Sang Musafir

Sang Musafir
Wiraga, Wirama, Wirasa


__ADS_3

Lengan kanan mereka mulai diturunkan hingga sebatas dada. Mereka menjulurkannya ke samping kanan pula. Ketika itulah suara kecapi dan kerincingan mulai terdengar.


Setelah lengan, kini mereka mengulurkan sebelah kakinya ke sisi kanan sebelum melompat dan berputar di udara satu kali. Saat kembali mendarat ke tanah, kedua lengan mereka telah direntangkan ke samping. Suara-suara yang berasal dari seluruh ayat bebunyian semakin kencang terdengar. Tarian yang sebenarnya baru akan dimulai, ketika Mantingan mendengar suara kelebatan-kelebatan dari arah hutan di belakangnya!


***


MANTINGAN tetap terpekur di tempatnya. Meski telah jelas didengarnya suara kelebatan-kelebatan itu, ia sama sekali tidak menunjukkan tanggapan. Bahkan untuk sekadar menahan napas pun tidak.


Mantingan tidak mengetahui siapa saja yang datang kali ini. Namun menelisik dari cara mereka yang sembunyi-sembunyi di balik kerimbunan pohon serta kegelapan malam, Mantingan tahu bahwa mereka tidak datang dengan niatan yang baik.


Apakah mereka hanya ingin sekadar melihat Tarian Daun Jatuh yang betapa pun dikatakan menyimpan ilmu persilatan tingkat tinggi, ataukah justru berniat menyerang salah satu kelompok atau bahkan kedua kelompok yang ada di tanah lapang ini? Mantingan tidak mengetahuinya, tetapi ia akan menunggu untuk mengetahuinya.


Tarian terus berlanjut. Gerakan kelima penari itu semakin cepat dan lincah. Tubuh mereka bagaikan tidak memiliki tulang sebab dapat meliuk-liuk sedemikian rupa bagaikan ular! Tetapi bahkan ular pun memiliki tulang.


Tarian itu menitikberatkan pada gerakan tangan dan kaki. Biasanya, tarian-tarian yang dimainkan oleh para wanita wayang menitikberatkan pada gerakan pinggul dan perut, sebab bagian itulah yang paling disukai oleh lelaki. Namun, hal itulah yang membuat Tarian Daun Jatuh membuktikan bahwa dirinya bukanlah sekadar tarian biasa, melainkan tarian yang menyimpan ilmu persilatan.


Sebagai seorang pendekar yang sudah dapat dikatakan ahli, terlebih lagi dengan kemampuannya dalam membaca pertanda, Mantingan sungguh dapat melihat di mana saja letak ilmu persilatan dalam Tarian Daun Jatuh, yang tidak lain dan tidak salah adalah pada seluruh gerakannya!


Saat mereka mengulurkan kakinya ke samping, ke depan, maupun ke belakang, itu membentuk suatu kuda-kuda kokoh yang betapa pun terlihat sangat indah juga. Ketika mereka melompat dan berputar di udara dengan begitu cepatnya, itu membentuk suatu gerakan menghindar sekaligus menyerang balik dengan secepat-cepatnya pula. Dan gerakan tangan yang mereka peragakan pula membentuk gerakan-gerakan menyerang maupun menangkis ketika menggunakan pedang, meskipun saat memainkannya mereka sama sekali tidak memegang pedang.

__ADS_1


Tarian kelima perempuan itu akan terlihat sangat indah di mata orang awam, tetapi mengerikan di mata pendekar rimba persilatan, sebab betapa tarian itu akan amat sangat mematikan jika digunakan dalam pertarungan.


Kelima perempuan itu terus menari. Kini mereka berbaris dan mulai mengelilingi api unggun yang semakin berkobar gila. Peluh menetes dari dagu mereka, jatuh di rerumputan bagaikan setetes embun pagi. Mantingan jadi berpikir, apakah Kartika benar-benar tidak menyadari bahwa tempat ini telah dikepung oleh pendekar-pendekar yang tidak dikenali dan tidak pula diundang? Ataukah memang sudah mengetahui, tetapi memilih untuk tidak mempermasalahkannya?


Mereka tampak begitu larut dalam tarian. Raga mereka dengan tarian itu seolah tiada dapat dibedakan lagi. Jikalau dalam sebuah tarian biasa, penonton bisa memilih untuk memperhatikan gerakan atau tubuh dari seorang penari, tetapi Tarian Daun Jatuh tidak dapat seperti itu. Penonton tidak dapat hanya memperhatikan gerakan atau tubuh dari para penarinya saja, melainkan kedua-duanya sekaligus. Inilah yang kemudian Mantingan pahami, bahwa Tarian Daun Jatuh dapat memperdaya penglihatan seseorang, yang bukan tidak mungkin juga termasuk dalam ilmu sihir khayalan.


Di tengah-tengah tarian yang semarak dengan beragam-macam bebunyian, muncullah lantunan bernada syair yang nyaring terdengar.


