Sang Musafir

Sang Musafir
Tantangan


__ADS_3

Sembilan pendekar yang Mantingan hadapi bukanlah pendekar jagoan. Pertarungan itu terjadi begitu hebat dan singkat. Sembilan pendekar itu tergeletak bersimbah darah, tak lagi bernyawa. Sedangkan Mantingan sudah berada di sisi Dara, menyarungkan kembali pedang di pinggang gadis itu.


Mantingan mengatur jalan napas setelah menyelesaikan pertarungan. Pertarungan ini ia selesaikan dengan senang hati. Ia juga merasa beruntung telah melewati jalan ini di waktu yang tepat, sehingga bisa menyadari dan menumpas sembilan pendekar pengacau tersebut. Jika orang lain yang lewat di sini tadi atau nanti, sangat mungkin mereka tidak menyadari jebakan berbahaya yang ada di depan mereka. Biarpun sembilan pendekar itu lemah, tetapi jebakan yang mereka pasang bisa saja melumpuhkan pendekar tingkat tinggi sekalipun.


Dalam dunia persilatan, kelengahan berarti kematian.


Sembilan pendekar itu memakai pakaian yang sama. Menandakan bahwa mereka berasal dari suatu kelompok yang sama. Pada baju mereka, terlukiskan sebuah gambar pohon tanpa daun. Di tangan mereka, terdapat sebuah tato yang sama persis seperti apa yang tergambar di baju mereka.


Mantingan maju beberapa langkah ke depan, menghampiri tali yang melintang di jalan itu. Begitu tipisnya hingga hampir tidak terlihat. Mantingan menelusuri ke mana tali itu bertujuan. Dan setelah ditelusuri, Mantingan menemukan sebuah kotak berisi ratusan jarum beracun. Jika saja tali itu tertarik, maka kotak akan menembakkan ratusan jarum di waktu yang bersamaan. Cara kerjanya sama seperti panah.


“Jika jarum-jarum ini melesat bersamaan, akan sangat sulit menghindarinya.” Mantingan bergumam dan berdecak kesal.


Sekarang ini, untuk menyempurnakan kependekaran sembilan orang itu, Mantingan harus mendirikan pancaka dan membakar mereka. Tetapi ia tengah berpikir sekarang, apakah hal itu tidak akan menarik perhatian pendekar-pendekar lainnya di sekitar sini?


Memang dalam sebuah peperangan besar, akan banyak sekali pendekar yang terbunuh, dan tidak mungkin pendekar yang mengalahkan pendekar lain akan mendirikan pancaka saat peperangan masih berlangsung. Bisa saja, pendekar yang telah mengalahkan pendekar lain itu juga mati oleh pendekar lain pula. Di saat seperti itu, pendekar tidak diwajibkan membakar jasad lawannya yang telah dikalahkan. Biasanya, terdapat sukarelawan yang mendirikan pancaka untuk pendekar-pendekar yang gugur dalam medan perang.


Mantingan melihat situasinya, pantaskah saat ini disebut sebagai situasi perang? Jika membakar pancaka saja akan membahayakan dirinya, dapatkah ia dibebaskan dari tanggung jawab itu?


Baru beberapa saat keraguannya, meledaklah sebuah suara tawa yang begitu menggentarkan udara malam. Mantingan lekas bangkit, menajamkan pendengarannya untuk mengetahui darimana asal suara tawa tersebut.

__ADS_1


Melihat kesigapan Mantingan, Dara tidak ingin lagi diam saja dan menjadi orang yang dilindungi. Ia bersiap, siapa pun lawannya nanti, ia akan ikut melesat dan melawan seperti Mantingan.


Suara tawa itu berhenti. Mantingan menoleh ke samping kanannya, muncul sosok bayangan hitam yang enggan menunjukkan dirinya lebih jelas. Mantingan mengernyitkan dahi. Bayangan yang bersembunyi di belakang pohon itu terlihat sengaja memamerkan kekuatannya. Dari sana, Mantingan tahu bahwa dia adalah pendekar tinggi.


