Sang Musafir

Sang Musafir
Kekacauan dalam Istana


__ADS_3

“Siapa takut? Mari!”


SEMPURNALAH keinginan sang raja ketika keributan berdarah dimulai saat itu pula. Dengan dalih keselamatan, Raja Koying segera dikerubungi pasukan pendekar perempuan yang memang bertugas menjamin keselamatannya. Mereka meninggalkan bangsal itu secepat mungkin.


Kurang dari sekejap mata, Halaman Seribu Rumah Istana berubah menjadi tempat pertarungan paling berdarah yang pernah terjadi di tempat itu. Tidak peduli lagi pada hukuman yang mungkin didapatkan karena membunuh di dalam istana, para pendekar tetap berkelebatan dan menyerang satu sama lain dengan bagai membabi-buta.


Mantingan bangkit berdiri dari tempatnya. Satu-satunya yang ingin ia lakukan saat ini adalah menyelamatkan Dara, tetapi tidak lagi dilihatnya gadis itu di atas panggung bangsal. Mungkinkah dirinya dibawa pergi bersama raja?


“Dia bersama rombongan raja,” kata Chitra Anggini di tengah suara lengking kematian dan debum pukulan. “Kita harus segera pergi dari tempat ini jika tidak mau binasa!”


“Tunggu!” Mantingan memapas lengan Chitra Anggini tepat sebelum gadis itu berkelebat. “Suasana ini masih belum cukup kacau. Kita harus menunggu sebentar lagi.”


Chitra Anggini melihat ke sekitarnya. Bagaimanakah bisa disebut belum cukup kacau? Ribuan pendekar berlesatan di udara sambil mengirim serangan tapak pada siapa pun yang berada di depannya, tak peduli kawan atau lawan sebab memang semuanya dapat dianggap sebagai musuh. Darah-darah bercipratan. Tubuh-tubuh meledak, membuyarkan segala isinya. Jasad-jasad manusia bergeletakan di lantai bangsal, tak terhitung lagi jumlahnya.


Bagi perempuan itu, peristiwa ini adalah perang antara sesama pendekar paling kacau yang pernah dilihatnya. Namun bagi Mantingan, ini masih belum ada bandingannya dengan perang di laut utara Javadvipa. Bukankah pada saat itu, ratusan ribu pendekar saling menempur satu sama lain hingga bahkan daratan menjadi lautan darah?


“Apakah lagi yang dapat lebih kacau daripada ini?”


Langit hitam-legam berubah menjadi terang-benderang dengan cahaya merah pekat ketika Chitra Anggini selesai berkata sedemikian. Untuk sejenak pertarungan di Halaman Seribu Rumah Istana terhenti. Seluruh pendekar yang masih hidup menyempatkan diri walau hanya sekedip mata sekadar untuk melihat kejadian itu, tetapi setelahnya mereka kembali bertarung bagai tidak terjadi apa pun sebelumnya.


Mantingan dan Chitra Anggini saling berpandangan sebelum bersepakat tanpa berkata-kata. Mereka segera berkelebat menuju pintu masuk ke dalam kediaman raja di sebelah barat, sesuai dengan apa yang telah diminta oleh Puan Kekelaman. Di dekat tempat itu, Chitra Anggini telah menyembunyikan semua persenjataan yang dibutuhkan, sehingga mereka tidak perlu kembali lagi ke kediaman.

__ADS_1


Di sisi lain, penyerangan besar-besaran terjadi di pintu utama istana. Pihak penyerang adalah pendekar-pendekar terampil dengan tampang golongan bawah tanah yang bahkan telah menguasai sihir perpindahan tempat seperti apa yang Mantingan kuasai.


Ratusan prajurit penjaga sama sekali tidak mampu menahan penyerangan tersebut. Tanpa perlawanan sama sekali, nyawa mereka melayang dengan tubuh bersimbah darah terhunjam belasan pisau terbang. Bahkan sekadar menarik pedang dari sarungnya pun mereka tidak sempat.


Kini kelebatan-kelebatan bayangan hitam berseliweran melompati lapisan demi lapisan tembok istana. Tiada sihir yang menghentikan gerakan mereka sama sekali. Melaju dengan begitu mulus dan kencang bagai angin pun enggan menahannya.


Pada saat itu pula, bola api bercahaya merah pekat yang terang benderang dilesatkan dari empat penjuru mata angin menuju hamparan langit malam. Siapa pun mengetahui bahwa itu adalah pertanda jikalau istana telah kehilangan seluruh daya sihirnya!


