Sang Musafir

Sang Musafir
Tidak Terlalu Muda Untuk Mati, Tapi Terlalu Tua Untuk Cengeng


__ADS_3

MANTINGAN akan memastikan tidak ada pendekar yang berusaha mematahkan mantera sihirnya. Tetapi Mantingan tetap bersikukuh untuk menyarungkan pedangnya malam ini. Tidak akan ada pantas untuk membuatnya menarik pedang.


Mantingan menoleh pada 13 prajurit di sisinya yang berdiri tegap dengan kelewang tersoren, ada perasaan menyesal dalam benaknya telah melibatkan mereka terlalu jauh dalam peperangan ini. Mereka masih muda, hidup bisa saja masih panjang, seharusnya ikut mundur bersama prajurit-prajurit yang lainnya.


Belum menikah, belum memiliki anak, yang itu berarti kebahagiaan mereka belum sempurna.


“Kalian jangan terlalu berlebihan, yang terpenting adalah keselamatan kalian.”


Mereka tersenyum sebelum salah satunya yang bernama Arya menjawab, “Hidup kami tidak akan tenang selamanya jika kami selamat sedangkan warga kota tidak.”


“Ya, tetapi jangan lupakan kalian masih muda, dan masa depan kalian masih panjang. Jangan terlalu memaksakan diri.”


“Kami tidak terlalu muda untuk mati, tetapi sudah terlalu tua untuk cengeng. Sudah sewajarnya bagi prajurit seperti kami kami di medan pertempuran.”


Mantingan tercekat untuk beberapa saat setelah mendengar jawaban itu. Tidak terlalu muda untuk mati, tetapi terlalu tua untuk cengeng.


Kini di depan mata Mantingan, 13 prajurit itu adalah sebenar-benarnya prajurit. Di depan mereka, Mantingan merasa dirinya kecil, dan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mereka.


Maka dengan itu Mantingan tersenyum. Senyuman hangat di tengah kekacauan yang meletus. Di tengah desau anak panah. Di tengah teriakan orang yang tersambar api. Senyuman yang bagai sang surya menyingkap tebalnya mega-mega, memberi sinarnya tanpa menuntut balas.


Tentara-tentara tanah musuh semakin mendekat. Mantingan dan 13 prajurit lainnya telah bersiap dengan senjatanya. Sampai secara bertahap ribuan tentara itu sampai di depan tembok kota.


Riuh suasana.


“Jangan pasang tangga sebelum sihir itu sirna!”


“Pelantak tumbuk jangan dipakai dulu!”


“Cepat patahkan mantera sihirnya sebelum mereka kembali bersiap!”


Mantingan menghela napas panjang setelah melihat pendekar-pendekar dengan kelewang panjang maju tanpa rasa gentar.

__ADS_1


Sebelum mereka menusukkan kelewangnya ke mantera sihir, Mantingan telah lebih dulu meluncur turun sambil mengirim belasan Tapak Angin Darah.


Kumpulan angin menderu lalu menabrak pendekar-pendekar itu tanpa ampun.


Bahkan tentara-tentara di sekitarnya juga terkena imbasnya. Kemampuan Mantingan dalam ilmu Tapak Angin Darah telah meningkat dengan cepat setelah pertempuran kemarin, maka dampak yang dirasakan jauh lebih dahsyat.


Angin-angin itu bagaikan ledakan ketika membentur tanah. Ledakan angin yang membuat tentara-tentara musuh berpentalan ke mana-mana.


Sesampainya di bawah, Mantingan mengeluarkan selembar Lontar Sihir yang ia sempat-sempatkan meluangkan waktu untuk membuatnya. Lontar itu lalu dilempar sampai menempel di tembok kota. Mantingan mulai mengucap manteranya.


“Angin menderu tiada dapat menggeser kebesarannya. Yang sanggup mendatangkan gempa dan marabahaya ketika marah. Yang sanggup mendatangkan kedamaian ketika diam. Gunung perkasa pelindung manusia, terbukalah!”


Aksara-aksara di lontar itu memencar dengan cahaya jingga bagaikan fajar pagi hari, menyelimuti tembok kota dengan bentuk seperti gunung.


Itu adalah mantera pertahanan paling kuat yang pernah diciptakan di Dwipantara, tidak semua orang bisa menguasainya, dan kini Mantingan berhasil membuatnya bekerja.


“Sialan, mantera gunung!”


