
MANTINGAN SELESAI memindahkan seluruh barang Bidadari Sungai Utara ke kamar yang telah disediakan untuk gadis itu. Semua dapat dilakukannya dalam seperempat waktu peminuman teh.
Kana dan Kina akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Mantingan tentang apa yang terjadi. Tak dapat lagi mereka bendung rasa penasaran.
“Kak Maman, siapakah yang akan pindah ke tempat ini?”
Kana mengangguk menyetujui. “Daku juga memiliki pertanyaan yang sama dengan Kina. Siapakah yang hendak pindah ke rumah ini?”
Mantingan memandang mereka bergantian dan tersenyum. “Kak Sasmita yang akan pindah ke sini.”
Kana dan Kina berpandangan. Mulut mereka terbuka lebar. Hampir-hampir tidak bisa mempercayai apa yang baru saja mereka dengar. Sekali lagi mereka bertanya penuh harap.
“Kaka tidak sedang bercanda bukan?” Kana bertanya.
"Kalau Kak Maman berbohong, Kina akan marah sejadi-jadinya.”
Mantingan tertawa. Pemuda itu menganggap wajar tanggapan Kana dan Kina. Mereka telah meminta Bidadari Sungai Utara untuk tinggal bersama, tetapi selalu saja ditolak dengan beragam-ragam alasan. Mereka tidak akan mudah mempercayai perkataannya. Namun, sekali lagi Mantingan berkata, “Kakak tidak bercanda. Kak Sasmita ada keperluan untuk mengobati Kakak, itu membuatnya harus tinggal di sini sampai waktu yang tidak ditentukan. Sore nanti, Kak Sasmita akan datang. Buatlah penyambutan meskipun sederhana, agar dia tahu bahwa kehadirannya diterima dengan senang hati.”
Kana dan Kina bersorak riang. Berlompat-lompatan kecil dengan teriakan yang nyaring. Melihat itu, Mantingan tersenyum lebar. Kebahagiaan Kana dan Kina adalah kebahagiaan yang murni. Mereka bersikap bahagia karena memanglah mereka berbahagia. Bukan bersikap bahagia padahal tidak berbahagia. Dan sebuah keberuntungan bagi Mantingan dapat melihat kebahagiaan murni.
Dan memanglah benar, pada petang itu, Bidadari Sungai Utara datang. Kedatangannya telah disambut dengan baik. Pita-pita panjang berwarna-warni diikatkan membentuk simpul di sekeliling pintu. Setelah melewati pintu, Bidadari Sungai Utara menjumpai banyak bunga-bunga bertebaran menghujani dirinya. Di meja ruang utama, telah disiapkan berbagai kudapan dan minuman segar.
Semua sambutan itu tak ayal membuat perasaan Bidadari Sungai Utara mengharu-biru. Matanya berlinangan ketika memeluk Kana dan Kina hangat.
“Ini adalah sambutan terbaik yang pernah Kakak dapatkan. Terima kasih,” katanya saat mendekap dua anak tersebut.
Namun Kana membantah. “Jangan hanya berterimakasih pada kami, Kaka Sasmita. Hampir semua ini disiapkan Kaka Mantingan, kami berdua hanya menyuruh-nyuruhnya saja.”
Bidadari Sungai Utara melirik Mantingan yang berdiri di belakang mereka. Mantingan berdeham beberapa kali sebelum berkata, “Tanpa Kana dan Kina, daku tidak akan mau melakukan semua ini.”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara beranjak rangkulannya pada Kana dan Kina. Ia berjalan menuju Mantingan. Sungguh saat itu Mantingan telah berjalan mundur, namun pelukan Bidadari Sungai Utara memang tidak bisa dihindarkan.
“Terima kasih, Saudara.”
“Saudari, anak-anak melihati kita ....”
Bidadari Sungai Utara langsung melepas rangkulannya. Kina terkekeh-kekeh, menahan gelak tawanya. Sedangkan raut wajah Kana tampak masam.
“Kaka Man mengajariku untuk tidak bermain-main dengan cinta, tetapi Kaka Man sendiri yang memperbuatnya. Bagaikan menelan ludah sendiri.”
Mantingan tidak dapat membantah lagi. Hanya bisa tersenyum canggung. Ia beramsumsi bahwa tidak seharusnya Kana dan Kina melihat hal itu, mereka bisa mengiranya sebagai tanda asmara. Bukan tanda pertemanan. Namun, apakah Bidadari Sungai Utara memikirkan hal itu?
