
BENARLAH semua yang dikatakan Chitra Anggini tentang taman ini. Sungguh teramat sangat menakjubkan!
Setelah melewati gerbang masuk dan membayar sepuluh keping perak, mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan cahaya-cahaya sihir memukau yang berterbangan bebas membentuk segala sesuatu, seolah saja menari sebab terembus angin.
Jalanan dilapisi bata-bata yang akan memancarkan sinar kebiruan ketika terinjak. Seolah-olah saja sedang berjalan di tengah lautan. Mantingan belum pernah menemui hal semacam ini di Javadvipa. Betapa indahnya permainan sihir yang ditunjukkan oleh penyihir-penyihir di Kotaraja Koying!
Burung-burung dengan warna bulu mencolok berterbangan bebas di langit. Satu dua kali hinggap pada tangkai pohon pendek, membuat anak-anak bersorak girang sambil melempari biji-bijian meski tiada satupun yang dimakan oleh burung-burung itu.
Tidak hanya di langit saja, ada pula burung yang sekadar berjalan bebas di antara para pengunjung taman. Itulah burung merak, yang memiliki keindahan bulu tiada tertandingi!
Di tepi jalan, terdapat sungai kecil buatan yang mengalir pelan. Di sanalah para pengunjung dapat menyewa perahu dan menjelajahi seluruh taman ini dengan mendayung. Beberapa pelikan dan angsa terlihat berendam di sungai itu.
“Jika Munding ikut bersama kita, aku yakin dia tak akan dapat menahan diri untuk tidak berendam di sungai itu.” Chitra Anggini mencoba berkelakar.
Semua pemandangan yang menyejukkan mata pula menenangkan pikiran itu bisa didapatkan dengan hanya sepuluh keping perak untuk setiap orangnya. Terkhusus anak-anak yang tingginya belum mencapai setengah depa, mereka dipercumakan, tidak perlu membayar.
“Ingatlah bahwa kita di sini bukan untuk bersenang-senang,” tukas Mantingan, entah pasal hendak mengingatkan Chitra Anggini atau justru mengingatkan dirinya sendiri.
“Aku selalu mengingat itu.” Chitra Anggini tersenyum samar, lantas katanya, “ada yang mengikuti kita.”
Mantingan mengangguk pelan. Dirinya pun telah mengetahui hal itu sejak awal, tetapi belum menemukan saat yang tepat untuk memberitahukannya kepada Chitra Anggini. Lebih-lebih, ia dapat melihat bahwa pergerakan dari pendekar-pendekar yang mengikutinya itu tidak berbahaya.
“Waspada saja,” bisik Mantingan tenang, yang dapat pula diartikan oleh Chitra Anggini bahwa dirinya tidak boleh membuka serangan sebelum pendekar-pendekar itu menyerangnya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Kuharap mereka berasal dari jaringan perempuan bayang-bayang itu,” kata Chitra Anggini santai, meski pandangan matanya mengisyaratkan bahwa dirinya sungguh-sungguh berwaspada. “Jika tidak begitu, berasal dari manakah lagi mereka jika bukan dari jaringan bawah tanah dunia persilatan?”
Mantingan pun segera menyadari betapa teramat genting keadaannya saat ini. Di dunia persilatan, terkhususnya jaringan bawah tanah, angin selalu berembus kuat membawa kabar-kabar sekalipun itu terkesan tidak penting, apalah lagi dengan kabar tentang keberadaan Pahlawan Man yang pada saat ini menjadi teramat sangat penting dan berharga mahal di dunia persilatan?
Jika keberadaannya di kotaraja sampai tersebar luas, maka segala rencana penyelamatan Tapa Balian akan benar-benar dalam keadaan terancam!
“Sudah berapa kali kau mengunjungi taman ini?” Mantingan bertanya.
Chitra Anggini terdiam beberapa saat dengan lipatan di dahinya. Dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa Mantingan akan menanyakan hal yang benar-benar sepele ketika keadaan telah menjadi benar-benar genting seperti ini. Namun betapa pun, gadis itu tetap menjawab.
“Lebih dari sebelas kali. Sewaktu masih tinggal di kotaraja, aku meluangkan waktu untuk berkunjung ke taman ini setiap berhasil menyelesaikan tugas.”
“Jikalau begitu, tentulah kau mengetahui tempat paling sepi di sini.” Mantingan tersenyum lebar.
“Untuk apa ....”
“Mengapa baru di sini? Bukankah di penginapan tadi, aku sudah menawarimu?”
Mantingan menatap sejurus ke mata Chitra Anggini dengan gusar. “Jangan memaksaku menjitak kepalamu di tempat ini, Chitra.”