“Dalam seni tarian, seseorang diwajibkan memiliki Wiraga, Wirama, dan Wirasa untuk dapat memainkannya tarian itu dengan sempurna. Wiraga menuntut seorang penari untuk menyatukan raga dengan tarian, sehingga semua gerakan dalam tarian itu tidaklah salah meskipun tidak menghapalnya. Wirama menuntut seorang penari untuk menyatukan tariannya dalam irama lagu yang dimainkan, sehingga tiada satupun mata maupun telinga yang tidak terpaku pada seni tariannya. Sedangkan Wirasa menuntut seorang penari untuk menyatukan perasaan dengan tariannya, sehingga segala gerakan yang dilakukannya ialah perasaannya, dan segala perasaannya ialah gerakannya.”


Mantingan semakin terpikat, terlebih lagi syair itu disadarinya menyampaikan dasar ilmu yang teramat sangat penting, yang bukan hanya terbatas pada tarian atau persilatan saja, melainkan pula keseharian. Namun, dirinya sungguh tiada dapat begitu saja melepaskan perhatiannya dari para pendekar yang telah mengepung mereka!


“Berhenti kalian!”


Dalam pendengarannya, Mantingan dapat melihat Pendekar Kelewang Berdarah berdiri dengan mengancungkan kelewangnya ke arah lima perempuan yang tetap menari, seolah tidak pernah mendengar bentakan pria itu yang sedemikian besarnya.


“Ini penipuan! Ini penipuan! Ini penipuan!” bentaknya berulang-ulang. “Kartika! Berhentilah dirimu dari tarian busuk itu untuk menjelaskan apa maksudmu terhadap kami!”


Kartika tidak berhenti, begitu pula dengan empat perempuan lainnya. Namun, dia tetap menjawab, “Dikau telah menjebak kami di sini, untuk apakah kiranya kami menuruti perintah dikau?”

__ADS_1


Mantingan diam-diam tersenyum. Ia berani melakukan itu sebab merasa tidak akan ada yang memperhatikannya ketika suasana mulai memanas seperti saat ini. Dari perkataan yang Kartika ucapkan itu, Mantingan menjadi tahu apa yang telah direncanakan oleh Pendekar Kelewang Berdarah bersama kelompoknya, yang pada saat ini rencana itu telah menjadi amat sangat berantakan sebab Kartika berhasil mengetahui segala tipu dayanya.


Pendekar Kelewang Darah bergetar kecil, dia menyadari bahwa dirinya tertangkap basah. “Pendekar-pendekar itu kuhadirkan hanya untuk berjaga-jaga saja, Kartika! Telah terkenal secara luas bahwa Kelompok Penari Daun bukanlah kelompok yang mudah dipercaya.”


“Apakah yang tidak mudah dipercaya, wahai Pendekar Kelewang Berdarah? Bukankah kami telah membiarkan kalian menonton Tarian Daun Jatuh sebagai ganti rugi karena janji dibatalkan? Sedang seharusnyalah kami tidak mesti mengganti rugi, sebab kami tidak membatalkan perjanjian itu secara sepihak.” Sambil terus menari, Kartika membalas. Suaranya tetap lancar dan halus, seolah tidak terpengaruh oleh tubuhnya yang bergerak kian-kemari dengan lincah dan gesit.


“Tarian ini adalah sampah, dan akan selamanya menjadi sampah yang tiada memiliki kegunaan selain untuk makanan tikus! Jika kami tidak bisa mendapatkan ilmu persilatan dalam tarian sampah itu, maka kalian tidak dapat dianggap telah mengganti rugi kepada kami! Kalian juga telah menipu kami secara terbuka!”


Mantingan merasakan bahwa perempuan-perempuan di sekitarnya mulai mengeraskan otot-otot badan. Mereka bersiap untuk menghadapi pertarungan. Sedangkan di seberang sana, tempat selusin pendekar-pendekar dari Kelompok Kelewang Darah sedang menonton tarian, Mantingan juga dapat mendengar denting logam kecil yang menandakan bahwa mereka telah melepas kuncian pada kelewangnya masing-masing. Maka kini kedua belah pihak telah saling siap sedia untuk menghadapi pertarungan!


Munding Caraka di sebelahnya pun menggerak-gerakan ekornya dengan gelisah. Dengan nalurinya yang sungguhlah teramat tinggi, kerbau itu mampu merasakan nafsu pembunuh betapa pun kecilnya. Adalah hal yang wajar jika Munding merasa gelisah.


“Kalian berlima, berhentilah menari untuk menghormati kami dan agar pertempuran tidak pecah!”


Masih dengan tenang, Kartika berkata, “Sungguh bukan adat kami menghentikan Tarian Daun Jatuh seenak jidat. Hal itu akan membahayakan inti cakra kami.”


Wajah Mantingan seketika itu pula menjadi pucat pasi. Dengan berkata seperti itu, Kartika telah dengan sengaja memancing mereka untuk memulai pertarungan! Tentu saja musuh melihat kesempatan emas untuk dapat merusak inti cakra kelima penari itu. Apakah yang sebenarnya diinginkan Kartika dengan berkata seperti itu?


“Urusan mudah! Biar kami saja yang menghentikan kalian!” Pendekar Kelewang Berdarah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Seketika itu pula sebelas anak buahnya bangkit berdiri dan mencabut kelewang. “Serbu!”

__ADS_1



__ADS_2