Sang Musafir

Sang Musafir
Pembuatan Puyer


__ADS_3

BIDADAIRI SUNGAI Utara menggeleng. “Diriku merasa akan lebih baik jika ruang pengobatanku digabungkan dengan kamarku. Jadi, ketika diriku merasa lelah meramu, maka ranjang ada tepat di sebelahku. Dan jika daku hendak kembali meramu, maka daku bisa langsung bangkit dari kasur.”


Mantingan menganggukkan kepala. “Ya, itu sangat bagus. Tetapi lebih bagus lagi jika Saudari tidur nyenyak tanpa harus mencium bau obat-obatan. Kutahu itu sangatlah menyengat. Menempatkan kamar sebagai ruang kerja juga membawa citra yang buruk. Lebih-lebih, kamar dan ruang kerja memiliki sifat yang cukup bertentangan. Janganlah Saudari samakan, apalagi satukan.”


Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Jika dipikir-pikir lagi olehnya, perkataan Mantingan banyak benarnya. Tidak baik menggabungkan ruang kerja dengan kamar tidur, hanya akan membawa suasana benak yang buruk.


“Ada banyak kamar di sini,” kata Mantingan kemudian. “Bahkan jika Saudari menginginkan empat kamar untuk ruang pengobatan, itu sama sekali bukan masalah.”


“Saudara, dikau berlebihan. Cukuplah daku mengambil dua ruangan saja.”


Mantingan tersenyum lalu mengangguk. “Sekali lagi kuucapkan selamat datang, Saudari. Pada akhirnya, ada alasan bagi kita untuk tinggal bersama.”


“Saudara ingatlah, bahwa semua ini semata-mata hanya untuk pengobatan Saudara saja.” Bidadari Sungai Utara cukup dibuat heran oleh pemuda itu. Tidaklah ia mengira Mantingan akan berkata seperti itu. Perkataan Mantingan tadi seolah-olah mengisyaratkan bahwa dia berniat macam-macam dengannya. “Itulah alasannya. Dan daku tidak memiliki niatan lain selain hanya mengobati Saudara.”


Mantingan menatap Bidadari Sungai Utara. Dilihat gadis itu pula menatapnya begitu tajam. Sebentar kemudian, Mantingan tertawa lepas. “Saudari, diriku bukan berniat buruk padamu. Sama sekali bukan. Daku hanya teringat dengan Kana dan Kina. Bukankah dulunya mereka memintamu untuk tinggal di sini? Lihatlah keinginan mereka benar-benar terwujud saat ini.”


Bidadari Sungai Utara memalingkan wajahnya yang bersemu merah itu dari pandangan Mantingan. Jangan sampai pemuda itu memergoki pikiran buruknya. Namun, Mantingan telah mengetahui pikiran gadis itu dengan jelas, sejelas-jelasnya bagai tiada dapat yang lebih jelas daripada itu. Hanya saja, ia tiada hendak membuat gadis itu bertambah malu.


“Baiklah, Saudari, apakah yang akan kita lakukan sekarang?”


Tanpa terdiam lebih lama lagi, Bidadari Sungai Utara segera menjawabnya, “Daku akan menata barang-barangku di ruangan ini terlebih dahulu sebelum memulai pengobatan. Datanglah malam nanti.”


“Apakah perlu bantuan?”

__ADS_1


“Kurasa tidak. Biarkan diriku bekerja sendirian kali ini. Saudara, kau telah bekerja terlalu banyak untukku.”


“Baiklah.” Mantingan mengangguk pelan sebelum berbalik badan. “Sampai jumpa nanti malam.”


***


PADA MALAM harinya, Mantingan mendatangi ruangan Bidadari Sungai Utara yang sekarang sudah tertata rapi. Meja-meja penuh dengan bumbung buluh berisi cairan atau bubuk obat. Rak dipenuhi mangkuk-mangkuk berisi tanaman herbal. Dan segala benda lainnya tampak mengisi kekosongan.


Bidadari Sungai Utara meminta Mantingan duduk bersila di atas tikar yang ada di tengah ruangan. Gadis itu membawa sebuah lumpang obat dan beberapa tabung buluh berisi ramuan.


“Daku akan meracik puyer,” katanya sambil tersenyum. “Mungkin ini akan memakan waktu yang tidak sebentar. Jika Saudara tidak ingin menunggu, maka engkau bisa keluar sekarang.”


Pemuda itu menggeleng. “Tidak. Dengan tetap di sini, diriku bisa mendapatkan ilmu baru. Dan kuharap Saudari tidak keberatan untuk mencurahkan sedikit ilmunya kepadaku.”


