Sang Musafir

Sang Musafir
Kenangan yang Mengharubiru


__ADS_3

SETELAH mendengar penjelasan dari pemuda ringkih penjaga penginapan itu, tatapan Mantingan terhadap Chitra Anggini semakin tajam. Tak perlu sulit mengartikannya, Mantingan meminta perempuan itu untuk tidak mengeluarkan perkataan yang sekiranya menyakitkan seperti itu lagi.


“Di manakah temanmu yang sekarat itu saat ini?” Mantingan bertanya.


“Ada di rumahnya, Pahlawan. Tak jauh dari tempat ini, jaraknya hanya selesatan anak panah. Keluarganya berkumpul untuk menungguinya dijemput ajal.”


“Bawa daku ke tempat itu,” kata Mantingan kemudian, “mungkin aku bisa membantu beberapa hal.”


“Baiklah, Pahlawan, mohon ikuti langkah sahaya.”


Ketika pemuda itu mulai berjalan, dan Mantingan pun menapakkan kakinya, beserta Chitra Anggini pula, tetiba saja Mantingan berhenti dan berdeham beberapa kali. Sontak yang lainnya pun menghentikan langkah.


“Chitra, kau tidak perlu mengikutiku. Kumpulkan saja setiap kepala keluarga dari seluruh penduduk di pemukiman ini, atau perwakilannya pun juga tidak mengapa selagi dapat dipercaya.”


Chitra Anggini mengerutkan dahi di balik bayang-bayang capingnya itu. Dirinya merasa bahwa Mantingan memiliki alasan yang jauh lebih kuat ketimbang hanya memberinya tugas mengumpulkan setiap kepala keluarga yang ada di Permukiman Kumuh Kotaraja, tetapi dia tidak mengetahuinya.


Lantas perempuan itu bertanya, “Bagaimanakah kiranya jika sampai terjadi sesuatu padaku?”


Mantingan kembali terbatuk pelan. Benar-benar tidak menyangka bahwa Chitra Anggini akan meminta perlindungan secara terang-terangan kepadanya tanpa perasaan malu sedikipun. Bukankah sebagai pendekar, dia tidak perlu mengkhawatirkannya apa pun?


“Kau masih memiliki Lontar Sihir pemberianku itu, bukan?”

__ADS_1


Menanggapi jawaban itu, Chitra Anggini hanya dapat mengangguk sebelum menundukkan kepala. Jelas sekali perempuan itu mengetahui bahwa tidak terdapat pilihan lain baginya selain menurut.


“Setelah semua kepala keluarga terkumpul, maka sewalah satu kamar di Penginapan Permata Malam. Kau harus membaca lontar tersebut barang secepat mungkin.”


Tentulah Chitra Anggini mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Mantingan. Sekeropak lontar pemberian Puan Kekelaman yang berisi bahasa dan aksara sandi itu harus dibacanya segera. Waktu mereka di Perhelatan Cinta hanya tersisa empat hari lagi, sedang tidak ada jaminan bahwa isi dari lontar-lontar tersebut berhasil terbaca semua dalam waktu sesingkat itu.


“Baiklah,” ujar Chitra Anggini pada akhirnya. “Jangan terlalu lama, dan berhati-hatilah. Aku mungkin tidak dapat menyelamatkanmu lagi di tempat ini.”


Mantingan mengangguk sambil melempar senyum meyakinkan sebelum berjalan pergi bersama pemuda pengurus penginapan itu.


***


KETIKA Mantingan memasuki ruangan yang menjadi tempat tinggal dari orang yang sekarat akibat pengusiran itu, suara-suara tangisan sudah dapat terdengar dengan alangkah jelasnya. Bagi sesiapa yang mendengar paduan suara tersebut, maka akan meremang bulu kudunya. Termasuk pula Mantingan. Tangisan-tangisan itu adalah nyanyian pengantar kematian yang selalu berkumandang dari orang-orang tersayang yang ditinggalkan!


Mantingan berjalan semakin cepat, hingga ia menemukan kerumunan orang yang mengitari sebuah ranjang lapuk. Dari merekalah suara-suara tangisan itu berasal. Sedangkan di atas ranjang tersebut, tampaklah seorang pria dengan luka lebam di sekujur tubuh, terbaring tak berdaya dengan pakaian compang-camping.


“Oh, suamiku! Mengapa engkau pergi ketika berkah telah turun dari langit? Betapa kejam takdir yang tidak membiarkan engkau bersenang-senang meski untuk sesaat saja!”


Mantingan berhenti melangkah setelah mendengar itu. Secara terang-terangan, wanita yang menjadi istri dari pria itu telah menyatakan bahwa suaminya meninggal. Maka dengan begitu, tidak ada lagi hal yang bisa dilakukannya. Seberapa pun sakti dirinya, Mantingan tetap tidak dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati.


