
MANTINGAN pun meminta mereka untuk tetap berada di dalam kamarnya sampai keadaan pelabuhan kembali aman.
Kina mungkin memang bisa langsung menurut tanpa bertanya-tanya soal itu, tetapi itu berbeda dengan Kana yang tidak dapat menahan dirinya dalam ketidaktahuan.
“Apakah yang sebenarnya terjadi, Kakanda? Kakanda hanya meminta kami untuk diam di sini tanpa memberitahukan alasannya. Bahkan pertanyaan Kaka Sasmita pun tiada dijawab oleh Kakanda.”
Berkat pertanyaan Kana itu, adiknya pun ikut memandangi Mantingan dengan tatap penuh pertanyaan.
Mantingan menggosok wajahnya. Ia merasa kesal pada Kana meski tidak dapat menyalahkannya sama sekali!
“Daku hanya mendapatkan firasat yang tidak terlalu bagus, sehingga daku meminta kalian untuk tetap di sini.”
“Mustahil!” Kana membantah dengan keras. “Kudengar jelas kentungan buluh dan gong dibunyikan berkali-kali. Itu adalah jelas merupakan tanda bahaya yang teramat sangat. Tidak mungkin jika mereka juga merasakan firasat buruk yang Kakanda rasakan pula, dan amat sangat tidak mungkin jika mereka membunyikan peringatan hanya berdasarkan firasat!”
Mantingan menatap Kana dengan pandangan malas. Harus ia akui bahwa anak itu menggunakan kemampuan berpikirnya dengan baik, tetapi tidak dalam waktu yang tepat. Mantingan mau menyalahkan anak itu, sebab kepekaannya dalam berpikir sungguh sangat dibutuhkan di masa mendatang.
Maka Mantingan pun terpaksa jua mengirim bisikan angin kepada Kana dan menjelaskan keadaannya dan berharap anak itu tidak ketakutan. Tindakannya itu tentu saja mengakibatkan Kina menatapnya dengan curiga.
Betapa pun, ketika menggunakan Ilmu Membisik Angin, seorang akan tetap membuka mulutnya dan seolah-olah saja sedang berucap. Namun, suaranya sungguh tidak dapat terdengar. Itulah yang membuat Kina curiga, sebab Mantingan menggerakkan bibirnya tanpa ada suara yang keluar sama sekali.
Kecurigaan Kina semakin bertambah ketika Kana tidak lagi mengeluarkan suara dan justru menganggukkan kepalanya berkali-kali bagaikan telah memahami suatu hal. Kali ini, Kina yang tidak dapat menahan pertanyaannya.
“Kak Maman pasti telah mengetahui sesuatu, dan Kakanda Kana juga telah mengetahuinya. Tetapi mengapakah Kina belum?”
Seketika itu pula, kepala Mantingan terasa amat pening. Bagaikan ditusuk seribu pedang bermata batuan intan. Namun Mantingan menghela napas lega setelah Bidadari Sungai Utara menjawab pertanyaan Kina.
__ADS_1
“Kina, kita masih belum mengetahui betul seperti apakah bahaya yang tengah mengancam. Mungkin itulah yang menjadi alasan mengapa Kak Maman masih belum bisa menjawabnya. Bukankah yang ada nantinya hanyalah dusta sahaja?”
Kina diam beberapa saat untuk berpikir, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dia pun mengerti bahwa sebaiknya tidak perlu mengetahui tentang bahaya itu meskipun penasaran sekalipun, sebab anak itu mengerti bahwa rasa takut ketika dirinya telah mengetahui tentang apa yang terjadi jauh lebih buruk ketimbang rasa penasaran.
Mantingan pun menganggukkan kepala seolah menyetujui apa yang dikatakan Bidadari Sungai Utara. Mungkin ini tidak dapat dikatakan sebagai tindak penipuan, sebab memang tidak satupun dari mereka di ruangan itu melihat bahaya apa saja yang dibawa musuh.
Banyak sekali siasat di dalam sebuah penyerangan, yang sama sekali hanya dapat ditebak dan diperkirakan saja oleh pihak yang diserang.
Dalam keadaan seperti yang terjadi saat itu, hal itu mungkin saja dapat terjadi—di mana musuh memiliki siasat di balik penyerangan, atau bahkan siasat di balik siasat yang bersembunyi di balik penyerangan.
Betapa pun yang terjadi nantinya, Mantingan harus tetap dalam keadaan berwaspada akan segala kemungkinan.
