Sang Musafir

Sang Musafir
Melepas Rasa Kemanusiaan


__ADS_3

MEREKA berdiri di hadapan sepasang gapura besar yang tampaknya terbuat dari bata merah. Jelas sekali bahwa gapura tersebut mengambil gaya yang sama dengan gapura yang ada di Javadvipa. Adakah ini memang sebagai bentuk penolakan Pemukiman Kumuh Kotaraja terhadap pemerintahan sah Koying? Mantingan tidak dapat menentukan jawabannya dengan pasti.


“Setelah melewati gapura itu, kita resmi memasuki Pemukiman Kumuh Kotaraja,” kata Chitra Anggini berusaha santai.


Mantingan tidak menanggapi. Gapura itu justru mengingatkannya pada Puan Kekelaman yang begitu licik dalam bersiasat. Benaknya saat ini tidak dapat dibawa santai.


“Soal Puan Kekelaman itu ... ada baiknya tidak perlu diambil pusing.” Chitra Anggini berkata dengan hati-hati, takut-takut menyinggung perasaan Mantingan. “Meskipun dia memang telah menipu kita, tetapi betapa pun juga kita masih sangat diuntungkan. Bukankah tipu muslihatnya itu tidak akan berpengaruh buruk pada rencana penyelamatan Tapa Balian?”


Mantingan menoleh sejurus ke arah Chitra Anggini sebelum kembali membuang pandang. Ia menggeleng pelan.


“Perebutan kekuasaan,” desisnya, “selalu menimbulkan korban yang tidak pernah sedikit.”


“Tidak juga. Tarumanagara merebut kekuasaan Salakanagara tanpa menimbulkan korban.” Chitra Anggini tersenyum penuh kemenangan setelah merasa berhasil membantah ucapan Mantingan yang biasanya tak dapat terbantahkan. “Dan sekalipun dalam perebutan kekuasaan kali ini akan menimbulkan banyak korban, kau tidak perlu merasa bersalah. Bukankah pada akhirnya kamu hanya ingin menyelamatkan Tapa Balian tanpa sedikitpun mengganggu kekuasaan Koying? Jikapun ada yang perlu disalahkan, maka itu sepenuhnya berada di Puan Kekelaman.”


Anggapan Chitra Anggini tentang tiadanya korban yang jatuh dalam peristiwa perebutan kekuasaan Tarumanagara terhadap Salakanagara tidaklah benar sepenuhnya. Bukankah pada masa kepemimpinan Punawarman ini terjadi pemberontakan dari pendukung Salakanagara yang merasa tidak puas, yang betapa pun akhirnya tetap menimbulkan korban yang amat sangat tidak sedikit?


“Aku tidak peduli siapakah yang bersalah nantinya. Tetapi pada banyaknya korban tak bersalah, aku merasa tidak dapat membiarkannya begitu saja.”


“Itu bukan urusanmu,” sergah Chitra Anggini.


“Itu urusanku dan urusanmu pula.” Mantingan menatapnya tajam. “Di manakah kewibawaanmu sebagai seorang pendekar, wahai Chitra Anggini?”


Chitra Anggini sedikit terenyak. Tentu tidak dilupakan olehnya sebuah peraturan tertulis dunia persilatan bahwa setiap pendekar diwajibkan untuk membela mereka yang tak berdaya. Bahkan pendekar aliran hitam pun tak sedikit yang masih memegang teguh pendirian itu. Namun, apakah jadinya terhadap Chitra Anggini yang berkedudukan sebagai pendekar bawah tanah dunia persilatan yang seolah saja tak pernah terikat aturan-aturan kependekaran?


“Tidak, ini teramat sulit.” Chitra Anggini menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak bisa mempertahankan wibawa kependekaran di sini.”

__ADS_1


“Biarpun aku tidak memiliki wibawa kependekaran, aku masih memiliki wibawa kemanusiaan.” Mantingan mengeras. “Tidak dapat kubiarkan orang-orang tak bersalah mati dengan begitu mudah.”


Chitra Anggini bergeming di tempatnya. Betapa merasa amat tak terbiasa dengan sikap Mantingan saat menunjukkan amarahnya. Sungguh, untuk sejenak dirinya tak tahu harus berkata atau berbuat apa.


Menyadari bahwa perkataannya telah membuat Chitra Anggini merasa tidak enak, Mantingan akhirnya menghela napas panjang dan meminta Chitra Anggini untuk melupakannya dan meneruskan perjalanan.


Perlahan tetapi pasti Mantingan, Chitra Anggini, dan Munding Caraka memasuki kawasan Pemukiman Kumuh Kotaraja. Namun baru beberapa langkah setelah melewati gapura, kali Mantingan telah kembali terhenti. Matanya melebar dengan tatap tak percaya.


