Sang Musafir

Sang Musafir
Keadaan di Pemukiman Kumuh Kotaraja


__ADS_3

SUNGGUH Mantingan tidak tahu harus membalas apa, dan sekalipun tahu, ia tidak akan mau menanggapi pertanyaan yang sekiranya tidak pantas itu.


Maka Chitra Anggini kembali mengajukan pertanyaan, “Ke manakah kita bertujuan sekarang?”


“Pemukiman Kumuh Kotaraja,” balas Mantingan singkat.


“Hendak berbuat apa lagi di sana?” Raut wajah Chitra Anggini seketika itu pula memburuk. Pemukiman Kumuh Kotaraja adalah tempat menjijikkan sekaligus berbahaya baginya.


“Membagikan makanan,” jawab pemuda itu. “Aku masih memiliki cukup banyak daging siluman untuk dibagikan. Setidaknya, itu akan cukup untuk menghidupi mereka selama beberapa bulan ke depan.”


“Jangan bertindak semaunya tanpa perhitungan matang.” Kembali Chitra Anggini menatapnya. “Mereka telah memperingati kita untuk tidak bertindak macam-macam di tempat itu.”


Tentulah yang Chitra Anggini maksud sebagai “mereka” adalah pendekar-pendekar bawah tanah yang menguasai Pemukiman Kumuh Kotaraja sepenuhnya. Mantingan pun masih belum melupakan kejadian di malam ketika dirinya hampir terbunuh akibat sihir lawan yang terlampau kuat.


Namun, kini Mantingan memiliki sedikit rasa percaya diri untuk dapat menghadapi mereka. Bukankah dirinya telah menguasai sihir yang sama pula, dan bahkan telah sampai pada tingkatan tertinggi dari penguasaan ilmu tersebut? Tidakkah dirinya dapat mengeluarkan ribuan pisau terbang yang terbuat dari batu itu dalam waktu sekejap mata saja?


“Mereka hanya memperingati kita untuk tidak mencari masalah. Menurutmu, apakah yang kita lakukan di sana adalah mencari masalah?” Mantingan membalas.


“Kita tidak benar-benar mengetahui apa yang dimaksud sebagai ‘masalah’ oleh mereka. Tindakanmu memang dapat dianggap sebagai pemecahan masalah bagi orang-orang terlantar di Pemukiman Kumuh Kotaraja, tetapi bagaimanakah jika hal tersebut justru dianggap sebagai ancaman bagi para penguasa yang menghuni tempat itu?”


“Jika hal tersebut sampai terjadi, maka kita harus menghadapinya.” Mantingan tersenyum lebar di balik bayangan capingnya, membuat Chitra Anggini sama sekali tidak dapat mengerti dengan tingkahnya itu.


“Hebatnya dirimu, mencari masalah lain ketika masalah lampau masih belum terselesaikan.”

__ADS_1


“Tidak. Aku melakukan ini justru dapat membantu penyelesaian masalah kita.”


“Bagaimana caranya?”


Mantingan kemudian mengeluarkan lencana yang diberikan kepada seluruh tamu Perhelatan Cinta, termasuk pula dirinya. Namun lencana miliknya telah terikat pada seutas tali hingga menyerupai sebuah kalung. Chitra Anggini tetap menggeleng pelan, tanda bahwa dirinya tidak mengerti dengan apa yang Mantingan maksudkan.


“Lencana ini berlambang panji kerajaan. Siapa pun yang melihatnya sekilas akan menyangka kita sebagai orang dari istana.”


Chitra Anggini terpekur untuk sesaat sebelum akhirnya mengerti pula dengan siasat Mantingan itu!


“Licik!” seru Chitra Anggini setengah mengumpat, tetapi meskipun begitu dirinya tetap berbisik kecil.


Mantingan hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan tersebut lebih jauh, sebab betapa pun Kiai Guru Kedai memang telah berkata kepadanya:


Tak seberapa lama kemudian, mereka tiba di gapura Pemukiman Kumuh Kotaraja, yang kini telah tampak sedikit lebih membaik ketimbang sebelumnya.


Tidak lagi tampak mayat yang bergelimpangan tanpa ada yang mengurus. Sampah-sampah pun telah dibersihkan. Aroma tak sedap tiada lagi menguar udara. Hanya saja, betapa pun adanya bangunan-bangunan di dalamnya sama sekali tidak berubah.


“Aku telah memberikan sedikit pelajaran tentang keberadaban pada mereka.” Chitra Anggini setengah mencibir, “ketika diberikan makanan, mereka baru mendengarkan segala apa yang kukatakan! Tetapi bila tidak ada makanan, maka tiada pula segala apa yang masuk ke telinga mereka.”


