Sang Musafir

Sang Musafir
Bukit Berpuncak Tiga


__ADS_3

“Ada apakah, Mantingan?”


DARA BERTANYA dengan perasaan cemas bercampur dengan penasaran.


Pastilah telah terjadi serangan yang menyasar ke arah Mantingan, dia lihat sendiri bagaimana pemuda tiba-tiba saja menunduk karena menyadari terdapatnya serangan, tetapi dirinya tidak dapat menyadarinya barang sedikitpun!


Dua pengawal di belakang Dara pun turut menanti jawabannya. Lebih-lebih pada Kana.


“Agaknya, aku mendapatkan tantangan bertarung.” Mantingan menggeser dua helai kain berisi surat itu ke sisi meja Dara. “Agaknya untuk malam ini, diriku perlu menitipkan Kana kepadamu hingga esok pagi.”


Dara membaca suratan yang tertulis di dua helai kain tipis yang nyaris tembus pandang tersebut. Betapa raut wajahnya berubah menjadi buruk.


“Pendekar ini jelaslah mengenal dan mengancammu, Mantingan. tetapi dirinya sama sekali tidak memperkenalkan diri. Sangat tidak berbudi luhur. Biar diriku membantumu dengan beberapa pengawal ....”


Mantingan mengangkat sebelah tangannya. “Ini bukan sesuatu yang dapat dihadapi dengan mengirim pengawal berkeahlian tinggi sekalipun, Dara. Terima kasih atas kepedulianmu, tetapi untuk hal ini, diriku merasa perlu mengurusnya sendirian.”


Dara menjadi terdiam setelah mendengar ucapan itu. Dia melihat Mantingan sebagai sosok yang gagah dan berdikari, tiada sedikitpun rasa keinginan untuk merepotkan orang lain. Gadis itu kemudian menyadari bahwa selama ini hanya mengandalkan bantuan dari para pengawalnya untuk mengatasi segala permasalahan, tanpa menyadari bahwa kemampuannya untuk mengatasi permasalahan telah hampir hilang tiada bersisa.


Maka tanpa membantah lagi, dirinya berkata, “Serahkan Kana kepadaku. Engkau bisa bertarung nanti malam tanpa halangan.”


“Apa-apaan ini?!” Kana berkata setengah membentak. “Mengapa segala urusan selalu diputuskan oleh orang dewasa seperti kalian? Kalian mengambil alih urusan yang semestinya kuputuskan sendiri, bahkan saat daku belum mengetahui duduk permasalahannya. Biarkan daku memutuskan sendiri, dan yang kuputuskan adalah pergi bersama Kakanda ke manapun dia pergi dan apa pun yang akan dia lakukan!”


“Aku harus menghadapi tantangan bertarung, Kana.” Mantingan berkata dengan tenang. Betapapun, malam nanti ia akan menghadapi pertarungan yang bukan merupakan pertarungan ringan, akan amat sangat berbahaya jika Kana sampai mengikutinya.

__ADS_1


“Bukankah itu justru menguntungkan bagiku? Dengan melihat Kakanda bertarung, barang tentu daku mendapatkan banyak ilmu darimu.”


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan tenang ia berkata, “Bayangkan jika diriku kalah dalam pertarungan nanti, dan jawablah apa kiranya yang akan terjadi kepadamu?”


“Sudah tentu diriku maju menyerang sekalipun itu merupakan serangan terakhir dariku!” Kana berkata setegas yang ia bisa.


Mantingan tersenyum penuh arti dan kembali melanjutkan, “Lalu, bagaimanakah dengan Kina yang tentunya akan terlarut-larut dalam kesedihan jika kau mati? Bagaimanakah pula dengan cita-citamu menjadi pendekar sekaligus sastrawan yang harus terhenti karena engkau mati muda?”


Selesai Mantingan berkata seperti itu, Kana terdiam serta menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Melihat keterdiaman Kana, Mantingan berpikir bahwa ini adalah saat yang amat sangat tepat untuk menceramahinya. “Dalam pengambil tindakan, apa pun itu, engkau memang harus memikirkan jangka pendeknya tetapi tidak bisa melupakan jangka panjangnya.”