“Inikah ....”


Chitra Anggini meneruskan, “Inilah Pemukiman Kumuh Kotaraja.”


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. Dengan benak teriris, dipandangi sekitarannya.


Orang-orang tergeletak di atas lembar daun pisang yang telah kering dan koyak. Berserak, tak tentu tempat. Ada yang di sudut-sudut tumpukan sampah, ada pula yang melintang di tengah jalanan becek. Kurus-kering, hilang harapan. Tak jelas apakah mereka semua dalam keadaan hidup atau tidak.


Beberapa lainnya terlihat berjalan tertatih-tatih mendekati Mantingan dengan tangan terjulur. Wajah mereka akan mengundang siapa pun untuk menangis sejadi-jadinya!


Mantingan segera meraih kantung pundi-pundi di pinggangnya. Untuk apakah dirinya memiliki banyak uang jikalau tidak bisa membantu orang-orang itu? Sungguh, ia teramat rela menyerahkan semua keping emas dan Batu yang dimilikinya jikalau itu dapat membuat mereka hidup dengan layak!


Namun, tetiba saja Chitra Anggini memapas lengannya sambil berkata, “Jangan bantu mereka.”


“Mengapa?” Mantingan memelas, ia jelas mengetahui bahwa Chitra Anggini tidak akan melakukan hal ini tanpa alasan yang benar-benar kuat. Namun apa pun alasannya itu, ia merasa tak berdaya.


“Kita tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. Beberapa di antara mereka adalah pendekar pilih tanding dari jaringan bawah tanah yang ada di tempat ini yang sedang menyembunyikan kekuatan. Kalau kau menunjukkan gelagat mencurigakan, sekalipun itu sangat kecil, kau akan tetap dibunuh.” Chitra Anggini berbisik pelan tepat di telinganya. “Terus berjalan maju dan jangan hiraukan mereka. Aku memohon kepadamu dengan teramat sangat, janganlah kau gunakan perasaan kemanusiaan kali ini.”

__ADS_1


Meskipun Mantingan sungguh merasa tidak tega membiarkan orang-orang tak berdaya yang mengemis kepadanya itu begitu saja tanpa memberikan apa pun, tetapi dirinya tahu betul bahwa apa yang diucapkan Chitra Anggini adalah benar sebenar-benarnya sebuah benar.


Maka ketika itu pula dirinya kembali melangkah sambil sedikit menarik bagian depan capingnya ke bawah. Biarlah untuk kali ini dirinya bersikap tidak peduli, sebab betapa pun Mantingan memiliki kepentingan tersendiri yang jauh lebih penting dari sekadar satu atau dua nyawa orang. Dirinya bertanggungjawab atas ribuan nyawa orang dengan mencegah terlepasnya Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kesenyapan Malam ke tangan pendekar yang salah.


Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya:


“Kemenangan selalu meminta pengorbanan. Terkadang dikau harus mengorbankan diri sendiri, tetapi terkadang pula dikau harus mengorbankan orang lain demi tercapainya kemenangan gemilang untuk bersama.”


Tiadakah yang dialaminya sekarang ini benar-benar sama?


Chitra Anggini tersenyum tipis setelah melihat Mantingan melangkahkan kakinya. Dirinya pun ikut melangkahkan kaki, meninggalkan pengemis-pengemis yang tidak memiliki harapan itu, tetapi pula dengan perasaan yang teramat berat.


Meskipun kelihatannya gadis itu tidak berperasaan dan selalu tega terhadap segala sesuatu, namun sebenarnyalah Chitra Anggini masih memiliki rasa kemanusiaan. Hanya saja, memang hampir tidak pernah ditunjukkan pada sesiapa pun.


Saat dirinya berkata kepada Mantingan untuk meninggalkan orang-orang malang itu, lidahnya menjadi kebas, bibirnya bergemetaran. Boleh jadi perkataannya tersebut akan membuat mereka mati kelaparan tak lama lagi.


Bukankah jika seandainya Chitra Anggini tidak menghalangi, Mantingan akan memberikan beberapa keping emas kepada mereka untuk ditukarkan dengan banyak makanan?


Maka begitulah dua muda-mudi bersama seekor kerbau itu melangkah dengan benak teriris sebab tidak dapat membantu sedangkan mereka sangat mampu melakukannya.


Di dalam jaringan bawah tanah, rasa kemanusiaan seringkali mesti disingkirkan demi terpenuhinya suatu kepentingan.


___


catatan:

__ADS_1


Episode bulan ini: 6/40



__ADS_2