
Mantingan membeliakkan matanya. Sejuta kata ingin dikeluarkannya, tetapi mengapa bibirnya terasa dijepit?
“Tetapi bagaimanakah akhir kisahnya? Apakah mereka akan menikah dan bahagia selamanya?”
“Sayang sekali, akhir kisahnya belum kutulis. Dan bukankah akan amat sangat tidak menyenangkan jika kuberitahu akhir kisahnya?”
Dalam tatapan penuh arti, wanita tua penjual kisah dongeng itu melirik Mantingan yang masih tergugu dalam kebisuan.
***
“Kina sangat penasaran dengan kisahnya, akan sangat menyenangkan jika Kina bisa memilikinya ....”
“Nah kalau begitu, tunggulah sebentar di sini. Akan kuambilkan segera.”
KETIKA wanita tua itu berjalan memasuki ruangan di dalam tokonya dengan punggung yang bungkuk, seketika itulah Mantingan terlepas dari keterguguannya.
Diliriknya Bidadari Sungai Utara yang ternyata tampak pula keterkejutan di dalam sorot matanya.
Mantingan lalu melihat ke sekitar. Ia baru tersadar bahwa dibandingkan dengan toko-toko lain di sekitar, toko yang menjual cerita dongeng ini amat sangat sepi. Selain mereka berempat, tidak ada pengunjung lain di toko ini.
Meskipun memang benar bahwa cerita karangan biasanya tidak digemari oleh masyarakat luas, tetapi sangat mustahil jikalau benar-benar tidak ada pengunjung lain di toko ini, mengingat betapa lelang yang baru saja selesai lebih banyak menghadirkan kitab-kitab sastra yang di antaranya terdapat beberapa pula kitab karangan. Tentu saja hal itu mengundang para penggemar kitab karangan untuk datang ke Pelabuhan Angin Putih.
Semua ini terasa begitu ganjil. Keganjilan yang bukan saja terletak pada toko dongeng ini, melainkan pula pada wanita tua yang memilikinya!
Betapa orang itu baru saja menyebutkan kisah tentang pengembara muda yang mencari sebuah bunga langka untuk diberikannya kepada seorang ratu yang telah menugaskannya.
Apakah itu hanyalah suatu ketidaksengajaan semata? Mantingan ingat bahwa masih banyak bunga yang langka di Dwipantara. Bahkan Kembangmas tidak cocok jika disebut sebagai bunga langka, sebab masyarakat awam menganggap bunga itu sebagai bagian dari kisah dongeng saja, yang tidak pernah benar-benar ada di muka dunia.
Lebih-lebih, Kenanga sama sekali tidak tampak seperti seorang ratu. Gaya berpakaiannya yang amat sangat sederhana, bagaikan hanya sebuah jubah yang biasanya dipakai oleh biksuni-biksuni. Rumahnya terlalu sederhana, meskipun megah tetapi tidak mewah. Dan tabiatnya amat sangat jauh dari tabiat seorang bangsawan yang biasanya untuk mengurusi dirinya sendiri saja tidak mampu ....
Mantingan ingin sekali menganggap bahwa dongeng itu secara tidak sengaja menyerupai riwayat hidupnya, jika saja wanita tua itu tidak melemparkan lirikan mata penuh arti padanya.
Satu-satunya cara untuk mengetahui hal itu adalah dengan bertanya langsung pada sang nenek, atau dengan membaca dongeng yang bercerita tentang seorang pengembara muda mencari bunga langka untuk kemudian diberikannya kepada seorang ratu yang telah menugaskannya itu. Berapa pun harganya, Mantingan akan tetap membelinya!
Nenek itu kembali dari ruangannya dengan membawa sebuah keropak lontar yang tampak sangat rapi dan mengilap. Punggungnya masih saja membungkuk dan jalannya masih tertatih-tatih.
__ADS_1
Sang nenek menjulurkan sekeropak lontar itu kepada Kina, yang langsung saja diterima anak itu dengan begitu semangatnya.
Mantingan menarik napasnya, mempersiapkan diri untuk berkata tanpa terbata-bata, “Berapakah harganya, Ibu?”
Sepatah kalimat yang keluar dari mulutnya itu terasa sangat memberatkan, sebab betapa pun pikiran Mantingan masih terguncang.
“Harganya hanya sekeping emas sahaja, cukuplah untuk mengganti waktu dan tenaga yang terbuang saat wanita tua ini mencoba untuk mengarang dongeng.”
