
CAKRAWARMAN bergerak menuruni tangga menuju geladak dasar, ketika didengarnya suara bentakan, yang betapa pun samarnya masih dapat ditangkap oleh telinganya.
Cakrawarman menghentikan langkah barang sejenak. Dirinya mempertajam pendengaran dengan harapan mampu menangkap suara seperti itu sekali lagi.
Bentakan memanglah sangat wajar terdengar di dalam kapal perang yang dipenuhi oleh ratusan prajurit dengan semangat tempur. Namun masih dapat dianggap wajar jikalau bentakan itu berasal dari laki-laki, maka yang didengar oleh Cakrawarman justru sebaliknya.
Dia mendengar suara perempuan. Jelas-jelas bahwa yang didengarnya ialah suara bentakan perempuan, yang sama saja mengartikan terdapatnya suatu ketidakwajaran di kapal ini!
Suara bentakan itu muncul sekali lagi, kali ini lebih jelas ketimbang sebelumnya.
“Tolong! Tolong!”
Cakrawarman segera menghabisi anak tangga dengan sekali berkelebat. Di geladak dasar yang prajurit-prajurit sibuk untuk mempersiapkan perang, Cakrawarman bertanya pada salah satu prajurit di dekatnya.
“Wahai prajurit, maafkan diriku yang mengganggu untuk bertanya,” katanya, “Adakah wanita di kapal ini?”
Prajurit itu langsung berlutut ketika diketahuinya bahwa yang mengajaknya bicara adalah Cakrawarman, mahapatih Tarumanagara sekaligus adik dari Sri Punawarman.
“Tidak sama sekali, Paduka. Mungkin Paduka salah dengar.” Prajurit itu menjawab dengan teramat-amat sangat gugup, sehingga tidak disadarinya bahwa perkataannya itu mengandung kesalahan yang teramat sangat besar!
“Ah, engkau juga mendengarnya?” Cakrawarman bertanya dengan raut wajah keheranan. “Kukira, hanya diriku saja yang mendengar suara itu.”
“Benar, Paduka!” Prajurit itu menjawab cepat. Jantungnya seolah saja kembali berdetak setelah sebelumnya berhenti. “Kami semua mendengarnya, tetapi setelah diperiksa, kami tidak menemukan wanita dalam wujud apa pun. Namun hal ini memang tidak mengejutkan lagi buat kami, Paduka, sebab Katak Merah memang terkenal memiliki arwah penunggunya!”
“Sungguh kalian percaya dengan hal seperti itu?” Cakrawarman mengibaskan tangannya sambil tertawa pelan. “Sudahlah, engkau kembali bekerja.”
“Laksanakan, Paduka.” Prajurit itu merangkak mundur sebelum berlalu pergi.
__ADS_1
Cakrawarman memutuskan untuk berkeliling, memeriksa satu demi satu busur-busur besar yang ada di geladak dasar. Setelah memastikan bahwa tidak ada satupun busur yang dilewatkannya, mahapatih Tarumanagara itu beranjak pergi dari geladak dasar.
Tetapi ketika arah perginya bukanlah menuju geladak atas, maka beberapa pendekar yang sedari tadi bersembunyi di balik bayang-bayang keluar dari persembunyian dan mengikutinya dengan mengendap-endap.
Cakrawarman terus berjalan di antara lorong-lorong gelap. Obor-obor menempel pada dinding lorong, tetapi hanya ada beberapa saja yang dinyalakan.
“Takkan kuturuti permintaanmu, keparat! Siapa pun tolong!”
Cakrawarman mulai berkelebat, ketika ia mendengar suara kelebatan tepat di belakangnya!
Cakrawarman menarik sepasang pedang di punggungnya sebelum berbalik ke belakang. Dengan amat sangat cepat, dirinya memutar kedua pedang tersebut selayaknya baling-baling. Merontokkan selusin jarum beracun yang akan merajam tubuhnya habis-habisan jikalau tidak ditangkis dengan penuh ketepatan dan kecepatan!
Mahapatih Tarumanagara itu langsung berkelebat pergi tanpa berusaha menghadapi sosok-sosok pendekar yang mengejarnya dari belakang. Cakrawarman bukannya takut, tetapi dirinya tahu bahwa menghadapi mereka adalah tindakan buang-buang waktu, sedangkan waktu yang tersisa untuknya tidaklah banyak.
Cakrawarman terus berkelebat di lorong-lorong Kapal Katak Merah, mengikuti suara perempuan minta tolong yang terdengar makin kentara.
Hingga berhentilah dirinya di depan hadapan sebuah pintu ruangan. Tempat di mana suara tersebut terdengar amat sangat jelas pula keras. Cepat-cepat Cakrawarman menusukkan pedangnya ke arah gagang pintu, berniat menghancurkan pintu tersebut menjadi ribuan kepingan.
