Sang Musafir

Sang Musafir
Persenjataan yang Tidak Memadai


__ADS_3

MANTINGAN telah berhasil memanterai 500 Lontar Sihir hanya dalam waktu kurang dari setengah hari. Ia mengerjakan itu setelah tidur sebentar. Sungguh di luar dugaannya yang hanya bisa memanterai 100 sampai 200 Lontar Sihir.


Lontar Sihir yang Mantingan buat semuanya adalah lontar penjebak.


Mantingan baru keluar dari ruangannya untuk menyuling dan merebus lontar. Ia meminta rempah-rempah lagi yang jumlah berkali-kali lipat dari sebelum, lalu memulai kembali jalannya penyulingan dari awal.


Prajurit-prajurit itu—walau sudah dikerjai hingga malu setengah mati—tetap menawarkan bantuan pada Mantingan. Mereka tidak bisa melihat Mantingan lelah bekerja sedangkan mereka hanya duduk melihatinya saja.


Mantingan menerima bantuan itu dengan tangan terbuka. Jadilah mereka bekerjasama dalam jalannya penyulingan. Namun, dalam urusan meramu dan menakar, tetap Mantingan yang mengambil pekerjaan itu.


Dalam waktu semalaman itu berhasil tercipta seribu Lontar Sihir yang sudah dimanterai.


Di tengah malam para prajurit mengadakan makan malam bersama yang mengundang Mantingan untuk bergabung. Mantingan berpikir tidak ada salahnya menerima undangan makan malam, lagi pula perutnya minta diisi makanan lezat.


“Saudara, terima kasih sudah sudi datang.”


Mantingan duduk bersila bersama mereka. Di tengah-tengah mereka adalah hidangan makan malam. “Tidak masalah, aku yang seharusnya berterimakasih.”


Pemimpin acara makan malam meminta perhatian. “Makan malam ini sebagai wujud penghargaan terhadap diri kita yang telah bekerja keras sepanjang hari, juga untuk menambal rasa malu kita. Dan tamu kita yang paling istimewa adalah Saudara pendekar ini yang masih kita tidak ketahui namanya.”


Mantingan tertawa pelan. “Panggil saja diriku Mantingan. Aku juga berterimakasih pada kalian yang sangat membantuku hari ini.”


Para prajurit itu berdeham beberapa kali, sebagai tanda bagi Mantingan untuk menjelaskan juga mengapa ia memadamkan seluruh lentera awal malam tadi.


“Dan masalah itu tidak perlu terlalu kalian pikirkan. Dengan kalian berteriak ketakutan dan menangis, kalian membuktikan diri bahwa kalian masihlah manusia. Sebab sebenar-benarnya, semua manusia diciptakan dengan rasa sedih dan rasa ketakutan. Jangan kalian salah paham, diriku juga bisa menangis.”


“Tetapi Saudara adalah pendekar, mana mungkin bisa menangis.” Salah satu dari mereka tanpa malu buka suara.


Mantingan tersenyum. “Aku masih manusia. Bukan iblis. Menangis dan cengeng sedikit bukan masalah besar.”


Awal makan malam itu jadinya diisi oleh banyak perenungan. Memang benar jika manusia diciptakan bersama rasa sedih, rasa senang, rasa haru, rasa takut, dan rasa marah. Jika salah satu dari itu dilarang untuk digunakan, untuk apakah Dia menciptakan itu?

__ADS_1


Menangis boleh-boleh saja, tetapi jangan terlalu larut hingga melupakan segala hal. Senang boleh-boleh saja, asalkan jangan sampai larut dan lupa segala hal.


“Sudahlah, aku datang ke sini untuk makan malam, bukan untuk berceramah.”


Ucapan Mantingan itu berhasil menyadarkan mereka. Segera makan malam dilangsungkan.


***


Beberapa hari dilalui dengan kegiatan yang hampir sama, tetapi tiada kebosanan selama Mantingan tetap berceramah menyebarkan nilai kasih sayang.


Sudah 10.000 Lontar Sihir yang berhasil Mantingan buat dan siap pakai. Jumlah yang sebanyak itu masih dirasa kurang, sehingga Mantingan meminta lontar lebih banyak lagi. Lontar yang semulanya hanya berjumlah 2.000 saja itu terus ditambah hingga 15.000 lontar.


