
MANTINGAN MENARIK napasnya dalam-dalam sebelum melangkah menuju bangku tersebut. Sungguh, ia tidak memiliki pilihan lain. Ditariknya bangku itu, kemudian duduk di atasnya. Tangan Mantingan diam-diam menempelkan Lontar Sihir pelindung di belakang bangku dan di bawah meja.
Mantingan menatap Pendekar Sanca Merah. Menunggu.
“Tanpa dikau katakan pun, daku sudah mengetahuinya.” Mantingan berkata pelan tak lama kemudian, “dikau dibayar Perkumpulan Pengemis Laut untuk menangkap diriku, bukan?”
Pendekar Sanca Merah menyunggingkan senyum. “Ternyata apa yang dikatakan orang-orang tentang diri Tuan tidaklah berlebihan. Tuan bisa membaca pertanda, selayaknya Kiai Kedai. Tetapi ada sedikit keliruan, Tuan. Daku datang bukan untuk menangkapmu, tetapi untuk membunuhmu.”
“Jika kau bermaksud membunuhku, maka cobalah.” Mantingan meletakkan Pedang Kiai Guru Kedai yang tidak tersarung di atas meja.
“Tuan, seperti apa yang sahaya katakan tadi, sahaya lebih menyukai perdamaian ketimbang pertarungan.” Pendekar Sanca Merah menghisap cangklongnya. Amat sebentar kemudian, ia mengembuskan asap melalui hidungnya. “Inilah yang sahaya ingin rundingkan dengan Tuan. Apakah Tuan mau secangkir Tuak untuk menemani pembicaraan?”
“Tidak perlu berbasa-basi.” Mantingan menjawab dingin tetapi tenang.
“Atau cangklong? Sahaya bisa berbagi cangklong dengan Tuan.”
Mantingan memilih diam. Sekian lamanya ia terdiam.
Perempuan itu tertawa. “Tuan sangat lucu. Hanya Tuan saja yang menolak tawaran minum dari sahaya. Jika saja keadaannya tidak sedang begini, mungkin nyawa Tuan sudah lama pupus di tangan sahaya.”
Mantingan tetap diam menunggu kata-kata yang selanjutnya dikeluarkan perempuan itu. Itu dilakukannya karena ia masih belum dapat melihat batas kekuatan lawan. Meskipun ia telah melihat banyak pertanda di dalam sorot matanya, tetapi tetap saja tidak mampu melihat kekuatannya. Maka dari itu, Mantingan telah bertindak bijak dengan diam dan diam.
Pendekar Sanca Merah meneguk sedikit air beraroma pekat di dalam cawannya, selepas itu berkata, “Benar jika Perkumpulan Pengemis Laut membayar sahaya, Tuan. Tetapi bagi sahaya, bayaran mereka tidaklah terlalu besar untuk pekerjaan seperti ini. Membunuh Tuan bukanlah tidak memiliki tantangan dan akibatnya sendiri ....”
“Berapa bayaran mereka untuk membunuhku?”
__ADS_1
Pendekar Sanca Merah tersenyum sambil berkata, “Dua puluh Batu, Tuan. Apakah Tuan memiliki sumber daya sebanyak itu?”
Mantingan diam sejenak. Jelas saja, ia tidak memiliki uang sebanyak itu. Bahkan hartanya dan harta Bidadari Sungai Utara jika digabungkan pun tidak akan memenuhi jumlah tersebut. Mantingan kemudian menggeleng.
“Jika Tuan tidak memilikinya, maka sahaya terpaksa menjalankan tugas yang telah diberikan kepada sahaya.”
Mantingan mengangguk. “Pendekar Sanca Merah, diriku tidak mengetahui apakah di bangunan yang telah engkau curi ini masih ada manusia hidup ataukah tidak. Daku tidak ingin membahayakan mereka. Bagaimanakah jika kita bertarung di luar sahaja?”
“Pemikiran yang bagus, Tuan. Akan tetapi, sahaya tidak suka bertarung. Sahaya lebih suka menggunakan akal pikir untuk menyelesaikan masalah ini. Lagi pula, sudah tidak ada manusia bernyawa di bangunan ini.”
Tercipta jarak yang dimakan kesunyian malam.
“Ketahuilah, Tuan, bahwa sahaya telah menyewa puluhan pendekar ahli untuk mengepung perkemahanmu. Di antara mereka, Tuan, terdapat ahli sihir yang kemampuannya telah jauh melampaui kemampuan Tuan.”