Tetapi kemudian, Kana mengangkat kepalanya dan berkata setengah menggeram. “Daku tidak akan mundur dari keputusan ini. Tidak barang setengah langkah pun! Dengan kehadiranku, Kakanda memiliki alasan yang tepat untuk memenangkan pertarungan!”


***


“Aku akhirnya menjumpaimu setelah melewati berbagai macam kesulitan yang panjang, tetapi kini begitu mudahnya kita berpisah.” Dara berbisik tepat di telinga Mantingan, “aku akan selalu merindukanmu.”


Tentunya Mantingan tidak membalas pelukan itu sampai Dara melepaskannya sendiri. Dara kemudian berbalik dan meninggalkannya sebelum Mantingan meninggalkan gadis itu. Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum berbalik dan melangkah pergi bersama Kana.


“Kakanda,” panggil Kana yang berjalan tepat di sampingnya. “Bagaimanakah Kakanda bisa dicintai begitu banyak wanita sedang diriku tidak? Beritahu diriku caranya, Kaka Sasmita pasti akan merasa bangga kepadaku jika memiliki keahlian seperti itu.”


Dengan raut wajah datar, Mantingan membalas, “Jangan membuatku menyesali keputusanku.”

__ADS_1


“Apa salahnya jika diriku bertanya? Bukankah Kakanda selalu berkata padaku untuk bertanya jika tidak mengerti akan sesuatu?”


“Bersungguh-sungguhlah pada latihanmu. Itu jawabanku.”


“Itu bukan jawaban atas pertanyaanku.”


“Itu jawaban yang kaubutuhkan.”


Kana memanyunkan bibirnya tanpa bisa berkata-kata lagi. Kakinya terus bergerak mengimbangi langkah-langkah besar Mantingan, menyusuri jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan dengan berandalkan cahaya perak dari rembulan.


Mantingan memimpin jalan di depan dengan Pedang Kiai Kedai yang telah dilepas kunciannya. Kegelapan malam tak membuatnya salah dalam mengambil langkah, apalagi membuatnya ketakutan. Tanpa memasang ilmu persilatan apa pun juga, ia bisa berjalan ke arah yang benar.


Siang tadi, Dara memberitahunya tentang jalan menuju bukit yang memiliki tiga puncak. Tentu saja gadis itu bukannya telah mengenal betul daerah seperti ini, melainkan karena dirinya membayar seorang pengumpul kabar. Dengan begitu, ia dapat mengetahui letak bukti berpuncak tiga.


Mantingan mengadah ke atas. Memandangi langit gelap yang beruntungnya bintang-gemintang. Seharusnya, Bidadari Sungai Utara dan rombongan permaisuri sudah berangkat sedari tadi. Mantingan tersenyum getir setelah menyadari bahwa dirinya belum sempat berpamitan padanya.


Ia hanya meninggalkan sebuah pesan panjang, yang dikirimkannya bersama barang-barang yang dibutuhkan rombongan itu dengan penuh kerahasiaan. Untuk berjaga-jaga jika ada penguntit yang diam-diam mengikutinya, Mantingan memutuskan untuk tidak berpamitan secara langsung dengan Bidadari Sungai Utara.


***


MALAM SEMAKIN larut dan mega-mega tipis mulai menutupi langit secara perlahan-lahan. Mantingan dan Kana tidak berhenti berjalan, namun belum pula berhasil menemukan letak bukit berpuncak tiga yang dimaksud oleh si penulis surat yang melemparinya pisau terbang siang tadi.


Mantingan pula tidak mengetahui apakah bukit itu sudah dekat dengannya atau tidak. Meskipun dapat mengetahuinya dengan mengirim suara yang akan dipantulkan kembali oleh bidang permukaan bukit tersebut, Mantingan tetap tidak melakukannya.

__ADS_1


Dengan maksud sebagai ajang melatih Kana, agar anak itu membantunya pula untuk menemukan bukit yang dimaksud. Ia tidak ingin perjalanannya malam ini hanya dikhususkan untuk meladeni tantangan bertarung saja. Jikalau bisa melakukan dua hal dalam sekali tindakan, mengapakah tidak melaksanakannya?



__ADS_2