Sang Musafir

Sang Musafir
Penyelamatan Desa Lonceng Angin


__ADS_3

BUKAN GURUNYA tidak mau mengajari ilmu membaca pertanda, Kiai Guru Kedai justru ingin Mantingan menemukannya sendiri. Ilmu membaca pertanda bukanlah ilmu yang mudah dipelajari, siapa pun yang terpaksa mempelajarinya, maka akan mendapat hasil yang buruk.


Ilmu membaca pertanda yang diterapkan ke dalam ilmu kependekaran itu masih terus Mantingan kembangkan. Dirinya sadar bahwa untuk membuat ilmu ini, dibutuhkan waktu yang tidak pendek. Jika terlalu diburu-buru, maka ilmu tersebut bakal memiliki banyak celah kekurangan.


Siang dan malam ilmu itu terus dikembangkan. Telah habis berikat-ikat lontar kosong untuk menulis setiap penemuannya. Hal itu membuat Mantingan lebih sering menghabiskan waktu di kamar atau di tokonya.


Namun meskipun demikian, dirinya tidak boleh melupakan darma penyelamatan Desa Lonceng Angin. Karena dengan menyelamatkan desa itu, maka Mantingan kembali membuat langkah dalam pencarian Kembangmas.


Hari yang dinanti-nantikan itu tiba pula. Tepat satu pekan setelah persetujuannya dengan Bidadari Sungai Utara. Maka hari ini, mereka akan melancarkan penyerangan.


Kana dan Kina telah dititipkan kepada Ibu Wira. Kali ini, dua anak itu tidak diberi alasan apa pun tentang mengapa mereka harus ditinggal. Mereka hanya diminta untuk mematuhi Ibu Wira sampai Mantingan menjemputnya. Kina hampir-hampir menangis saat itu, tetapi Kana tersenyum lebar karena telah menebak apa yang akan dilakukan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.


Siang itu. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tampaknya sedang mengasah pedangnya masing-masing. Setelah sebelum mereka mengemas senjata.


Beberapa kali Bidadari Sungai Utara hampir tergores pedangnya sendiri saat mengasah. Dirinya tidak berpusat pikiran. Bagaimanakah dirinya bisa berpusat pikiran jikalau jantungnya terus berdebur kuat? Bagaimana pula jika tangannya licin berkeringat dingin? Dan bagaimana bila pikirannya itu melayang ke mana-mana?


Mantingan yang telah mempelajari ilmu membaca pertanda tentu dapat menebak isi pikiran Bidadari Sungai Utara. Gadis itu takut-tidak-takut menghadapi pertempuran. Atau lebih tepatnya, dia penasaran akan berjalan seperti apa pertempuran nanti; di sisi lain dia takut untuk menjalaninya.


“Jika Saudari merasa ragu, maka Saudari bisa berhenti di sini.”


Bidadari Sungai Utara menggeleng kuat hingga peluhnya menetes. Seolah dirinya takut Mantingan berubah pikiran. “Daku akan tetap pada jalanku. Jangan Saudara anggap diriku ini sedang ketakutan. Justru sebaliknya, diriku sangat bersemangat.”


“Saudari tidak perlu membohongi diri.” Mantingan hanya berkata singkat, tetapi tepat menancap ke dalam benak Bidadari Sungai Utara.


“Ya, diriku memang takut,” katanya sambil menatap Mantingan lamat-lamat. “Tetapi ketakutanku ini tidak akan membuatku mundur barang selangkah pun.”

__ADS_1


Mantingan memandangnya sejenak, lalu mengangguk puas. “Diriku lebih senang jika kau mengatakannya. Ketakutan adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan ditutup-tutupi.”


Bidadari Sungai Utara tersenyum tipis, kembali mengasah Pedang Merpati Haus Darah.


Sebelumnya, Mantingan telah membekali Bidadari Sungai Utara beberapa Lontar Sihir yang bisa digunakannya. Tentu tidak segala jenis Lontar Sihir dapat digunakan pendekar biasa, lebih banyak jenis Lontar Sihir yang hanya bisa dipakai oleh ahli sihir.


Mereka tidak akan membawa bundelan, tetapi mereka membawa pundi-pundi sebagai gantinya. Pundi-pundi itu telah terbungkus padat, sehingga tidak mengganggu jika mereka harus bergerak cepat. Barang yang boleh menempati pundi-pundi itu hanyalah barang berkepentingan saja.


Selesai mengasah pedang dan menyarungkannya kembali, Mantingan meminta Bidadari Sungai Utara untuk berdiri di hadapannya.


