Sang Musafir

Sang Musafir
Chitra Anggini


__ADS_3

Mantingan pergi setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Bundelannya kini tampak penuh dan membesar akibat penambahan makanan kering sebagai perbekalan.


Di sepanjang jalan yang Mantingan lalui sepi oleh lalu-lalang. Tidak ada orang yang lewat atau kuda yang lewat sama sekali, selain Mantingan sendiri di sana. Suasana seperti ini mengingatkan dirinya pada perkemahannya di jantung hutan itu.


Suara hutan jauh lebih menenangkan ketimbang hiruk-pikuk kota. Angin berdesir, pohon yang bergoyang pelan terbelai angin, kicau burung yang indah bersahutan, jeritan monyet yang entah ingin kawin atau ingin makan, semua itu Mantingan nikmati.


Tetapi sepertinya Mantingan memang tidak diperkenankan menikmati suasana terlalu lama dan begitu larut, sesosok manusia keluar dari semak belukar dan langsung menghadang langkah Mantingan dengan kelewang terhunus.


Tanpa basa-basi ia berkata, “Heh, serahkan semuanya padaku atau aku paksa tarik itu semua beserta nyawamu sekalian!”


Mantingan mengernyitkan dahinya saat ia melihat bagaimana rupa orang itu. Pakaian orang itu hitam-hitam. Kelewangnya sewarna langit malam yang mendung, ujungnya bermata dua. Rambutnya digelung ke atas, selayaknya pria-pria pada umumnya. Wajahnya tertutup topeng, hanya menampilkan mata saja.


Mantingan tahu orang di depannya itu berusaha menyamar. Dari suaranya yang berat tapi serak, Mantingan tahu bahwa dia bukanlah pria. Terdapat sebuah penekanan dan pemaksaan dalam suaranya, gerak-geriknya dan postur tubuhnya juga sama seperti perempuan. Mengetahui hal itu, Mantingan diam saja dan pura-pura tidak tahu.


“Maafkan, saya tidak bisa memberikannya.” Mantingan berkata sambil tersenyum.


“Berani kali kauberkata seperti itu sambil tersenyum pula!” Kelewang hitam diancungkan semakin dekat pada leher Mantingan.


“Kelewang yang bagus dan berbau harum, belum pernah digunakan untuk melukai orang, ya?” Mantingan berkata dengan nada mengejek.


“Engkau akan jadi darah yang pertama, jangan main-main denganku!"


Mantingan menghela napas panjang dan menggeleng pelan.


Ia masih bersikap lembut karena lawannya kali ini adalah wanita, terlebih dirinya terlihat baru dalam dunia persilatan maupun dunia perampokan. Mantingan memahami bagaimana pada masa muda, orang-orang seringkali salah memilih jalan hidup. Tidak terlambat untuk mengubahnya.


“Apakah yang engkau butuhkan?”


“Apakah kurang jelas? Barang-barangmu!”


Mantingan menggeleng. “Itu yang kau inginkan. Apa yang kau butuhkan?”


Wanita itu tercekat tak percaya. “Memang bosan hidup!"


Kelewang yang semula berdekatan dengan leher Mantingan itu mulai bergerak. Mantingan melirik ke arah kelewang dan si wanita bergantian, ia menyadari terdapat keraguan dalam diri lawannya.

__ADS_1


Kelewang itu ditebaskan ke arah leher Mantingan, tetapi sangat luar biasa karena kelewang tersebut seperti menebas angin saja.


Padahal Mantingan terlihat diam di tempat, dan kelewang itu jelas-jelas telah menebas tempat lehernya berada.


Si wanita sangat girang karena menyangka senjata pilihannya begitu tajam hingga dapat menebas leher seperti menebas angin saja.


“Jangan senang dulu, aku masih hidup.”


Mendengar Mantingan masih bisa berbicara dengan kepala yang tersambung, sang wanita terkejut setengah mati. Tubuhnya bergetar hebat. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sepertinya telah salah memilih lawan.


“Bagaimana ... bisa?”


Mantingan tersenyum tanpa menjawab. Tadi dirinya menghindari serangan itu dengan kecepatan luar biasa, sehingga tubuhnya terlihat diam di tempat walau sebenarnya Mantingan telah bergerak menghindar.


“Apa yang kau butuhkan?” Mantingan kembali pada pertanyaan awalnya.


Wanita itu menyangka Mantingan adalah pendekar ahli karena memang pendekar ahli memiliki sikap yang aneh. Maka dirinya tidak lagi berani merampok Mantingan, segera ia menekuk lututnya dan menyembah di depan Mantingan.


