Sang Musafir

Sang Musafir
Latihan Memantulkan Jarum ke Permukaan Air


__ADS_3

MANTINGAN MELURUSKAN tubuhnya mendatar. Sehingga nanti saat dirinya mendarat, ia akan mendarat cukup jauh dari Bidadari Sungai Utara. Tubuh Mantingan bergerak ke samping tanpa sempat terkejar oleh Bidadari Sungai Utara.


Dan benar saja. Mantingan mendarat cukup jauh dari tempat gadis itu. Mereka memijak atap genting yang sama. Dan sama-sama pula langsung bersitatap. Bidadari Sungai Utara menghunuskan pedangnya ke depan, siap menerjang Mantingan. Mengalahkannya dalam sekali serang.


Namun saat itu pula, Bidadari Sungai Utara merasa terdapat sesuatu di atas yang bergerak sangat cepat menuju dirinya. Secara naluriah dan penuh kewaspadaan, Bidadari Sungai Utara mengadahkan kepala. Sejurus kemudian, bahkan tak sampai satu kedipan mata, Bidadari Sungai Utara kembali merasakan sesuatu telah menyentuh lehernya.


Bidadari Sungai Utara menurunkan pandang untuk melihat apa yang terjadi. Dilihatnya diri Mantingan tengah tersenyum tepat di depan tubuhnya. Lengan pria itu terjulur, sisi telapak tangannya menyentuh leher Bidadari Sungai Utara. Itulah yang telah membuatnya bergidik geli.


Tiba-tiba saja Bidadari Sungai Utara merasa kemarahannya bergelora. Kembali wajahnya merah padam laksana jambu air. Matanya menatap tajam ke mata Mantingan. Seakan bisa menelannya bulat-bulat. Sungguh ia merasa pemuda di depannya itu telah berbuat sesuatu yang lancang. Tak dapat dimaafkan!


Namun baru sesaat kemudian, Bidadari Sungai Utara menyadari dirinya telah keliru besar.


Mantingan bukan mau berbuat macam-macam terhadapnya. Tangan Mantingan telah menyentuh batang lehernya, Bidadari Sungai Utara sudah kalah. Dengan kata lain, Mantingan tidak bermaksud lancang.


Segeralah wajah Bidadari Sungai Utara yang merah padam itu berganti warna merah semu. Akibat rasa malu.


Mantingan menangkap sarung pedang yang melayang turun di atas kepala Bidadari Sungai Utara dengan sebelah lengannya. Senyum Mantingan semakin melebar. Seolah-olah telah berkata, “Dakulah pemenangnya!”


Namun, Bidadari Sungai Utara tidak menerima kekalahannya begitu saja. Dirinya mengajukan pembelaan.


“Dikau tidak menempelkan bilah pedang di leherku, melainkan hanya telapak tangan. Telapak tangan tidak akan membuat diriku kalah.”


“Oh,” balas Mantingan ringan, “dikau tidak percayakah atau bagaimana?”


“Tentu daku tidak percaya dengan kekuatan telapak tanganmu ini.”

__ADS_1


Mantingan tersenyum sangat lebar. “Apakah dikau memerlukan bukti?”


Bidadari Sungai Utara mengangkat wajahnya. Menantang. “Daku menuntut bukti. Jadi, buktikanlah!”


Bidadari Sungai Utara mengalirkan banyak tenaga dalam ke lehernya. Mencegah lehernya patah jikalau pukulan Mantingan terlampau keras. Sedangkan Mantingan hanya mengangguk-angguk pelan tanpa berkata apa pun.


Bidadari Sungai Utara merasa seolah seluruh tenaga di dalamnya tubuhnya telah disedot habis. Kakinya tak sanggup lagi menahan bobot badan. Hingga terkulailah diri Bidadari Sungai Utara. Hampir-hampir jatuh jika saja tangan Mantingan tidak meraih tubuhnya.


Itu hanya dirasakannya sesaat saja. Mantingan kembali melepas totokannya. Membuatnya segar kembali. Dapat pula kembali berdiri di atas dua kakinya. Dipandanginya diri Mantingan dengan tatapan sulit percaya.


“Bagaimana Saudara bisa melakukannya? Tadi daku tidak melihat tangan Saudara bergerak barang sejengkal saja!”


Mantingan tersenyum canggung. “Diriku telah menotok aliran darah Saudari. Dapat kukatakan bahwa gerakanku teramat cepat."


“Ya. Daku tahu. Tetapi dari yang kulihat, membutuhkan waktu paling tidak satu tarikan napas untuk menotok lawan sampai lumpuh. Tetapi Saudara, bahkan tidak sampai sekedip mata telah berhasil melumpuhkanku.”


