
ADA suatu hal yang menarik perhatian banyak orang. Masyarakat kota menyebar sayembara-sayembara yang terkesan aneh. Di sayembara itu tertulis bahwa di Kota Angin Nyiur diperlukan pria-pria untuk mengawini para janda.
Tentu hal itu menarik perhatian para pemuda yang memiliki ketertarikan pada janda, tetapi mereka belum cukup berani untuk menikah dan menanggung seluruh hidup para janda kota itu. Namun biar begitu, tetap ada orang-orang dermawan yang datang dan bersedia menikahi para janda sebagai istri kedua atau bahkan istri pertama.
Dalam masa peperangan, memang sudah biasa seorang pria memiliki 2 istri. Biasanya istri kedua adalah janda yang suaminya mati di medan tempur. Hal itu bahkan dianggap bijaksana oleh banyak orang.
Mantingan ditawarkan janda tercantik sebenarnya, tetapi bukan Mantingan namanya jika tidak menolak hal-hal yang berbau seperti itu. Kesedihannya belum pulih, tetapi ada saja orang yang menawarkan janda padanya.
Mantingan tidak memandang buruk para janda kota yang langsung mencari suami baru padahal kematian suami mereka belumlah lama. Hal itu sangat diperlukan untuk melanjutkan hidup anak-anaknya, juga untuk melindungi hidupnya.
Selama lima hari belakangan Mantingan, di setiap malam ia selalu menyempatkan diri untuk merencanakan perjalanannya menuju Suvarnadvipa. Ia tidak mungkin berada di Kota Angin Nyiur untuk selamanya. Pemuda itu ingat tujuannya. Ia berada di kota ini hanya untuk singgah sebentar saja.
Maka tiga hari kemudian, Mantingan pergi ke perkemahan perwira dan menyampaikan maksudnya.
Perwira yang mendengar itu menjadi sedih, tetapi ia tahu tidak baik jika menahan Mantingan. Pendekar muda itu adalah pendekar pengembara, ia tidak bisa menetap lama di satu kota saja.
“Aku sedih mendengarnya, Mantingan, tetapi aku tidak bisa menahanmu jika memang itu sudah menjadi keputusanmu.”
Mantingan mengangguk pelan dan tersenyum—ia mulai mudah tersenyum sejak kemarin. “Terima kasih atas semua pelajaran yang aku dapat dari pertempuran kemarin, Perwira, itu semua berkat dirimu ada di sini. Dan terima kasih juga karena telah Perwira melindungi kota ini dari kehancuran.”
Perwira menghela napas dan tersenyum sedih. “Kautahu aku tidak banyak berbuat, Mantingan. Prajurit-prajurit Agrabinta yang melindungi kota ini.”
“Tanpa Perwira, pasukan tidak akan teraeah.” Mantingan tetap mempertahankan senyumnya.
Perwira membalasnya dengan senyum hangat pula. “Katakan jika engkau benar-benar mau berangkat, kami akan mengantarkanmu sampai keluar kota.”
“Tidak perlu, Perwira—”
__ADS_1
“Jangan berkata seperti itu, hidup kami pastinya tidak akan tenang jika engkau pergi tanpa diantar. Biarlah juga prajurit-prajurit melihat engkau pergi, anggap saja kau berpamitan pada mereka.”
Mantingan tersenyum canggung karena tetap merasa tidak enak diperlakukan seperti ini. “Aku berangkat malam nanti, Perwira.”
“Nah, kalau begitu biarlah kami bersiap-siap melepas kepergianmu.”
***
Mantingan menatap kediamannya, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Di bawah sinar rembulan malam hari, kediamannya itu tampak indah dan nyaman. Namun, tetap terlalu sepi tanpa 13 prajurit muda pemberani itu.
Setelah menarik napas panjang, Mantingan melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanannya menuju pintu kota, suasana terlalu sepi bahkan untuk kota yang habis diserang. Mantingan tidak melihat prajurit yang biasanya berlalu-lalang, atau orang kota yang cari angin sejuk pada malam hari.
Tentu saja hal itu membuat Mantingan terheran-heran, bahkan ia mulai khawatir telah terjadi sesuatu yang membuat seluruh orang di dalam kota menghilang.