Mantingan tersenyum tipis dan menyampirkan pedangnya ke samping kanan. Mantera gunung memang bisa dipatahkan, namun seharusnya mereka mengetahui bahwa mantera itu tidak berdiri sendirian. Masih ada mantera-mantera pertahanan lain yang mendukung mantera gunung itu. Terlebih masih ada Mantingan yang melindungi semua mantera sihir di tembok kota.


Langkah terbaik yang seharusnya mereka lakukan adalah mundur secepatnya, sebelum Mantingan memutuskan untuk menyerang. Namun, kini mereka malah semakin beringas maju.


Dalam melihat musuh yang maju di depannya, Mantingan tetap tidak kehilangan kewaspadaannya pada sekitarnya. Mantingan masih dapat merasakan pergerakan dari samping kanan dan kirinya dengan gerak luar biasa cepat. Gerakan yang cepatnya melebihi kecepatan kilat.


Mantingan tahu betul bahwa terdapat dua pendekar ahli yang menyerang dari dua sisinya. Itu bisa dikatakan sebagai serangan berbahaya dan mematikan karena kecepatan mereka melebihi kecepatan kilat.


Mantingan melepaskan dua Tapak Angin Sekaligus dengan kedua tangannya sebelum mengentak kaki mundur ke belakang.


Dua musuh yang menyerang dari dua sisi itu harus lebih dahulu menghadapi serangan tapak Mantingan sebelum bisa menyerang lagi.


Mereka membalas tapak Mantingan dengan serangan tapak pula, hingga saling bentrok empat kekuatan tapak yang besar.

__ADS_1


Suara yang dihasilkan dari bentrokan itu sangat besar. Mampu membuat telinga-telinga menjadi berdengung untuk beberapa saat.


Tentara-tentara biasa tidak bisa melihat pertukaran serangan tapak tadi, mereka hanya tahu bahwa telah terjadi ledakan angin yang begitu keras.


Sementara itu Mantingan mundur sampai kakinya menginjak tembok kota. Dua lawannya mundur selangkah untuk menghindari gelombang kejut dari ledakan angin sebelum kembali melesat menuju Mantingan.


Dengan tangkas Mantingan menghadapi serangan yang datang, ia tidak berniat menghindar atau itu akan membahayakan bagi mantera-mantera di tembok.


Pertukaran jurus demi jurus sedang berlangsung antara Mantingan melawan dua pendekar musuh.


Namun nyatanya, menghadapi dua pendekar sekaligus dengan kekuatan setara dengan pendekar ahli bukanlah suatu perkara mudah.


Pertarungan ini lebih menguras pikiran dan tenaga dalamnya. Terutama pada pikiran Mantingan yang perlahan mulai terkuras, serangan-serangan yang dikirim lawan adalah serangan yang mengecoh dan bermaksud membingungkan.


Maka Mantingan dengan sedikit terpaksa melemparkan lima lembar Lontar Sihir penyerang pada dua lawannya.


Aksara-aksara yang keluar dari lima lontar langsung menyerbu dua pendekar itu, mereka akhirnya tampak kewalahan untuk menghindarinya.


Bersamaan dengan gerak mundur dua lawannya, Mantingan bergerak maju sambil terus mengirim serangan menggunakan Pedang Kiai Kedai yang tersarung.


Musuh tampak semakin kewalahan saat mereka harus meladeni serangan bertubi-tubi dari Mantingan sekaligus menghindari aksara-aksara sihir yang terus mengejar.


“Curang, curang, kau curang!”


Mantingan tidak menghiraukan umpatan mereka berdua. Ia malas bertarung sambil berbicara. Lagi pula, bukankah mereka berdua yang mengeroyokinya? Jika begitu, siapakah yang curang sebenarnya?


Saat Mantingan hendak memberi sebuah serangan yang akan melumpuhkan dua lawannya sekaligus, di saat itulah Mantingan mendapat serangan pedang tak terduga dari depannya.


Mantingan menangkis serangan pedang tak kasat mata itu sekaligus menggunakannya sebagai dorongan untuk melayang ke atas.


Mantingan melepaskan dua lawannya itu demi bisa menghindari serangan. Di udara ia dapat melihat siapakah sebenarnya yang telah mengirim serangan pedang tak terduga padanya.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya berpakaian serba hitam dengan pedang bermata dua. Mantingan sangat terkejut setelah mengenali lambang yang ada di pakaian pria paruh baya itu.


__ADS_2