya.

__ADS_1


Pengabdianku untuk kelompokku juga sama besarnya dengan mereka para pendekar pemerintah. Aku rela mati di sini jika hal itu diperlukan untuk kebaikan Penginapan Tanah. Bahkan jika diriku tertangkap nantinya, kemudian disiksa dengan sedemikian mengerikannya sehingga aku merasa bahwa kematian akan jauh-jauh lebih baik daripada itu, tetap saja aku tidak akan membocorkan rahasia kelompokku kepada mereka.


Aku terus berjalan dengan perasaan semangat yang bergelora di dalam dadaku. Aku terus berpikir bahwa segala-galanya akan berjalan dengan lancar, seperti ketika aku menjalankan tugas-tugas penyelinapan sebelumnya. Tetapi, sungguh aku tidak menduga bahwa segala-galanya justru menjadi berantakan bahkan sebelum diriku sampai di markas mereka.


“Seberapa tinggi akal dikau, hingga dikau mengira dapat menyelinap ke dalam markas kami melalui celah ini?”


Kuhentikan langkahku dengan segera ketika mendengar suara itu. Kepala dan mataku bergerak dengan secepat mungkin untuk melihat dari mana suara itu berasal. Tetapi aku tidak pernah menemukannya!


Tetiba saja kurasakan celah itu mulai bergetar. Aku berwaspada tingkat penuh!


***


“Ah!” Mantingan mendesah tertahan ketika seujung pedang berhasil membuat robekan panjang di punggungnya. Mantingan menggigit bibirnya menahan sakit dan marah, tetapi sungguh ia tidak dapat membalas perbuatan orang yang telah menyerangnya itu sebab satu-satunya yang dapat dilakukannya saat ini hanya menangkis dan menangkis saja, tiada lebih dan tiada kurang.


Mantingan mengalirkan tenaga prana dalam jumlah besar ke punggungnya. Ia tahu, bahwa pedang yang telah menyebabkan luka panjang itu telah dibubuhi racun. Semoga saja, semoga saja. Mantingan terus mengingat naskah kitab milik Perempuan Tak Bernama dengan mengesampingkan rasa sakit yang dideritanya.


***

__ADS_1


“Dikau hendak menyampaikan surat kepada kami, sedangkan pengirim surat yang sebenar-benarnya telah datang kepada kami sedari pagi tadi?”



__ADS_2