Sang Musafir

Sang Musafir
Raja yang Salah Perhitungan


__ADS_3

MANTINGAN hampir melompat dari tempatnya ketika didengarnya Raja Koying mengatakan itu. Namun beruntung saja, Chitra Anggini sigap mengencangkan cengkeraman di tangannya!


Dengan pandangan mata, dia mengatakan, ‘Jangan. Kamu hanya akan mati sia-sia.’


Mantingan menyadari betapa benarnya perkataan perempuan itu, bahwa memang hanya akan membuang nyawa dengan sia-sia jika tetap bersikeras menyerang raja saat ini pula.


Segera saja ia mengurungkan segala amarah dan membiarkan pikirannya kembali jernih lagi dingin, hingga bahkan dapat menandingi dingin serta jernihnya air gunung berselimut halimun.


Kiai Guru Kedai berkata suatu ketika, “Keberhasilan menghadapi keadaan yang memanas adalah dengan tidak membiarkan diri turut memanas.”


Kini, tak hanya Dara saja yang sedang berada dalam keadaan genting bukan kepalang, melainkan pula Sepasang Pedang Rembulan. Kedua hal berharga itu kini menjadi hadiah bagi siapa saja yang tercepat menuntaskan sayembara, seolah sama sekali tidak memiliki nilai di mata sang raja selain hanya sebagai alat kesenangan belaka.


‘Jika raja ini bodoh, Koying tidak akan mengalami kemajuan hingga sejauh ini.’ Chitra Anggini kembali berkata dalam pandangan matanya. ‘Jangan gegabah, seberapa pun marahnya dirimu. Barangkali ini adalah jebakan.’


Tuntas Chitra Anggini mengatakan itu, tiba-tiba saja seorang pendekar memberanikan diri untuk bangun dari kebersimpuhannya dan berdiri tegak.


“Apakah yang dikau kehendaki dari kami, Yang Mulia? Sepasang pusaka itu tidak seharusnya ada di tanganmu sebagai penguasa orang-orang awam, lebih-lebih kini engkau menjadikannya sebagai hadiah lelang. Yang Mulia, kami tidak peduli dengan sayembara gila ini sama sekali, kami hanya ingin pedang itu dikembalikan pada Pemangku Langit dunia persilatan yang ada.”


“Siapa yang dikau sebut sebagai ‘kami’ itu?” Seorang pendekar lainnya berdiri dan langsung membuka suara. Wajahnya keras. “Yang Mulia, kapankah sayembara bisa dimulai? Janganlah Yang Mulia dengarkan meski sedikit tentang apa yang dikatakan orang itu, Pemangku Langit yang ada saat ini sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjaga pusaka sakti mandraguna itu. Biarlah hamba sahaya mencoba memenangkan sayembara, dengan semurni-murninya niatan bersama perguruan hamba untuk menjaga Sepasang Pedang Rembulan agar tidak sampai jatuh ke tangan golongan hitam.”


Dua perdebatan itu sempurna menjadi pembuka bagi perdebatan-perdebatan lain. Kini, hampir seluruh pendekar di bangsal luas itu bangkit dari bentuk bersimpuh. Mereka berdiri dengan sebagian mendukung serta sebagian menentang putusan raja.

__ADS_1


Mantingan dan Chitra Anggini sendiri tidak mengeluarkan tanggapan apa pun. Mereka hanya terdiam dan saling menatap, tanpa seorangpun mengetahui bahwa telah terjadi percakapan genting di antara keduanya.


‘Inilah yang raja inginkan!’ kata Chitra Anggini, ‘dengan keributan yang semakin memanas, mungkin sekali para pendekar akan saling bertarung hingga bebunuhan. Tetapi, aku masih tidak mengerti mengapa raja sampai menginginkan keributan.’


Sambil tersenyum tipis, begitu tipis, sangat tipis, terlalu tipis, hingga bahkan hampir tidak terlihat sama sekali, Mantingan membalas, ‘Dia telah mengetahui serangan dari golongan bawah tanah yang kelak terjadi sebentar lagi.’


Mengernyitkan dahi, Chitra Anggini kembali bertanya, ‘Lantas? Mengapa harus dengan keributan?’


‘Keributan ini akan mengacaukan seluruh rencana golongan bawah tanah, terlebih lagi jika mereka mengetahui raja memegang Sepasang Pedang Rembulan. Dendam dan kemelut amarah mereka tidak akan sebanding dengan nilai pedang itu.’


‘Jadi, raja bermaksud menjebak mereka di dalam istananya sendiri?’ Perempuan itu mulai mengerti siasat sang raja. Seperti halnya menjebak tikus, haruslah membuka sangkarnya terlebih dahulu dengan umpan menggiurkan hingga hewan itu masuk ke dalam!


