Sang Musafir

Sang Musafir
Perubahan Rencana


__ADS_3

MANTINGAN bertanya-tanya di dalam benaknya. Bagaimanakah kiranya jika ilmu kehidupan di dalam kitab tersebut diterapkan menjadi ilmu persilatan?


Ia percaya bahwa setiap ilmu kehidupan yang terkandung di dalam Kitab Teratai seluruhnya dapat diterapkan menjadi ilmu persilatan. Bukan tidak mungkin jika Kitab Teratai sebenarnya merupakan kitab persilatan berkedok kitab ilmu semacam filsafat? Maka pastinya, pembuat kitab tersebut merupakan seorang pendekar ahli.


Ataukah Kitab Teratai memang sebenar-benarnya Kitab Ilmu yang berisi tentang ilmu kebenaran, dan bukan saja dimaksudkan untuk persilatan, keagamaan, atau bahkan filsafat sekalipun melainkan untuk segala sesuatunya?


Mantingan ingat, bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang bersifat tak terhingga dan tidak pernah berubah sejak awal. Hanya saja, memang pemahaman manusia tentang kebenaran sering berubah-ubah.


Jikalau yang ada di dalam Kitab Teratai merupakan suatu kebenaran, dan Mantingan tidak salah dalam mengartikan kebenaran tersebut, maka sudah barang pasti bahwa ilmu di dalam kitab itu dapat diterapkan ke dalam segala sesuatunya di dalam kehidupan, yang bukan terbatas pada ilmu persilatan saja.


Akan tetapi, haruslah Mantingan akui bahwa dirinya tidak mampu memahami seluruh isi bagian ketiga dari kitab tersebut dalam waktu yang singkat. Lebih-lebih untuk menerapkannya menjadi ilmu persilatan, itu dibutuhkan waktu yang amat jauh dari kata singkat.


Mantingan beranjak dari tempat duduknya. Memang benar bahwa ia akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu, tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa dirinya harus duduk terus menerus di belakang meja sambil menatap kitab ilmu.


Mantingan telah membaca serta berusaha memahami kitab itu sedari dini pagi hingga sekarang matahari telah meninggi, kepalanya terasa amat sangat penuh. Mantingan membutuhkan sedikit penyegaran agar ilmu-ilmu yang baru saja masuk ke dalam kepalanya dapat diserap dengan baik. Jika dirinya tetap duduk dan kembali membaca ulang bagian ketiga dari Kitab Teratai, Mantingan tidak yakin otaknya masih bisa mencerna semua itu dengan baik.


Ibarat kata sebuah cangkir yang telah penuh terisi, tetapi tetap saja dipaksakan menuang air ke dalamnya, maka justru air di cangkir itu akan meluber keluar. Jikalau sampai hal itu terjadi pada Mantingan, bukankah apa yang dilakukannya itu hanya akan menghasilkan kesia-siaan saja?


Mantingan menengok keluar jendela. Diingatnya bahwa Ketua Rama akan datang pagi ini, langsunglah terpikirkan untuk menunggu dan menyambutnya di bawah. Barangkali sambil memesan secangkir teh dan sepiring kudapan berupa umbi-umbian rebus untuk sarapan.


***

__ADS_1


DARI kedai di lantai dasar penginapan, Mantingan melihat seregu Pasukan Topeng Putih yang berjalan bersama kuda tunggangan dengan cukup cepat ke arah Padepokan Angin Putih. Dengan melihat bentuk barisan mereka yang menyisakan sedikit ruang di tengah-tengah sedang penjagaan tertumpu di sisi luar, maka Mantingan mengetahui bahwa mereka sedang mengawal seseorang.


“Ketua Rama telah datang,” gumamnya pelan pada diri sendiri.


Kini Mantingan berpikir dan mempertimbangkan. Haruskah dirinya datang menyambut pimpinan tertinggi Perguruan Angin Putih itu? Tidakkah Ketua Rama sangat membutuhkan istirahat setelah melewati perjalanan jauh?


Mantingan menyeruput teh di dalam cangkirnya. Kiranya telah ia pikirkan untuk tidak langsung menyambut Ketua Rama yang baru saja tiba di pelabuhan itu. Namun, pada hari ini pula Mantingan akan datang untuk menyambutnya.


Mantingan mengambil sepotong singkong kukus di atas piringnya. Terasa masih hangat, akan sangat nikmat jika disantap seperti itu. Namun, baru saja Mantingan hendak memasukkan sepotong singkong itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba telinganya menangkap sebuah bisikan yang diantarkan angin.