Namun, sesaat kemudian Mantingan kembali melangkah menuju ranjang itu. Tanpa permisi, Mantingan menyibak kerumunan orang-orang yang sedang berduka. Tak peduli jika mereka menganggapnya tidak sopan, betapa pun dirinya tidak memiliki banyak waktu!

__ADS_1


Mantingan menyentuhkan ujung kedua jarinya pada leher pria malang tersebut. Tidak terasa lagi adanya denyut nadi. Namun ketika kemudian diedarkannya tenaga prana menuju tubuh pria itu, maka Mantingan menemukan bahwa jantung si pria masih berdetak meski gerakannya amat lemah!


Ketika Mantingan baru saja hendak melangsungkan penyelamatan, tiba-tiba istri dari pria itu menarik-narik lengannya dengan teramat kuat, lantas berteriak keras bagai orang kesurupan, “Tuan! Tuan bisa menyelamatkannya? Selamatkanlah dia, Tuan, tiada sesiapa lagi yang kumiliki selain dirinya! Selamatkan dia, Tuan! Selamatkan dia! Akan kulakukan apa pun untukmu!”


“Tenanglah!” Mantingan berkata tegas. “Akan kulakukan apa yang bisa kulakukan, tetapi jika Puan begini adanya, daku tidak bisa berbuat apa-apa!”


Maka sekejap setelahnya, perempuan itu melepaskan cengkeramannya dari tangan Mantingan, tetapi tetap saja memohon-mohon agar suaminya dapat diselamatkan.


Mantingan kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada pria di hadapannya itu. Diletakkanlah kedua telapak tangannya pada dada si pria. Memantapkan bentuk tubuh berang sejenak, ia lantas bergumam kecil pada dirinya sendiri, “Ini seharusnya tidak sulit dilakukan. Sasmita telah mengajarkannya betul-betul kepadaku.”


Perlahan-lahan, aliran tenaga prana memasuki tubuh pria itu melalui kedua telapak tangan Mantingan. Jumlahnya teramatlah besar, hingga bahkan membuat tubuh pria itu sedikit bercahaya akibatnya. Lantas kemudian, Mantingan memusatkan seluruh edaran tenaga prana menuju jantung pria tersebut, sebab terlebih dahulu jantung harus dibuat berdetak untuk memastikan darah tetap mengairi tubuh sebelum mengobati luka-luka lainnya.


Dalam waktu singkat, jantung pria itu telah dibuat berdetak seperti sediakala. Dadanya kembali kembang-kempis. Udara mulai keluar-masuk dari hidungnya, meski tak dipungkiri tetap tersengal-sengal.


Setelah itu, Mantingan mulai mengobati luka-luka dalam yang sungguh teramat banyak bersarang di tubuh pria itu. Tulang-belulang yang sebelumnya patah dan berada di tempat tak seharusnya, kembali diperbaiki oleh tenaga prana. Begitu pula dengan organ-organ lain yang sedikit banyak rusak oleh benturan benda tumpul. Beruntunglah tiada yang menggunakan senjata tajam untuk menyerang pria malang itu, atau akan sulit bagi siapa pun untuk menyelamatkannya!


Ketika pengobatan telah mendekati tahap akhir, ditandai dengan jari-jari pria itu yang mulai bergerak meski kecil-kecil, seluruh orang yang berada di ruangan itu memanjatkan rasa syukur tinggi pada batara dewa. Perhatian mereka pun mulai teralihkan menuju Mantingan, sebagai satu-satunya orang yang dianggap sebagai penyelamat, tetapi lantas mereka kebingungan sebab menemukan mata pemuda itu telah basah basah.


Mantingan tentunya tidak menjadi terharu sebab telah berhasil menyelamatkan pria malang itu, melainkan oleh sebuah kenangan manis sekaligus pahit yang telah kembali hinggap di pikirannya.


“Sasmita, daku berhasil melakukannya. Tidak jadi sia-sia dikau mengajariku.” Mantingan bergumam teramat perlahan sambil perlahan pula memejamkan matanya. Betapa ingatan tersebut telah mengharu-biru seluruh isi pemikirannya, hingga bahkan tidak dapat memikirkan betapa orang-orang di ruangan itu masih menyaksikannya yang hampir menumpahkan air mata.

__ADS_1


Barang selintas kemudian, tanpa dibimbing oleh apa pun, Mantingan bergerak meninggalkan ruangan itu. Tidaklah sampai perhatiannya cukup untuk membalas orang-orang yang bertekuk lutut sambil menyampaikan sedalam-dalamnya rasa terima kasih. Ia terus berjalan begitu saja, bagai tiada menentukan arah, tanpa pula dirinya sadari betapa berbondong-bondong orang sedang mengikutinya dari belakang!


__ADS_2