
MALAM itu, Lingkungan Seribu Rumah Kotaraja tampak amat sangat meriah. Ini adalah malam puncak dari Perhelatan Cinta, pesta besar tengah digelar dengan macam-macam hiburan serta kesenangan di dalamnya. Tiada yang tidak senang.
Pesta malam ini tidak hanya dihadiri seluruh tamu perhelatan tanpa terkecuali, melainkan pula bangsawan-bangsawan penting di istana, bahkan beberapa pejabat dari pelosok Suvarnabhumi rela datang jauh-jauh hanya untuk hadir di istana malam ini. Kabar burung, raja akan hadir jua.
Suasana serba ramai tak dapat terelakkan lagi, jantung-jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Namun tidak begitu dengan Mantingan yang sedari tadi selalu tampak waspada serta beberapa kali kedapatan murung. Betapakah tidak bila dirinya dengan demikian jelasnya mengetahui bahwa akan terjadi serangan besar-besaran malam ini? Pula setelah diketahuinya perasaan Chitra Anggini yang meskipun tiada pernah diungkapkan secara langsung, semuanya tak lagi terasa sama.
Berbeda dengan Chitra Anggini yang tidak betul-betul menyadari betapa berbahayanya keadaan, sehingga justru bersemangat menanti penyerangan tersebut. Jalan pikirnya sungguh berbeda.
Sebelum berangkat menghadiri pergelaran, perempuan itu berkata, “Sepasang pusaka sialan itu akan segera kita dapatkan. Aku benar-benar tak sabar melihat api berkobar di istana ini.”
__ADS_1
Begitulah Chitra Anggini, tidak seperti perempuan kebanyakan yang lemah-lembut menampilkan kesantunan. Tetapi hal-hal seperti itulah yang justru membuatnya menjadi pendekar perkasa.
Kini perempuan itu tepat berada di sisi Mantingan. Berjalan bersisian di tengah keramaian sambil tersenyum cerah, bagaikan kecerahannya itu hendak menandingi sinar rembulan yang menggantung di angkasa kelam. Menyangka segalanya akan berjalan mulus, semulus batu giok yang telah dipoles jutaan kali.
“Betapa semaraknya suasana ini,” ungkap Chitra Anggini dengan suara samar. “Aku tak pernah menjumpai hal seperti ini sebelumnya.”
Ribuan pendekar memenuhi jalanan yang tak seberapa lebar, merupakan pemandangan yang tidak pernah dijumpai sebelumnya sepanjang sejarah sungai-telaga maupun belantara-rimba dunia persilatan. Lentera-lentera yang meniru gaya Negeri Atap Langit menggantung sekitar satu depa di atas jalanan, saling menyambung dengan seutas tali. Bunga-bunga bertebaran di sisi jalan, membuat udara tercium amat wangi. Butiran-butiran cahaya sihir berterbangan di langit, membentuk segala macam rupa yang indah teramat. Beberapa pemain bebunyian pula menambah kesemarakan.
Tiada yang kurang, semua itu membuat suasana benar-benar meriah. Tetapi, adakah sesuatu yang meriah dalam diri pemuda yang menamai dirinya sebagai Mantingan itu?
__ADS_1
Sekian lama pengembaraannya, sekian pula dirinya jauh dari tempat yang dapat disebut sebagai rumah. Terlampau banyak garam dunia persilatan yang terpaksa ditelannya mentah-mentah, berikut dengan puluhan ribu nyawa orang jahat yang melayang di tangannya, maka sebanyak itu pula beban menggelayuti benaknya.
Bukankah untuk seukuran pemuda yang masih berusia kurang dari 20 tahun, segala hal itu terlalu berlebihan? Bukankah bahkan Kiai Guru Kedai tidak pernah mengalami kejadian yang serupa dengannya di usia seperti itu? Mengapakah mesti dirinya, seorang pengembara muda yang seharusnya hidup dalam kemiskinan dan kenaifan, yang menanggung semua takdir ini?
Dengan pertimbangan yang seperti itu, melihat Mantingan masih dapat tersenyum adalah sebuah anugerah.
Tiada yang dapat benar-benar memahami keadaannya, kecuali Bidadari Sungai Utara yang sayangnya telah bersama pria lain nan jauh di Champa sana.
Tanpa terhitung sebanyak apa kaki melangkah, Mantingan dan Chitra Anggini tiba di Halaman Seribu Rumah Istana.
__ADS_1