Sang Musafir

Sang Musafir
Makan Bersama Pemandangan


__ADS_3

SAMPAI pula mereka di dalam kedai. Mantingan dengan wajah sumringah. Bidadari Sungai Utara dengan wajah berkerut kening, masih tidak dapat mengerti tentang apa yang barusan terjadi.


Mantingan memesan meja di lantai dua. Satu meja untuk berdua saja, lagi pula masih banyak yang ingin Mantingan bicarakan dengan Bidadari Sungai Utara tentang perjalanan ke depannya. Di lantai dua juga akan lebih tampak pemandangan.


Dikarenakan tidak ada pengunjung lain di kedai besar ini, maka perhatian seluruh pelayan kedai tertuju pada keduanya. Suasana sepi. Angin membelai sejuk, membuat bulu kudu berdiri kedinginan.


Mereka duduk di pinggiran, sehingga jurang di bawah terlihat begitu curam. Kendati demikian, pemandangan jauh lebih dinikmati di pinggiran kedai. Mantingan melepas semua beban pada tubuhnya dan meluruskan pinggang, tubuhnya terasa sangat ringan hingga seolah-olah dapat melayang langsung ke salah satu gunung di hadapannya.


Bidadari Sungai Utara ingin seperti Mantingan, merasakan sejuknya angin. Tetapi ia sedikit takut jika nantinya Mantingan akan marah karena ia membuka jubah. Namun, apa salahnya jika bertanya?


“Apakah aku boleh buka jubah, Mantingan?”


Setelah mendengar perkataan itu, Mantingan menoleh ke sekitarnya. Seperti yang tadi ia lihat, tidak ada orang lain. Penduduk desa juga tidak patut dicurigai, mereka cinta damai. Tidak masalah jika bidadari rawa itu membuka jubahnya.


“Silakan saja, tapi tetap waspada jika ada yang datang.”


Dari balik cadarnya, Bidadari Sungai Utara tersenyum riang. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia melepas jubahnya. Merasakan sendiri betapa dingin udara yang menusuk sampai tulang.


Keindahan alam seolah bersanding dengan keindahan Bidadari Sungai Utara, dara muda dari Champa itu. Melihatnya, Mantingan menghela napas panjang dan menggeleng pelan, betapa malang nasib Bidadari Sungai Utara yang datang dari negeri asing lalu disambut secara tidak ramah. Kini bahkan nyawanya masih terus terancam. Rumor tentang kecantikannya tersebar luas, banyak pendekar yang ingin mendapatkannya. Dan itu tidak baik.


“Apa yang sedang kau lihat?” Bidadari rawa itu memiringkan kepalanya saat menyadari Mantingan melihatinya sedari tadi.


Mantingan menggeleng pelan lalu duduk di kursinya. Berhadapan dengan Bidadari Sungai Utara yang duduk di sisi lain meja. Mantingan menatap ke matanya.


“Siapa nama asli dirimu, Bidadari Sungai Utara?”

__ADS_1


Terdiam beberapa saat. Bidadari Sungai Utara sangat jarang mengemukakan nama aslinya, kecuali pada dua orangtuanya. Bahkan kekasihnya pun tidak. Tetapi kini di depan Bidadari Sungai Utara adalah Mantingan, orang yang bisa dikatakan telah menyelamatkan hidupnya, seharusnya apa pun yang Mantingan kehendaki harus ia laksanakan.


“Baiklah jika Saudari memang tidak mau, aku hanya bingung harus memanggilmu seperti apa.” Mantingan tersenyum. “Menurutku, nama Bidadari Sungai Utara terlalu panjang disebut. Aku bisa memanggilmu Saudari Sungai?”


Gadis itu hanya bisa mengangguk.


“Baiklah, Saudari Sungai. Aku ingin memberitahu pada dirimu bahwa perjalanan kita tidak akan memakan waktu lebih lama lagi. Paling tidak dua sampai empat hari lagi kita sampai. Itu saja dengan berjalan kaki, jika menaiki kuda kita hanya membutuhkan waktu satu hari saja. Saudari Sungai pasti mengetahui kendala apa yang kita alami sekarang.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan. “Angin muson timur masih jauh, kalau kita terlalu cepat sampai maka ada kendala lain, yaitu keamanan.”