“Kau bebas melakukan apa pun kepadaku nanti, Mantingan. Menjitak diriku, atau apa pun itu. Tetapi, jangan di sini.” Senyum perempuan itu semakin menjadi-jadi. “Ikutilah aku.”
Mereka berjalan lebih cepat lagi, mendahului pengunjung-pengunjung lain yang masih ingin menikmati pemandangan taman itu dengan lebih saksama. Mantingan pun ingin menikmatinya, tetapi apakah kiranya masih sempat dilakukan di tengah keadaan mendesak seperti ini? Tentulah mesti diingat bahwa masih ada beberapa pendekar yang mengikutinya secara diam-diam, yang meskipun seperti tanpa niat membunuh tetaplah harus benar-benar diwaspadai.
__ADS_1
Mantingan sengaja meminta Chitra Anggini untuk membawanya ke tempat sepi agar dapat berembuk dengan pendekar-pendekar yang membuntutinya itu. Jika kemudian diketahui bahwa mereka membawa maksud yang tidak baik, maka Mantingan akan lebih mudah membunuh mereka semua di tempat sepi ketimbang tempat ramai, memastikan tiada satupun dari mereka lolos dengan membawa kabar tentang keberadaannya di kotaraja.
Mantingan tetap berharap yang terbaik dari segala kemungkinan, namun dirinya tetap harus pula menyiapkan untuk kemungkinan yang terburuk. Bukankah begitu salah satu ciri pendekar yang berwaspada?
Chitra Anggini terus melangkah dengan penuh percaya diri. Tampak sekali bahwa perempuan itu mengenal betul taman ini. Mantingan mengikuti beberapa langkah di belakangnya sambil terus menyebar Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Hinggalah tiba saat Chitra Anggini berbelok ke salah satu jalan di sebuah persimpangan. Itulah jalan yang hampir tidak dilewati oleh sesiapa. Selain Mantingan dan Chitra Anggini, hanya ada seorang petugas bersih-bersih yang sedang menyapu jalanan dari tumpukan daun kering.
“Jalan ini hanya akan mengarah pada sebuah telaga kecil berisi ikan-ikan emas,” kata Chitra Anggini. “Dibandingkan dengan seluruh keindahan di taman ini, telaga itu menjadi tampak tidak berarti sama sekali. Apa hebatnya ikan mas, bukan?”
Mantingan hanya mendengarkan tanpa menanggapi sama sekali. Sekadar mengangguk pun tidak.
“Kudengar, dikau pandai bertarung di atas air,” lanjut Chitra Anggini dengan setengah berbisik, “itu bukanlah kemampuan yang dimiliki kebanyakan pendekar.”
Tentulah kini Mantingan menjadi mengerti apa maksud perempuan itu!
“Kita harus bergegas ke sana, secepat mungkin,” balas Mantingan. “Mereka mulai mempercepat langkah menuju kita.”
Chitra Anggini hanya mengangguk sebentar sebelum semakin mempercepat langkah kakinya. Satu dua kali menginjak dedaunan kering yang berserak, menciptakan suara kersak yang betapa pun memecah kesunyian di sekitarnya. Di lingkungan dengan beragam pepohonan berdaun lebat, bukankah akan teramat menguntungkan bagi Chitra Anggini yang menguasai ilmu sihir pengendali daun?
Tak seberapa lama kemudian, mereka telah sampai di tepi telaga yang dimaksudkan oleh Chitra Anggini. Benar saja, telaga ini tiada seorangpun yang mengunjungi. Sungguh sepi teramat, yang akan lebih terasa lagi di tengah keadaan rawan seperti ini!
Semak belukar yang cukup tinggi dan rimbun memenuhi seluruh jalanan berbata di sekitar telaga itu. Sedangkan tanaman rambat sempurna menutupi sebuah bangunan kecil yang menjorok ke tengah telaga. Satu perahu kecil tampak setengah tenggelam di pinggiran telaga. Sungguh, telaga ini benar-benar telah ditinggalkan.
__ADS_1
“Dahulunya, tidak separah ini,” kata Chitra Anggini dengan sedikit nada penyesalan di dalam suaranya. “Tetapi biar bagaimanapun juga, ini adalah tempat terbaik yang bisa kita dapatkan. Lakukanlah apa yang sudah hendaknya kamu lakukan, aku hanya akan membantu jika kau terdesak.”
“Terkadang, kau memang bisa kuandalkan. Terima kasih, Chitra.” Mantingan tersenyum lebar sebelum berbalik badan, menatap jalanan yang telah ia lewati sebelumnya. Menarik napas dalam-dalam. “Marilah kita mulai ....”