“Wahai pendekar muda yang tangguh!” Orang itu berkata lantang. “Aku sudah melihat kekuatanmu yang sungguh mengesankan itu. Sangat disayangkan kalau dikau membunuh pendekar sealiran. Mungkin matamu belum cukup terbuka, belum cukup pengalaman, wajarlah karena kau masih muda. Jika kau mau menambah pengalaman dan membuka mata, bergabunglah dengan Padepokan Getih Asin. Aku salah satu tetua di sana, kau bisa mendapatkan jalur khusus untuk masuk. Dan untuk jasad-jasad ini, biar aku yang mengurusinya.”


Mantingan tanpa ragu membalasnya dengan tegas, “Aku tidak akan sudi bergabung dengan kelompok setan manapun termasuk kelompok setan engkau itu.”


Sosok bayangan hitam itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Anak muda, janganlah sombong dan pura-pura suci seperti itu. Ilmu yang kaupakai tadi itu jelaslah ilmu persilatan hitam. Jangan engkau sok pandai bicara soal setan sedang dirimu sendiri adalah setan.”


Suara yang dikeluarkan sosok pendekar bayangan itu mampu membuat Dara merinding ketakutan, gadis itu tidak berani bergerak barang selangkah. Berbeda dengan Mantingan, pemuda itu sama sekali tidak gentar dengan ucapan yang dianggapnya sangat rendah itu.


Pendekar itu tertawa. “Anak muda, janganlah engkau mengambil keputusan begitu dini. Kau masih muda, aku paham bahwa engkau sebenarnya berada dalam bimbang. Baiklah, seperti ini saja. Kau silakan pergi, pikirkan matang-matang tawaranku ini. Kembalilah ke sini esok malam, sampaikan jawabanmu.”


“Tidak perlu buang-buang waktu, jawabanku tetap tidak.”


“Jika memang begitu jawabannya, aku menantangmu bertarung.”


Jantung Mantingan seketika berdebar mendengar itu. “Apakah kau masih memiliki sikap pendekar?"

__ADS_1


Menurut hukum yang tidak tertulis dari dunia persilatan, seorang pendekar bertingkat tinggi tidak seharusnya menantang pendekar yang jauh lebih lemah darinya. Tetapi jika pendekar yang lebih lemah itu menantangnya, maka sudah kewajiban untuk ditunaikan.


“Usia tidak menentukan, ilmu kependekaranmu hampir sebanding denganku.”


Mantingan semakin berdebar dadanya. Menolak tantangan sama saja mencoreng kependekaran. Pendekar yang menolak tantangan tidak lagi bisa disebut sebagai seorang pendekar.


“Aku sudah menantangmu, jika engkau memang kau tetap tidak mau menerima tawaran bergabung Padepokan Getih Asin. Sampai jumpa esok malam, jangan jadi pengecut!” Sesaat dia mengatakan hal tersebut, bayang-bayangnya melesat dan menghilang dari tempat itu.


Mantingan menghela napas panjang. Jika memang ia harus meladeni tantangan pendekar itu, maka hal tersebut akan menjadi tantangan pertarungan pertama yang diterima olehnya. Namun, tantangan yang satu ini sangat membahayakan nyawa.


Mantingan mengangguk pelan pada Dara, memintanya untuk naik kembali ke atas kuda.


“Mantingan, aku harus membantumu.”


“Masalah ini jangan sampai membahayakanmu, Dara.” Mantingan tersenyum hangat. “Lebih baik, kita kembali melanjutkan perjalanan.”


Dara ingin berbicara, tetapi tidak sampai terucap. Ia hanya mengucapnya dalam benak, mengungkapkan betapa lemah dirinya. Namun, Dara tidak mau Mantingan menganggapnya sebagai wanita yang lemah, ia mau Mantingan sesekali merepotkan dirinya akan sesuatu tetapi Mantingan tidak pernah melakukan hal itu.


Mantingan dan Dara kembali ke punggung kudanya masing-masing. Mantingan bisa meninggalkan sembilan jenazah sembilan pendekar itu tanpa harus membahayakan diri dengan membakar mereka. Sosok bayangan tadi telah berkata bahwa dirinyalah yang akan mengurusi sembilan tubuh tak bernyawa itu.

__ADS_1


Mereka kembali memacu kuda. Mantingan meminta Dara untuk tidak memacu kuda terlalu cepat, entah jebakan apa dan bahaya apa yang merintangi mereka di depannya. Mantingan dan kudanya berada di depan Dara, untuk memastikan tidak terdapat jebakan lagi, walau begitu ia tetap mengawasi Dara dengan pendengarannya yang tajam.


__ADS_2