***


SUATU PAGI yang boleh dikata mendung. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berdiri berseberangan. Di antara keduanya adalah kolam ikan yang baru rampung kemarin malam.


Mantingan berkata, “Jarum terbang, meskipun berbentuk pipih dan kecil, tetapi tetap bisa dipantulkan ke permukaan air. Saudari pasti pernah melihat permainan melempar batu ke permukaan air sungai, orang yang melempar batu paling banyak pantulannya adalah sang pemenang.”


Bidadari Sungai Utara kemudian mengangguk. “Daku tinggal di pinggiran sungai, sudah barang tentu sering memainkannya.”


“Apakah dikau lihai dalam memainkannya?”

__ADS_1


“Tidak terlalu.” Bidadari Sungai Utara tersenyum canggung. “Tetapi jika Saudara memintaku memantulkan batu di kolam ini, maka daku dengan senang hati melakukannya.”


Mantingan menggeleng. “Bukan batu yang akan Saudari lempar, melainkan jarum terbang.”


Bidadari Sungai Utara mengernyitkan dahi. Melihat bahwa Bidadari Sungai Utara kebingungan, Mantingan berkata, “Bukankah tadi sudah kujelaskan bahwa jarum terbang, meskipun berbentuk pipih dan berukuran kecil, tetapi tetap bisa dipantulkan ke permukaan air?”


“Meskipun begitu, pastilah akan sangat sulit bagiku untuk melakukannya, Saudara.”


Mantingan kembali menggeleng. “Ini sangat mudah. Melempar jarum terbang semudah membalikkan telapak tangan. Daku bersungguh-sungguh. Waktu aku berlatih di bawah bimbingan Kiai Guru Kedai, daku berhasil memantulkan jarum terbang ke permukaan air pada percobaan pertama. Mungkin Saudari juga akan seperti itu. Atau paling tidak, Saudari membutuhkan dua-tiga percobaan untuk berhasil melakukannya.”


Kemudian Bidadari Sungai Utara mengangkat alisnya. “Benarkah semudah membalikkan telapak tangan?”


Mantingan menganggukkan kepala. “Lebih baik, Saudari membuktikannya sendiri.”


Mantingan melemparkan sebungkus jarum terbang menuju Bidadari Sungai Utara. Jarum itu harus melayang-layang melewati kolam ikan sepanjang empat depa sebelum sampai di tangan Bidadari Sungai Utara. Jarum yang diberikan Mantingan untuk Bidadari Sungai Utara bukanlah jarum Cap Capung. Itu adalah jarum biasa tanpa keistimewaan apa pun. Namun setidaknya, jarum-jarum itu masih dapat diterbangkan dengan baik.


Gadis itu kemudian membuka bungkusan. Mengeluarkan sebuah jarum dan menimang-nimangnya sebentar. Jarum itu begitu ramping dan ringan meskipun panjangnya mencapai satu jengkal. Bidadari Sungai Utara tidak yakin apakah sebatang jarum dapat dipantulkan ke permukaan air.


Mantingan menyilangkan dua tangannya ke belakang. Tersenyum tenang. “Silakan dicoba, Saudari Sasmita.”


Bidadari Sungai Utara melirik Mantingan sekilas. Kembali ia menimang-nimang sebatang jarum di tangannya. Menghela napas pun seakan tiada guna, hingga akhirnya gadis itu mengambil keputusan untuk segera melempar jarum.


Meskipun usahanya nanti akan berbuah kegagalan, Bidadari Sungai Utara tidak akan merasa bersalah. Setidaknya ia telah mencoba.


Bidadari Sungai Utara menggenggam sebatang jarum itu erat-erat. Diangkatnya lengan kanan setinggi telinga. Direntangkan ke belakang. Lengan kirinya digunakan untuk mengukur arah tembak.

__ADS_1


Mantingan masih diam di tempatnya. Masih tersenyum. Seolah tidak takut terkena jarum yang akan dilesatkan Bidadari Sungai Utara. Namun sesaat kemudian, dirinya mengernyit. Dapat dilihatnya Bidadari Sungai Utara salah mencengkeram batang jarum. Ujung runcing jarum itu langsung menghadap ke arah sasaran, padahal seharunyalah menghadap ke atas atau ke samping. Namun, Mantingan memilih diam sampai ia melihat hasilnya.


Bidadari Sungai Utara masih berdiam diri. Mengambil ancang-ancang. Mengukur jarak.


__ADS_2