
Hinggalah dijumpainya suatu noktah hitam di kejauhan, yang bergerak dengan kecepatan lima kali menembus kecepatan suara. Andaikata mata Mantingan bukanlah mata seorang pendekar yang selalu terlatih untuk mengikuti suatu pergerakan cepat, sudah barang tentu setitik kecil berwarna hitam yang tengah melesat dengan laju berkali-kali lipat kecepatan suara itu tidak akan pernah bisa terlihat!
Dalam hal adu kecepatan kali ini, Mantingan keluar sebagai pemenang. Musuhnya hanya mampu bergerak secepat lima kali laju suara, sedangkan dirinya mampu melesat selaju petir!
“Berhentilah!” Mantingan berteriak keras. Mengeluarkan cukup banyak tenaga dalam untuk meningkahi deru angin.
Pendekar itu hanya menengok ke arahnya sebentar. Lalu tetap melesat. Tidak sedikitpun berkurang kecepatannya.
Tanpa basa-basi lagi, Mantingan langsung menikam pendekar yang semulanya hanya tampak sebagai noktah itu. Darah kembali terpercik di udara. Tubuh lunglai pendekar itu terjatuh, sedang nyawanya justru terbang entah ke mana. Menabrak beberapa batang pohon hingga mematahkannya, sebelum akhirnya sempurna berhenti setelah tersangkut di antara dahan-dahan pohon besar.
Mantingan lekas menghentikan laju. Hinggap di salah satu dahan pohon dekat dengan mayat lawannya itu.
***
“Seandainya saja dikau berhenti, mungkin kita masih bisa berbicara baik-baik di sini ....”
MANTINGAN menggelengkan kepalanya perlahan. Diturunkannya mayat itu dari atas pohon menuju permukaan tanah, dengan segenap bundelan-bundelan besar yang mengikat kuat di punggung mayat tersebut. Mantingan mengira bahwa bundelan-bundelan itulah yang membuat laju pendekar ini sedikit banyak menjadi terhambat.
Mantingan berniat menyempurnakan tubuh pendekar itu dengan sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh para pendekar yang telah berhasil menumbangkan lawannya, namun kemudian disadari betapa mayat ini masih diperlukan untuk bahan pemeriksaan pendekar yang diutus pemerintahan. Jika Mantingan menyempurnakan mayat lawannya ini, berkemungkinan besar justru dirinyalah yang akan dicurigai. Ia harus membawanya ke hadapan para petua desa.
Namun sebelum membawa mayat itu kembali ke Desa Pesawahan, Mantingan memutuskan untuk terlebih dahulu mengambil semua barang-barangnya yang dicuri. Jika tidak begitu, maka telah pasti kitab-kitab dan sepasang pedangnya itu akan dijadikan barang bukti oleh pemerintahan, yang tentu saja tidak akan mudah untuk mengambilnya kembali.
Mantingan merasa bahwa dirinya tidak dapat melepaskan Kitab Teratai ke tangan pemerintahan kerajaan, sebab jika mereka menyadari betapa kitab tersebut berisi ilmu-ilmu yang dapat membahayakan kerajaan, maka segenap isi kitab itu boleh jadi akan diselewengkan atau bahkan dimusnahkan!
Terlebih lagi, pendekar ini juga mencuri kitab kisah perjalanannya, beserta kitab-kitab ilmu persilatan dari Perguruan Angin Putih. Itu akan menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa dirinya adalah Pahlawan Man, calon Pemangku Langit yang dicari-cari Kerajaan Koying. Bukankah dengan begitu, rencana penyelamatan Tapa Balian dapat pupus tanpa harapan menuai keberhasilan, dan dunia persilatan akan kembali mengalami gejolak yang betapa pun tidak akan kecil sebab Sepasang Pedang Rembulan gagal direbut kembali?
Mantingan mulai membongkar isi bundelan-bundelan itu. Menemukan kitab-kitab miliknya di antara barang-barang curian lain. Pedang Savrinadeya dan Pedang Kiai Kedai juga ada di dalamnya. Ketika itulah, sebuah gulungan besar berbahan kertas yang sudah barang tentu berasal dari Negeri Atap Langit jatuh dari bundelan yang sedang Mantingan geledah. Gulungan itu langsung terbuka, menampilkan isi di dalamnya yang tiada disangka-sangka akan mengubah hampir seluruh perencanaan.
Mantingan mengernyitkan dahi sebelum bergegas mengambil gulungan kertas itu. Ketika melihat isinya, mata pemuda itu terbuka lebar.
__ADS_1
***
MALAM itu. Saat rembulan tertutupi mega-mega tipis. Saat angin bersemilir pelan. Saat serangga malam mengisi kesunyian yang mencekam. Saat itulah pula rapat kembali diadakan di balai desa.
Kali ini, seluruh warga desa telah berkumpul. Ya. Seluruhnya. Yang lelaki maupun yang perempuan, yang muda maupun yang tua, semuanya berkumpul mengelilingi balai desa.
Namun tidak seperti pagi tadi di mana mereka membawa senjata dan berdiri dengan wajah nyalang, kini mereka semua duduk bersila dengan wajah menunduk. Tampak khidmat dengan seberkas penyesalan.
Rapat sebenarnya sudah dimulai sedari tadi, dengan Mantingan yang telah selesai memberi penjelasan panjang-lebar tentang apa yang apa yang sebenarnya terjadi pagi tadi. Penyerangan itu dilakukan oleh rombongan saudagar Negeri Atap Langit, yang rupa-rupanya mengincar kitab-kitab berharga di kediaman kepala desa. Kini, semua kitab yang berhasil dicuri itu telah dikembalikan.
