
MANTINGAN merebahkan tubuhnya di atas ranjang sebelum membalas Bidadari Sungai Utara dengan malas, “Uangnya ada di pundi-pundiku. Ambillah sebanyak yang dikau butuhkan.”
Mata Bidadari Sungai Utara menyisir ke sekitar. Tidak sulit menemukan pundi-pundi tersebut sebab kamar Mantingan selalu tertata begitu rapi. Lantas gadis itu berjalan ke arah meja, di mana tempat itulah pundi-pundi Mantingan berada.
Ketika Bidadari Sungai Utara merogoh kantung pundi-pundinya, Mantingan kembali berujar dengan mata yang telah terpejam, “Saudari, daku berubah pikiran.”
Gerakan Bidadari Sungai Utara berhenti. Dipandanginya Mantingan dengan tatap mata sejuta pertanyaan.
“Ambil saja sebanyak yang dikau mau.” Suara Mantingan terdengar semakin pelan.
Di balik topengnya, Bidadari Sungai Utara mengerutkan dahi. “Saudara, sepertinya engkau sedang mengigau.”
“Tidak.” Mantingan membantah lemah. “Engkau membutuhkan uang, itu alasanku. Ambillah sebanyak yang dikau hendaki. Pakailah untuk sedikit menyenangkan diri dan anak-anak, tetapi jangan dipakai untuk beli tuak.”
“Mantingan, engkau benar-benar sedang mengigau. Tidak pernah kauberkata seperti ini sebelumnya. Daku akan tetap mengambil uang sebanyak yang dibutuhkan untuk membeli sarapan.” Bidadari Sungai Utara kembali menggerakkan tangannya, merogoh-rogoh pundi uang Mantingan.
Sedang pemuda yang tengkurap di atas kasur itu berdecak kesal. Ia membuka mata dan memalingkan wajah ke arah Bidadari Sungai Utara.
“Sasmita,” katanya, “apakah wajahku ini terlihat sedang mengigau?”
Kemudian suasana menjadi hening, sebelum akhirnya terdengar suara tawa kecil dari gadis itu. Bidadari Sungai Utara bergerak perlahan menghampiri Mantingan. Dia membuka topengnya, memperlihatkan wajahnya yang sempurna bagaikan purnama di malam tiada bermega. Lalu dengan suara yang halus dan lembut, dia berucap, “Dikau tidak terlihat mengigau, Mantingan, hanya terlihat amat sangat mengantuk. Butuhkah dikau sebuah tidur nyenyak?”
Mantingan tidak memberi tanggapan, tetapi kembali dadanya berdebar-debar ketika gadis itu mendekatkan diri kepadanya!
Tangan Bidadari Sungai Utara bergerak menyentuh punggung Mantingan. Mambuat Mantingan serasa tersambar petir!
“Sasmita, jangan berbuat macam-macam.” Mantingan berkata dengan tegas meskipun terdengar amat pelan. “Daku tidak bisa berkelebat lagi karenamu.”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara tidak menghiraukan. Mantingan merasakan sesuatu yang hangat menyeruak masuk ke dalam tubuhnya berasal dari sentuhan telapak tangan Bidadari Sungai Utara. Sesaat kemudian, Mantingan mengetahui bahwa gadis itu tengah mengalirkan tenaga prana kepadanya.
“Siapakah yang menyuruhmu melesat pergi begitu saja meninggalkanku, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara berbisik pelan.
“Sasmita ....” Mantingan tidak mampu melanjutkan perkataannya untuk mengusir gadis itu. Sungguh ia merasa dalam seperti di dalam buaian penuh kelembutan. Diselimuti kenyamanan tiada terkira. Bagaikan berkemul di dalam lautan cahaya pudar yang takhentinya memberi perlindungan. Kehangatan dan kasih sayang merabai seluruh tubuhnya; dan menyentuh benak perasaannya.
“Dari manakah engkau menyangka bahwa itu adalah nama asliku, Mantingan?”
Mantingan tidak sanggup lagi. Buaian itu membuat kesadarannya menjadi benar-benar samar laksana senjakala. Lautan cahaya pudar itu terasa mengombang-ambingnya. Dan kasih sayang itu seolah melindungi sosok kecil Mantingan dari segala macam marabahaya. Pemuda itu betapa pun pada akhirnya terlelap pulas.
***
MANTINGAN segera bangkit setelah mendapatkan kembali kesadarannya. Dengan buncah, dilihatnya ke sekitar. Disadarinya, Bidadari Sungai Utara sudah pergi.
Kamarnya gelap, yang pada awalnya ia mengira bahwa hari telah menjadi malam, tetapi kemudian disadarinya bahwa jendela dalam keadaan tertutup dan menghalangi sinar mentari masuk.
“Sasmita pasti menutupnya untuk memastikanku tidak diserang tiba-tiba.” Mantingan bergumam pada dirinya sendiri, kemudian diingatnya sesuatu hal setelah menyebut nama gadis itu.
