
JIKA YANG dikatakan Jakawarman ialah sebuah kebenaran, apakah lantas dengan demikian Mantingan bisa mendapatkan ketenangan? Mantingan merasa tidak ada perubahan pada cara berpikirnya meskipun seluruh cakranya telah terbuka. Hanya kekuatan badannya saja yang memang bertambah pesat.
Apakah hanya seluruh cakranya saja yang telah terbuka, tetapi satu sama lain tiada keseimbangan? Pengetahuan Mantingan tentang cakra tidak lebih baik dari Jakawarman, sehingga ia masih belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan itu.
Tepat sebelum matahari benar-benar menampakkan wujudnya di ufuk timur, rombongan Mantingan telah melanjutkan perjalanan. Karena pagi masih terhitung buta, maka masing-masing dari mereka membawa sebatang obor, tentu saja Kana dan Kina tidak diizinkan untuk memegang obor sekalipun mereka mau.
“Kaka Man, diriku masih bisa menerima jika hanya Kina yang tidak diperbolehkan mengangkat obor, akan tetapi jika diriku turut tak diperbolehkan, maka itu tidak bisa kuterima sama sekali.” Kana membujuk Mantingan. “Ayolah, Kaka, daku ini bukanlah anak-anak, lagipula daku adalah lelaki. Pedang saja tidak akan cukup untuk membuatku tampak lebih jantan.”
Mantingan menggeleng. “Pagi masih gelap, Kana. Pula dengan kabut yang menyelimuti jalanan. Jika saja engkau tersandung sambil membawa obor, itu dapat membuat nyawamu terancam.”
“Yang benar saja, Kaka Man. Diriku akan lebih sering tersandung jika tidak membawa obor.”
“Bagaimanakah jika ada hewan buas yang tiba-tiba menyerang? Perhatianmu akan buncah, dan obor di tanganmu tidak hanya membahayakan dirimu sendiri tetapi juga orang lain.”
Kana menghela napas panjang. Memutuskan untuk diam sebab telah kehabisan kata-kata. Dia tahu bahwa apa yang dikatakan Mantingan adalah benar, tetapi tetap saja merasa tidak puas dengan itu. Mantingan menggeleng pelan sebelum mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jubahnya.
“Gunakanlah ini, Kana. Diriku tidak memiliki banyak, tetapi engkau bisa mendapatkannya barang selembar.”
Di bawah keremangan cahaya obor, Kana ragu-ragu tetapi tetap menerimanya. Yang didapatkannya itu ternyata merupakan selembar lontar dengan guratan-guratan aksara di atasnya. Anak itu mengerutkan dahinya. Bingung.
“Coba patahkan lontar itu, Kana.”
__ADS_1
Kana menuruti saja. Begitulah manusia, mudah sekali dipengaruhi jika sedang kebingungan. Kana berusaha mematahkan lontar di tangannya itu menjadi dua. Ketika itulah ia dikejutkan oleh aksara-aksara bercahaya yang keluar dari lontar tersebut. Betapa Kana hampir tidak percaya ketika melihat aksara-aksara itu terbang memutari lontar. Menjadikannya terang benderang.
Kana menatap Mantingan dengan takjub, sedangkan pemuda itu membalasnya dengan senyuman.
“Kaka memang luar biasa, diriku bangga pernah dididik oleh pendekar sehebat Kaka!”
Terdengar suara Bidadari Sungai Utara menyahuti Kana, “Engkau belum mengetahui sepak terjang Mantingan di sungai telaga persilatan, Kana. Dia lebih hebat daripada yang engkau pikirkan.”
“Benarkah itu, Kaka Man?” Kana berpaling pandang menuju Mantingan.
Mantingan tersenyum canggung. “Diriku tidak sehebat itu ....”
“Tidak ada hal menarik yang dapat kuceritakan padamu, Kana.”
“Daku tahu perangai Kaka yang selalu merendah diri. Kali ini janganlah bersikap seperti itu, ceritakanlah padaku segala kehebatan Kaka, agar daku dapat mengikuti jejak kependekaranmu!”
Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bidadari Sungai Utara kembali bersahut sesaat sebelum Mantingan menolak permintaan Kana, “Jika Kaka Man tidak mau, maka daku masih bisa menceritakannya untukmu, Kana.”