Mantingan kemudian mempersilakan Bidadari Sungai Utara menuju meja, menyantap kudapan bersama-sama dalam rangka penyambutan. Kali ini, Mantingan terpaksa berbicara sambil makan. Percakapan antara Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina membuatnya merasa rugi jika tidak ikut serta.
“Kana, kalau Kaka di sini, engkau tidak akan merayuku lagi, bukan?” Bidadari Sungai Utara bertanya dengan senyum di sudut bibirnya.
“Tidak akan.” Kana menggelengkan kepala. “Kaka Man akan marah jika daku melakukan hal seperti itu.”
“Daku tidak pernah memarahimu, Kana.”
“Oh, benarkah? Daku tidak merasa begitu, Kaka Man!”
“Bahaya jika kau sudah merasa begitu, Kana!” Mantingan berseru terkejut. “Tak kusangka kau menganggapku begitu. Sungguh diriku kecewa, dan pula aku sungguhan marah padamu.”
“Kaka Man tidak akan sungguh-sungguh.”
“Berhentilah memanggilku lagi, Kana. Bagiku, kau bukan siapa-siapa bagiku.”
Raut wajah Kana berubah setelah mendengar itu. Menjadi risau. “Kaka Man tidak bisa membedakan, diriku hanya bercanda saja.”
__ADS_1
“Oh, benarkah? Daku tidak merasa begitu, Kana!”
Kana memanyunkan bibirnya. Kembali Kina dan Bidadari Sungai Utara tertawa. Mantingan hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
“Apa yang dikatakannya itu benar, Kana,” kata Bidadari Sungai Utara. “Jikalau dikau berhenti merayu wanita disebabkan Kak Mantingan, maka tindakanmu itu salah. Kana, engkau hanya bisa mengubah kebisaan buruk setelah memiliki niat kuat di dalam diri.”
“Diriku paham itu, Kaka Sasmita. Sesungguhnya daku merasa pula bahwa tindakanku itu sangat buruk. Diriku telah berjanji kepada bumi dan langit tidak akan mengulangi hal semacam itu lagi, daku sungguhan berjanji.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk, tampak dirinya puas. “Tanpa rayuan sekalipun, sikapmu yang begitu sudah dapat memikat banyak wanita.”
Kembali Mantingan menggeleng pelan. Tidak mudah baginya untuk percaya bahwa Bidadari Sungai Utara menyukai anak seumuran Kana, tetapi biarlah. Tak ada yang patut dipusingkannya.
Mantingan memilih untuk melanjutkan makannya dan menyimak pembicaraan antara ketiga orang di depannya. Itu saja sudah dapat membuat diri Mantingan tersenyum senang.
Setelah selesai menghabiskan semua panganan, Mantingan mengajak Bidadari Sungai Utara untuk melihat kamarnya. Gadis itu begitu takjub begitu melihat barang-barangnya telah tersusun rapi di dalam sebuah kamar.
“Siapakah yang melakukan semua ini?”
“Diriku sendiri.”
Bidadari Sungai Utara memandangi Mantingan dengan perasaan sulit terlukiskan. Bukan karena barang-barangnya yang telah disusun Mantingan, melainkan karena rasa kepedulian Mantingan itulah yang membuatnya senang.
“Awalnya diriku mengira pedati dan pengemudinya itu belum sampai. Dan, dugaanku meleset jauh, dirimulah yang ....”
“Jika dikau berniat memujiku, maka itu tidak perlu.” Mantingan tersenyum lembut. “Ini adalah kewajibanku.”
Bidadari Sungai Utara tersenyum manis. “Terima kasih, Saudara. Suatu saat, jasamu ini akan kubalas.”
“Tidak perlu pusingkan itu. Lebih baik, sekarang dikau beristirahat. Saudari pasti lelah, bukan?”
__ADS_1
“Tiadalah.” Bidadari Sungai Utara mengibaskan lengannya. “Berkat Saudara diriku sama sekali tidak kelelahan. Lebih baik, daku melakukan hal yang lebih berguna. Daku teringat bahwa kita hampir kehabisan waktu. Kusarankan, kita memulai pengobatannya hari ini juga.”
Mantingan mengangguk khidmat. “Anggaplah ruangan ini sebagai ruangan kerja Saudari. Engkau harus mengambil kamar lain untuk tempatmu tidur.”