Rapat di balai itu telah memasuki penghujung.
“Anak berdua telah berbuat banyak untuk desa ini. Tetapi balasan yang kami berikan justru sebaliknya. Kalian beri air susu; kami balas beri air tuba. Maka dengan mewakili seluruh datuk dan warga Desa Pesawahan, daku memohon ampunan maaf dari kalian Anak berdua.” Salah satu petua desa berkata sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam. Segera disusul oleh seluruh petua dan warga desa yang menunduk dalam-dalam kepada Mantingan dan Chitra Anggini.
Mantingan bangkit berdiri. Menjura. “Datuk-Datuk yang terhormat! Kami berdua sama sekali tidak melakukan sesuatu yang besar. Justru kami menyesal sebab tidak mengambil tindakan sejak awal. Jadi, kami berdualah yang semestinya memohon ampunan maaf kepada kalian semuanya!”
“Itu sama sekali bukan kesalahan Anak berdua. Kalian adalah pendekar kelana, memang tidak semestinya melibatkan diri dengan banyak masalah yang tidak perlu. Dan peristiwa ini juga menjadi pelajaran penting bagi kami untuk melindungi kitab-kitab berharga dengan lebih ketat lagi. Jika tidak begini, mungkin ada pencuri-pencuri lain yang datang, tetapi kalian tidak ada di sini untuk membantu kami.”
“Atas keputusan kami bersama, Anak berdua dipersilakan meneruskan perjalanan tanpa perlu menunggu pendekar dari pemerintah. Kami akan membuat surat pernyataan bahwa kalian berdua telah bebas dari segala perkara ini.” Petua desa itu kembali berkata lantang. “Dan kami tidak akan pernah melupakan jasa kalian berdua sampai kapanpun.”
Chitra Anggini memandangi Mantingan. Pemuda itu balas meliriknya sambil tersenyum tipis.
***
TEPAT ketika fajar menyingsing, Mantingan dan Chitra Anggini melanjutkan perjalanan. Dilepas puluhan warga di gerbang desa. Melambaikan tangan sambil tersenyum selebar mungkin.
Mereka semua—warga Desa Pesawahan—teramat sangat murah hati. Mengetahui bahwa telah terjadi kesalahpahaman dengan Mantingan dan Chitra Anggini, satu demi satu dari mereka menghampiri keduanya hanya untuk meminta maaf. Kesantunan yang luar biasa.
Mereka pula murah tangan. Memberi sebuah pedati kerbau kepada Mantingan dan Chitra Anggini, lengkap dengan rempah-rempah dan beberapa karung beras di dalamnya.
__ADS_1
Sebenarnyalah Mantingan telah menolak semua pemberian itu, beralasan bahwa pedati gerobak dan perbekalan itu kurang dibutuhkan di perjalanan. Namun, salah satu petua desa memaksa Mantingan untuk menerimanya.
“Ini memang tidak seberapa berartinya bagi pendekar yang bisa menahan lapar dan bergerak teramat cepat seperti kalian. Tetapi setelah kalian tiba di kotaraja, kalian akan menyadari betapa uang sangat amat diperlukan untuk dapat tetap hidup di sana. Maka berkarung-karung beras itu bukan kami maksudkan sebagai perbekalan kalian, melainkan sebagai barang yang setidaknya dapat kalian jual di kotaraja. Beras yang kami berikan ini memiliki kualitas terbaik, pasti akan laku mahal di sana.”
Saat itu, Mantingan sudah tidak dapat menolak lagi, hanya bisa berterimakasih sedalam-dalamnya.
“Pedati ini hanya akan menghambat kita,” keluh Chitra Anggini yang setengah merebah di atas karung-karung beras. “Tidak mungkin kita terbang dengan membawa pedati dan berkarung-karung beras ini. Dan betapa aku tahu, kau tidak akan tega membuang semua ini begitu saja.”
“Kita hanya perlu waktu setengah hari lagi untuk tiba di kotaraja, Chitra. Mulai dari sini, akan lebih banyak lagi peradaban yang kita jumpai. Jadi dengan atau tidak adanya pedati kerbau ini, kita tetap tidak akan terbang.” Mantingan tersenyum.
“Tetap saja aku tidak suka.” Chitra Anggini telah sempurna merebah. “Tidakkah kamu sadari bahwa warga-warga desa itu memberikan kita semua benda tak berguna ini hanya untuk membayar rasa malu mereka?”
“Jika karung-karung beras itu sudah terjual, semua uangnya akan menjadi milikmu.” Mantingan berharap bahwa dengan jawabannya itu, Chitra Anggini akan puas dan diam. Namun, harapannya itu tidak terpenuhi.
“Aku tidak tertarik dengan uang hasil menjual beras-beras ini. Hasilnya mungkin hanya akan sampai seratus keping emas saja. Tetapi jika aku meminta uang kepadamu, maka sudah pasti kau akan memberiku satu Batu bernilai seribu keping emas! Bukankah begitu, he?” Chitra Anggini mengangkat kepala, menunjukkan senyum jenaka.
___
catatan:
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]
Favorit 1400\= +3 episode [TERPENUHI]
Vote 950\= +3 episode [TERPENUHI]
Vote 1000\= 5 episode
__ADS_1
Bonus episode untuk 1400 favorit: 3/3