Mantingan melalukan apa yang diperintahkan gadis itu. Duduk bersila, berpangku dagu; memperhatikan betul-betul. Seolah setiap gerakan yang dilakukan Bidadari Sungai Utara adalah sangat penting.


“Pertama-tama, lumpang ini harus dibersihkan dari kotoran yang bisa mencemari ramuan. Pastikan betul-betul bahwa cahaya di ruangan cukup terang, sehingga Saudara dapat memastikan bahwa lumpang ini benar-benar telah bersih. Setelah dipastikan bersih, maka mulailah ke tahap selanjutnya.” Bidadari Sungai Utara membuka salah satu bumbung obat. “Bubuk di dalam semua bumbung ini telah kuperhitungkan berat-beratnya. Ada timbangan di atas meja jika Saudara ingin mencoba membuat ramuan sendiri nantinya.”


Gadis itu memasukkan sedikit serbuk berwarna jingga ke dalam lumpang. Mantingan mengernyitkan dahi lalu bertanya, “Bukankah Saudari telah memperhitungkan berat obat di dalam bumbung tersebut? Mengapa tidak memasukkan semuanya saja?”


Masih dengan senyumnya, Bidadari Sungai Utara menjelaskan, “Di dalam lumpang ini terdapat banyak pori-pori, yang meskipun kecil tetapi banyak jumlahnya. Tujuanku hanya menuang sedikit bubuk adalah untuk menutup pori-pori tersebut.”


Yang selanjutnya terdengar adalah suara dentang batu pualam yang saling bersentuhan. Gadis itu memutar tuas penumbuknya, membuat bubuk obat di dalam lumpang menyebar menutupi permukaannya.

__ADS_1


“Jika sudah seperti ini, kita bisa mencampurkannya dengan bubuk obat lain.” Bidadari Sungai Utara menuangkan isi bubuk di dalam bumbung lain. “Tetapi perlu diingat, tidak semua bubuk dapat langsung disatukan. Beberapa puyer menuntut penyatuan secara bertahap. Seperti puyer ini, penyatuan bubuk perlu dilakukan secara bertahap dan hati-hati.”


“Mengapakah begitu?” Mantingan bertanya dengan bersungguh-sungguh.


“Di setiap bubuk ini, terdapat unsurnya masing-masing. Unsur-unsur tersebut akan mengalami perubahan ketika saling disatukan. Ada beberapa unsur yang tak boleh disatukan secara langsung, atau itu akan mengakibatkan perubahan yang tidak kita inginkan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya paham. “Tolong lanjutkan.”


Bidadari Sungai Utara kembali memutar tuas tumbuknya. Setelah beberapa waktu, dia menuangkan lagi bubuk-bubuk obat ke dalam lumpang. Memutar tuas lagi dan lagi. Suara dentang bebatuan memenuhi telinga Mantingan, secara tidak sadar membuat suatu perasaan nyaman.


Setelah semua bubuk di dalam bumbung telah dimasukkan, Bidadari Sungai Utara mengambil secarik daun segar dari dalam kotak penyimpanan. Puyer di dalam lumpang diambil menggunakan kepingan kayu buluh yang teramat tipis, untuk kemudian ditaruh di atas helai daun tersebut.


“Makanlah bersama dedaunan itu,” kata Bidadari Sungai Utara.


“Rasanya akan seperti apa?” Mantingan bertanya sambil memandangi daun dan puyer di tangan Bidadari Sungai Utara.


“Seperti apakah itu, diriku belum pernah mencicipi. Karena puyer ini tergolong baru. Tetapi jika kulihat dari bahan-bahan yang tadi dimasukkan, maka puyer akan terasa manis kemasaman.”


Mantingan mengambil dedaunan yang membawahi obat puyer itu. Tanpa ragu lagi, ia melahap semua puyer itu beserta dedaunannya. Sebentar kemudian, wajah Mantingan dipenuhi kerutan. Ia menyeringai dan mendesis pelan.


Bidadari Sungai Utara hanya tertawa kecil sebagai tanggapan. Mantingan merasa dibohongi. Tidak terima, ia mengajukan pertanyaan, “Saudari tidak bermaksud menipuku, bukan?”


“Harus kuakui bahwa kali ini daku bermaksud menipu Saudara. Rasanya bukanlah manis kemasaman, melainkan pahit kemasaman. Daku hanya ingin Saudara memakan puyer itu dengan senang hati. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan senang hati, akan membuat kita senang pula. Meskipun barangkali dikau tidak menyadarinya.”

__ADS_1


__ADS_2