“Daku ingin engkau berjanji satu hal.”


“Katakan saja itu.” Bidadari Sungai Utara mengetahui bahwa Mantingan hendak bercakap sungguh-sungguh.


Bidadari Sungai Utara menahan napasnya beberapa saat. Bukanlah mudah baginya untuk menjanjikan hal tersebut. Sekali janji diucapkannya, maka ia sama saja berutang. “Daku tidak yakin masih bisa bernapas hingga malam nanti, Saudara.”


Mantingan menggeleng pelan. “Jika Saudari berkata seperti itu, maka Saudari telah merencanakan kematian engkau sendiri.”


“Itu adalah kemungkinan terburuk, Saudara.”


“Berharaplah untuk yang terbaik, rencanakanlah untuk yang terburuk.” Mantingan tersenyum hangat, sehangat mentari. “Sekarang ini, Saudari berharap untuk yang terburuk, dan merencanakan untuk yang terbaik.”


Bidadari Sungai Utara menarik napas panjang, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Itu membuatnya jauh lebih baik. “Daku berjanji tidak akan mati hingga hari keberangkatanku menuju Champa.”


Mantingan tampak puas dengan itu. “Marilah kita berangkat, Saudari.”

__ADS_1


Mereka memasang pundi-pundi di pinggang. Mantingan memasang capingnya, sedangkan Bidadari Sungai Utara memasang cadar serta capingnya. Mereka keluar rumah, mengunci pintu gerbang. Saling berpandangan, sesaat kemudian menghilang dari tempat itu. Melesat berbeda arah.


Sesuai dengan rencana, mereka akan menyerang bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda. Dengan begitu, musuh tidak memiliki kesempatan untuk meminta bantuan, dan sekalipun memiliki kesempatan, mereka tidak akan bisa mendapatkan bantuan.


Maka Mantingan bergerak ke arah barat, menuju hutan lebat di dekat pesawahan. Sedangkan Bidadari Sungai Utara bergerak ke arah timur, menuju pusat kepadatan Desa Lonceng Angin.


Mantingan tidak tahu apa yang akan terjadi atas diri Bidadari Sungai Utara, namun ia mengharapkan yang terbaik untuk gadis itu. Ia yakin, Bidadari Sungai Utara memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan pendekar-pendekar di balai desa. Beberapa kali dirinya berlatih tanding, dan semakin hari kekuatan Bidadari Sungai Utara semakin bertambah.


Mantingan menembus kegelapan malam. Memanglah mereka berangkat setelah matahari benar-benar turun. Berlentingan melompati petak-petak sawah. Tidak satupun petani yang melihat pemuda itu berlentingan, karena tubuhnya telah menjadi bayang-bayang samar semata.


Setelah melewati pematang-pematang sawah, Mantingan mulai tenggelam di antara rimbunnya pepohonan dan semak belukar. Cahaya rembulan masih menggantung di atas cakrawala, bagai sinar penerang yang menuntun mata Mantingan. Di kegelapan hutan itu, tidak ada yang dapat dipercayai selain sinar rembulan.


Mantingan terus bergerak dari satu pohon ke pohon yang lain, tanpa mengurangi kecepatannya barang sedikitpun. Sambil terus bergerak, Mantingan mengambil peta kecil di saku pinggangnya. Mengkaji ulang arah jalannya.


Setelah beberapa lama terus berlentingan, Mantingan akhirnya berhenti. Tepat di belakang semak belukar, dirinya bersembunyi. Tak jauh di depannya adalah bangunan yang merupakan markas musuh.


Berbeda keadaan dengan satu pekan yang lalu, bangunan besar itu mendapatkan lebih banyak penjagaan. Mantingan melihat menara terisi empat orang bersenjatakan panah dan tombak. Sedangkan dua lainnya berjaga di dekat pintu bangunan.


Mantingan memandang langit. Membaca pertanda. Dilihatnya bintang-bintang yang bersanding dengan rembulan. Ia membaca aksara-aksara yang tidak pernah terlihat, lalu mengetahui bahwa dirinya berada di jalur yang tepat. Pertanda baik berkata, dirinya harus menyerang saat ini juga.


Mantingan menguatkan hatinya. Lalu berpikir. Ia telah menyusun rencana jauh-jauh sebelumnya, pertanda juga menyiaratkan bahwa saat ini adalah waktu yang baik untuk memulai serangan. Maka bukanlah hal yang sulit baginya untuk meneguhkan hati. Mantingan melesat.


___


__ADS_1


__ADS_2