Mantingan mengangguk sekali. “Jadi Saudari Sungai pilih yang mana? Berjalan kaki dan tiba lambat, atau menyewa kuda dan tiba cepat?”


Pilihan yang cukup berat bagi Bidadari Sungai Utara. Ia harus mempertimbangkan keselamatannya jika mereka terus berjalan, juga harus mempertimbangkan bahaya yang tak kalah besar jika ia tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama.


Di kedai ini, pesanan harus dipesan lebih dahulu di lantai pertama, pelayan tidak akan menghampiri pengunjung dan menanyakan apa yang akan ia pesan. Baru setelah itu hidangan diantarkan pada pengunjung yang memesan.


“Selamat menikmati.”


Mantingan mengangguk dan berterimakasih, ia memilih untuk tidak memberikan uang terima kasih pada siapa pun di sini. Ayam bakar, lalapan, dipadukan nasi hangat dan sambal, ditambah lagi dua cangkir teh hangat. Bisa dikatakan sederhana, tetapi memang kemewahan tidak dibutuhkan di sini.


“Pendekar yang bernama Mantingan, sepertinya aku terlalu merepotkanmu. Aku tak tahu apakah bisa membalasmu atau tidak. Tidak enak Bidadari Sungai Utara berkata begitu, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa perutnya butuh makanan.


Mantingan menggeleng dan tersenyum. “Tidak perlu sungkan, Saudari Sungai. Aku sudah bilang, tidak perlu dibalas.”


Melihat senyuman Mantingan, darah Bidadari Sungai Utara secara aneh berdesir. Ia tidak mengetahui apa yang membuatnya seperti ini. Apakah karena senyumannya atau ucapannya yang sangat manis? Ataukah malah dua-duanya?

__ADS_1


Wanita secantik dirinya merasa gengsi kalau sampai salah tingkah, maka ia memilih untuk sesegera mungkin menyantap hidangannya. Mantingan juga mulai menyantap hidangan begitu bidadari rawa memulainya.


Sambil makan sambil berpikir. Sambil berpikir sambil memandangi pemandangan. Sayang sekali pandangan mereka berdua tidak selaras. Mantingan memandang gunung, Bidadari Sungai Utara justru memandangi Mantingan. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak ingin Mantingan cepat-cepat berpisah darinya. Untuk saat ini ia membuat alasan: dengan bersama Mantingan, banyak ilmu yang bisa didapat. Mungkin ganti hari ganti pula alasannya.


“Mantingan,” kata Bidadari Sungai Utara.


“Hm?” Mantingan menoleh padanya, lagi-lagi tatapannya untuk membuat Bidadari Sungai Utara tersipu dan tak mau menatap wajahnya lama-lama.


“Bagaimana jika kita kita berjalan kaki saja? Aku rasa lebih baik kita terus berpindah tempat ketimbang menetap di satu tempat saja.”


Mantingan berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk, ia juga ingin mencoba peruntungan, mungkin saja Kembangmas ditemukan secara tak sengaja di pinggiran hutan. Jika begitu, perjalanannya mungkin saja diakhiri dengan cepat.


“Aku pikir memang ada baiknya begitu, tetapi Saudari Sungai harus siap menghadapi lelahnya perjalanan atau bahkan pelarian nantinya.”


Memang tidak menutup kemungkinan hal seperti itu terjadi. Walau itu adalah kemungkinan terburuknya, namun masih tetap perlu diwaspadai.


“Saudari Sungai, aku juga memiliki pemikiran lain.” Mantingan kali bicara serius. “Setelah kita sampai di Tanjung Kalapa, aku akan meninggalkan Saudari. Saat itulah Saudari harus bisa melindungi diri sendiri. Jadi bagaimana jika kita berjalan sambil berlatih? Memang itu akan memperpanjang waktu perjalanan kita, tetapi bukankah angin muson timur masih lama tibanya.”


Tanpa banyak pertimbangan lagi Bidadari Sungai Utara menyetujuinya. Jauh lebih baik lagi jika ia dapat dilatih oleh Mantingan. Mungkin lebih baik lagi jika mendapatkan yang lebih dari itu.


___


Bonus chapter: 1/1


Tebak-tebakan berhasil dipecahkan oleh Kakap Putih. Jawaban adalah Gunung Pangrango dan Gunung Gede.

__ADS_1


__ADS_2