Tadi Mantingan terlelap begitu pulas dalam buaian kenyamanan di lautan cahaya pudar, dan mungkin saja Bidadari Sungai Utara menyebutkan namanya yang sebenar-benarnya ketika itu. Dapatkah Mantingan bertanya kembali kepadanya? Atau sekadar menggali kembali tumpukkan ingatannya? Atau sekaligus pula menanyakan apa saja yang telah gadis itu lakukan selama dirinya tertidur pulas?
Sekejap Mantingan teringat bagaimana Bidadari Sungai Utara telah mampu mengantarnya menuju kepulasan dan kenyamanan yang tiada kentara pagi tadi. Mantingan tahu, gadis itu tidak hanya mengalirkan tenaga prana saja, melainkan sesuatu lain yang mungkin saja tiada berbentuk dan tiada dikenali namun tetap ada. Apakah itu?
Mantingan benar-benar penasaran. Jika saja ia mengetahui cara yang dipakai Bidadari Sungai Utara, mungkin ia mampu mendapatkan tidur yang jauh lebih nyenyak dan berkualitas kedepannya. Tetapi kemudian Mantingan menyadari, bahwa seorang pendekar alangkah buruknya jika tidurnya terlalu nyenyak dan pulas. Mantingan putuskan untuk tidak menanyakan soal itu sedaripada ia menyesal setelah mengetahuinya.
Mantingan mengubah bentuk duduknya menjadi bersila. Ia akan memulai samadhi untuk mengisi ulang tenaga dalam yang kemarin malam habis terpakai untuk mempraktikkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun tanpa henti.
Namun ketika Mantingan bersamadhi, tanpa sengaja ia mendengar suara gaduh yang kedengarannya berasal dari lantai bawah penginapan. Suara itu terdengar sayup-sayup saja, maka Mantingan mulai menajamkan pendengarannya dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
__ADS_1
Betapa kemudian wajahnya menjadi pucat pasi!
“Daku sama sekali tidak takut pada kalian semua! Akan kulindungi kehormatanku dengan nyawaku!”
“Ayolah, kami hanya memintamu untuk membuka topeng dan memperlihatkan rupa wajah. Bukankah itu hal yang mudah sekali untuk dilakukan?”
Suara lain menyahuti, “Begini saja! Kami juga akan membuka topeng kami asalkan dikau mau melakukannya lebih dahulu. Tapi karena kami tidak mengenakan topeng sama sekali, maka kami terpaksa menukarnya dengan pakaian kami. Bagaimana, bukankah itu penawaran yang menarik?”
“Lagi pula, dikau sama sekali tidak membawa senjata, bukan? Sedangkan kami semua masing-masing membawa pedang besar yang mampu membelah tubuhmu menjadi dua. Kami pula adalah pendekar. Menyerah sajalah pada kami, harapan dikau amat sangat kecil.”
Terdengar suara decihan. “Daku tidak akan pernah sudi, lebih baik mati di sini daripada menuruti kemauan kalian! Majulah!”
“Hehehe! Tidak apa. Kami lebih menyukai perempuan garang seperti dikau. Semoga setelah kami cabut paksa topeng gembel itu dari wajahmu, engkau akan mengerti seberapa kami terlalu bahaya untuk engkau hina seperti ini.”
Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi. Meski tenaga dalamnya belum terisi sepenuhnya, bahkan masih dapat dikatakan sedang kekurangan, ia tetap berkelebat. Dibukanya jendela kamar dengan satu dorongan besar.
Tidak digunakannya ilmu meringankan tubuh, melainkan justru ilmu memberatkan tubuh. Barulah ketika tubuhnya hanya tinggal satu depa dari permukaan tanah, Mantingan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga dapat mendarat bagaikan sehelai kapas tipis.
Dengan perasaan yang masih buncah, Mantingan kembali berkelebat secepat petir ke arah pintu masuk penginapan.
Kebuncahan adalah sesuatu yang mematikan jika sedang atau akan menghadapi pertarungan. Itu adalah kesalahan terbesar bagi pendekar setelah kelengahan. Namun, betapakah bisa Mantingan menahan kebuncahannya jikalau suara perempuan yang didengarnya itu adalah suara Bidadari Sungai Utara?!
Ini bukan saja tentang keselamatan Bidadari Sungai Utara, melainkan pula tentang kerahasiaan rencana penyergapan yang telah disusun rapi oleh Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih.
Boleh dikata jikalau rencana itu sampai bocor ke tangan musuh, kekacauan di Negeri Taruma akan bertambah jauh lebih banyak dan bahkan bisa tidak terkendali lagi. Meruntuhkan segala peradaban yang telah dibangun Rajadirajaguru berpuluh-puluh tahun silam.
Itu adalah dua hal yang paling Mantingan takutkan. Bagaimanakah bisa ia tidak buncah?
__ADS_1
Sampai pula ia di lantai dasar penginapan manakala pedang musuh hanya tinggal sejengkal dari batang leher Bidadari Sungai Utara!