Entah bagaimana ia mendapat ilmunya, namun beberapa orang berpendapat Pendekar Otak Maut melakukan ritual sesat untuk meraih kesaktian tinggi seperti itu. Ritual semacam itu diyakini membutuhkan darah perawan sebagai bayarannya—darah perawan biasa sekali dipakai untuk ritual.
Pendekar Otak Maut telah menghilang 100 tahun yang lalu tanpa sebab. Tidak ada pendekar yang mengakui telah menyempurnakan hidup Pendekar Otak Maut. Tidak ada pula pendekar yang melihatnya berkeliaran di sungai telaga persilatan ataupun rimba persilatan.
Mantingan khawatir pendekar itu melakukan ritual untuk memperpanjang usianya, lalu kembali melakukan perbuatan lamanya.
Tetapi sepertinya kecurigaan Mantingan tidaklah jelas. Jauh di depan, dekat dengan pintu kota, terlihat bintik-bintik cahaya berwarna merah yang sangat banyak. Setelah Mantingan mempertajam penglihatannya menggunakan Ilmu Mata Elang, ia dapat melihat kerumunan prajurit dicampur warga kota yang menghadap ke arahnya.
Mantingan merasa hangat di dadanya setelah mengingat perwira berkata bahwa mereka akan mengantarnya sampai di pintu kota. Dan kini bukan hanya prajurit-prajuritnya saja, tetapi penduduk kota pula.
Semakin mendekat ke arah mereka, Mantingan kembali melihat kerumunan yang lebih banyak di luar tembok kota. Apa mungkin seluruh penduduk kota ada di sana?
__ADS_1
Mantingan semakin mendekat dan mendekat, ia melihat orang-orang tersenyum hangat padanya. Anak-anak, wanita-wanita janda, pria tua yang masih selamat, dan prajurit-prajurit dengan bebat di lukanya; mereka semua tersenyum hangat padanya.
Mereka membawa lentera yang dilukis berwarna merah, sehingga sinar yang dihasilkan adalah sinar merah. Sungguh meneduhkan hati yang melihatnya.
Mantingan balas tersenyum hangat.
Perwira datang dari kerumunan dan menghampirinya, pria setengah baya itu kemudian berkata, “Man, maafkan kami, ini terlalu sederhana.”
Mantingan menggeleng. “Ini sangat luar hebat, Perwira. Kalian berkumpul di sini hanya untukku, itu sudah sangat-sangat berarti.”
Perwira lalu tersenyum. “Kalau begitu, kausapa dulu penduduk kota. Mereka telah mendengar cerita tentang kehebatan dan kepahlawananmu sedari lama, bahkan sebelum perang kemarin pecah. Saat kau berperang, mereka sama-sama mendoakanmu.”
Mantingan memandangi warga kota yang ada di belakang perwira dengan cukup canggung. Ia menarik napas panjang sekaligus menyiapkan kata untuk menyapa penduduk kota.
“Hai.”
Hanya itu. Benar-benar hanya itu. Namun bagi penduduk kota itu bukan masalah, justru mereka yang ingin lebih dulu menyapa Mantingan.
“Tuan Pahlawan, terima kasih telah menyelamatkan hidup dan kota kami.”
Mantingan berdeham pelan lalu membisikkan sesuatu pada perwira. Perwira mengangguk, berdeham sekali sebelum berkata lantang pada orang-orang di belakangnya.
“Mantingan ini tidak suka dipanggil ‘tuan’ seperti itu, dirinya lebih suka dipanggil ‘Saudara Man’ saja.”
Mantingan merasa tidak enak jika tidak bicara langsung pada mereka. “Maafkan sahaya, tetapi sungguh sahaya tidak enak hati dipanggil seperti itu.”
Salah satu prajurit tersenyum dan memberanikan diri buka suara. “Tidak mengapa, Saudara Man. Kami semua dapat mengerti kalau engkau adalah sebenar-benarnya orang baik.”
__ADS_1
Mantingan tersenyum dan mengangguk. “Sahaya ingin menyampaikan rasa terima kasih mendalam pada penduduk kota yang terhormat dan pada prajurit yang terhormat sekalian. Terima kasih telah menyempatkan diri mengantar diri sahaya pergi. Sungguh itu kehormatan yang besar bagiku. Sahaya harap saudara-saudari sekalian dapat menjaga diri dengan baik hingga kita mungkin bisa bertemu lagi di hari esok.”