‘Ya. Serangan ini justru menjadi kesempatan bagi raja itu untuk membasmi para pendekar golongan bawah tanah yang sulit sekali dilacak keberadaannya. Tetapi, tentu dia memahami kekuatan di dalam istananya tidak akan mampu membendung serbuan dari musuh, maka begitulah kemudian dirinya menggunakan kekuatan pendekar-pendekar di Perhelatan Cinta yang tersulut amarah untuk menghabisi musuh-musuhnya.’


Semuanya menjadi lebih masuk akal. Dengan sang raja membuat para pendekar di bangsal besar ini saling bertarung, maka tiadalah lagi mereka akan mengenal musuh atau kawan, termasuk pula para pendekar golongan bawah tanah yang nantinya akan menyerbu istana.


Terlebih lagi, pertarungan itu bukan tentang kelompok melawan kelompok—sehingga dapatlah kiranya dikenali yang manakah musuh dengan kawan, melainkan tentang satu melawan semuanya. Masing-masing pendekar itu akan menyerang pendekar-pendekar lain tanpa pandang bulu untuk merebut Dara yang cantik jelita sekaligus Sepasang Pedang Rembulan yang sakti tiada bandingan. Betapa peristiwa itu akan menjadi pertarungan buta!


Seperti apa yang telah dikatakan Chitra Anggini sebelumnya, Raja Koying tidak akan bisa mempertahankan kejayaan di kerajaannya dengan akal bodoh. Sayangnya, hanya dirinya dan Mantingan saja yang menyadari ketidakwajaran dari tindakan raja itu ketika mengumumkan sayembara, sehingga sudah tentu rencana sang raja akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.


Sejurus kemudian, Mantingan kembali menatap mata Chitra Anggini, ‘Tetapi dia telah salah perhitungan.’

__ADS_1


‘Bagaimana bisa?’ Chitra Anggini hampir tidak percaya. Seluruh rencana sang raja terkesan sangat mulus hingga bagai tidak memiliki celah, tetapi bagaimana bisa Mantingan mengatakan bahwa raja itu telah salah perhitungan?


‘Dia tidak mempertimbangkan tentang kemungkinan pengkhianatan dari pihaknya sendiri. Kepercayaan dirinya terlalu besar, sehingga berpikir semua pihak di dalam istana akan mendukung rencananya. Untuk seukuran raja, dia tetap terlalu bodoh.’


Chitra Anggini menahan napasnya. Saat itu pula, dirinya baru teringat betapa Puan Kekelaman akan melumpuhkan seluruh sihir di dalam istana demi mencapai tujuan makar kelompoknya!


Mantingan tersenyum tipis dan menatap ke hadapan. Sang raja tampak pula tersenyum lebar ke arahnya. Masing-masing tatapan itu bagaikan datang dari dua raksasa di antara makhluk-makhluk kecil yang riuh bersuara tetapi tak mampu bertindak banyak. Merekalah yang menguasai khayalak luas, tetapi justru tidak diketahui orang banyak tentang kekuasaannya. Tersembunyi, tetapi memiliki kendali penuh atas mereka yang tampak memiliki kuasa.


Tatapan itu berasal dari dua orang yang sama-sama agung; sang datuk besar dan Pemangku Langit dunia persilatan!


Maka dalam pada itu, suara tabuhan yang dipukul berkali-kali dari arah gerbang istana hanya terdengar lamat-lamat di antara suara riuh ribuan pendekar yang saling berdebat. Pendekar-pendekar itu sama sekali tidak mendengarnya, dan sekalipun mendengar, mereka tidak memiliki cukup kepedulian untuk mengacuhkannya.


Mantingan masih menatap sang raja, begitu pula sebaliknya. Ia jelas menyadari bahwa raja itu telah mengetahui tabuhan itu akan dipukul pada saat ini pula, tetapi ketika kekacauan yang diharapkannya masih belum terjadi, sang raja tidak akan beranjak sedikitpun dari tempatnya. Begitu pula dengan Mantingan yang tidak berniat menggeser kedudukannya barang sejengkal jari pun jika kekacauan itu belum terjadi!


“Dua pedang pusaka itu memang telah sepatutnya kembali ke dunia persilatan, bukannya justru di tangan orang awam!”


“Bila begitu, apakah dikau bisa membendung jika seandainya ada pendekar berperangai kejam yang ingin merebut pusaka itu? Biarkanlah Sepasang Pedang Rembulan tetap bersama raja dengan kekuatan besar yang melindunginya!”


“Daku tidak mengatakan pusaka itu harus berada di tanganku. Berikanlah saja pada Pemangku Langit yang tugasnya memang menjaga kedamaian di dunia persilatan!”


“Dasar orang-orang telaga! Bagi kami, kedamaian adalah sesuatu yang tidak sewajarnya terdapat di dunia persilatan. Daku telah berusaha menghindari keributan di tempat ini untuk menghormati penguasa orang-orang awam, tetapi kalau memang tidak dapat diselesaikan dengan mulut, maka marilah kita selesaikan dengan tapak tangan!”

__ADS_1


____


Dukung penulis di karyakars*.com atau dapatkan marchendise-nya!


__ADS_2