Mantingan menggeleng pelan. Mantra yang dipasangnya bukanlah mantra sembarangan, sekalipun itu termasuk mantra terendah dari seluruh mantra yang dikuasainya. Tidak mudah untuk mematahkannya. Dan apakah ahli sihir yang disebut Pendekar Sanca Merah memang memiliki kemampuan yang melampaui Mantingan?
“Cukuplah daku mengirimkan sebatang panah sendaren, mereka akan menyerang perkemahanmu.”
“Bertarunglah menggunakan jiwa kependekaran. Seorang pendekar mencari kesempurnaan, bukannya harta.”
“Masa itu telah berlalu, Tuan. Kesempurnaan hanyalah omong kosong yang biasa diagung-agungkan orang tua!”
“Bertarunglah denganku, Pendekar Sanca Merah. Mereka tidak ada hubungannya dengan persoalan kita.”
“Tetapi mereka memiliki hubungan denganmu, Pahlawan Man!”
__ADS_1
Suasana menjadi tegang dalam waktu yang teramat sangat singkat. Baik Mantingan maupun Pendekar Sanca Merah berbicara dengan suara keras. Seolah pertarungan dapat terjadi kapanpun.
“Lalu apakah yang engkau kehendaki dariku, wahai Pendekar Sanca Merah?!” Mantingan meremas gagang pedangnya dengan teramat geram.
“Bunuhlah dirimu di depan mata sahaya, Tuan.” Pendekar Sanca Merah memelankan suaranya. “Maka setelah Tuan melakukan itu, sahaya akan meninggalkan Bidadari Sungai Utara dan orang-orang yang Tuan sayangi.”
Begitu terkejut Mantingan setelah mendengar perkataan perempuan itu. Membunuh dirinya sendiri? Ia tidak pernah terpikirkan hal seperti ini sebelumnya. Mantingan sungguh-sungguh tidak memiliki rencana. Lalu apakah yang semestinya ia lakukan sekarang? Nyawa ketiga orang yang ia sayangi berada dalam bahaya, tetapi membunuh diri bukanlah hal yang mudah!
Mantingan tahu bahwa kedudukannya benar-benar sial kali ini. Pendekar Sanca Merah nyatanya mampu menguasai Golek Jiwa yang kehebatannya setara dengan pendekar ahli. Padahal itu hanyalah golek kayu tak bernyawa. Lebih-lebih ilmu meringankan tubuh Pendekar Sanca Merah teramat tinggi, hingga-hingga Mantingan tidak dapat menyadari pergerakannya.
Apakah yang sebaiknya ia lakukan?
Kembangmas masih belum ditemukan. Janjinya dengan Kenanga harus ditepati. Mantingan bukanlah orang yang suka ingkar janji. Tetapi di sisi lain, ia mengetahui bahwa keselamatan nyawa Bidadari Sungai Utara pula merupakan janjinya. Dua janji itu ... salah satunya mesti dikorbankan. Tetapi yang manakah?
Mantingan mengembuskan napasnya. Dipandanginya bilah Pedang Kiai Guru Kedai. Apakah darahnya akan membasahi pedang itu? Apakah pedang itu akan menukar nyawanya dengan keselamatan Bidadari Sungai Utara atau justru sebaliknya?
“Mengapakah daku harus membunuh diriku sendiri dan bukannya dikau?”
“Tuan Man,” kata perempuan itu lembut, “sekalipun sahaya mengetahui bahwa kedudukan sahaya jauh lebih menguntungkan ketimbang Tuan, tetap saja sahaya tidak mau mengambil tanggungan dengan menempur Tuan.”
“Di manakah jati dirimu sebagai pendekar?” Mantingan mengangkat wajahnya. “Katakan padaku, di manakah?”
“Letaknya di suatu tempat yang tiada terkira sebelumnya, Tuan. Jujur, sahaya masih belum mengetahuinya. Tetapi dengan kekayaan yang melimpah, sahaya akan mendapatkan jati diri kependekaran dengan sangat mudah.”
“Aliran hitam ....” Mantingan mendesis, “segala cara dilakukan demi mencapai kepuasan diri.”
__ADS_1
Pendekar Sanca Merah tertawa. “Sahaya tidak peduli, Tuan. Jalan dan tujuan kita berbeda. Janganlah Tuan berucap sok tahu, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut busuk itu hanyalah omong kosong.”