“Mantra sihir!”
Cakrawarman harus menarik kembali sepasang pedangnya untuk menghadapi sosok-sosok pendekar yang mengejarnya.
Sedangkan itu di atas geladak kapal, Perwira Hanung selesai mengatur pasukan pemanah membentuk barisan. Anak panah yang akan mereka gunakan ada dua jenis; panah berapi dan panah tidak berapi tetapi beracun. Seluruh pasukan dalam keadaan siap siaga untuk menembak, sebab sebagian besar armada kapal musuh telah masuk ke dalam Barisan Jaring Denawa.
Barisan Jaring Denawa sendiri merupakan suatu bentuk barisan setengah lingkaran yang untuk dapat melaksanakannya akan dibutuhkan paling tidak seratus kapal berukuran sedang.
Dengan bentuk setengah lingkaran, musuh akan dibiarkan masuk ke dalamnya, atau mengejar musuh untuk masuk ke dalamnya. Dan setelah musuh masuk ke dalam perangkap itu, armada dengan cepat merapatkan diri hingga membentuk lingkaran penuh, sehingga musuh terkurung di dalamnya.
__ADS_1
Meskipun siasat bentuk barisan seperti ini termasuk kuno, tetapi terbukti handal untuk menghadapi penyerangan. Musuh yang telah masuk tidak akan mudah untuk keluar lagi.
Perwira Hanung sebenarnya masih dalam keadaan cemas bukan alang kepalang, sebab betapa pun Cakrawarman masih belum kembali ke geladak atas, ditambah lagi dengan Arya yang belum pula nampak batang hidungnya.
Perwira itu khawatir bahwa Cakrawarman akan menemukan Bidadari Sungai Utara di dalam kapalnya; di sisi lain ia sama khawatirnya jika Arya bermacam-macam dengan Bidadari Sungai Utara sebelum dirinya yang melakukan itu.
Akan tetapi, dirinya masih belum mendengar keributan di geladak dasar. Terlebih prajuritnya melaporkan bahwa segala persenjataan di sana telah siap digunakan.
Armada musuh semakin mendekat. Tampak pasukan di kapal-kapal mereka telah siap menembakkan panah berapi. Maka suka tak suka, Perwira Hanung akan menjalankan perannya yang boleh dikata cukup penting dalam pertempuran ini.
“Tunggu aba-aba!” Perwira Hanung mengangkat tangannya. Siapa pun mengetahui bahwa ketika tangannya dientakkan ke bawah dengan cepat, maka ratusan panah-panah akan berlesatan dari Kapal Katak Merah. “TEMBAK!!!”
Berbarengan dengan bentakan itu, ratusan anak panah berlesatan dari geladak kapal. Tetapi yang menembakkan anak panah saat itu hanyalah Kapal Katak Merah saja, tidak satupun kapal dari armada gabungan yang melakukan hal sedemikian sebab memang belum ada tanda dari Kelewang Samodra. Bahkan pasukan musuh sekalipun belum melesatkan panahnya!
Hingga tampaklah bahwa anak-anak panah itu tidak ada satupun yang mengarah ke kapal musuh, melainkan kapal-kapal kawan yang tiada persiapan sama sekali menghadapi pengkhianatan seperti ini!
Namun selepas menembakkan anak-anak panah, Kapal Katak Merah berguncang hebat! Ledakan dahsyat muncul dari geladak dasar. Seketika kobaran api tercipta, merayap dengan gila ke seluruh badan kapal.
Perwira Hanung terkejut bukan alang kepalang. Tidak ada yang menembaki mereka, lalu bagaimanakah kapalnya bisa berguncang dan terbakar bagaikan dihunjam ratusan panah secara telak?
Seluruh pendekar di geladak itu menjadi bingung dan buncah. Terlebih lagi ketika terdengar jerit suara kematian kawan-kawan mereka di geladak dasar. Seketika itu pula barisan pasukan pemanah terpecah, mengambil ember di tepi geladak untuk memadamkan api.
Di tengah kekacauan yang terjadi, datanglah seorang prajurit pada Perwira Hanung dengan langkah lari yang cepat.
“Panah ... panah ... melenceng!” Prajurit itu berkata dengan napas terputus-putus. Tampak bahwa kelelahan dan kebuncahan telah menjadi penyebabnya.
“Katakan dengan jelas!” Perwira Hanung membentak kasar, membuat prajurit itu secara aneh terlepas dari kegagapannya.
__ADS_1
“Panah-panah melenceng dari busur! Dinding kapal jadi sasaran!”