
Mantingan mengatur jalan napasnya setelah berhasil menyelesaikan pertarungan. Ia membunuh tiga pendekar, sedang puluhan pendekar lainnya hanya dilumpuhkannya saja.
Pemuda itu sama sekali tidak menerima atau meminta bantuan dari Pasukan Topeng Putih. Mantingan tidak menyangka bahwa dirinya bisa mengalahkan sepasukan pendekar yang berusaha menjebaknya itu tanpa banyak melayangkan nyawa.
Biarpun Mantingan hanya membunuh tiga orang dan sisanya dilumpuhkan, Mantingan tidak terlalu yakin pendekar-pendekar yang dilumpuhkannya itu masih memiliki kehidupan yang panjang. Selain Mantingan telah melukai titik berbahaya mereka, Mantingan juga mematahkan harapan mereka untuk terus menjadi pendekar. Menurutnya, orang-orang seperti ini akan meresahkan ke depannya.
Saat itu pula salah satu Pendekar Topeng Putih muncul di sebelah Mantingan, pandangannya tertuju pada orang-orang yang tergeletak berserakan di sekitarnya. Beberapa kali ia berdecak kagum.
“Saudara, sepertinya kami ditugaskan ke sini sepertinya hanya untuk mendapat pelajaran darimu.”
Mantingan tersenyum canggung karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Jika saja Pasukan Topeng Putih yang mengatasinya lebih dulu, aku yakin tidak sempat berbuat apa-apa sebelum lawan tumbang semua.” Mantingan hanya bisa membalas pujian itu dengan pujian lainnya.
Tetapi Pasukan Topeng Putih bukanlah kumpulan orang-orang yang terbiasa dengan pujian. “Saudara, sepertinya hanya sampai di sini saja kami mengantar dikau, kami harus cepat kembali ke perguruan. Lagi pula, tidak ada suatupun yang terlalu mengancam keselamatan Saudara.”
Mantingan menangguk pelan dan tersenyum. “Terima kasih atas semua bantuan dan perhatian yang Saudara berikan, sampaikan salamku pada yang lainnya. Semoga Saudara sekalian selamat sampai di perguruan.”
Pendekar bertopeng itu mengangguk sekali sebelum berkelebat dan menghilang dari tempat itu. Mantingan masih berdiri di sana untuk beberapa saat. Ada beberapa pendekar yang tidak berhasil pingsan bahkan setelah dilumpuhkan sekalipun, mereka melenguh kesakitan ataupun mengumpati Mantingan tanpa bisa berbuat lebih banyak.
Mantingan merasa tidak ada yang perlu ia lakukan lagi di sini, sehingga ia mulai melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. Jalan di depannya tersinari oleh sinar rembulan yang keperakan, sehingga dirinya bisa berjalan tanpa obor sekalipun.
Dalam benaknya, Mantingan berpikir banyak. Sampai sekarang ini, ia hanya menghadapi pendekar-pendekar yang lebih lemah darinya saja, sehingga ia dapat dengan mudah memenangkan pertarungan. Bukannya baik, itu malah membuat Mantingan tidak banyak menambah pengalaman.
__ADS_1
Memang seharusnya ini termasuk hal yang wajar. Jika mendengar penuturan dari gurunya, pendekar-pendekar tingkat tinggi enggan melawan pendekar yang lebih lemah darinya. Padahal pendekar-pendekar tingkat tinggi tersebar di mana-mana, entah itu di rumah kosong, di antara khayalak ramai, atau semak belukar sekalipun, mereka mencari lawan yang sebanding atau lebih tinggi darinya.
Mungkin Mantingan dianggap sebagai pendekar lemah, sehingga tidak ada pendekar tingkat tinggi yang sudi menghadapi Mantingan.
Akan tetapi, Mantingan lekas-lekas mengusir pikiran itu. Bukankah hal tersebut malah terbilang bagus, sebab dengan begitu Mantingan tidak perlu banyak membunuh orang. Kiai Guru Kedai mengingatkannya dengan jelas dan tegas, bahwasanya Mantingan tidak boleh ketagihan membunuh. Karena ilmu dasar Mantingan adalah ilmu hitam, maka besar kemungkinan Mantingan akan ketagihan membunuh. Jika Mantingan tidak bisa mengendalikan dirinya dan pikirannya, maka bencana bisa saja terjadi.
