Sang Musafir

Sang Musafir
Binatang Tidak Mengenal Kesesatan


__ADS_3

PADA MALAM HARINYA, Mantingan mengajari Kana kiat-kiat seni keterampilan berpedang. Tetapi pemuda itu hanya menjelaskan dasar-dasarannya saja, sehingga Kana dapat dengan mudah mempraktikkannya tanpa tenaga dalam. Mantingan juga banyak menjelaskan bahwa pedang bukanlah alat untuk mencipta kerusakan.


“Apakah kau pernah mendengar cerita tentang pendekar berpedang?” Mantingan bertanya.


“Ya, saat itu ada penyair yang datang ke desa tempatku tinggal. Dia menceritakan kehebatan pendekar dalam memainkan pedangnya. Aku dan teman-temanku sampai takjub dibuatnya.”


“Ceritakanlah sedikit padaku.”


“Aku tidak terlalu mengingatnya dengan baik, karena kejadian itu sudah lama sekali. Tapi biarlah aku menceritakan apa yang kuingat saja.” Kana membetulkan posisi duduknya. “Pendekar itu membawa pedang. Pedangnya sedepa. Panjang sekali, bukan? Suatu hari di celah bukit, dia bertemu dengan segerombolan perampok. Jika aku tak salah mengingat, ada dua lusin perampok yang mencegat dan berniat buruk padanya. Pendekar itu tenang sekali, dia berkata bahwa dirinya tidak mau memberikan apa yang perampok-perampok itu minta.


“Ketika para perampok memaksa, pendekar tak bernama itu kemudian membabat mereka dengan pedangnya yang panjang. Semudah memotong rumput halaman—seperti yang pernah Kakak Man lakukan. Semua perampok di celah bukti itu binasa. Mereka mati dengan cara yang paling mengenaskan. Kepalanya ada yang terbelah jadi dua. Tangan bergelimpangan di jalan-jalan. Begitulah pendekar itu kemudian melanjutkan perjalanan.”


Mantingan mengernyitkan dahi selama mendengarkan cerita Kana. Jika cerita itu benar dibawa oleh seorang penyair, bukankah tidak pantas diceritakan pada anak-anak seperti Kana? Pembunuhan yang dilakukan pendekar itu terlalu mengenaskan.


“Apakah kau menganggap pendekar itu baik sikapnya?”


“Tentu saja, dia membasmi orang-orang jahat dan secara tidak langsung telah menyelamatkan orang lain.”


“Sebenarnya tidak begitu adanya, Kana. Apa yang telah diperbuat pendekar itu sangatlah tidak manusiawi. Pembunuhan yang telah dilakukannya terlalu berang. Biar kujelaskan padamu, Kana. Di dunia nyata, tidak ada pendekar yang berlaku seberingas itu kecuali pendekar dari golongan hitam. Itu saja, tidak banyak.? Pendekar-pendekar yang baik akan menghindari pembunuhan, bukan malah menikmatinya. Pendekar yang tadi kauceritakan itu menggunakan pedangnya bukan untuk menebar kedamaian, melainkan kebencian semata. Bayangkan jika ada perampok lain yang melihat pembunuhan itu, pastilah telah terpatik api dendam di dalam dada mereka.”


Kana terdiam. Tampak berpikir untuk waktu yang lama.


“Jadi, salahkah aku telah mendengar cerita itu?”


“Tidak. Asalkan kau tidak salah paham atas cerita itu.”

__ADS_1


“Tapi, Kakak Man, sepertinya aku memiliki pertanyaan.”


“Tanyakan saja.” Mantingan berkata lembut.


“Jika perbuatan pendekar itu adalah salah, lalu bagaimanakah kalau dirinya menyerah atau menghindari para perampok itu? Bukankah itu sama saja melempar marabahaya kepada orang lain?”


“Bagus pertanyaanmu itu, Kana.” Mantingan mengangguk pelan. “Pendekar berpedang panjang itu pastilah sudah sangat sakti, bukan? Seharusnya pendekar itu memiliki kemampuan untuk melumpuhkan dua lusin perompak yang mencegatnya. Dan sekalipun memang dibutuhkan untuk membunuh mereka semua, maka lakukanlah tanpa keberangan. Membunuhlah untuk kedamaian, bukan untuk kesenangan, atau kau akan sama saja derajatnya seperti binatang terbuas, bahkan lebih rendah lagi.”


“Tentu aku tidak akan melakukan itu.”


Namun, Mantingan mengernyitkan dahinya. “Apakah ada keraguan dalam dirimu, Kana? Aku melihat keraguan di wajahmu.”