Bersamaan dengan itu, tembok kota telah selesai diperbaiki. Namun, bangunan-bangunan yang terletak di pinggiran kota masih belum diperbaiki setidaknya sampai penyerangan dikalahkan.


Membahas tentang penyerangan terhadap kota, tanda-tandanya semakin hari semakin terlihat saja. Beberapa orang tertangkap basah sebagai mata-mata musuh, sebagian lainnya berhasil lolos.


Sungguh pendekar-pendekar aliran hitam itu tidak takut pada kematian. Mereka memegang prinsip dasar kependekaran, bahwa mati terbunuh jauh lebih terhormat ketimbang mati karena penyakit atau usia.


Perwira perang masih belum menaruh rasa kepercayaannya pada Mantingan, ia tetap menyiagakan prajurit-prajurit terbaiknya untuk mengawasi Mantingan.


Saat ini Mantingan keluar dari ruangannya dan memilih memanterai lontar di teras, berada terus-menerus di dalam ruangan berhasil membuatnya bosan. Mantingan ingin bertemu matahari hangat dan desir angin lagi.


Saat itu seorang pendekar keluar ke teras sambil bersiul ringan.


“Apakah persediaan obat-obatan di kota memadai untuk menghadapi serangan?” Mantingan bertanya pada prajurit itu.


“Jangankan obat-obatan, Saudara Man, persenjataan kita pun kurang memadai. Kita kekurangan anak panah, tombak-tombak patah, yang ada hanya kelewang. Saat ini masyarakat bekerjasama membuat tombak dan anak panah untuk balatentara. Tapi perwira khawatir, saat serangan datang, persenjataan masih kurang cukup untuk menghadapinya."


Mantingan mengembuskan napas. “Apakah Kota Sunda tidak mengulur bantuan?”


“Sunda masih terdesak, kami harus memanfaatkan kekuatan kami sendiri untuk melawan aliran hitam.”

__ADS_1


Yang lebih Mantingan cemaskan sebenarnya bukanlah kota ini, melainkan kota-kota lain yang mendapat ancaman serangan pula.


Jika di sini seorang Mantingan masih bisa membantu banyak, bagaimana dengan di sana? Adakah pendekar yang berbaik hati mengulurkan pedangnya untuk membantu?


Mantingan akhirnya memutuskan untuk menunda pemanteraan hari ini. Ia akan menemui pendekar-pendekar yang bersembunyi di pemukiman padat kota. Mantingan merasakan keberadaan mereka semenjak hari pertama ia datang ke kota ini.


“Tolong kabarkan kawan-kawan, aku mau pergi ke pemukiman.”


“Untuk apakah, Saudara?”


“Alasannya akan diketahui sendiri nantinya.” Mantingan tersenyum tipis. “Kalian boleh ikut atau tetap tinggal. Jika memang ingin tetap mengawasiku maka ikutlah, tapi jangan lebih dari dua orang.”


“Aku mengerti, Saudara Man.” Prajurit itu melangkah masuk ke dalam rumah, sedangkan Mantingan menyelesaikan lontar terakhirnya untuk hari ini.


***


Di halaman, Mantingan mengikatkan pedang di punggungnya lalu berbalik menghadap dua prajurit yang akan mengawalnya masuk ke pemukiman.


“Aku minta kalian untuk tidak menunjukkan mimik jijik barang sedikit pun. Aku tidak mau warga kota memandang buruk pada kalian. Mengerti?”


“Siap dan dimengerti.”


Mantingan mengangguk sekali sebelum kembali membalikkan badannya. Kakinya mulai membawa diri keluar dari wilayah kediamannya.


Mantingan tidak perlu khawatir meninggalkan Lontar Sihir yang telah dibuatnya. Di kediamannya itu telah terpasang belasan lontar penjebak, bahkan di ruangannya terpasang lontar sirep. Ia tidak perlu takut mata-mata musuh mengambil atau menghancurkan lontar-lontar yang sudah susah payah dibuatnya.


Mantingan dan dua prajuritnya tidak butuh waktu lama untuk sampai di pemukiman padat itu. Sebelum benar-benar masuk, Mantingan berkata pada dua prajurit di sampingnya.


“Agar aku mudah memanggil kalian, sekarang sebutkan nama kalian.”


Mereka tersenyum canggung saat menyadari tidak ada satupun prajurit yang mengenalkan diri pada Mantingan.

__ADS_1


“Namaku Darma.”


“Aku Putu.”


__ADS_2