“Mohon ampun! Mohon ampun! Mata hamba tidak sanggup melihat kebesaran Saudara!”


Wanita yang itu masih berlutut walau sudah tidak menyembah lagi. Ia takut Mantingan akan membunuhnya, maka ia lekas jawab sejujur-jujurnya. “Hamba hanya ....”


“Jangan panggil dirimu seperti itu, aku bukan tuhanmu.”


Si wanita menegup ludahnya sekali. “Saya hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan rumah, Saudara.”


“Jangan berbohong.”


Lagi-lagi wanita itu tercekat, buru-buru ia menjawab, “Saya butuh uang, Saudara!”


Mantingan mengangguk puas. “Untuk kauapakan jika kau dapatkan uang itu?”


“Sahaya ....” Wanita itu diam sejenak. “Saya sendiri tidak tahu, Saudara.”


“Kau mengejar sesuatu yang kau sendiri tidak tahu mau apakan setelah mendapatkannya?”

__ADS_1


Kepala wanita itu menunduk setelah mendengar hal itu. “Agaknya seperti itu, Saudara. Tapi saya memang ingin mempelajari ilmu persilatan lebih jauh lagi.”


“Lalu akhirnya mati terbunuh?”


“Saudara, pada akhirnya kita semua mati, entah itu terbunuh atau karena usia.”


“Manusia diperhitungkan atas apa yang telah diperbuat semasa hidupnya, apa yang akan kau lakukan dengan ilmu persilatan yang tinggi itu? Mengacaukan kehidupan orang lain dan menodai namamu sendiri?"


Sang wanita memutuskan untuk bicara terus terang, entah mengapa Mantingan terlihat seperti seseorang yang mudah dipercaya. “Saya ingin mengalahkan pendekar-pendekar lainnya, menunjukkan pada khalayak bahwa saya kuat. Dan pada akhirnya, saya ingin mati di tangan yang lebih kuat daripada saya.”


“Lalu, mengapa dalam wajahmu itu terlihat takut akan kematian?” Kembali Mantingan bertanya, "jika engkau tidak siap mati, mengapa bicara seolah-olah sedang mencari kematian?”


“Saudara, mohon jangan hina saya lebih jauh.”


“Baiklah jika memang itu yang dikau hendakkan. Saya hanya ingin mengingatkanmu saja.” Mantingan merogoh pundi-pundinya, mengeluarkan segenggam keping emas. “Saya tahu dikau butuh uang, terima ini. Saya minta dikau pertimbangkan lagi jalan hidupmu. Karena kau masih muda, tidak akan terlambat untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik.”


Wanita muda itu tetap menunduk, enggan menerima uang dari Mantingan.


“Katanya butuh uang?”


“Saya tidak berani ....”


“Sungguh? Jika begitu, jangan menyesal nantinya.” Mantingan menarik lagi tangannya.


“Saudara, aku berubah pikiran.” Wanita muda itu berdiri dan buru-buru meraih kepingan emas dari tangan Mantingan. “Terima kasih, Saudara. Terima kasih, ini akan aku ingat selalu. Nama sahaya adalah Jakalambai, mohon diingat Saudara.”


Mantingan mengelus dagunya dan sedikit bergumam. “Nama yang terlalu jantan untuk perempuan, ya?”


Sekali lagi, wanita itu tercekat. Menyadari penyamarannya telah terbongkar, ia tidak berani lagi mengubah suaranya. Keluarlah suara wanitanya yang lembut. “Maafkan sahaya, sungguh Saudara begitu cerdik hingga mampu menyadari tipu daya saya. Nama sahaya adalah Chitra Anggini, mohon Saudara ingat agar suatu hari sahaya dapat membantu Saudara.”


Mantingan tersenyum dan mengangguk. “Aku harap kau tidak membuatku menyesal memberikan uang itu.”


Chitra Anggini mengangguk patuh. “Saya akan gunakan ini sebagai modal saya untuk kembali pada yang benar.”


Mantingan mengangguk puas lalu berjalan pergi tanpa melirik lagi pada Chitra Anggini, meneruskan perjalanannya ke barat.

__ADS_1


Sedangkan Chitra Anggini memandangi ke arah jalan Mantingan bahkan setelah pemuda itu pergi. Dalam hatinya, Chitra Anggini bertekad kuat untuk kembali ke jalan yang benar. Dirinya selalu ragu pada jalan yang dipilihnya saat ini, tetapi tidak ada seorang pun yang merangkul dan menyadarkannya. Di saat semua orang yang dikenal menjauhinya, hanya Mantingan—orang yang tidak dikenal itu—datang dan menyadarkannya.


__ADS_2