Kana berkata gugup, “Sebenarnya ada keraguan dalam diriku, meskipun itu sangatlah sedikit.”


Kana menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Kakak Man, tujuanku belajar silat semata-mata untuk membalaskan dendam kematian orangtuaku. Aku ingin mencincang orang yang telah membunuh orangtuaku menjadi seribu bagian. Dengan pedang di tanganku, aku ingin melakukan itu. Dan setelah aku melakukan itu, kuyakin orangtuaku akan tenang di alam baka.”


Mantingan tersenyum, mengelus lembut kepala Kana. “Balas dendam terbaik adalah menjadikan dunia lebih baik lagi.”


“Bagaimanakah aku bisa menjadikan dunia lebih baik, jika dunia ini dipenuhi orang-orang tak berada?”


“Akan ada masa bagi yang tak beradab mengalami kejatuhan, dan ada masanya pula yang tak beradab mengalami kebangkitan. Begitu juga sebaliknya, Kana. Dunia ini tak senantiasa dipenuhi orang jahat. Pada waktu-waktu yang telah ditentukan, akan terjadi pertukaran siang dan malam. Fajar dan petang. Tidaklah kejahatan maupun kebaikan akan berjaya buat selama-lamanya.”


“Bukankah Gusti adalah sumber kebaikan, Kakak Man?”


“Benar.”

__ADS_1


“Lalu, mengapa Dia membiarkan orang jahat berpijak kaki di atas bumi ciptaan-Nya?”


Sekali lagi Mantingan tersenyum hangat. “Agar Dia memberi pelajaran pada manusia seperti apa kejahatan itu. Kana, tahukah kau seperti apa kehidupan hewan-hewan di dalam rimba?”


Kana berpikir sejenak setelah baru saja mendapatkan banyak pemahaman. “Mereka mencari makan, bermain, dan kawin saja.”


“Begitulah jadinya manusia jika tidak mengetahui tentang kesesatan. Lihatlah hewan yang tidak peduli akan kekacauan dunia, bahkan mereka tidak peduli jikapun mereka terus diburu sampai habis. Mereka hanya makan, bermain, tidur, kawin, dan mati saja. Begitu seterusnya. Sebab mereka merasa dunia dalam baik-baik saja, terlebih mereka tidak mengenal apa itu Kesesatan dan Kebenaran. Berbeda dengan manusia yang telah menemukan arti Kesesatan, sehingga mereka terus mencari hakikat kebenaran dalam kehidupan semesta. Saat itulah, peradaban manusia berputar.”


“Sebenarnya ini agak sulit kuterima, tetapi perlahan-lahan akan kupahami dengan baik. Aku berjanji akan hal itu, Kakak Man.”


“Dan sebisa mungkin, kau hilangkan api dendam di dalam kepalamu itu. Waktu yang sudah berlalu tidak dapat diputar kembali, sekalipun kau berhasil membalaskan dendam hingga tuntas. Jadi sebagaimana manusia yang baik, kau harus belajar merelakan sesuatu yang telah berlalu.”


Kana tampak mengangguk. “Aku akan berusaha keras untuk menghilangkan api dendam itu, Kakak Man. Terima kasih pelajarannya malam ini. Jauh lebih bermanfaat ketimbang dongeng dari Kak Sasmita.”


“Sesekali kau harus mendengarkan dongeng pula. Akan lebih bagus jika kau menciptakan dongengmu sendiri.”


“Kakak berkata seperti itu, tapi Kakak sendiri tidak pernah mendengarkan Kak Sasmita ketika sedang berdongeng. Bahkan dari yang kulihat, Kakak tidak pernah mengarang satupun dongeng."


Mantingan tersenyum kaku. Memang benar apa kata Kana. Ia tidak mengarang dongeng, ia menciptakan dongengnya sendiri. “Jika ada kesempatan, aku akan mendengarkannya.”


“Kakak tidak akan bisa mendengarkannya jika hubungan Kakak dan Kak Sasmita selalu canggung. Padahal seharusnya, kalian saling menyukai satu sama lain. Bukankah begitu yang sering manusia lakukan?"


Mantingan tersenyum dan mendekatkan tangannya menuju kepala Kana. Namun bukan untuk mengelusnya lembut, melainkan menjitaknya keras-keras. Kana mengaduh kesakitan, tak menduga-duga tindakan Mantingan itu. Dan sungguh, rasanya amat sakit. Dan begitulah Kana, anak itu merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya.


“Tidurlah. Ini sudah malam. Besok pagi kita harus menebar pupuk.”

__ADS_1


__ADS_2