“Saudara Man, Ketua Rama meminta engkau mengunjunginya di padepokan sekarang juga.”


Mantingan lantas kembali meletakkan singkong hangat itu di piringnya. Panggilan itu terdengar begitu mendesak, Mantingan harus pergi sekarang pula. Setelah menyorenkan Pedang Kiai Kedai ke sabuk pinggangnya, Mantingan segera berkelebat cepat meninggalkan penginapan. Beruntunglah seluruh makanan yang dipesannya telah dibayar di muka.


***


“Apakah segala persiapan Bidadari Sungai Utara untuk pelayaran telah dirampungkan?” Bertanya pria tua itu.


“Sebagian besarnya sudah dirampungkan, Ketua, tetapi ada beberapa hal kecil yang masih belum selesai.” Mantingan menjawab dengan sopan.


“Apakah sekiranya bisa jika hal-hal kecil itu diselesaikan siang ini?”

__ADS_1


Mantingan jelas saja merasa heran dengan pertanyaan itu. Namun, amat tidak sopan baginya untuk mengajukan pertanyaan lain sebelum menjawab ketua perguruannya itu. Maka setelah menyimpan keheranan itu di dalam benaknya, Mantingan menjawab, “Sekiranya bisa, Ketua.”


Ketua Rama mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengembuskan napas panjang. Dia berkata lebih bersungguh-sungguh lagi, “Mantingan, pelayarannya harus dilaksanakan malam ini pula.”


Dapatkah dibayangkan seberapa besar rasa keterkejutan Mantingan ketika didengarnya pernyataan itu?


“Ketua, bagaimanakah ... maksudku, apakah yang telah ....” Mantingan terbata-bata tanpa mampu menyelesaikan barang sepatah kalimat pun, sekujur tubuhnya bergetar hebat!


Kembali Ketua Rama menganggukkan kepalanya sambil menghela napas panjang. Kali ini dia berkata dengan iba, “Daku mengetahui keadaan yang sedang dikau alami sekarang, Anak Man. Tetapi ini mesti engkau lalui dengan tabah.”


“Tidak, Ketua. Sungguh diriku tidak mengapa. Tetapi ... apakah yang membuat waktu pelayaran harus dimajukan hingga malam ini juga?” Mantingan berkata sambil tersenyum selebar yang ia bisa, meski tetap saja tubuhnya masih bergetar hebat, dan bahkan telapak tangannya licin oleh keringat dingin.


“Membuat sesuatu yang tidak terduga terkadang memang diperlukan, Anak ....”


Ketua Rama lalu menjelaskan bahwa siasat seperti ini dimaksudkan untuk mengecoh musuh. Jikalau Bidadari Sungai Utara berangkat sesuai dengan jadwal yang telah disebarluaskan ke khayalak ramai, maka sudah sangat mungkin bahwa musuh akan merasa curiga.


“Telik sandi Tarumanagara mendapat keterangan bahwa kekuatan gabungan musuh telah menyiagakan ratusan kapal perang dalam keadaan siap tempur di daerah Legon. Jadi kapan pun Bidadari Sungai Utara berangkat, musuh kita telah dalam keadaan siap untuk mengejarnya dengan kekuatan penuh. Tindakan mereka ini adalah sebagai langkah pencegahan jikalau Bidadari Sungai Utara berangkat lebih awal daripada jadwal yang telah ditetapkan.


“Inilah alasanku pergi kemari dengan kecepatan penuh, Mantingan. Demi menjamin terjaganya kerahasiaan rencana, daku terpaksa tidak mengabarimu lebih awal.” Ketua Rama menutup penjelasannya dengan mengembuskan napas panjang sambil matanya menatap Mantingan dengan iba.


“Baiklah, Ketua. Daku akan meminta Bidadari Sungai Utara untuk merampungkan segala persiapan siang ini juga.” Mantingan menunduk dalam-dalam. Ketika mulutnya baru kembali terbuka untuk berpamitan, Ketua Rama telah lebih dahulu mengeluarkan suara.

__ADS_1


“Kali ini, kuharap engkau tidak membohongi dirimu sendiri, Anak Man. Bidadari Sungai Utara menaruh rasa kepadamu. Engkau jelas mengetahuinya, tetapi engkau selalu menghindari segala perkara yang bersangkutan dengan percintaan. Kali ini, jangan lakukan hal itu.”



__ADS_2