Mantingan kembali duduk di bangkunya yang bergeser ke belakang jendela. Dari balik tirai jendela yang berkibar-kibar, dirinya masih dapat melihat pendekar-pendekar berpakaian serba putih berlalu-lalang dengan cara berkelebat.
Sedang di bawahnya, orang-orang awam bergerak untuk mengungsi. Entah dengan berjalan atau berlari; semuanya dilakukan dengan cepat-cepat.
Dari sikap bajingan-bajingan itu, Mantingan dapat menebak bahwa hal seperti ini memang sudah sering terjadi. Memang tidak mengherankan jika sebuah pelabuhan milik perguruan silat selalu menghadapi serangan dari waktu ke waktu.
Mantingan kemudian teringat ucapan Kiai Guru Kedai yang sekiranya menyangkut dengan persoalan itu:
“Dalam banyak masa, dunia persilatan terpisah begitu jauhnya dari dunia manusia awam. Sehingga segala peristiwa yang terjadi di dunia persilatan, termasuk pembunuhan yang selalu terjadi, tidak masuk ke dalam ranah hukum kerajaan.”
Begitulah sekiranya kerajaan telah memberikan keleluasaan bagi orang-orang di dunia persilatan untuk mengurus urusannya sendiri. Namun tentu saja, kerajaan tidak akan berdiam diri jikalau urusan dunia persilatan sampai sangat merugikan kehidupan masyarakat awam.
Kendati demikian, dalam banyak perkara, kerajaan selalu mencampuri urusan di jaringan bawah tanah dunia persilatan. Alasannya sudah sangat jelas, jaringan itu sangat berbahaya bagi mereka.
__ADS_1
Namun betapa pun, jaringan bawah tanah selalu bergerak penuh kerahasiaan, kehati-hatian, dan ketersembunyian. Sehingga, jaringan itu tidak dapat benar-benar dimusnahkan apalagi dihilangkan bahkan oleh pihak kerajaan sekalipun.
Yang dapat mereka lakukan hanyalah mencampuri urusan-urusan di jaringan itu, sehingga semuanya masih berada dalam kendali kerajaan.
Bahkan kerajaan menempatkan beberapa mata-matanya ke dalam jaringan bawah tanah, yang seringkali mata-mata yang dikirim itu menjadi pisau bermata dua.
Mantingan pun mengerti bahwa jaringan bawah tanah ditabiri kabut tebal yang sulit ditembus pandang. Jikalau seseorang telah berhasil melewati kabut tebal itu, maka disebabkan kabut itu pula dirinya tidak dapat menemukan jalan kembali.
Gurunya pernah berkata:
“Jika suatu hari nanti engkau sampai bergabung ke dalam jaringan bawah tanah, maka diriku sama sekali tidak dapat menolongmu. Namun jika hal itu benar-benar terjadi, maka ingatlah selalu ajaran kebaikan yang pernah kuberikan kepadamu.
“Sebab manusia beragam sifatnya, tidaklah semua manusia bersifat jahat dan tidaklah semua manusia bersifat baik. Begitu pula dengan jaringan bawah tanah, tidaklah semua kelompok di dalamnya bersifat baik dan tidaklah semua kelompok di dalamnya bersifat jahat.”
Mantingan mengembuskan napas panjang ketika kembali teringat nasihat Kiai Guru Kedai yang selanjutnya dia katakan:
“Maka dari itu, kusarankan kepadamu untuk tidak terlambat menemukan wanita untuk dijadikan istrimu. Jangan terlambat menikah. Sebab pasanganmulah yang paling bisa menjagamu.”
Pandangan Mantingan kemudian beralih pada Bidadari Sungai Utara yang tengah menceritakan sebuah cerita dongeng kepada Kana dan Kina. Berkemul nyaman di balik selimut tebal. Tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya.
Tetapi tatapan itu hanya sesaat. Pada akhirnya, Mantingan hanya dapat menggeleng pelan. Kenyataannya sangat pahit.
Andaikata Kiai Guru Kedai ada di sini sekarang, Mantingan akan langsung mencecarnya dengan seribu pertanyaan tentang hakekat cinta.
Seperti apakah rasanya cinta sejati? Macam manakah bentuk cinta sempurna? Mengapakah cinta dianggap begitu tabu di dalam dunia persilatan? Dan mengapakah seorang pendekar seperti dirinya dapat merasakan cinta yang tak sewajarnya seorang pendekar rasakan?
__ADS_1
Namun begitulah takdir seorang manusia. Setiap pertanyaannya tidak selalu terjawab seketika. Dan begitulah perjalanan hidup setiap manusia sebenarnya hanya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang menuntut untuk dibongkar.