Keduanya kemudian berjalan melewati gapura tersebut. Terlihat beberapa orang berlalu-lalang di atas jalanan yang kini telah bersih dari segala gangguan. Mereka melirik sepintas pada Mantingan dan Chitra Anggini, tetapi orang-orang itu tidak tampak mengenali keduanya, meski sebenarnya dalam benak seluruh penduduk di tempat itu telah mengukir wajah Chitra Anggini ketika membagikan makanan dengan sejelas-jelasnya.


Namun, siapakah yang dapat mengenalinya dalam keberadaan mantra sihir bayang-bayang?

__ADS_1


Dengan cepat, Mantingan dan Chitra Anggini tiba di Penginapan Permata Malam, sebuah penginapan yang selalu mereka sambangi ketika berkunjung ke Pemukiman Kumuh Kotaraja. Di sana, terlihat seorang pemuda kurus yang mereka kenali sedang berjaga di selaras penginapan. Ketika melihat keduanya, pemuda tersebut langsung dapat mengenali mereka.


“Dua pahlawan dermawan, kalian datang kembali!” Dengan senyum semringah, pemuda itu bergegas menghampiri keduanya.


Mantingan lekas memberi isyarat kepada pengurus penginapan itu untuk tenang, diterjemahkan dengan mengangkat sebelah tangannya. Akan merepotkan bila orang-orang di Pemukiman Kumuh Kotaraja mengetahui kehadirannya sebelum ia siap menyambut mereka.


“Bagaimana kabarmu dan orang-orang di sini?” Mantingan langsung mengajukan pertanyaan tanpa basi-basi, kendati pertanyaan itu terkesan basa-basi semata.


“Semuanya membaik berkat Pahlawan. Tidak satupun dari kami ada yang kelaparan. Mayat-mayat tidak lagi menjadi santapan.” Pemuda itu menceritakan seolah keadaan di tempat tersebut telah berubah menjadi sebaik-baiknya, meski badannya masih tampak amat kurus sehingga siapa pun yang melihatnya akan selalu berpikiran tentang kemelaratan.


“Kudengar begitulah memang, tetapi kulihat dadamu masih menonjolkan tulang-belulang.” Mantingan menggeleng pelan. “Apakah makanan yang ada kurang banyak?”


Dengan sedikit rasa tidak enak, pemuda ringkih itu menjelaskan, “Maafkan sahaya yang berkata lancang, Pahlawan Dermawan, tetapi haruslah sahaya akui bahwa makanan yang tersedia saat ini tidak cukup banyak untuk seluruh orang di pemukiman ini. Meskipun kami tidak merasa lapar seperti biasanya, kami tetap harus berhemat agar makanan tidak cepat habis.”


Melanjutkan penjelasannya tanpa terputus, pemuda itu menceritakan bahwa rerata penduduk di Pemukiman Kumuh Kotaraja hanya makan dua hari sekali dengan daging siluman pemberian Mantingan. Meskipun begitu, persediaan makanan diperkirakan hanya dapat bertahan sampai satu purnama ke depan.


“Penduduk telah berusaha semampu mungkin agar daging-daging yang diberikan oleh Pahlawan dapat lebih mengenyangkan. Termasuk dengan memasaknya menjadi sup kemudian ditaburkan serbuk kayu atau rerumputan. Jika beruntung, beberapa keluarga bisa mendapatkan potongan kayu yang lebih muda atau rumput yang lebih segar. Tetapi jika tidak beruntung, mereka hanya akan mendapatkan kayu berayap atau rumput kering.” Pemuda ringkih itu menyelesaikan penjelasannya dengan gelengan kepala.


“Duhai! Kalian ini manusia atau kambing?” Tetiba saja Chitra Anggini menyambar dengan kalimat menohok. “Jika memang tidak ada makanan, maka bekerjalah mencari uang, bukannya pasrah begitu saja pada keadaan tanpa ada kehendak mengubahnya.”


Mantingan menatap Chitra Anggini dengan teramat tajam, begitu tajam, hingga bahkan mantra sihir bayang-bayang itu tidak kuasa banyak menahan ketajamannya. Ketika ia ingin melayangkan teguran keras padanya, tanpa diduga pemuda ringkih itu membalas.


“Bukanlah seperti itu kehendak kami, Puan. Sungguhlah ketika sudah mempunyai tenaga untuk sekadar berjalan kaki, kami malang-melintang di kotaraya ini untuk mencari pekerjaan. Kami akan menerima apa saja, bahkan membersihkan tahi manusia pun bukanlah perkara sama sekali. Tetapi begitu orang-orang kotaraja mengetahui bahwa kami berasal dari pemukiman kumuh, kaum yang dianggap lebih rendah dari Astacandala, maka begitu saja mereka mengusir kami tanpa mau melihat atau sekadar mendengar kemampuan kami. Sungguhlah menyedihkan bagi kami semua, ketika salah satu dari kawan sampai sekarat di ambang kematian akibat pengusiran.”

__ADS_1


__ADS_2