Perlu diingat bahwa Mantingan bukanlah pendekar biasa. Mantingan dapat memangkas waktu pelatihan sepuluh tahun menjadi tiga tahun saja, dengan hasil yang sama. Kualitas dan kemurnian tenaga dalam milik Mantingan jauh lebih tinggi ketimbang pendekar-pendekar berbakat sekalipun. Ia dapat meningkat dengan pesat, menjadi pendekar terkuat.
Tetapi jika sampai ia terjerumus pada kehidupan yang hitam, maka kekacauan besar akan terjadi. Mantingan akan jadi setan yang ditakuti dan merajalela di mana-mana, membuat kerusakan tanpa ada yang bisa menghalanginya. Jikalau dirinya sudah melenceng dari Kebenaran seperti itu, Mantingan memilih dirinya dimatikan saja.
Maka mulai dini ini, Mantingan akan membentuk pribadinya. Menjadi pendekar yang baik dan bermanfaat bagi semesta. Dalam artian semesta bukan terhadap lingkungan alam semata, melainkan manusia pula. Mantingan ingin dirinya menjadi pelindung bagi manusia seluruh dunia, atau setidaknya di Dwipantara sahaja, atau paling setidak-tidaknya di Javadvipa sahaja.
***
Di antara lain bunga-bunga yang Mantingan temukan adalah: Bunga Daun Melayang, Bunga Durian Melambai-Lambai, Bunga Menyayat Hati, Mawar Setan, Bunga Perdamaian, Melati Harum Pembunuh.
Rerata bunga yang Mantingan tenam itu adalah bunga pengobatan, sebagian lainnya adalah bunga yang digunakan sebagai racun penyerang. Bunga-bunga itu, rata-rata memiliki harga 500 sampai 1.000 keping emas satu tangkainya.
Orang-orang suruhan Dara rutin datang untuk membeli hasil panenan Mantingan. Harga yang dibayarkan adalah harga yang pantas, tidak berlebihan tidak kekurangan.
Biasanya hari-hari itu berlalu begitu saja, tetapi kini saat orang suruhan Dara datang, ia datang dengan membawakan sebuah kabar bagi Mantingan.
“Seta, kau kembali datang.” Mantingan menyambut orang suruhan Dara itu dengan ramah, sudah sangat baik ia mengenal Seta.
__ADS_1
Seta melambaikan tangannya pada Mantingan. “Selama ada dirimu di hutan menyeramkan ini, aku sudi datang.”
Mantingan tertawa. “Aku memiliki beberapa bunga yang siap dipanen, berapa banyak yang bisa kau bawa?”
Seta menjawab, “Aku membawa dua puluh ribu keping emas, Kawanku.”
Mantingan mengernyitkan dahinya. “Tidak biasanya, tapi jumlah sebanyak ini ....”
Mantingan tidak memiliki bunga untuk ditukarkan dengan 20.000 keping emas yang dibawa Seta. Jumlah uang itu terlalu banyak. Mantingan sangat heran, apa yang dipikirkan Dara hingga ia terlihat berminat membeli semua bunga Mantingan?
“Itulah, yang juga aku ingin bicarakan, Mantingan.”
“Apa semuanya baik-baik saja?” Mantingan lebih khawatir kalau Dara bangkrut.
Tetapi Seta menggeleng. “Kawan, semuanya memang tampak baik-baik saja, bahkan Nyai telah mendirikan perusahaan lelangnya sendiri yang berbeda dari perusahaan lelang lainnya. Tetapi aku tahu betul, pikiran Nyai sebenarnya tidak baik-baik saja.”
“Seta, kautahu aku tidak suka pembicaraan yang terlalu membelit-belit.” Semua ucapan Seta itu membuat Mantingan semakin khawatir saja, ia tak sanggup menunggu lebih lama lagi untuk mendapat jawaban.
Seta menarik napas panjang sebelum berkata, “Nyai telah pergi dari Javadvipa, pikirannya tidak baik-baik saja karena dirinya tidak sempat berpamitan denganmu.”
Mantingan terdiam sejenak. “Kapankah dia berangkat, Seta?”
“Dua hari yang lalu,” katanya, “ia meninggalkan pesan-pesan untukmu, termasuk yang menyangkut dengan dua puluh ribu keping emas ini.”
__ADS_1
Seta melepas tali bundelannya dan mengeluarkan beberapa lembar lontar yang saling terikat di sana. Lontar-lontar yang dibawakannya tidaklah sedikit.