Sedangkan itu, Mantingan dan Chitra Anggini dengan teramat cepat sampai di dekat pintu barat kediaman raja setelah mengambil semua persenjataan. Di sana, tampak dua prajurit berdiri tegak menjaga pintu yang bahkan memiliki tinggi berkali-kali lipat dari tubuh mereka, sama sekali tidak cocok untuk pekerjaan itu.


Mantingan tanpa ragu mengirimkan totokan udara untuk membuat kedua prajurit itu tidak sadarkan diri. Semestinya serangan itu tidak akan mudah dipatahkan oleh pendekar-pendekar setingkat prajurit penjaga Istana Koying, tetapi tetiba saja datang tapak angin dari arah samping yang dengan begitu sebatnya menghantam totokan angin Mantingan.


Sesosok bayangan hitam berkelebat di depan Mantingan dan Chitra Anggini, memberi tanda untuk berhenti dan menapak tanah. Ketika keduanya melakukan itu, sosok bayangan hitam yang rupa-rupanya merupakan seorang lelaki bertampang tua segera menjelaskan.


Tanpa menunggu jawaban dari dua muda-mudi itu, sosok bayangan hitam tersebut kembali berkelebat pergi.


“Tidakkah dia bisa kita percayai sepenuhnya?” tanya Chitra Anggini dengan raut wajah yang tak dapat dipungkiri lagi kecemasannya.


“Tidak ada siapa pun yang dapat dipercayai penuh,” balas Mantingan sebelum berjalan menuju kedua prajurit itu.


Tindakan tersebut, jika dilakukan di hari-hari biasanya, dapat dianggap sebagai tindakan gila yang hanya mengantar pada kematian. Namun, di hari ini, dengan segala perencanaan yang ada, sesuatu yang jauh lebih gila menunggu mereka di dalam kediaman raja. Bukan di tempat ini.

__ADS_1


“Siapa yang berani mendekati pintu rahasia kediaman raja?!” Salah satu prajurit itu berkata panjang sambil menarik kelewangnya yang sama pula panjangnya.


“Malam ini begitu gelap!” Mantingan menjawab tanpa basa-basi.


Setelah mendengar jawaban, segera saja prajurit itu menurunkan kelewangnya sambil menoleh pada rekan di sebelahnya. Seolah dapat berkata-kata dalam pandangan mata, keduanya mengangguk.


“Ikuti kami. Tidak banyak waktu yang tersisa.”


Kedua prajurit itu membuka pintu istana dengan serangkaian segel sihir. Meskipun daya sihir di istana telah dilumpuhkan oleh Puan Kekelaman, kediaman raja tetap tidak terdampak. Sebagai tempat yang paling dijaga seantero wilayah Koying, kediaman raja memiliki segel sihir yang terpisah dan hanya dapat dikendalikan oleh raja itu sendiri maupun pasukan kebiri yang telah dipercaya.


Pintu besar itu terbuka tak lama kemudian, membuat lapisan benteng pertahanan terakhir di Istana Koying boleh dikata telah jebol.


Namun di saat yang bersamaan, terbukanya salah satu pintu yang ada di kediaman raja pastinya telah diketahui oleh pasukan kebiri lain yang menjaga di dalam, atau bahkan oleh raja itu sendiri. Ucapan prajurit yang mengatakan bahwa tidak banyak waktu tersisa bukanlah sekadar bualan atau omong kosong belaka.


Mereka segera melesat masuk. Menjadi kelebatan bayang-bayang. Dua prajurit itu segera memimpin di depan; Mantingan dan Chitra Anggini mengikuti di belakang dengan menyamakan kecepatan meskipun mereka dapat bergerak jauh lebih cepat daripada itu.


Melompati atap-atap bangunan yang ada di sana, keindahan yang tersaji bukan lagi dapat ditawar. Bulan purnama tepat menggantung di langit dengan segala sinar cerah yang terpancar. Pohon-pohon bunga masih menyerbakkan harumnya. Air kolam tampak tenang-tenang saja dengan segenap ikan di dalamnya yang seolah tidak dan tidak mau tahu tentang kekacauan besar di istana. Bangunan-bangunan dengan susunan bata-bata kelabu menambah nuansa.


Namun, tiada satupun di antara mereka dapat merasakan ketenangan itu. Bahkan tidak pula seluruh penduduk kotaraja yang telah lama bermimpi mengunjungi kediaman raja secara langsung. Tidak setelah empat bola api berwarna merah pekat terpancar tinggi di atas langit dari empat penjuru mata angin!


____

__ADS_1


catatan:


Sudah berapa lama saya tidak update? Silakan protes, hahaha.


__ADS_2