Mantingan merogoh kantung pundi-pundinya dan mengeluarkan sepuluh keping emas. “Kisah yang Ibu buat ini pastilah sangat menakjubkan. Maafkanlah jika daku menganggap dua keping emas terlalu murah untuk membayar kisah ini.”
Mantingan meneguk ludahnya saat ia menjulurkan sepuluh keping emas di tangannya itu kepada nenek penjual sekaligus pengarang dongeng itu. Bukan jumlah yang besar baginya, tetapi amat berat bagi dirinya untuk mengucap banyak kata di hadapan nenek aneh itu.
“Hihihihi, engkau sangat pengertian kepada pengarang miskin seperti diriku ini, Anak.” Sambil tertawa geli, sang nenek menerima uang-uang itu dari tangan Mantingan. “Wanita tua ini tidak akan menolak berkah, hihihihihi!”
Mantingan tertawa gugup menanggapi tawaan orang itu yang boleh dikata cukup mengerikan juga jika didengar terlalu lama.
“Daku sangat berharap Ibu menulis lanjutan dari dongeng itu, pastilah daku akan menjadi orang pertama yang membelinya.”
Tawa geli dari si wanita tua memudar. “Tidak. Jangan engkau minta kepadaku.”
“Sebab bukan diriku yang akan melanjutkan kisah dongeng itu,” jawabnya.
“Lalu kepada siapakah daku akan bertanya?”
“Jangan bertanya kepada siapa-siapa, sebab engkau tidak akan mendapat jawabannya sama sekali.”
Dahi Mantingan semakin berkerut, hingga tampak bahwa kedua alisnya hampir-hampir bertaut menjadi satu. “Mengapakah lagi daku tidak akan mendapatkan jawabannya, Ibu? Bukankah kisah itu bakal ada kelanjutannya?”
“Benar sekali bahwa ada kelanjutannya. Tetapi tidak ada satupun orang yang bisa menulisnya dengan benar, tidak pula dengan diriku sendiri. Engkau mau tahu kenapa?”
“Kenapakah?”
“Karena pengembara muda itu belum menyelesaikan pengembaraannya!”
Perkataan si wanita tua itu berhasil dengan segera mengejutkan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina yang sedari tadi ikut menyimak percakapan mereka berdua.
__ADS_1
Namun tampak bahwa Mantingan sama sekali tidak terkejut, pemuda itu justru tersenyum lembut.
“Baiklah. Kuharap Ibu bisa menuliskan kisah pengembara muda itu jika petualangannya telah selesai.”
“Hihihihi! Jikalau daku cukup umur! Hihihihihi!”
“Kami izin undur diri. Semoga Ibu dipanjangkan umurnya!”
Setelah berkata seperti itu, Mantingan pun mengajak Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina untuk . Tawa geli dari sang wanita penjual dongeng itu mengiringi langkah mereka yang kian menjauh.
“Nenek tua, kau telah membahayakanku.” Seorang wanita muda berpakaian serba kuning tiba-tiba saja muncul di depan toko itu dengan raut wajah tidak sedap.
“He? Memangnya aku berbuat apa padamu?” Nenek tua itu melempar senyum lebar kepada si wanita muda.
“Kau hampir menunjukkan akhir kisahnya.”
“Tidak mungkin. Jika aku sendiri tidak tahu bagaimana akhir kisah pengembara itu, lalu bagaimanakah caranya kuceritakan akhir kisah itu kepadanya?”
“Tidak di waktu ini maupun di waktu kita, kau sama-sama mengesalkan.” Wanita muda itu mendengus tajam sebelum berjalan pergi meninggalkan toko penjual dongeng itu.
“Hihihihi. Dasar siluman tua bangka, apakah engkau akan meninggalkan benda itu di sini untuk pamer? Hihihihi!” Sang nenek tertawa lepas sambil tangannya menunjuk sebuah benda tipis berwarna keemasan yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan depan tokonya.
Si wanita muda berbalik, mendengus tajam, sebelum akhirnya bergerak memungut benda yang ditunjuk oleh sang nenek.
“Berhati-hatilah! Pemuda itu pasti akan menemukanmu! HIHIHIHIHI!”
“Aku akan lihat perjuangannya, wahai tua bangka yang hanya bisa mengarang cerita!” Si wanita muda berjalan menjauh sambil melambaikan tangan.
Tiada satupun orang di antara keramaian memperhatikan mereka. Atau lebih tepatnya, orang-orang itu tidak bisa melihat mereka.
___
catatan:
Penulis tidak akan menolak berkah, ayo dukung penulis di *karyak*rsa.com/WestReversed* mulai dari seharga nasi padang!
__ADS_1