“Ceritakanlah, Kaka Sasmita! Jika Kaka Man yang bercerita, pasti dirinya akan terus merendah hingga apa yang diceritakannya tidak sesuai dengan apa yang terjadi!”
Bidadari Sungai Utara tertawa kecil sebelum mulai menceritakan apa yang pernah Mantingan ceritakan tentang perjalanannya. Tentu saja, gadis itu akan menambahkan beberapa kejadian yang diketahui olehnya tetapi tidak diceritakan Mantingan. Sedangkan Mantingan membiarkan saja Kana dan Bidadari Sungai Utara berbuat sesukanya. Ia berpikir bahwa itu baik untuk Kana, dan mungkin baik pula bagi Kina yang masih berjalan di sisi Bidadari Sungai Utara.
__ADS_1
***
MATAHARI naik di ufuk timur. Menciptakan semburat jingga di antara awan-awan. Hari telah cukup terang sehingga obor bisa dinyalakan. Dinginnya bagi buta perlahan tersingkirkan oleh hangatnya mentari.
Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, Kina, Jakawarman, dan seekor kuda pembawa beban masih terus berjalan. Bagi mereka yang merupakan orang dewasa, perjalanan ini masih belum terasa berat. Tetapi bagi anak-anak yang ukuran kakinya jauh lebih pendek ketimbang orang dewasa, perjalanan ini mulai terasa memberatkan.
Kina yang semulanya berjalan dengan kakinya sendiri kini tidak mampu melanjutkan barang selangkah saja. Bidadari Sungai Utara menggendongnya, membiarkan gadis kecil itu terlelap di punggungnya. Sedangkan Kana tetap melanjutkan perjalanan meskipun lututnya ingin direbahkan. Betapapun, dia telah mendengar kisah sepak terjang Mantingan yang baginya teramat sangat dahsyat, tentu tidak ingin tampak lemah di hadapan Mantingan.
Dari kejauhan, mereka melihat pesawahan yang dapat dikatakan luas. Pesawahan itu agaknya menjadi tanda bahwa ada desa di dekatnya. Mantingan mempergunakan Ilmu Mata Elang untuk melihat pesawahan tersebut lebih jelas lagi. Kondisi pesawahan itu akan menjadi penentu keputusannya nanti. Sebab biar bagaimanapun, perjalanan mereka masihlah menjadi perjalanan rahasia.
Mantingan menemukan sesuatu yang aneh dari pesawahan di depannya itu. Pula disertakan tanda-tanda mengerikan yang dapat dibacanya cukup jelas. Sebentar kemudian, Mantingan mengembuskan napas panjang. Menarik kembali Ilmu Mata Elang dan kemampuannya membaca pertanda alam. Dirinya tidak ingin mengetahui lebih jauh.
Pada akhirnya, mereka melintasi jalan yang melintang di tengah-tengah daerah pesawahan itu. Kana sangat bergembira begitu ia melihat tanda-tanda kehidupan manusia setelah begitu lamanya hanya melihat pepohonan. Tetapi berbeda dengan Bidadari Sungai Utara maupun Jakawarman. Raut wajah mereka berubah menjadi buruk begitu melihat pesawahan dengan jelas.
“Saudara, apakah artinya ini?” Bidadari Sungai Utara bertanya dengan suara pelan. “Petak-petak sawah ditumbuhi rerumputan tinggi, bahkan pematangnya telah menjadi lahan bagi semak belukar. Bukankah ini artinya ....”
“Engkau benar Saudari, wilayah ini telah lama ditinggalkan.” Mantingan menyorot jauh ke arah timur, di sanalah kerumunan gagak tengah menyantap bangkai seekor kerbau yang tiada terurus.
Bidadari Sungai Utara tercekat. Dirinya tak sanggup mengucap sepatah kata saja saat ini. Pikirannya melayang-layang, membayangkan malapetaka apa yang telah menimpa wilayah ini.
Mantingan mengambil napas dingin. Inilah alasan mengapa dirinya memilih untuk tetap meneruskan perjalanan di jalur yang sama. Tanpa dirinya perlu takut. Perjalanannya akan tetap menjadi rahasia dan senyap. Sekalipun pesawahan merupakan tanda-tanda keberadaan sebuah desa, tetapi apalah gunanya jika desa itu tiada orang yang menempati?
__ADS_1